Isra Mikraj (Bagian 1)

 *Muhammad SAW: Adidaya Romawi, Persia, Amerika Serikat, dan Uni Soviet*

Ketika membaca status seorang sahabat FB baru-baru ini yang terkesan membela Amerika Serikat dan mengkritik Rusia, saya teringat suatu tulisan Arman Dhani pada 2020. Diawali dengan kalimat, “Musuh kita bersama adalah kapitalisme dan pengusaha kapitalis yang melakukan eksploitasi.” Saya akan menggubahnya untuk tulisan ini, “Musuh kita bersama adalah penindasan dan eksploitasi akibat keserakahan, kesombongan, dan kemelekatan. Kemelekatan terhadap hal-hal yang sebenarnya destruktif bagi pertumbuhan nafs kita.”

Salah satu paragraf tulisan Arman Dhani yang cukup menonjok: Pernyataan bahwa, “Anti kapitalis tapi pake Iphone” atau “Anti eksploitasi kok pake baju fast fashion” atau “Sosialis kok punya barang mewah” seolah benar. Seakan menggambarkan bahwa aktivis yang melawan itu standar ganda. Kita periksa bagaimana kalimat tersebut sebenarnya sudah salah dari niat dan yang paling buruk, gagap sejarah.

Dalam alur premis yang senada, pernyataan-pernyataan semacam, “Mengkritik Amerika Serikat kok memakai Facebook, Whatsapp, dan minum kopi di Starbucks,” juga dapat saya katakan sebagai ketidakcermatan dan kekurangdalaman yang menyatakannya saat mencerna berbagai fenomena kemanusiaan di dunia.

Premis yang hampir mirip adalah, “Video-video dakwah Islam kok menggambarkan kota-kota di Eropa dengan gedung-gedung megah dan infrastruktur yang rapi, bukankah semua itu dibangun oleh golongan kafir?”

Yang menarik, saya menemukan pernyataan-pernyataan semacam itu justru dikeluarkan oleh Muslim yang cukup banyak membaca buku, masih pergi beribadah di masjid, dan menjalani praktek-praktek Islam.

Salah satu pengajaran atau mungkin dapat dikatakan sebagai indoktrinasi paling awal saat saya baru belajar menjadi murid Daudiyah pada 2010 ialah BELAJAR MENGENAI IMAN KABIL (Cainish Faith). “Lho, kok justru belajar mengenai Iman Kabil dan bukan belajar spiritualitas yang mendakik-dakik seperti teologi mistisme dalam kitab-kitab para Sufi atau doktrin agama cinta yang lazim dikutip kaum perennialis?”

Indoktrinasi dasar ada dalam Buyruk Daudiyah 2009 yang memberi fondasi bagi mendalami apa sesungguhnya Iman Kabil (Kain), Iman Habil (Abel), dan Iman Syits (Seth). Karena itu, Kisah Sinai diulang-ulang dalam pembelajaran seorang murid dan seorang darwis, yang tidak pernah berhenti sampai sekarang meski saya telah diordinasi sebagai mursyid dan kemudian perawi.

Indoktrinasi kedua ada dalam “Maqalat Haji Bektash Wali” yang memberi fondasi bagi mendalami potensi-potensi keserakahan, kesombongan, dan kemelekatan yang dapat mengantarkan kita menganut Iman Kabil sebagai penindas dan pelaku eksploitasi, Iman Habil sebagai pelaku kemelekatan sehingga rela dieksploitasi, dan Iman Syits yang selalu berupaya menghindari keserakahan, kesombongan, dan kemelekatan.

Kisah Kabil dan Habil sendiri dapat ditemukan dalam Buyruk Alfurqan dari sejak volume Taurat, Zabur, dan Injil sampai volume Alquran dan karya-karya Syekh Ali Haidar yang luar biasa, dengan berbagai syarahan yang progresif sesuai dari zaman ke zaman sejarah kemanusiaan.

Karya-karya beliau yang paling menarik terkait Kisah Kabil dan Habil misalnya ada dalam “Hallo, Aku Tuhan: Rosario Bektashi”, salah satunya menceritakan masa kanak-kanak beliau saat Hari Halloween, antara lain diakhiri dengan ungkapan menggelitiknya lebih kurang, “Saat itu saya belajar, bahwa menjadi manusia sering kali harus memilih jadi pelaku eksploitasi, atau dieksploitasi.”

Dari transmisi yang saya terima dalam Buyruk Alfurqan,  saya belajar untuk merevisi pemahaman sejarah saya selama ini mengenai sejarah Islam, sehingga saat saya diberi ijazah untuk mengajar Buyruk Alfurqan dan kemudian menjadi perawi, saya harus mengaplikasikan keterampilan yang dulu saya secara akademik formal saya pelajari, yaitu ilmu sejarah modern. Di antara pemahaman saya yang sedang saya uraikan dalam suatu buku adalah sebagai berikut:

Pertama, tarekat yang dipimpin seorang mursyid perawi pada abad 5 M di wilayah imigran Israil dan Yehuda yang kemudian menjadi Peranakan Israil, yaitu di negeri-negeri Arabia, kemudian berkembang menjadi suatu gerakan revolusi. Sebagian murid dan muhib tarekat itu kemudian mengembangkannya menjadi  suatu “partai politik” yang melahirkan konfederasi baru setelah ketiadaan konfederasi Lakhmid dan konfederasi Ghassan.

Konfederasi baru itu ialah kekhalifahan Islam. Namun, baru pada masa Umayyah, teks sastra sakral yang ditransmisikan sang mursyid perawi pada abad 7 M itu diadopsi dan dikanonisasi sebagai salah satu identitas kebangsaan, dan baru pada masa Abbasiyah “legenda Muhammad SAW” dikanonisasi sebagai salah satu simbol utama agama imperial. Hal ini berlangsung tepat pasca Wabah Yustinian.

Kedua, pola yang pertama itu sebagaimana pola sejarah Kekristenan. Dimulai dari tarekat yang dipimpin seorang mursyid perawi pada masa munculnya Antipatra Idumiyah, kemudian berkembang menjadi suatu gerakan revolusi setelah berakhirnya dinasti Makabe dan kematian Aristobolus III dan Mariamne I (istri Herodotus Agung, putra Antipatra Idumiyah). 

Gerakan Kanaim itu kemudian pecah antara lain menjadi Sikari dan “partai politik” yang mempopulerkan mesianisme Yesus, tetapi baru pada abad ke-3 M diadopsi oleh kekaisaran Romawi setelah “legenda Yesus Kristus” menjadi agama rakyat paling populer di Anatolia dan sekitarnya pasca Wabah Antonia.

Ketiga, berdasarkan poin yang pertama, maka sebenarnya para mursyid perawi pada abad 6-7 M yang kemudian digelari Muhammad secara posthumous merupakan para pemimpin gerakan setidak-tidaknya sepanjang dua masa perang besar di antara Romawi dan Persia yaitu 572-591 dan 602-628 M.

Hal tersebut persis sebagaimana para mursyid perawi yang kemudian dianggap sebagai mesias dan dipersatukan dalam sosok legendaris Yesus Kristus 0-33, sesungguhnya merupakan para pemimpin pergerakan terutama semenjak masa Antigonus II Matatias sampai 80 M, yang di antaranya terdapat dua masa pemberontakan Kanaim yang terkenal dalam sejarah pembebasan Yerusalem atau Yehuda  dan Israel secara keseluruhan dari penjajahan Romawi.

Keempat, kedua gerakan revolusi itu memiliki fokus perjuangan membebaskan Yerusalem atau Yehuda dan Israel secara keseluruhan dari penjajahan. Namun, intinya adalah melanjutkan tradisi Kisah Sinai dalam memelihara Iman Syits, dan mengakhiri sistem penindasan dan serakah Iman Kabil, serta membebaskan rakyat dari belenggu ketidaksadaran dalam menganut Iman Habil.

Dalam kasus tarekat Muhammad SAW, karena sudah lebih dari enam abad Klenteng Allah di Yerusalem hancur dan kaum imigran membangun altar-altar tawasul leluhur maupun persembahan di kota-kota diaspora mereka, dan Mekkah menjadi salah satu yang utama, maka Mekkah awalnya menjadi replika Yerusalem sebagai pusat ziarah kaum Peranakan Israil yang biasanya adalah kaum saudagar dan biasa pergi berbulan-bulan lamanya.

Namun, setelah Klenteng Allah di Yerusalem direnovasi oleh Abdul Malik I, Mekkah tetap menjadi pusat ziarah yang pertama, dan yang kedua adalah Yerusalem. Terutama semenjak masa Abbasiyah, ketika semangat Persia bangkit dari hantu-hantu yang telah seratus tahun lebih terkubur. Salah satu faktornya adalah terkait erat dengan politik identitas.

Kelima, sosok Muhammad yang telah menerima wahyu untuk mengkompilasi transmisi sastra lisan dan sastra tulisan dari para mursyid perawi sebelumnya sekaligus menanggapinya secara midrashik dalam bentuk himne sebagaimana genre medrasse yang saat itu populer. Beliau inilah yang pertama kali saat lahir diberi nama Muhammad, bukan posthumous, dan sosok sebenarnya di balik kisah kanonisasi Alquran pada masa Usman ibn Affan memerintah (644-656 M).

Pada usia sekitar delapan tahun beliau mewarisi naskah transmisi dari Ali ibn Abu Talib, ayahnya, yang dirapikan oleh abang-abangnya Hasan ibn Ali dan Husein ibn Ali. Sosok juru tulis Zaid ibn Tabit (wafat sekitar 660 M) sebenarnya adalah juru tulis ayahnya dan kemudian menolong beliau menyunting setiap tanggapan dari beliau. Ia adalah arketipe Barukh ibn Neriyah yang merupakan juru tulis Yeremiyahu ibn Hilkiyah.

Beliau melanjutkan sanad Yesus Kristus melalui mursyid perawi bernama Thomas Barnabas* sampai kepada Baba Musa (yang dikenal sebagai Rahib Musa) dan Khalid Sinan (dari kabilah yang disebut Hanafiyah). “The Seven Sleepers” atau “Ashabul Kahfi” adalah dongeng yang sebenarnya juga memuat sanad sampradaya tarekat Muhammad SAW. (*Menurut Buyruk Alfurqan, Thomas dan Barnabas adalah orang yang sama. Barnabas adalah nama keluarga atau patronimnya).

Keenam, sosok Muhammad 570-632 M antara lain memuat sosok Khalid ibn Sinan ibn Ghaith, Baba Musa, Zaid ibn Amr ibn Nufail, Quss ibn Saidah, Sheba ibn Hashem, Hashem ibn Abdul Manaf, Abdul Manaf atau Imran ibn Sheba, Al-Zubair ibn Sheba, dan dua pemimpin konfederasi [Quraish] terawal yang biasa dikenal sebagai Abdul Manaf Al-Mughira dan Qusai ibn Kilab. Mereka ini selain daripada Muhammad ibn Ali ibn Imran yang lahir pada 636 M itu. Tentulah mereka ini tidaklah semuanya adalah mursyid perawi dan nabi. Ada mursyid yang memang waliullah, ada pula pahlawan dan atau panglima perang.

Pada masa Abbasiyah, sosok tersebut “dikanonisasi” sedemikian rupa sebagai satu sosok saja, yang memuat berbagai kisah mengenai para resi dan mursyid perawi sebelumnya itu, sebagaimana yang pernah saya tulis dalam status saya berjudul “Murtad” [baca dalam: https://hearth.video.blog/2022/02/19/murtad/ ]. Pola serupa pernah dilakukan antara lain terhadap sosok Yesus Kristus 0-33 M yang masa aktual sejumlah dongeng utama sebenarnya terjadi antara tahun 60-80 M.

Dongeng Isra Mikraj yang kerap dimaknai hanya secara religius-spiritual, ternyata memberi petunjuk mengenai tumpang tindih antara Muhammad 636 dengan para mursyid perawi sebelumnya yang juga bertawasul kepada Enokh (Khidir atau Idris), Eliyahu, dan Yesus Kristus dengan menyebut Mereka sebagai “Muhammad”, terutama untuk memohon kesembuhan dan pemulihan.

Ketujuh, Quraish sebenarnya bukanlah suku bangsa sebagaimana pengertian secara etnis biologis semata-mata, melainkan juga “identitas kebangsaan” secara politik seperti Indonesia. Quraish adalah terjemahan dari konfederasi, yang terdiri dari berbagai kabilah secara etnis, dan berpusat di Mekkah, di antara Dekapolis dengan Hijaz, atau tepatnya di antara wilayah Ghassan (yang mendukung Romawi) dengan wilayah Lakhmid (yang mendukung Persia).  

Quraish muncul sebagai gerakan sosial-politik dari sejumlah murid dan muhib dari “tarekat Muhammad” seperti Kanaim muncul sebagai gerakan dari “tarekat Esseni”. Muncul sekitar awal abad ke-5 M, tak lama setelah kekaisaran Bizantin Romawi berdiri pada 395 M. Patut diduga, pada masa konflik antara Yaman dengan Ethiopia itu (525-570 M) pemimpin Quraish saat itu bergabung dengan Ghassan, kemudian sebagian dari mereka cenderung kepada Sassan Persia dalam Perang Persia-Romawi I (571-591 M) dan Perang Persia-Romawi II (602-628 M).

Pada tahun 618-628 M, terjadi kekosongan kekuasaan dalam konfederasi Ghassan, sedangkan pada 602 M kerajaan dari konfederasi Lakhmid berakhir, sehingga konfederasi itu hanya berkuasa di sejumlah wilayah Persia. Maka, pada tahun-tahun inilah konfederasi yang disebut Quraish mulai muncul sebagai kekuatan politik penting.

Pada tahun-tahun itulah konfederasi ini terbelah dua, yaitu antara dua “partai” yaitu partai Umayyah dengan partai Sheba (Abdul Mutalib). Putra Sheba yaitu Abdul Uzza (Abu Lahab) memihak partai Umayyah yang dipimpin Sakhar (Abu Sofian) karena istrinya adalah saudari kandung Abu Sofian. Adapun di pihak partai Abdul Mutalib dipimpin antara lain oleh Imran (Abu Talib) dengan dukungan dana terutama dari Abbas ibn Sheba.  

Sebab itulah kita menemukan “dua ibukota konfederasi”, yang semula berada di Mekkah, yang berhasil dikuasai partai Umayyah, kemudian ada “ibukota perjuangan”, yaitu di Yathrib yang semula merupakan Medina Yehuda, atau dengan kata lain suatu kota yang menerapkan hukum adat Yahudi. Bukan hukum Suryani-Romawi atau pun hukum Persia.

Kedelapan, dengan melihat tujuh pokok tersebut, kita dapat melihat bahwa kemunculan perjuangan Muhammad sepanjang tahun 656-691 melanjutkan perjuangan para mursyid perawi sebelumnya yang melahirkan gerakan Islam (nama yang diberikan secara posthumous). Perjuangan tersebut adalah untuk membebaskan bangsa mereka dari ditindas “Bangsa Kain” dan dari menjadi “Bangsa Abel” dalam konteks geopolitik mereka saat itu, yaitu membebaskan dari penjajahan dua adidaya, Romawi dan Persia.

Yerusalem menjadi fokus atau kiblat perjuangan, tetapi bukanlah substansi dan esensi dari perjuangan pembebasan dan gerakan revolusi mereka. Karena itu, dalam tulisan bagian kedua akan menjadi jelas mengenai latar belakang secara pergerakan, secara SJW (social justice warrior).

Dalam perjuangan tersebut, yang dimulai ketika Romawi terbelah antara Bizantin dan Romawi Barat, tidak berarti mereka tidak menggunakan fasilitas, atau sarana dan prasarana dari Romawi dan Persia. Ada kalanya mereka pula harus bertaqiyah dengan memihak salah satu adidaya, dengan tujuan mengurangi aspek penindasan dan eksploitasi dari adidaya yang didukung serta biasanya terjadi ketika adidaya yang didukung justru dalam posisi lemah, sehingga adidaya saingan tidak terlalu kuat.

Jadi, kalau ada yang mengkritik saya, “Kok mengkritik AS malah memakai Facebook, Whatsapp, dan Twitter,” itu persis logika terpeleset yang dijelaskan dengan ciamik oleh Arman Dhani.

Saya masih mempercayai adanya kekuatan spiritual yang natural di alam semesta seperti bimbingan para resi leluhur. Arwah-arwah mereka itulah yang secara langsung atau tidak, kita sadari atau tidak, membisikkan kepada kita berbagai pengetahuan dan transmisi ilmu yang kita tanyakan dan kita perlukan — serta kita kuasai dasar-dasarnya. Mereka yang baik itulah yang biasanya dikarakterisasi sebagai malaikat — dari cahaya yang memberikan kita pencerahan atau pengetahuan.

Misalnya, seseorang tidak ujug-ujug tercetus ide untuk meneliti sehelai rumput, apakah layak menjadi makanan atau obat. Perbuatan Elohim, yaitu Allah YME melalui para resi leluhur adalah “pekerjaan ilahi” atau “roh kudus” yang lazim disebut dalam Alkitab. Begitu juga kaum teknokrat atau ilmuwan modern memperoleh bimbingan dari para resi leluhur mereka untuk mengembangkan teknologi sehingga kita bisa memakainya sebagai SJW (yang biasa diolok-olok kaum kelas menengah pro-kapitalis). Namun, pada masa yang sama, mereka juga telah mengabaikan bimbingan dari para resi leluhur dalam hal eksploitasi dan keserakahan.

Kalau saya masih memakai laptop dengan perangkat lunak ciptaan Bill Gates yang saya kritisi, atau saya menyampaikan tulisan ini melalui media sosial yang merupakan salah satu dari “berhala-berhala masa kini” dari dua agama yaitu kapitalisme dan saintisme, bukan berarti saya harus ikut-ikutan dungu dan bebal dengan tidak mengkritik saintisme dan kapitalisme.

Saya memilih berupaya takwa, yaitu dari kata dasar Ibrani yang maknanya memiliki kaitan erat dengan bergantung sepenuhnya (kepada Mereka/Elohim), sehingga cocoknya diterjemahkan sebagai eling dan waspada.

Dengan berusaha bertakwa, saya menggunakan “benda-benda ciptaan yang diilhamkan para resi leluhur itu” dengan mengupayakan kesadaran bahwa benda-benda itu tidak boleh saya berhalakan sebagai alat-alat untuk menindas, serakah, mengeksploitasi, dan merusak. Saya pun harus sekaligus sadar bahwa di balik benda-benda atau yang saya konsumsi terdapat sistem yang menindas, seperti buruh yang dieksploitasi, atau adanya buruh anak (misalnya untuk lithium yang digunakan smartphone saya!).

Pada masa yang sama, sambil eling dan waspada, saya berdoa dalam tulisan dan aktivitas saya supaya justru melalui benda-benda dan alat-alat apapun, muncullah kesadaran dari saya dan siapa saja yang membaca tulisan saya dan mengenal aktivitas saya: akan lambat-laun kita menghasilkan sistem yang lebih berkeadilan, sistem yang tidak mengakomodasi penindasan, keserakahan, dan eksploitasi yang melampaui batas.

Kesembilan, ikonoklasme seperti yang diteladankan Ibrahim, Musa, Ezra, dan Muhammad dalam kisah-kisah penuh tamsil seperti menghancurkan patung, patung sapi emas, dan semacamnya adalah juga hal yang saat ini diteruskan kawan saya Arman Dhani melalui tulisan-tulisannya, atau sahabat saya Azmy Abe melalui aktivitasnya, atau mungkin saya yang terus-menerus mengulang-ulang Kisah Sinai dan Kisah Kain-Abel sampai Anda bosan membacanya.

Enokh, Nuh, Musa, Sulaiman, dan Muhammad juga menggunakan benda-benda yang biasa dianggap sebagai berhala, sebagaimana media sosial dan komputer saat ini, untuk perjuangan mereka. Misalnya, mengenai tablet kahyangan dalam kisah Enokh, kisah ukiran simbol ilahiah pada tabut dalam bahtera Nuh, kisah mengenai tongkat ular yang disebut nehushtan, kisah patung-patung terkait seribu istri Sulaiman (baca: seribu kabilah yang dipimpin Sulaiman), dan Muhammad tetap menggunakan baetilus seperti Kaabah untuk ritus yang dapat “menjaga mood” kesadaran para murid dan muhibnya.

Kesepuluh, bangsa Israil (Peranakan maupun Islam, Kristen, Yahudi, Samaritan, Sabian/Mandean, Bahai, dan Neo-Mani) sudah mengalami dua kali siklus empat tanduk yang disampaikan dalam kitab-kitab seperti Daniel, Yehezkiel, dan Wahyu.

Saat Injil Wahyu ditulis, resi yang kita kenal sebagai Yohanes (Yohanan/Yahya) itu telah mengalami masa awal tanduk keempat pada siklus pertama yaitu Romawi. Berakhirnya siklus pertama ditandai dengan munculnya gerakan konfederasi yang disebut Quraish, yang akhirnya terpecah sebagaimana gerakan Kanaim juga terpecah.

Saat ini, sudah berada di penghujung siklus kedua yaitu masa-masa akhir tanduk keempat, Romawi Kedua, yang tampak pada demokrasi, kapitalisme, dan saintisme yang bergelora. Yang menekuni sejarah pasti ingat bahwa Renaissance muncul di Eropa sejak sekitar tahun 1250, di ambang berakhirnya Kekaisaran Bizantin dan kala berakhirnya Kekaisaran Abbasiyah. 

Adidaya Persia telah berakhir pada 633 M, di tangan Umar ibn Khattab, tetapi ia bangkit lagi pada masa Kekaisaran Abbasiyah (750-1258 M). Dengan kata lain, siklus kedua dari dua tanduk (Babilonia: Umayyah, Persia: Abbasiyah), bersamaan dengan tanduk keempat dari siklus pertama yang pelan-pelan berakhir juga ketika Ottoman menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M. Ottoman merupakan siklus kedua dari tanduk ketiga, yang membangkitkan ruh Yunani.

Berakhirnya Ottoman pada 1921 (resmi 1924), membawa kita kepada siklus keempat dengan ruh Romawi dalam diri neoimperialisme Amerika Serikat dan neokolonialisme korporat-korporat kapitalis. Kalau kita melihat usia adidaya Romawi sebelum terpecah antara Barat dan Timur, maka usia adidaya yang saat ini menguasai bangsa Israil (melalui Kristenisme, persis seperti pada siklus pertama!) dari sekitar abad 18 M, dan puncaknya adalah pada abad 20-21 M, akan berakhir paling lambat selama sekitar seratus tahun dari 2026.

Itu sebabnya, tahun 2026 menjadi penanda penting akan terjadi suatu peristiwa penting sebagai pola sejarah yang berulang dari masa 60-77 M dan 632-644 M. Bangsa ini (Peranakan Israil dan siapa saja yang menganut Islam, Kristen, Yahudi, Samaritan, Sabian, Bahai, dan Neo-Mani) akan dikutuk mengulang sejarah mereka memunculkan tanduk Babilonia siklus ketiga jika para pemimpin, mubaligh, dan cendekiawannya memilih Iman Kain sebagai Bangsa Kain atau memilih Iman Abel sebagai Bangsa Abel. Alih-alih memilih Iman Seth sebagai Bangsa Seth.

Berakhirnya adidaya Uni Soviet memberi jalan kepada semakin kuatnya adidaya Amerika Serikat dan kapitalisme ekstrim, yang jika diibaratkan bagai bisul, jika semakin membesar secara natural pasti akan meledak juga. Jika Rusia bangkit dari puing-puing Uni Soviet, seperti Abbasiyah berhasil membangkitkan Persia menandingi Bizantin Romawi, maka kita mungkin akan melihat kembali kehancuran Persia dan Romawi seperti pada abad ke-13 M di tangan bangsa-bangsa “barbar” dari Timur.

Saya bukan ahli politik. Saya hanya sarjana sejarah yang belajar melihat pola-pola sejarah dan seorang murid tarekat yang belajar melihat pola-pola kemanusiaan, seperti ahli cuaca melihat pola-pola cuaca dan iklim. Apakah musim-musim selalu datang pada bulan-bulan yang sama? Begitu juga dalam alam kemanusiaan. Pola-pola itu bisa berubah di tangan manusia sendiri, tetapi bisa tetap berulang karena perbuatan manusia sendiri pula.

Apapun hasilnya, saat menulis ini, saya bersyukur masih tetap dibimbing untuk tetap berupaya memilih Iman Seth sebagai Bangsa Seth: berdoa dan berusaha rektifikasi dalam menghadapi penindasan dan eksploitasi untuk menyintas dan resilien. Jika setelah menulis ini saya berkhianat atau menyimpang dari khittah para resi leluhur Daudiyah-Bektashiyah, semoga Elohim memukul dan menyeret saya kembali ke jalan-jalan moksha nan indah Bangsa Seth!

BERSAMBUNG (lihat ke: https://hearth.video.blog/2022/03/01/isra-mikraj-bagian-2/ )

Selamat Merayakan Isra’ Mikraj dan Mab’ath.

Siddhamastu,

Syekhah Hefzibah R.A. Gayatri W. Muthari.

Standard

“MURTAD”[English Version]

[Warning: leave this post if it shakes your faith, or empty your glass to receive the pouring of this post. Besides, this post is very long. This post was translated from Indonesia language with the help of google translator, and rough editing].

A Facebook friend of mine [Jesus Anam] said, “Islam is (is a religion) rahmatan lil alamin”. Who said that? Was the prophet called Muhammad? Based on modern history (historiography) that I studied, the figure of Muhammad 570-632 AD did not exist. Please, protest! What I say is not based on an internal tales that have been widely circulated, even shared by non-Muslims. I am not a religious person with a faith that adheres to popular and well-known folk tales.

One day, around 2018, my friend, a fellow murshid, told me that during the period of leaving Islam in the 2016, he doubted the figure of Imam Mahdi who had been indoctrinated to him all this time. [Shia version of Imam Mahdi 12 Ushulli]. Then, he put his trust and asked him in his deep contemplation who he really was, then he told our murshid. I was moved by my friend’s story.

So, in my tawasul, I asked the Rasulullah Muhammad too, “Who are you, really?” However, I advise you not to use this method if you are not trained with the skills of a historian-anthropologist. In every doubt I had, I listened to His responds, that He did not matter if mankind already believed in the version 570-632 AD, because that is not what really important for a person in living as a human.

I confided to him that so many people left Islam because the Neo-Islamic and Pseudo-Islamic version of the imperialist-consensus version of Islam had become so popular and oppressed their lives. So many things from that version of Islam are so foolish, ridiculous, evil, and do not really make sense. It is doubtful and deserves to be laughed at, if not being mocked. Especially what I talked about at that time was about the hijab.

One of the first things He directed me to do was to open a chapter in the Gospel of Revelation (in Buyruk Alfurqan or The Beloved and I: New Jubilees Version), which led me to the Ridda War. Before discussing the Ridda War, I will discuss why the Muhammads were condensed into just one figure in 570-632 AD.

The date was chosen by early Islamic historians such as Ibn Ishak under the patronage of the new Abbasid regime and required a strong political identity. Ibn Ishak, for example, was a contemporary of Sayyidina Jafar Sadik [d.765 AD], who conveyed transmissions in secret to his disciples and some of them experienced persecution from the Abbasid regime. In fact, Sayyidina Jafar Sadik himself was poisoned to martyrdom on the order of the caliph Al-Mansur, the sponsor or patron of Ibn Ishak.

Of course I don’t know the exact reason why the figures of the Muhammads were condensed into one figure 570-632 AD, but through that date, I can make a number of historical hyphotesis, besides the interest of the new Abbasid dynasty in “canonizing” the legendary figure named Muhammad into one. private 570-632 AD only.

Some of the possible reasons are as follows.

First, it relates to the history of the Byzantine Roman and Sassan Persian proxies. In the years of Muhammad’s birth, between 570-571 AD, an important event occurred, namely the defeat of the Ghassan confederation over the Lakhmid confederation. Not long after, the first Byzantine-Sassan War took place which ended in 591 AS, just as we find the story of the young Muhammad known by the so-called Quraysh. Who are the real Quraysh? Is this name known in Roman and Persian records? The only known ones appear to be the Ghassan confederation and the Lakhmid confederation.

Second, the year of his death (632 AD) is two years around the defeat of the Persians from the Romans, and since then there have been a number of persecutions and repressions of Jews who are considered to support Persia, including forcing a number of elites and leaders to convert to Christianity (Western). Meanwhile, in Persia there were fights for the throne between the two clans and a civil war, right during the reigns of two female emperors. So, there are enough reasons to say that the victory of the caliph Umar over Ctesiphon (the capital of Persia), and Jerusalem, in the years 634-637 AD was partly due to these factors.

Third, in those years, despite the second Byzantine-Sassan War, there was no longer powerful Ghassan or Lakhmid confederate. In other words, in the Arabian territory that was as wide as from the Decapolis, Nabatea, to the Hejaz and borders with Yemen (Himyar), Egypt, and Ethiopia (Aksum), there were no strong confederate powers like Ghassan who supported the Roman and Lakhmid who supported Persia.

It’s just very few reasons, for the time being.

However, with “the period of emptiness” and “the period of internal turmoil in Persia” and

“The period of Heraclius’ oppression”, then giving rise to the figure of a great hero for a society in a region that shares traditions, cultures, language families, etc., which for centuries have been the object of contention between Romans and Persians, was of course something that is timely and appropriately needed. The Abbasids who stood on the ruins of Persia needed it more than the Umayyads who stood on the ruins of the Decapolis which had been in centuries living in Hellenist culture.

So, yes, of course the early Muslims, who are described as companions of Muhammad 570-632 AD were the real pioneers in a movement that could be called a post-Ghassan and post-Lakhmid nationalist movement. The so-called Quraish was a confederation of various tribes, which led the movement, although at first the confederation was divided, just as in Indonesia there was PDIP which supported Ganjar Pranowo and another supported Puan Maharani. In this case, there was a stronghold of the Quraysh party that supported Muawiyah, and there was a stronghold of the party that supported Sayyidina Ali ibn Abi Talib.

Readers who are accustomed to following my writings may already have guessed that I will refer to any of the characters of Muhammad condensed into one figure 570-632 AD.

However, what I want to emphasize in this article is that the “crimes of the Islamic religion” occurred not because Muhammad 570-632 AD appeared in history carrying a sword to conquer the world, because the 570-632 AD figure was as  fictional as Jesus Christ. 33 AD. How can a fictional character like Voldemort be cursed for his crimes?

The Quraysh confederation along with other confederations that later founded the Umayyad dynasty in one of the Decapolis cities was a complex group of people: in general they were Israelites, and/or Peranakan Jews, and others were Arabs. Their religions are also actually diverse, not mere “paganism” as the Orientalist mindset is still influenced by the Western Church’s thinking about what is called religion. This mindset permeated the mindset of Jews today, and then Muslims today, because the Romans colonized them for a long time.

I started to get used to distinguishing myself between “Israel” and “Jews” even though the two were “interchangeable”, because there were immigrants from the Kingdom of North Israel which was subjugated by Neo-Assyrians, and there were immigrants from the Kingdom of Judah which was colonized by Babylon and Persia, then they were all mingled and got married with each other .

It was the immigrants in the Decapolis, Nabatea, and other Arabian regions who were the ancestors of the clans in the Quraysh confederation. They are in the Ghassan confederation which sided with the Romans as well as in the Lakhmid confederation which sided with the Persians, there were those who embraced Oriental Christianity like their brethren in Yemen and Ethiopia, and there were also those who embraced Judaism (Oriental too, as in Yemen and Ethiopia). Meanwhile, those who live in oases (deserts) and not in cities and not in ports, aka in the interior, which are commonly called Bedouin Arabs, some have also embraced Oriental Christianity.

The nationalists were very tired of fighting between the two superpowers, first the Greeks then later then Romans, and then the Persians who was still quite mighty until around 630 AD because of the wars between themselves. Their tiredness must also be understood: because most of them were merchants who used to pass through conflicting areas and bring products imported from far away, even from the area we now call Indonesia.

All the tales in the hadiths about wars are actually closely related to the two Byzantine-Sassan wars I mentioned, the Persian internal wars, and the second proxy wars in Yemen involving Ethiopia. Likewise the story of the migration in two waves. Isn’t the more popular and the more liked the tale, the more it will be considered as truth, especially if it is conveyed by the authorities? Who believes that the people of Wadas (in Central Java) are against mining and not dams, and who believes in buzzers and gimmicks “sacrificing for dams for the common good”?

The dispute between Sayyidina Ali’s family and factions supporting Sayyidina Ali versus opponents of Sayyidina Ali’s factions is not as simple as the “Islamic internal religious schism” such as the tales of the rivalry between Sunnis and Shiites and the discussion of the Mutazilah, Khawarij, and various schisms in Islamic history. My historical instinct is no longer able to digest it as simple as the commoners, mediocres, or simplistic people who read it (or who wants it?) as mere religious-spiritual tales.

The date 632 AD was also deliberately chosen because of the Ridda War which took place in 632 AD. Almost all Muslims view it as a war against those who apostatized or left Islam and those who were called false prophets such as Musailamah and Sajjah. Before discussing the context of the incident, I will give a little hint about the meaning of the words “ridda” and “apostate”, from the Hebrew lexicon, and not from the Arabic lexicon which has been mixed with post-Abbasid meanings.

1. The word ridda comes from the Hebrew, Aramaic, ancient Arabic, Syriac, Akkadian, Geetz, etc., (no.7287, 7287b) which is radah which means to dominate, to rule, and to scrape out. In other words, politically the Ridda War meant a war to dominate and suppress the enemy.

2. The word ridda which later developed into apostasy [irtidad] also comes from the word radad (no.7286) which is to beat down.

3. When developed into apostasy, it is also processed from the words “marad” (no.4775) and “mered” (no.4776), namely to to rebel, and suc

4. The words in marad and mered are also related to the word “meri” (no.4805) which means rebellion, and the word “marah” (no.4784) which means rebellious.

5. Meanwhile, the word “marah” (no.4751) which means bitterness is related to the name of the bitter water in the Sinai Story, and “Marah” (no.4785), which is absorbed in Malay for emotions that match covering bitterness, angry, and wrath.

The Ridda war was not about leaving Islam and false prophets, but wars against those who left the Quraysh confederation’s agreement after the first leader of their confederation died. It was the leader who was later named and also known as Muhammad. Musailamah, whose real name was Muslimah, rejected the new agreement that chose Abu Bakr as caliph by eliminating autonomy for the madina or other harams, including the Yamamah he led. A number of clans allied with Muslimah supported the Yamamah confederation’s dispute.

The Garden of Death which took place in Yamamah as the culmination of the Ridda War, had slained Muslimah, and was a repeat tragedy of the events that took place in Jerusalem during the life of the “real Jesus Christ”, namely the Events of 66-70 AD. For those who study the events of the revolution, they will remember when the revolution against the Romans splitted between Simon bar Giora and John of Giscala. This is what was discussed in the Revelation, according to Buyruk Alfurqan, which views the texts not in preterism, but in historicism. As in the Bektashiya tradition, it is believed that there is a “repeating historical pattern” and therefore the Revelation contains not only historical experiences, but also prophecies of the recurrence of that experiences.

The first leader of the confederation, which we know as Quraish, led the confederacy in Yathrib which would later be known as “Medina”, even though there were a number of madina, haram, or cities with Arab-Jewish traditions which were also inhabited by many Oriental Christians such as in Yamamah. Muslimah joined in alliance with him because there was no longer the power of Lakhmid, and Muslimah of course also did not want to be straddled by the Romans. The previous leaders of Yamamah tended to support the Lakhmid and the Persian, rather than the Ghassan and the Roman.

The first leader was the son of one of the elites of the previous confederation, the Ghassan confederacy, whose stories are actually also widely referred into the story of Muhammad 570-632 AD. So, I therefore say there were several Muhammads before Muhammad who was actually referred to as prophes and apostle in Muslims’ shalawats. He was the transmitter murshid who collected all written and oral transmissions, and received revelations to respond to all these transmissions in order to guide his muhibs and murids in the situation of the 7th century AD at that time. The muhib and murids referred to the book as the Quran, namely readings to be recited, because it is actually hymn to be sung.

In 692 AD, after Al-Hajjaj succeeded in controlling the haram of Mecca and killing the rival caliph of his caliph, Abdul Malik I, he had the idea to canonize the texts owned by Muhammad’s disciples for their new national identity, as well as to restore the image of the Umayyad dynasty because in 680 AD they had massacred the families of Muhammad and Ali in Karbala. Inspired by Christianity which canonized the Gospels, Al-Hajjaj also took the initiative with the book to popularize the unified language of one of the lingua franca at that time, a creole Arabic dialect at that time in the Decapolis.

If we want to say “the first crime of Islam” then it is the success of the caliphate under Umar ibn Khattab in usurping the Persian superpower. Then, about two decades later Muawiyah built the capital in Damascus which was Hellenicized since Greek times fluttered with the emperor Alexander. Then it’s complete! The Caliphate with an Islamic identity became the main rival of the Romans who had succeeded in overthrowing Greece several decades before the revolutionaries created the figure of Jesus Christ 0-33 AD.

If you are still a Christian or a Jew, you should look in the mirror before laughing at the “crimes of Islam” and laughing at the figure of Muhammad 570-632 AD. However, I can forgive you if you are ahistorical, especially if it is anachronistic.

However, this movement emerged under the name “Islam” and the figure was popularized under the name “Muhammad” because of the things contained in the traditions of Christianity and Judaism that were embraced by the pioneers of the movement itself. Not from the void of the desert. Except for those of you who are blind, who do not know where the Decapolis, Nabataeans, the Al-Jawf site, the ancient city of Dumah which is mentioned in the Old Testament, the old port city of Aden mentioned in Ezekiel, etc.thinking Arabia was just barren lands without city and civilization at all.

Among them, Matthew narrates Jesus’ saying, “I do not come with islam, but with a sword”, and Oriental Christians have put their faith in Jesus Christ under the name “Muhammad” in their prayers in the 7th century AD. Meanwhile, Heraclius had became more oppressive towards the Jews in his area because they sympathized and even followed this nationalist movement, while other Jewish elites joined the Persian rulers fighting each other, reminding them more and more of the voices of Isaiah and Jeremiah when they cried “no Islam,” which was echoed again by their transmitter murshid in 612-622 AD.

Hallelujah! Hosanna! Hosanna!

Of course, for these “crimes”, the Umayyads and Abbasids needed to popularize the doctrine “Islam is the religion of rahmatan lil alamin.” Ever heard of Pax Romana? Don’t you miss a peaceful Indonesia, gemah ripah loh jinawi, in political stability?

When I give chronological year marks such as Muhammad 570-632 AD and Jesus Christ 0-33 AD, that means I am not generalizing like the attitude of some atheists and agnostics who say Jesus is a mere mythological story, and so does Muhammad (which surprisingly many actually believed in one figure in those years). Of course, there are historical figures behind the two characters.

In the sampradaya tradition, “Islam is rahmatan lil alamin” is teaching a person to livecompletely as human being, and not an expansionist, Manifest Destiny, and destructive people. Murtad is an attitude of defiance or rebellion from a murid or muhib against his/her murshid – who was often also a prophet or apostle – that is, doing destructive things against the teachings and wisdom of the master. Likewise, the kafir, which is simply the attitude of muhib, murids, and those who listen to the advice and teachings of a sage, but veiled themselves from the truth they have received, that they continue to do destructive things.

When a sampradaya tradition that became a revolutionary movement such as in 6-70 AD, and then in 612-632 AD, was then taken over by a narrow nationalist ijtihad, then we find a change in the meaning of murtad, kafir, and heresy. To cover up what actually happened in the Ridda War, and the resistance of the revolutionary Sufi murshids, what was highlighted were the stories of their disobedience in faith.

We hear, for example, the stories of Al-Hallaj, Sayyid Nessimi, Hamzah Fansuri, and Sheikh Siti Jenar which impress them as defiance in terms of creed and religion. Likewise, there were many baba and dede as well as Sufi kalandar before the founding of the Ottomans until the end of the Ottomans who resisted and were executed or persecuted on charges of apostasy, infidelity, and or heresy. In fact, their movement and/or resistance is a social movement or a revolution to oppose policies that are corrupted, destructive, tyrannical, discriminatory, and even harmful to the people (and nature) where they live.

Their stories are often imbued with spiritual romance, because the leaders of the movement were indeed a waliullah, saint, or a murshid who presented himself on the altars of life for humanity until finally martyred. In the same context, stories about the Prophet Muhammad 570-632 AD are filled with spiritual romanticism and religious glorification, as the story of Jesus Christ 0-33 AD, to be later used and exploited for political interests and “new nationalism” from the “Israeli nation” while they lived in colonization and diaspora.

By “Israelites” I mean all those who believed in and/or received the transmission of the story of Sinai, at any level. Both the Bible and the Quran repeat the story of Sinai and respond to all the problems of the disciples and the muhib, often through the story of Sinai. After the failed “Jews” as  the fall of the Maccabees and the failure of the Siege of Jerusalem in AD 70, the Roman empire usurped the identity of the revolutionary movement Jesus Christ for Christianity created (which I call Neo-Christian).

Likewise in the time of Abdul Malik I, he did it together with Al-Hajjaj after all was completed: the conquest of Jerusalem, and the destruction of the Persian power, then half of Ali’s family and faction was successfully genocidated, then the cities of Mecca and Yathrib were conquered, and finally Muhammad was willing to compromise so that canonization of the Quran can be done. Abdul Malik I’s work was complemented by the success of the Neo-Umayyads in Iberia, then since 750 AD was established by the Abbasids who succeeded in silencing Ali’s disciples and muhibs with divide et impera, and finally perfected by the Ottomans who succeeded in overthrowing the Romans for good.

I don’t want to explain in my posts on social media the details of the Muhammads who transmitted the divine revelations they received, and likewise the one Muhammad who established the Quran (before canonization). Please wait for the book I’m working on. May Allah with the prayers of the transmitter murshids of the ancestral allow! Whatever it is, well-known expressions, including terms according to the sampradaya tradition and according to the imperial consensus tradition (Neo-Islam and Pseudo-Islam), are of course very different, even very inconsequential according to the sampradaya tradition.

Thus, the phrase “Islam is the religion of rahmatan lil alamin” also remains as a slogan of “Pax Islamica” like all the slogans and gimmicks of the greedy imperialists and oligarchs, but dressed as angels with all the philanthropic assistance and generous sponsors.

(We see it in similar cases in Indonesia, such as the Wadas case. When some of you see the Wadas people reject dams and are required to sacrifice as a form of their nationalism. Are dams really necessary and the best solution for agricultural irrigation, and or is it just an  evil plot for andesit mines, which is a way for structural impoverishment? Capitalism is of course the new religion of most of us who are more busy talking about the discourses of tolerance and diversity as well as “evil religions” such as Islam).

According to the historical pattern, to end all the damage and destruction, after repeated life to give every soul a chance, we shall wait when the boil gets bigger, only then it will explode. So, it has been more than 2000 years for the whole nation of Israel (by my definition previously), and it might explode in the near future, to be finished once and for all. Even if it is not in the near future, since it has already been 100 times of opportunity, it would not be long before there are seven more chances of being reborn.

Rahayu Sabbath. May the guidance of Enoch, Eliyahu, Jesus, and Al-Mahdi in our every thought and action. Amen, amen, amen.

Siddhamastu,

Sheikha Hefzibah RA Gayatri Wedotami Muthari.

#Nafsiology

Bogor, 19 February 2021, originally posted on my Facebook pages, in Indonesian language.

Standard

MURTAD

[PERINGATAN: tinggalkan tulisan ini jika mengguncang iman Anda, atau kosongkan gelas Anda untuk dapat menerima tuangan dari tulisan ini. Selain itu, tulisan ini sangat panjang].

Seorang teman Facebook saya [Jesus Anam] mengatakan, “Islam itu (adalah agama) rahmatan lil alamiin”. Siapakah yang mengatakan hal tersebut? Apakah sang nabi yang disebut sebagai Muhammad? Berdasarkan sejarah modern (historiografi) yang saya pelajari, sosok Muhammad 570-632 M itu tidak ada. Silakan protes! Yang saya sampaikan bukanlah berdasarkan dongeng internal yang telah beredar luas, bahkan diamini oleh Non-Muslim. Saya tidak beragama dengan iman yang menerima taklid kepada dongeng yang populer dan terkenal.

Pada suatu hari, sekitar tahun 2018, sahabat saya sesama mursyid menceritakan kepada saya bahwa selama masa meninggalkan Islam periode tahun 2016, ia meragukan sosok Imam Mahdi yang didoktrinkan kepadanya selama ini. [Imam Mahdi versi Syiah 12 Ushulli]. Lalu, ia bertawasul dan bertanya kepada Beliau, siapa Beliau sebenarnya, kemudian ia menceritakan kepada mursyid kami. Saya tergugah oleh cerita sahabat saya.

Maka, dalam tawasul saya, saya bertanya kepada Rasulullah SAW juga, “Siapakah engkau yang sebenarnya?” Tetapi, saya menyarankan Anda untuk tidak melakukan metode ini jika Anda tidak terlatih dengan keterampilan sebagai sejarawan-antropolog. Dalam setiap keraguan saya, saya menyimak respon Beliau, bahwa Beliau pun tidak masalah jika umat manusia terlanjur percaya pada versi 570-632 M itu, sebab bukan itu yang benar-benar penting bagi seseorang dalam menjalankan kehidupan sebagai manusia.

Saya curhat kepada Beliau bahwa begitu banyak orang meninggalkan Islam karena agama Islam versi Neo-Islam dan Pseudo-Islam yang imperialis-konsensus itu telah sedemikian populer dan menindas kehidupannya. Begitu banyak hal dari agama Islam versi itu sedemikian brengsek, konyol, jahat, dan tidak masuk akal. Patut diragukan dan memang pantas ditertawakan, jika tidak dilecehkan. Terutama yang saya curhat pada waktu itu adalah soal jilbab.

Salah satu hal yang mula-mula Beliau arahkan adalah agar saya membuka suatu pasal dalam Injil Wahyu, yang mengantarkan saya kepada Perang Ridda. Sebelum membahas mengenai Perang Ridda, saya akan membahas mengenai mengapa para Muhammad dipadatkan pada satu sosok saja pada 570-632 M.

Tanggal itu dipilih oleh para sejarawan awal Islam seperti Ibn Ishak di bawah patron rezim Abbasiyah yang baru dan memerlukan identitas politik yang kuat. Ibn Ishak, misalnya, hidup sezaman dengan Sayyidina Jafar Sadik [w.765 M], yang menyampaikan transmisi secara rahasia kepada para muridnya dan sebagian dari mereka mengalami persekusi dari rezim Abbasiyah. Bahkan, Sayyidina Jafar Sadik sendiri diracun sampai martir atas perintah khalifah Al-Mansur, sponsor atau patron Ibn Ishak.

Tentulah saya tidak tahu alasan pasti mengapa sosok para Muhammad dipadatkan menjadi satu sosok 570-632 M, tetapi melalui tanggal tersebut, saya dapat memberikan sejumlah dugaan secara historis, di samping adanya kepentingan dinasti yang baru Abbasiyah dalam “mengkanonisasi” sosok legenda bernama Muhammad menjadi satu pribadi 570-632 M saja.

Beberapa alasannya adalah kemungkinan sebagai berikut.

Pertama, terkait dengan sejarah proksi Bizantin Romawi dan Sassan Persia. Pada tahun-tahun kelahiran sosok Muhammad itu antara 570-571 M terjadi peristiwa penting yaitu kekalahan konfederasi Ghassan atas konfederasi Lakhmid. Tidak lama kemudian, berlangsunglah Perang Bizantin-Sassan pertama yang berakhir pada 591 M, tepat pada saat kita menemukan kisah pemuda Muhammad dikenal oleh yang disebut sebagai suku Quraish. Siapakah suku Quraish sebenarnya? Apakah namanya dikenal dalam catatan-catatan Romawi dan Persia? Yang dikenal tampaknya hanya konfederasi Ghassan dan konfederasi Lakhmid.

Kedua, tahun kematiannya (632 M) yaitu dua tahun sekitar kekalahan Persia dari Romawi, dan semenjak itu berlangsung sejumlah persekusi dan penindasan terhadap orang-orang Yahudi yang dianggap mendukung Persia, termasuk memaksa sejumlah elit dan pemimpin untuk memeluk Kristen (Barat). Sementara itu, di Persia sedang berlangsung perebutan tahta antara dua klan dan perang sipil, tepat pada masa pemerintahan dua masa kaisar perempuan. Jadi, cukup alasan untuk menceritakan bahwa kemenangan khalifah Umar ke atas Ktesifon (ibukota Persia), dan Yerusalem, pada tahun-tahun 634-637 M adalah antara lain karena faktor-faktor tersebut.

Ketiga, pada tahun-tahun itu, kendati terdapat Perang Bizantin-Sassan yang kedua, tetapi tidak lagi terdapat kekuatan konfederasi Ghassan maupun Lakhmid. Dengan kata lain, wilayah Arabia seluas dari Dekapolis, Nabatea, sampai Hijaz dan perbatasan dengan Yaman (Himyar), Mesir, dan Etiopia (Aksum), tidak terdapat kekuatan konfederasi yang kuat seperti Ghassan yang mendukung Romawi dan Lakhmid yang mendukung Persia.

Itu hanya sedikit saja alasan, untuk sementara waktu.

Namun, dengan “periode kekosongan itu” dan “periode kekisruhan dalam negeri Persia” dan

“periode penindasan Heraklius”, maka memunculkan sosok seorang pahlawan agung bagi suatu masyarakat di suatu wilayah yang berbagi tradisi, budaya, rumpun bahasa, dst, yang berabad-abad menjadi objek rebutan Romawi dan Persia, tentu saja merupakan sesuatu yang sudah tepat sesuai waktu dan kebutuhan. Abbasiyah yang berdiri di atas puing-puing Persia memerlukannya lebih daripada Umayyah yang berdiri di atas puing-puing Dekapolis yang berabad-abad berbudaya Hellenis.

Jadi, ya, tentu saja umat Islam perdana, yang diceritakan sebagai sahabat-sahabat Muhammad 570-632 M adalah para pelopor sesungguhnya dalam suatu gerakan yang bisa dikatakan sebagai gerakan nasionalis pasca Ghassan dan pasca Lakhmid. Yang disebut sebagai Quraish adalah suatu konfederasi berbagai kabilah, yang memimpin gerakan tersebut, meski pada awalnya konfederasi itu terbelah persis seperti di Indonesia ada PDIP yang mendukung Ganjar Pranowo dan ada yang mendukung Puan Maharani. Dalam kasus ini, ada kubu partai Quraish yang mendukung Muawiyah, dan ada kubu partai yang mendukung Sayyidina Ali ibn Abi Talib.

Pembaca yang sudah terbiasa mengikuti tulisan-tulisan saya mungkin sudah dapat menduga saya akan menunjuk kepada siapa saja tokoh Muhammad yang dipadatkan ke dalam satu sosok 570-632 M.

Namun, yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah “kejahatan agama Islam” terjadi bukanlah karena Muhammad 570-632 M muncul dalam sejarah membawa pedang untuk menaklukkan dunia, sebab, tokoh 570-632 M itu sama-sama tokoh fiksi seperti Yesus Kristus 0-33 M. Bagaimana mungkin tokoh fiksi seperti Voldermort dapat kita kutuk karena kejahatannya?

Konfederasi Quraish bersama konfederasi-konfederasi lain yang kemudian mendirikan dinasti Umayyah di salah satu kota Dekapolis adalah kumpulan manusia yang kompleks: pada umumnya mereka adalah kaum Peranakan Israil, dan atau Peranakan Yahudi, dan yang lainnya adalah orang-orang Arab. Agama mereka juga sebenarnya beragam, bukanlah “paganisme” belaka sebagaimana pola pikir Orientalis yang masih dipengaruhi alam pikiran Gereja Barat terhadap yang disebut sebagai agama. Pola pikir ini merasuki pola pikir orang-orang Yahudi saat ini, dan kemudian Muslim saat ini, karena Romawi menjajah mereka cukup lama.

Saya mulai membiasakan diri membedakan diri antara “Israil” dengan “Yahudi” meski keduanya “interchangeable”, sebab ada imigran dari Kerajaan Israil yang dijajah oleh Neo-Asyur, dan ada imigran dari Kerajaan Yehuda yang dijajah Babilonia dan Persia, lalu mereka berkawin-mawin.

Imigran-imigran yang di Dekapolis, Nabatea, dan wilayah-wilayah Arabia lainnya itulah yang merupakan nenek moyang klan-klan dalam konfederasi Quraish. Mereka ada dalam konfederasi Ghassan yang memihak Romawi maupun ada dalam konfederasi Lakhmid yang memihak Persia, ada yang memeluk Kristen Oriental seperti saudara-saudara mereka di Yaman dan Etiopia, dan ada juga yang memeluk Yahudi (Oriental juga, seperti yang di Yaman dan Etiopia). Sementara, mereka yang ada di oasis-oasis (gurun) dan bukan perkotaan dan bukan pula pelabuhan, alias di pedalaman, yaitu yang biasa disebut Arab Bedouin, juga banyak yang telah memeluk Kristen Oriental.

Kaum nasionalis itu sudah sangat lelah di antara pertikaian dua adidaya, semula Yunani yang beralih menjadi Romawi, lalu Persia yang masih cukup perkasa sampai sekitar tahun 630 M karena perang di antara mereka sendiri. Kelelahan mereka harus pula dimaklumi: sebab sebagian besar mereka adalah kaum pedagang yang biasa melintasi wilayah-wilayah bertikai dan membawa produk-produk yang diimpor dari jauh, bahkan dari wilayah yang kini kita sebut Indonesia.

Semua dongeng-dongeng dalam hadis-hadis mengenai perang-perang sebenarnya berkaitan erat dengan dua perang Bizantin-Sassan yang saya sebutkan, perang dalam negeri Persia, dan perang proksi keduanya di Yaman yang melibatkan Etiopia. Begitu pula kisah hijrah dua gelombang itu. Bukankah semakin populer dan semakin banyak disukai dongengnya, maka akan semakin dianggap sebagai kebenaran, apalagi jika disampaikan oleh para penguasa? Siapa yang percaya bahwa warga Wadas menentang pertambangan dan bukan bendungan, dan siapa yang percaya kepada para pendengung dan gimik “berkorban untuk bendungan bagi kepentingan bersama”?

Pertikaian di antara keluarga dan faksi pendukung Ali dengan faksi penentang Ali tidaklah sesederhana “skisma agama internal Islam” sebagaimana dongeng-dongeng perseteruan antara Sunni dengan Syiah dan pembahasan Mutazilah, Khawarij, dan berbagai skisma dalam sejarah Islam. Naluri kesejarawanan saya tidak lagi mampu mencernanya sesederhana kaum awam atau kaum simplistik yang membacanya (atau yang menginginkannya?) sebagai dongeng-dongeng religius-spiritual belaka.

Tanggal 632 M juga sengaja dipilih karena Perang Ridda yang berlangsung pada 632 M. Hampir semua Muslim memandangnya sebagai perang terhadap mereka yang murtad atau meninggalkan Islam dan mereka yang disebut sebagai nabi-nabi palsu seperti Musailamah dan Sajjah. Sebelum membahas konteks peristiwa tersebut, saya akan memberikan sedikit petunjuk mengenai arti kata “ridda” dan “murtad”, dari kamus leksikon Ibrani, dan bukan dari leksikon Arab yang telah tercampur oleh pemaknaan pasca Abbasiyah.

1. Kata ridda berasal dari kata Ibrani, Aram, Arab kuno, Suryani, Akkadia, Geetz,dll, (no.7287, 7287b) yaitu radah yang artinya untuk menguasai, untuk mendominasi, dan untuk mengikis. Dengan kata lain, secara politik Perang Ridda berarti perang untuk mendominasi dan memberangus musuh.

2. Kata ridda yang kemudian berkembang menjadi murtad [irtidad] juga berasal dari kata radad (no.7286) yaitu untuk mengalahkan, untuk memukul, untuk menaklukkan.

3. Ketika dikembangkan menjadi murtad, maka juga diolah dari kata “marad” (no.4775) dan “mered” (no.4776), yaitu untuk membelot, untuk membangkang, memberontak, membangkang, dst.

4. Kata-kata pada marad dan mered juga berkaitan dengan kata “meri” (no.4805) yaitu pembangkangan atau pemberontakan, dan kata “marah” (no.4784) yaitu sifat berontak dan pembangkang.

5. Sementara itu, kata “marah” (no.4751) yang berarti kepahitan berkaitan dengan nama air pahit dalam Kisah Sinai, “marah” (no.4785), diserap bahasa Melayu untuk emosi yang senada dengan rasa pahit dan murka.

Perang Ridda bukanlah perang mengenai meninggalkan agama Islam dan nabi-nabi palsu, melainkan perang terhadap mereka yang keluar dari kesepakatan konfederasi Quraish pasca pemimpin pertama konfederasi mereka meninggal dunia. Pemimpin itulah yang kemudian digelar dan disebut juga sebagai Muhammad. Musailamah yang sebenarnya bernama Muslimah menolak kesepakatan baru yang memilih Abu Bakar sebagai khalifah dengan meniadakan otonomi kepada madina-madina atau haram-haram lainnya, termasuk Yamamah yang dipimpinnya. Sejumlah kabilah yang serumpun dengan Muslimah mendukung konfederasi Yamamah.

Taman Kematian yang berlangsung di Yamamah sebagai puncak Perang Ridda, telah menewaskan Muslimah, dan merupakan tragedi pengulangan dari peristiwa yang berlangsung di Yerusalem pada masa “Yesus Kristus yang asli” hidup, yaitu Peristiwa 66-70 M. Bagi yang mempelajari peristiwa revolusi tersebut, akan ingat ketika kelompok revolusi melawan Romawi terpecah antara Simon bar Giora dengan Yohanes dari Giscala. Inilah yang dibahas dalam Injil Wahyu, menurut Buyruk Alfurqan yang memandang teks-teks itu bukan secara preteris, melainkan secara historisis. Sebagaimana dalam tradisi Bektashiyah, diyakini adanya “pola sejarah yang berulang” dan karena itu Injil Wahyu bukan hanya memuat pengalaman historis melainkan juga nubuat akan berulangnya pengalaman itu.

Pemimpin pertama konfederasi yang kemudian kita kenal sebagai Quraish memimpin konfederasi tersebut di Yathrib yang kelak dikenal sebagai “Madinah” saja, padahal ada sejumlah madina, haram, atau kota dengan tradisi Arab-Yahudi yang juga dihuni oleh banyak orang Kristen Oriental seperti di Yamamah. Muslimah turut bersekutu dengannya karena tidak ada lagi kekuasaan Lakhmid, dan Muslimah tentu saja juga tidak ingin dikangkangi oleh Romawi. Pemimpin Yamamah sebelumnya memang cenderung kepada Lakhmid dan Persia, daripada Ghassan dan Romawi.

Pemimpin pertama tersebut adalah putra dari salah seorang elit konfederasi sebelumnya, konfederasi Ghassan, yang sebenarnya juga kisahnya banyak disebut sebagai kisah Muhammad 570-632 M. Jadi, karena itu saya mengatakan ada beberapa Muhammad sebelum Muhammad yang sebenarnya dimaksud sebagai nabi dan rasul dalam salawat-salawat. Beliaulah mursyid perawi yang mengumpulkan kembali seluruh transmisi tertulis dan lisan, dan menerima wahyu untuk menanggapi seluruh transmisi tersebut dalam rangka membimbing para muhib dan murid-muridnya dalam situasi abad 7 M saat itu. Para muhib dan murid-muridnya menyebut kitab tersebut sebagai Alquran, yaitu bacaan untuk didaraskan, karena sesungguhnya berupa himne untuk disenandungkan.

Pada tahun 692 M, setelah Al-Hajjaj berhasil menguasai haram Mekkah dan membunuh khalifah saingan dari khalifahnya, Abdul Malik I, ia memiliki ide untuk mengkanonisasi naskah-naskah yang dimiliki oleh murid-murid Muhammad sebagai identitas baru kebangsaan mereka, sekaligus untuk memulihkan citra dinasti Umayyah karena pada 680 M telah membantai keluarga Muhammad dan Ali di Karbala. Terinspirasi oleh Kekristenan Barat yang melakukan kanonisasi Injil, maka Al-Hajjaj juga berinisiatif dengan kitab itu untuk mempopulerkan bahasa persatuan dari salah satu lingua franca saat itu, yaitu suatu dialek Arab kreol saat itu di Dekapolis.

Pada masa itu, sesungguhnya Muhammad masih hidup seperti manusia biasa, dan Beliau pun mendatangi Abdul Malik untuk melakukan kesepakatan. Di antara murid-muridnya yang ikut dalam panitia kanonisasi tersebut adalah Hasan Basri, seorang Sufi terkenal. Namun, Al-Hajjaj bertindak keras dengan merampas seluruh naskah lama dan membakar naskah-naskah yang dianggap tidak sesuai dengan program pemerintahnya. Sementara itu, bahasa dalam Alquran yang kita kenal saat ini, sebenarnya telah banyak berbeda dengan bahasa Arab kreol yang digunakan Muhammad dalam Alquran yang ditransmisikannya kepada para murid dan muhibnya.

Ketika Perang Ridda, Beliau belum lahir. Sebagaimana telah dinubuatkan dalam Injil Wahyu, lebih dari setahun setelah gempa bumi yang sangat dahsyat di Timur Tengah yang mengguncang Yerusalem dan banyak kota di sekitarnya, terutama kota-kota di Dekapolis, pada September 634 M, rumor telah tersebar dari para muhib dan murid yang menceritakan telah diyakini kelahiran kembali pemimpin sekaligus mursyid perawi mereka yang pernah dibunuh. Rumor itu tersebar karena khalifah Umar, salah satu murid, mengklaim nama Beliau untuk menaklukkan Yerusalem pada 637 M.

Tahun 636 M, beliau lahir di dalam rumah keluarga Sayyidina Ali. Akibatnya, Sayyidina Ali harus mengungsikan istri dan putranya untuk sementara waktu. Kita tahu bahwa sepanjang tahun 632 M sampai 655 M, Ali ibn Abu Talib tidak terlibat dengan politik praktis konfederasi baru yang menamakan diri mereka sebagai gerakan Islam, terinspirasi oleh mursyid perawi mereka pada 612 M yang mendeklarasikan gerakan untuk menentang Ghassan — dan kemudian Lakhmid.

Sang mursyid perawi mengambil nama dan doa bagi gerakannya dari ungkapan-ungkapan Yeremiyah dan Yesayah, “Tidak ada Islam, tidak ada Islam!” untuk mengkritik para pemuka Yahudi yang bekerjasama dengan para penjajah Neo-Asyur, Mesir, dan Babilonia. Kali itu, beliau mengkritik elit Peranakan Yahudi dan Israel yang menjadi kacung-kacung dan antek-antek Romawi maupun Persia.

Salah satu misi mereka tentu saja adalah membebaskan Yerusalem, tanah suci bagi mereka, dari penjajahan Romawi yang baru berjaya saat itu. Sebuah kesempatan karena kekuatan Persia sudah hancur di kawasan dua adidaya tersebut. Adapun Mekkah kemudian dimapankan sebagai replika Yerusalem,, setelah kota itu ditaklukkan dari Abdullah ibn Zubair pada 692 M, karena sejak masa 622-632 M ia menjadi basis untuk merebut Yerusalem. Sebelum itu, ibukota kekhalifahan ditetapkan di Damaskus semenjak 660 M, dari Kufah pada 657 M.

Ya, Ali ibn Talib sengaja memindahkan ibukota dari Yathrib ke Kufah pada 657 M, sebuah kota Persia, karena beliau lebih banyak mendapat dukungan dari kubu Persia dan pro-Lakhmid. Jadi, jangan heran bila kelak beberapa abad kemudian Tanah Persia banyak yang menganut Syiah dan memuja Ali beserta keluarganya (meski bermazhab Sunni).

Kalau kita hendak mengatakan “kejahatan agama Islam yang pertama” maka itu adalah keberhasilan kekhalifahan di bawah Umar ibn Khattab saat merampas kekuasaan adidaya Persia. Lalu, sekitar dua dekade kemudian Muawiyah membangun ibukota di Damaskus yang Hellenis sejak zaman Yunani berkibar dengan kaisar Alexander. Maka lengkaplah sudah! Kekhalifahan dengan identitas Islam menjadi saingan utama Romawi yang telah berhasil menumbangkan Yunani beberapa dekade sebelum kaum revolusioner menciptakan sosok Yesus Kristus 0-33 M.

Kalau Anda masih menganut Kristen atau Yahudi, sebaiknya bercermin dulu sebelum menertawakan “kejahatan agama Islam” dan menertawakan sosok Muhammad 570-632 M itu. Namun, saya bisa memaklumi jika Anda ahistoris, apalagi jika anakronistik.

Bagaimanapun, gerakan ini dimunculkan dengan nama “Islam” dan sosok tersebut dipopulerkan dengan nama “Muhammad” karena hal-hal yang terdapat dalam tradisi Kekristenan dan Yudaisme yang dianut para pelopor gerakan itu sendiri. Bukan dari ujug-ujug kekosongan. Kecuali bagi Anda yang peta buta, tidak tahu di mana letak Dekapolis, Nabatea, situs Al-Jawf, kota purbakala Dumah yang disebut dalam Perjanjian Lama, kota pelabuhan tua Aden yang disebut dalam Yehezkiel, dst sehingga berhalusinasi bahwa agama Islam lahir dari nol di gurun tandus tanpa peradaban kota sama sekali.

Di antaranya, Matius meriwayatkan Yesus berkata, “Aku tidak datang membawa islam, melainkan membawa pedang”, dan orang-orang Kristen Oriental telah bertawasul kepada Yesus Kristus dengan nama “Muhammad” dalam doa mereka pada abad 7 M itu. Sementara itu, Heraklius telah semakin menindas orang-orang Yahudi di wilayahnya karena mereka bersimpati bahkan mengikuti gerakan nasionalis ini, sedangkan para elit Yahudi ikut bersama penguasa Persia saling bertikai, semakin mengingatkan mereka pada suara Yesaya dan Yeremiyah saat menyuarakan tiada islam, yang digemakan kembali oleh mursyid perawi mereka pada 612-622 M.

Haleluya! Hosana! Hosana!

Tentu saja, untuk “kejahatan tersebut”, Umayyah dan Abbasiyah perlu mempopulerkan doktrin “Islam adalah agama rahmatan lil alamiin.” Pernah mendengar Pax Romana? Tidakkah Anda merindukan Indonesia yang damai, gemah ripah loh jinawi, dalam kestabilan politik?

Ketika saya memberi tanda-tanda tahun kronologis seperti Muhammad 570-632 M dan Yesus Kristus 0-33 M, itu artinya saya memberi petunjuk bahwa saya tidak menggeneralisasi seperti sikap sebagian ateis dan agnostik yang mengatakan Yesus adalah kisah mitologi belaka, dan begitu pula dengan Muhammad (yang anehnya banyak yang benar-benar percaya pada satu sosok pada tahun-tahun itu). Tentu saja, ada tokoh-tokoh historis di balik mereka.

Dalam tradisi sampradaya, “Islam adalah rahmatan lil alamiin” adalah suatu lelaku yang utuh sebagai manusia, dan bukan lelaku ekspansionis, Manifest Destiny, dan destruktif. Murtad adalah sikap pembangkangan atau pemberontakan dari murid atau muhib kepada seorang mursyid perawi — yang sering kali juga adalah seorang nabi atau rasul — yaitu melakukan hal-hal destruktif melawan ajaran dan kebijaksanaan sang guru. Begitu pula halnya dengan kafir, yang secara sederhana adalah sikap muhib, murid, dan mereka yang mendengar nasehat serta ajaran seorang resi, tetapi menghijabi dirinya dari kebenaran yang diterimanya, sehingga tetap melakukan hal-hal destruktif.

Ketika suatu tradisi sampradaya yang menjadi gerakan revolusioner seperti pada 6-70 M, dan kemudian pada 612-632 M, lalu diambil alih oleh ijtihad nasionalisme yang sempit, maka kita menemukan perubahan makna murtad, kafir, dan sesat. Untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi dalam Perang Ridda, dan perlawanan para mursyid Sufi yang revolusioner, maka yang ditonjolkan adalah kisah-kisah pembangkangan mereka secara akidah.

Kita misalnya mendengar kisah Al-Hallaj, Sayyid Nessimi, Hamzah Fansuri, dan Syekh Siti Jenar yang mengesankan mereka sebagai pembangkangan dalam segi akidah dan keagamaan. Begitu pula banyak sekali baba dan dede serta kalandar Sufi menjelang berdirinya Ottoman sampai berakhirnya Ottoman yang melawan dan dieksekusi maupun dipersekusi atas tuduhan murtad, kafir, dan atau sesat. Padahal, gerakan dan atau perlawanan mereka adalah gerakan sosial atau revolusi untuk menentang kebijakan yang korup (corrupted; destruktif), zalim, diskriminatif, dan merugikan bahkan membahayakan rakyat (dan alam) di tempat mereka hidup.

Cerita-cerita mereka memang sering kali dibumbui romantisme spiritual, karena para pemimpin pergerakan itu memang seorang waliullah, santo, atau seorang mursyid yang mempersembahkan dirinya di altar-altar kehidupan bagi kemanusiaan sampai akhirnya martir. Dalam konteks yang sama pula, cerita-cerita mengenai Nabi Muhammad 570-632 M dipenuhi romantisme spiritual dan glorifikasi agama, sebagaimana kisah Yesus Kristus 0-33 M, untuk kemudian dimanfaatkan dan dieksploitasi bagi kepentingan politik dan “ nasionalisme baru” dari “bangsa Israil” dalam keterjajahan dan diaspora mereka.

“Bangsa Israil” yang saya maksud adalah mereka semua yang percaya dan atau menerima transmisi Kisah Sinai, dalam level apapun. Injil maupun Alquran mengulang-ulang Kisah Sinai dan menanggapi seluruh persoalan para murid dan muhib antara lain lewat Kisah Sinai. Setelah “bangsa Yahudi” gagal pasca tumbangnya Makabe dan kegagalan merebut Yerusalem pada 70 M, kekaisaran Romawi merampas identitas gerakan revolusi Yesus Kristus untuk Kekristenan yang diciptakannya (yang saya sebut Neo-Kristen).

Begitu juga pada masa Abdul Malik I, ia melakukannya bersama dengan Al-Hajjaj setelah semua rampung: penaklukan Yerusalem, serta musnahnya kekuatan Persia, lalu separuh dari keluarga dan faksi Ali berhasil digenosida, kemudian kota Mekkah dan Yathrib ditaklukkan, dan akhirnya Muhammad bersedia berkompromi sehingga kanonisasi Alquran dapat dilakukan. Pekerjaan Abdul Malik I dilengkapi oleh keberhasilan Neo-Umayyah di Iberia, lalu sejak 750 M dimapankan oleh Abbasiyah yang berhasil membungkam para murid dan muhib Ali dengan divide et impera, dan akhirnya disempurnakan oleh Ottoman yang berhasil menggulingkan Romawi untuk selama-lamanya.

Saya tidak ingin menjelaskan dalam tulisan-tulisan saya di media sosial mengenai detail para Muhammad yang mentransmisikan wahyu-wahyu ilahi yang Mereka terima, dan begitu pula Muhammad yang perdana yang telah memapankan Alquran (sebelum kanonisasi). Silakan tunggu buku yang sedang saya garap. Semoga Allah dengan doa para mursyid perawi leluhur mengizinkan! Apapun itu, ungkapan-ungkapan terkenal termasuk istilah-istilah menurut tradisi sampradaya dengan menurut tradisi imeperial konsensus (Neo-Islam dan Pseudo-Islam), tentu saja sangat berbeda, bahkan sangat ngawur menurut tradisi sampradaya.

Maka, ungkapan “Islam adalah agama rahmatan lil alamiin” juga tinggal menjadi slogan “Pax Islamica” seperti halnya seluruh slogan dan gimik kaum imperialis dan oligarki yang serakah, tetapi berbaju malaikat dengan segenap bantuan filantropi dan sponsor murah hatinya.

(Kita melihatnya dalam berbagai kasus serupa di Indonesia, seperti kasus Wadas. Manakala sebagian dari Anda memandang rakyat Wadas menolak bendungan dan dituntut untuk berkorban sebagai bentuk nasionalisme mereka. Apakah bendungan benar-benar diperlukan dan solusi terbaik untuk irigasi pertanian, dan ataukah itu hanya siasat untuk tambang yang merupakan jalan bagi pemiskinan struktural? Kapitalisme tentu saja adalah agama baru dari sebagian besar kita yang lebih sibuk membicarakan wacana toleransi dan kebinekaan serta “kejahatan agama-agama” seperti Islam).

Menurut pola sejarah, untuk mengakhiri semua kerusakan dan kehancuran itu, setelah berulang kali kehidupan untuk memberi kesempatan kepada setiap jiwa, maka pada saat bisul sudah semakin besar, barulah akan meledak. Jadi, ini sudah lebih dari 2000 tahun bagi seluruh bangsa Israil (menurut definisi saya itu), dan mungkin dalam waktu dekat akan meledak, untuk selesai selama-lamanya. Jika pun tidak dalam waktu dekat, karena sudah 100 kali kesempatan, waktunya tidaklah lama lagi dalam tujuh kali lagi kesempatan terlahir kembali.

Rahayu Sabat. Semoga bimbingan Enokh, Eliyahu, Yesus, dan Al-Mahdi dalam setiap pikiran dan tindakan kita. Amin, amin, amin.

Siddhamastu,

Syekhah Hefzibah RA Gayatri Wedotami Muthari.

#Nafsiologi

Standard

*Perayaan Natal & Asal Usul Santa Klaus Ternyata dari Sufi?*


*Mukadimah*
Kekristenan memiliki hubungan yang sangat erat dengan Sufisme khususnya mazhab Sufi Bektashiyah. Hal ini karena Bektashiyah berkembang di wilayah Kekristenan Barat dan Kekristenan Timur, khususnya di Dimetoka, tujuh daerah yang disebut dalam Injil Wahyu, dan sebelah timur, tenggara, hingga selatan Anatolia (Turki saat ini), kemudian menyebar ke seluruh wilayah yang termasuk dalam Kekaisaran Romawi dan Ottoman sampai ke Rusia.

Dalam tulisan kali, hubungan eratnya justru adalah pada Hari Natal dan Santa Klaus. Jadi, sepertinya, bukan Muslim yang melakukan tasyabuh kepada Kristen dalam perayaan Natal dan memakai topi Santa Klaus, melainkan kaum Kristen imperialis-konsensus yang tampaknya melakukan tasyabuh kepada kaum Sufi — khususnya Bektashiyah.

Bektashiyah berkembang dari sanad Sayyid Bektash Wali (w. 1271 M) yang merupakan murid Babaiyah dan Yasawiyah, dan keturunan Sayyidina Musa Kazim (w. 799 M). Sebelum berdirinya kekhalifahan Ottoman pada abad ke-16 (sebelumnya adalah kesultanan Ottoman), sanad Bektash Wali belum disebut sebagai Bektashiyah sampai kemudian diunifikasi dan pada umumnya murid-murid Bektash Wali bermazhab fikih Hanafi.

haci-bektas-i-veli-nin-portesi-hollanda-da-sa-14187519_osd

(Bektash Wali & Sari Saltuk)


*Perayaan Natal*

Perayaan Natal merupakan perayaan yang dapat ditelusuri dari agama-agama Mesopotamia dan Hellenisme, terutama agama misteri Tammuz dan Dionisius. Menurut sebagian sejarawan, ditemukan bahwa orang-orang Mesopotamia merayakan Tammuz berkaitan dengan musim dingin, dimulai dari winter solstice pada 21 Desember, dan Tammuz bangkit pada hari ketiga, sehingga pada malam 24 Desember ia pun dirayakan dengan sukacita. Ritus transubstansi biasanya dilakukan untuk menapaktilasi, sehingga para peserta merasa terlibat dalam momen hierofani kematian, kebangkitan, dan kelahiran kembali Tammuz atau pun Dionisius.

Ada pula sejarawan yang berpendapat bahwa orang-orang Kristen telah merayakan Natal pada 25 Desember sebelum Sol Invictus dimapankan oleh agama imperial Romawi pada abad ke-3 M. Apapun itu, mitologi mengenai dewa yang senada dengan mitologi Yesus Kristus yang populer, dapat kita jumpai dalam banyak versi jauh sebelum era munculnya mitologi Yesus Kristus. Begitu pula kebaktian, doktrin, dan tradisi yang dapat kita temukan dalam agama-agama misteri (yaitu agama-agama Hellenisme).

Dalam Buyruk Alfurqan, indikasi yang jelas adalah Yesus Kristus lahir berkaitan erat dengan Konjugasi Agung (yaitu peristiwa konjugasi Saturnus dengan Yupiter), sebagaimana diceritakan dalam dongeng-dongeng Injil mengenai bintang Betlehem. Ada beberapa tahun yang masuk akal bahwa peristiwa historis yang mengilhami mitologi tersebut adalah pada 1 Oktober 6 SM, 6 Desember 6 SM, dan 26 Desember 14 M.  Di antara tanggal-tanggal inilah terjadi kelahiran salah satu mursyid perawi yang kemudian kita kenal sebagai Yesus Kristus.

Bangsa Israil memang tidak memiliki kebiasaan merayakan hari kelahiran sosok resi mereka, sampai masa penjajahan Romawi, dan naturalisasi mereka di wilayah Persia dan Romawi.

Sufisme berarti salah satu bentuk tradisi sampradaya dalam rumpun agama-agama Mesopotamia, tepatnya rumpun agama Kearifan Sinai, yaitu agama-agama yang menerima transmisi mengenai Kisah Sinai. Tradisi sampradaya berarti transmisi personal dari seorang guru kepada murid dalam suatu sanad yang terus berkelanjutan. Hal ini, berarti metodologi agama yang berbeda dengan agama-agama misteri sebagai agama rakyat.

Ketika suatu tarekat Sufi menjadi agama rakyat karena popularitasnya, seperti Alevisme dari Bektashiyah, maka ada pemisahan yang jelas antara muhib sebagai talib dan muntasib yang belajar secara sampradaya, dengan muhib sebagai ashik yang belajar secara massal, serta dengan ashik secara umum yang tidak menerima otoritas spiritual Muhammad SAW maupun Yesus Kristus.

Suatu agama rakyat yang merupakan suatu agama konsensus dapat diambil oleh suatu penguasa sebagai agama imperial-konsensus. Agama konsensus berarti menyepakati suatu atau beberapa sosok legenda yang diglorifikasi, slogan yang populer, ritus yang dijalani, hikmah dan doktrin dari sastra sakral yang berasal dari para sosok legenda dan resi yang diglorifikasi itu, dan seterusnya. Konsensus berarti jumlah jemaat yang banyak, sedangkan imperial berarti suatu wilayah (kekaisaran) yang luas.

Karena itulah, jika kemudian dalam tradisi sampradaya ada diriwayatkan mengenai kelahiran Bunda Maria maupun Yesus Kristus, kemudian menjadi populer, maka terbentuklah konsensus, baik secara formal maupun informal. Jadi, tidaklah begitu penting apakah Yesus Kristus benar-benar lahir pada 25 Desember.

Transmisi yang saya terima sejalan dengan sebagian sejarawan yang mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan seperti “Yesus adalah Putra Tuhan” dan “Maria adalah Bunda Tuhan” adalah slogan-slogan politik yang dimaksudkan oleh para Sufi saat abad pertama Masehi untuk melawan dan menghadapi penjajahan Romawi. Kekaisaran Romawi pada masa awal berdirinya mengobarkan slogan Kaisar adalah Tuhan dan semacamnya untuk melegitimasi kekuasaannya serta penindasannya. Terutama semenjak Kuil Yerusalem hancur pada 70 M.

Ya, seperti halnya Bektashiyah, pada awalnya juga gerakan dan tradisi sampradaya dari rumpun Kearifan Sinai tidak disebut Sufisme, melainkan dalam nama-nama lain seperti Nazariyah dan Rahabiyah.

Jika tradisi sampradaya bermakna sesuatu yang bersifat internal, yakni kaderisasi para talib, murid, dan muntasib untuk menyintaskan transmisi, maka gerakan adalah sesuatu yang bersifat eksternal, yaitu para talib, murid, dan muntasib yang mewujudkannya di luar tekke mereka dalam berbagai revolusi dan evolusi sosial. Semenjak masa penjajahan Persia, gerakan itu berfokus kepada melawan dan mengguncang tanduk-tanduk imperialisme, terutamanya dalam memapankan jejaring dagang yang telah ada mengikuti jalur dagang purbakala semenjak 1000 SM.

Demikianlah pula gerakan Sufi yang dipimpin oleh sosok-sosok yang disebut Zakaria, Yahya atau Yohanes Pembaptis, Hannah, Yoakhim, Maria, Yusuf, Yesus, Marta, Magdalena, Yusuf Arimatea, dan seterusnya.

Karena itulah pada sekitar abad 3 M, manakala terjadi Wabah Antonia, para abdal Sufi yang biasanya juga menerima transmisi ilmu pengobatan, mereka mengobati dan menyembuhkan banyak orang yang terpapar. Akhirnya, banyak orang di Anatolia dan sekitarnya akhirnya memuja Yesus Kristus di altar-altar mereka, dan menggantikan dewa-dewa lain dalam agama-agama misteri mereka. Inilah salah satu faktor berkembangnya agama sampradaya Kristen menjadi agama rakyat.

Saya tidak sependapat dengan sebagian sejarawan atau teolog yang mengatakan bahwa Paulus melakukan Kristenisasi terhadap orang-orang Non-Israil, tetapi penafsiran terhadap misi Paulus yang bersifat Manifest Destiny adalah interpolasi (yaitu memasukkan unsur baru ke dalam teks).

Yang dimaksud sebagai bangsa-bangsa atau goyyim adalah Peranakan Israil yang telah berada dalam berbagai suku berbeda, karena diaspora Israil dan perkawinan mereka dengan orang-orang asing dan Trans-Semit lainnya (kabilah-kabilah selain Israil yang menerima Kisah Sinai) yang di antaranya juga meliputi Israilisasi dan bahkan Yudaisasi. Israilisasi itu juga termasuk adanya sejumlah kecil agama rakyat setempat yang menerima Dekalog/Alfurqan, misalnya Hipsistarian. Komunitas ini sulit dipastikan apakah Peranakan Israil atau agama adat Hellenisme yang mengadopsi Dekalog/Alfurqan.  

Jadi, Paulus mengajar di tekke-tekke atau di kota-kota yang sudah terdapat tekke-tekke tempat para muhib dan talib yang telah menerima Kisah Sinai, seperti Hipsistarian itu maupun Yahudi dan kelompok lainnya. Di pertengahan jalan, musahiplik di antara Paulus atau Saul dengan Barnabas atau Thomas berakhir — tampaknya karena masalah pribadi. Cerita-cerita dalam “Kisah Para Rasul” atau bisa juga dikatakan sebagai “Kisah Para Mursyid Perawi” mengandung seluruh unsur tradisi sampradaya yang masih dapat ditemukan dalam Sufisme, khususnya Bektashiyah.

Akibat sejarah panjang kolonialisme Romawi, Kekristenan pada hari ini, baik Barat, Timur, maupun Oriental dan New Age, telah kehilangan tradisi sampradaya yang bersanad sebagaimana Sufisme. Namun, pada abad pertama hingga empat Masehi, Kekristenan di Anatolia masih mempraktekkan Sufisme atau tradisi sampradaya dan dapat dikatakan sebagai “Paleo-Bektashiyah” sebagaimana terserlah dalam Injil Wahyu.

Dalam Injil Wahyu (3:4-5) telah direkam mengenai para talib dan muntasib yang setia dengan perumpamaan pakaian putih mereka, yaitu pakaian yang biasa dikenakan para Sufi sejak dahulu kala, yang dilanjutkan oleh sebagian kaum biarawan Kristen dan kemudian para darwis Sufi Islam. Itu sebabnya, warna kain ihram yang disyaratkan haruslah putih.

Manakala Kristen sampradaya yang populer menjadi agama rakyat itu kemudian disabotase oleh kekaisaran Romawi menjadi agama imperialis-konsensus, maka tidak sedikit para darwis Kristen yang menyepi dan dari merekalah lahirlah tradisi monastik yang awalnya menolak atau menghindari bentuk agama imperialis-konsensus dan perselisihan di antara berbagai mazhab teologi (untuk berkuasa dan menanamkan pengaruh di wilayah kekaisaran).     

Naturalisasi dalam Kristenisasi ini sebelum menjadi agama imperialis-konsensus kerap kali disederhanakan, diabaikan, atau diremehkan karena bingkai pemahaman berasal dari pola pikir agama imperialis-konsensus mengenai kemurnian, sehingga konotasi sinkretisme, hibrida, akulturasi, dan asimilasi menjadi hina dan buruk.

Yang jelas adalah Gerakan Maria yang melahirkan sosok Yesus Kristus menggunakan berbagai perumpamaan, slogan, simbolisme dan ritual untuk menyintaskan transmisi (baca: kaderisasi) secara internal dan menekuni gerakan sosial kemanusiaan secara eksternal. Oleh karena itu, pastilah melakukan naturalisasi, yaitu menggunakan simbol-simbol populer, mensabotase bahasa dan mitos (sebab mitos adalah bahasa) dalam sastra sakral baik sastra lisan maupun sastra tulis, dan juga memperbaharui berbagai majlis pengajian yang akrab dengan konteks saat itu untuk menyintaskan transmisi.

Tujuh tekke di Asia Kecil atau Anatolia (Wahyu 1-3) adalah tujuh tekke yang bersanad kepada Yohanes (Yohanes Patmos; Yohanes Sang Ahli Kalam; Yohanes Sang Perawi), musahip Yesus Kristus yang menerima nubuat dari Yesus Kristus mengenai munculnya mursyid perawi selanjutnya yang seorang nabi dan gerakannya serta bagaimana gerakannya itu kelak disabotase juga sebagaimana gerakan mereka. Itulah Gerakan Islam, itulah Gerakan Muhammad.

Namun, tujuh tekke itu mendapat peringatan khusus yang sangat spesial dari Yesus Kristus! Mengapa? Saya juga bertanya-tanya, dan mungkin jawaban saya berunsur egosektarian. Tujuh tekke itu adalah Smirna, Tiatira, Pergamum, Efesus, Sardis, Filadelfia, dan Laodikea yang kelak di wilayah itu akan menjadi kantong-kantong para abdal Bektashiyah baik tradisi Babagan, Alevi, maupun yang lainnya.

Setelah Ottoman merebut Konstantinopel, keturunan mereka yang berada di daerah tujuh tekke itu memilih menjadi Sufi, terutama Bektashiyah.  Artinya, setelah menerima sanad dari Yohanes, dan terputus selama beberapa abad, mereka kembali ke ocak Yesus Kristus dengan menerima sanad dari Thomas Barnabas, sebab Gerakan Muhammad juga menerima sanad dari Thomas Barnabas. (Ocak: bait, ndalem, focolare, rumah tangga, gurukula).

Dari semenjak Paleo-Bektashiyah kepada Proto-Bektashiyah sehingga Bektashiyah dan Neo-Bektashiyah, hari-hari raya dari zaman Enokh (Khidir atau Idris) telah dipelihara dan selalu diperbaharui. Jika ada summer equinox, yang dirayakan dalam Nowruz setiap bulan Maret (tanggalnya bisa berbeda-beda dan ada tekke yang selalu merayakan pada 21 Maret), maka begitu pula dengan winter solstice sudah pasti telah dirayakan Paleo-Bektashiyah.

Sebagai orang-orang Persia, Turk, dan Kurdi, perayaan winter solstice mereka yang masih dipelihara antara lain seperti sahb yalda di kalangan orang Persia dan gağan (baca: gajan) di kalangan orang Turki. Perayaan itu biasanya berlangsung pada puncaknya tanggal 21 Desember, tetapi keseluruhan berlangsung selama 40 hari, atau berakhir pada minggu pertama Januari. Idulgajan di Lembah Munzur dirayakan setiap Kamis terakhir bulan Desember. Lembah Munzur terletak di sebelah timur Anatolia, di negeri yang dulu dikenal sebagai Dersim (sekarang Tunceli) dan merupakan satu-satunya provinsi dengan mayoritas penduduknya orang Kurdi Alevi.

Jika berdasarkan Idulgajan itu, maka dapat dimengerti jika Yesus Kristus diceritakan lahir pada 25 Desember. Bersamaan dengan Konjugasi Agung pada Jumat, 26 Desember 14 M, tampaknya mursyid perawi dalam Gerakan Maria lahir pada Kamis, 25 Desember 14 M. Baik makna “lahir” di sini adalah secara harafiah maupun secara gerakan, yaitu akhirnya terdapat regenerasi gerakan dari tradisi sampradaya ini. Dalam buku “Petualangan Yohanes bersama Muhammad dalam Alkitab” saya menjelaskan lebih lengkap mengenai hal ini.

Baik orang Persia maupun orang Kurdi yang merayakan winter solstice (dan summer equinox juga) merayakannya secara sosial keagamaan, sehingga antara orang Kristen, Islam, Majusi, dan Yahudi dapat saja memiliki makna-makna dan dongeng-dongeng yang berbeda-beda. Namun, fungsi spiritual dan sosial yang sama dalam momen yang sama pula. Perayaan winter solstice sama purbanya dengan perayaan summer equinox.

Jadi, mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang Kristen imperialis-konsensus yang memapankan perayaan winter solstice itu untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus sebenarnya yang bertasyabuh kepada orang-orang Paleo-Bektashiyah dalam merayakan winter solstice untuk memperingati regenerasi sampradaya Gerakan Maria sebagaimana makna Idul Gajan adalah juga regenerasi.

Betapa perumpamaan, simbolisme dan ritual telah dimanfaatkan dalam masyarakat purbakala untuk mewujudkan pikiran, perasaan, dan harapan mereka tentang kosmologi, untuk menyintas, tentang menyintaskan transmisi, dan sebagainya, sehingga menjadi lebih estetik, menyenangkan, dan. Namun, kini, dalam masyarakat modern, apa yang dilakukan oleh orang-orang arif purbakala itu telah direduksi ke dalam perdebatan mengenai kemurnian dan penjiplakan yang recehan. Hal ini terutama terjadi karena bingkai pemahaman berdasarkan pola pikir dan mentalitas imperialism dan kolonialisme.


Idulgajan di Lembah Munzur

*Santa Klaus*

Tokoh yang biasa muncul menjelang Natal adalah Santa Klaus atau Sinterklaas. Hari Sinterklaas misalnya dirayakan secara khusus dalam tradisi menjelang Natal di Belanda pada tiap 6 Desember, yang merupakan Haul Santo Nikolas. Bersama-sama Sinterklaas terdapat Piet yang berkulit hitam dan menghukum anak-anak yang nakal (dengan sapu lidi) sehingga mereka tidak mendapat hadiah. Tradisi dari Belanda (atau tepatnya negeri-negeri Dataran Rendah termasuk Belgia dan Luxembourg) inilah yang konon menyebarluas sampai ke tempat-tempat lain.

Konon, sosok Santa Klaus mengambil model Santo Nikolas yang wafat pada 6 Desember 343 M, yang dikenal sebagai Nikolas Yang Mengerjakan Keajaiban dan santo yang biasa memberikan hadiah secara rahasia. Santo Nikolas berasal dari Myra, Anatolia (sekarang Demri, Turki), di sebelah selatan Turki yang hangat dan tidak bersalju putih.

Namun, model Sinterklaas ini yang juga senada dengam Ayah Musim Dingin yang merupakan sosok mitologis seorang kakek, berjanggut putih, dan gemuk. Ayah Musim Dingin muncul dalam berbagai nama lokal di negara-negara berbahasa Slavia dan bekas Uni Soviet, serta di Mongolia juga ada sosok yang senada. Ada yang muncul bersama cucu perempuannya, seorang gadis, atau bersama istrinya (yang ini terutama di Finlandia dengan nama Joulupukki, atau Kambing Natal).

Di samping itu, model Sinterklaas juga tumpang tindih dengan Amu Nowruz, yaitu tokoh serupa tetapi hanya muncul pada waktu Nowruz yang dirayakan orang-orang Persia. Yang menarik, Amu Nowruz muncul bersama Haji Firuz, seorang berkulit hitam yang menyenandungkan syair riang dan jenaka.

Pakar sejarah Sufisme Turki bernama Prof. Cavit Sunar dan etnologis Dr. Belkis Temren berpendapat bahwa sosok Santa Klaus sebenarnya bukan mengambil model dari Santa Nikolas (yang biasa digambarkan kurus dan tidak berjanggut putih). Namun, berdasarkan cerita-cerita dalam Vilayatname, Seyahatname (karya Evliya Celebi), dan Saltukname, serta sejarah lisan dalam komunitas-komunitas Bektashiyah, sosok sebenarnya di balik Santa Klaus adalah Sari Saltuk. Siapakah Sari Saltuk?

Alkisah, dalam suatu perjalanan ke Balkan, seorang pangeran Ottoman bernama Semah Sultan menyimak legenda Sari Saltuk dengan begitu antusias. Ia kemudian memerintahkan legenda-legenda itu dikompilasi dalam suatu buku oleh Abu Al-Khairi Rumi. Dari situlah, dua ratus tahun setelah wafatnya Sari Saltuk, pada 1480, kita menemukan teks Saltukname.

Muhammad Bukhari Sari Saltuk lahir di Bukhara, Asia Tengah, entah kapan, dan meninggal di Babadag, Romania pada 1297, sekitar 27 tahun setelah wafatnya Sayyid Bektash Wali. Keduanya berasal dari Khorasan, Persia (Iran saat ini), atau persisnya orang tua mereka adalah imigran dari Khorasan. Ia merupakan murid dari mursyid perawi dari sanad Ahmad Rifai (Rifaiyah) dan juga murid dari seorang mursyid yang bersanad kepada Bektash Wali yaitu Mahmud Hairan.

Diceritakan bahwa suatu ketika Sari Saltuk diperintahkan ke Anatolia untuk menemui Haji Bektash Wali. Kemudian, pergilah ia dan sampai di daerah yang disebut Suludja Karahoyuk. Saat di sana, ia bermimpi melihat Haji Bektash Wali sedang berada dalam kamar untuk bertapa brata dan dalam tapa brata itu ia mengambil air dari mata air zamzam. Saat berjalan mengambil air, beliau melihat dirinya sebagai seorang penggembala bersama dombanya.

“Siapa namamu?” tanya Haji Bektash Wali atau Sayyid Hunkar. “Namaku Sari Saltuk,” jawab penggembala. Lalu Sayyid Hunkar pun berkata, “Sari, ayolah, jangan tunda lagi! Kami akan mengirimmu ke Rum (Balkan).” Lalu Sari Saltuk bertanya apa yang mesti ia lakukan terhadap domba yang digembalakannya. Sayyid Hunkar menjawab, “Jangan pergi sampai pemilik domba itu datang. Setelah itu, pergilah ke Tapduk Emre dan sampaikan salam kami padanya. Biarkanlah ia memberikanmu sebilah pedang dan seorang kamerad. Barulah setelah itu, pergilah engkau ke Rum (Balkan). Jika engkau menemui kesulitan, panggillah nama kami!”

Setelah itu (terbangun dari tidurnya), Sari Saltuk pun pergi menemui Tapduk Emre (yang juga mursyid Yunus Emre) dan menyampaikan salam serta pesan Sayyid Hunkar kepadanya. Tapduk Emre pun memberi sebuah panah dan tujuh anak panah. Lalu, diberikan pula kepada Sari Saltuk sebilah pedang dari kayu, dan dua abdal untuk menemani perjalanannya yaitu Ulu Abdal dan Kisil Abdal, serta selembar sajadah. Untuk perjalanan ini, mereka akan diawasi oleh Hazrat Enokh (Nabi Khidir atau Nabi Idris).

Perjalanan tersebut dimulai dari waktu semah Idulgajan pada 21 Desember ketika rasi Sagitarius bergerak ke rasi Capricorn. Pada 22 Desember, Sari Saltuk meletakkan sajadahnya di tepi Laut Hitam, di pantai Sarikum dekat Sinop, dan memulai perjalanan bersama dua abdal kameradnya. Pada pokoknya, sajadah itulah yang membawa mereka menyeberangi Laut Hitam sampai ke Dobruja, di dekat kastil bernama Kaliakra, di dekat sungai Danube yang mengalir sampai Laut Hitam. Mereka berjalan di atas air pada saat matahari terbit 25 Desember.

Saat tiba di Kaliakra, Sari Saltuk melihat penduduk setempat merasa sedih. Setelah bertanya, mereka menjawab bahwa anak-anak dan harta mereka dibawa oleh seekor naga berkepala tujuh ke dalam sebuah gua. Pendek cerita, Sari Saltuk melawan naga itu dengan berani, memanah tujuh kepalanya dengan tujuh anak panah pemberian Tapduk Emre. Namun, naga itu tidak juga mati dan malah makin mengamuk. Naga itu menerkam Sari Saltuk dengan taringnya, sehingga Sari Saltuk berseru memanggil mursyidnya, “Oh Hunkar Bektash Wali!”  

Mendengar seruannya, Nabi Khidir pun menyelamatkan Sari Saltuk dengan menyuruhnya mengambil pedang yang ada padanya, dan dengan sekuat tenaga Sari Saltuk membelah naga itu dengan pedang kayu yang diberikan kepadanya. Lalu, mereka pun mencari anak-anak yang diculik. Namun, mereka tidak menemukannya.

Maka, Sari Saltuk berpikir bahwa anak-anak itu pasti bersembunyi di kedalaman gua karena sangat ketakutan, dan dia pun memiliki ide. Sari Saltuk lalu meminta dua abdal kameradnya untuk mengambil buah pinus dan membuat mainan kayu dan menaruhnya di dalam kaos kaki mereka. Setelah itu, mereka membuat lampu yang terang dan masuk ke kedalaman gua sehingga anak-anak itu dapat ditemukan dan tidak merasa takut, melainkan bergembira melihat mainan dan hadiah dari Sari Saltuk dan dua abdal kameradnya.

Peristiwa itu berlangsung saat malam telah tiba, dan penduduk desa di sekitar kastil Kaliakra telah menyalakan lentera-lentera di antara pepohonan pinus. Sari Saltuk dan dua abdal kameradnya membawa anak-anak itu keluar dari gua dan harus melalui salju lebat di antara pepohonan pinus. Maka, mereka membuat papan luncuran kayu dan pulang dengan meluncur. Akhirnya, anak-anak itu pun tiba dengan selamat kembali ke rumah orang tua mereka.

Sambil mengantarkan tiap anak ke rumah orang tua mereka, dia berkata, “Hu! Hu! Hu!” yang merupakan zikir yang khas diucapkan para Sufi. Lalu, Sari Saltuk memberkati tiap anak. Orang tua mereka melihat sang waliullah mengenakan jubah merah berhias hijau dan topi runcing. Di tempat ini (Dobruja), warga setempat masih memanggil Sari Saltuk sebagai Aya Nikola, yang berarti Juru Selamat dari Laut.

Diceritakan lagi bahwa anak-anak itu kemudian makan malam bersama orang tua mereka dan terkejut mereka mengetahui bahwa tiga pria itu adalah Muslim Turki. Namun, orang tua mereka yang adalah orang-orang Kristen itu kemudian menyuguhkan amer (wine) kepada mereka sebagai ucapan terima kasih. Garam juga disuguhkan di atas meja.

Merupakan tradisi di kalangan Bektashi bahwa garam harus disajikan dalam perjamuan makan atau sofra Bektashi karena sofra Bektashi harus dimulai dan diakhiri dengan garam. Mereka kemudian makan bersama seperti Perjamuan Terakhir dengan memecah roti dan minum amer. Sambil makan-makan, mereka juga bersohbet secara guyub.

Tentu saja dongeng ini mengandung alegori dan simbolisme mengenai kedatangan para darwis Bektashi ke Balkan melalui murid-murid Sari Saltuk manakala mereka membuka tekke. Setidak-tidaknya menurut klaim mereka yang berasal dari tradisi Babagan. Dalam dongeng ini terdapat kisah mengenai zikir Hu tiga kali, pohon pinus yang diberi lentera, dan berbagai unsur yang dapat ditemukan dalam dongeng-dongeng Santa Klaus.

Baba Mahmud Erik Aydin yang menceritakan kembali kisah ini mengklaim hubungan dongeng Santa Klaus yang populer dengan Sari Saltuk dengan melihat zikir “Hu! Hu! Hu!”, busana Sari Saltuk dari wol yang tebal (yang tidak cocok dengan udara hangat di selatan Turki), serta pohon cemara berhias lentera.

Legenda Sari Saltuk masih hidup di Balkan sampai saat ini. Sementara tetangga-tetangga Kristen merayakan Natal, orang-orang Bektashi memberikan hadiah kepada tetangga-tetangga Kristen mereka dan anak-anak mereka. Orang-orang Bektashi itu memberikan hadiah Natal sambil berwasilah kepada Sari Saltuk yang merupakan manifestasi ilahiah sebagaimana matahari yang terbenam dan terbit kembali setelah masa winter solstice.

Bagi orang-orang Bektashi, tidaklah penting apakah dongeng tersebut historis atau tidak. Namun, berbagai perumpamaan, simbolisme, dan ritual di dalam setiap sastra lisan dan tulisan dari para mursyid selalu memiliki banyak lapisan makna. Makna-makna itulah yang diajarkan pada sofra oleh para mursyid untuk mengantarkan para talib kepada hakikat. Di Balkan, karena itulah pula, hari Natal juga berarti Sari Saltuk Bayram atau hari raya Sari Saltuk.

Mungkin, dari dongeng yang berasal dari abad ke-13 M dan dicatat pada pada ke-15 M itu, saya bisa pula mengklaim bahwa tradisi Sinterklaas dari Belanda itu pada awalnya berkembang dari Balkan dari sosok Sari Saltuk, setelah diramu dengan kisah Santa Nikolas dari Turki, Ayah Musim Dingin, dan Amu Nowruz. Sebelum dimapankan oleh wong Londo, melalui sosok Sari Saltuk inilah Santa Klaus menjadi sosok legendaris yang kokoh.

Orang-orang Belanda itu kemudian membawa sapu lidi dari Nusantara ke dalam tradisi mereka memapankan Sinterklas, dengan kisah Sinterklas naik kapal datang dari Spanyol ke Belanda. Kemudian mereka mempopulerkannya ke benua Amerika terutama Amerika Serikat dan Suriname. Demikianlah sebagai sarjana sejarah, saya dapat menyimpulkannya untuk sementara waktu. Jangan lupa, banyak orang Belanda adalah orang-orang Yahudi! Jadi, orang-orang ini biasa berhijrah dan melakukan perjalanan dagang ke Balkan, Rusia, dan wilayah Ottoman.

Di samping itu, sebelum kekhalifahan Ottoman berdiri pada abad 16 M dari suatu kesultanan yang ambisius, sosok-sosok santo dan waliullah lainnya bertumpang tindih dengan Sari Saltuk, misalnya Santo Spyridon dan Santo Naum, sebagaimana halnya Bektash Wali yang tumpang tindih antara lain dengan Santo Beathan. Apalagi menarik ketika mengetahui bahwa Santo Beathan berarti seseorang yang berambut pirang beruban, dan sosok Bektash Wali juga mirip Santa Klaus jika berpakaian seperti dirinya.  


sari saltuk 2

(patung Sari Saltuk)

*Penutup*

Orang-orang Bektashi secara internal tidak merayakan Idulfitri dan Iduladha, karena memandang dua hari raya tersebut sebenarnya tidak dirayakan oleh Muhammad SAW. Namun, kami merayakan antara lain Nowruz, Idulkhidirliyas, dan Asyura. Hari raya winter solstice dirayakan secara berbeda karena tidak semua tempat mengalami musim dingin yang sama. Idulkhidirliyas (Hidirellez) dirayakan pada hari yang sama dengan hari raya Santo George di sejumlah tempat.

Kisah semacam ini menunjukkan bahwa agama rakyat yang umumnya merupakan agama natural sesungguhnya tidak begitu mempedulikan kemurnian, keotentikan, dan masalah tasyabuh sebagaimana agama imperial-konsensus. Namun, seperti dilukiskan bagaimana orang tua Kristen menjamu tiga abdal Bektashi, dan setiap orang merayakan entah winter solstice, summer equinox, atau hari raya panen dalam keyakinan komunitas adat atau suku masing-masing. Yang terpenting adalah, meski meyakini hal-hal berbeda atau ritus yang sedikit berbeda, mereka hidup berdampingan dengan harmonis, dan merayakan peristiwa-peristiwa alam pada momen yang sama dan saling memberi pula. Entah memberi hadiah, makanan, atau menjamu dalam pesta meriah bersama-sama.

Selamat Natal dan Tahun Baru. Allah bir Muhammad Ali.

Siddhamastu,
Syekhah Hefzibah.

*Rujukan tambahan: edisi lengkap Buyruk Alfurqan tahun 2021.

*Disclaimer: sanad Daudiyah tidak berasal dari Balim Sultan sebagaimana halnya tradisi Babagan yang berkembang di Balkan dan Makedonia. Namun, tradisi Daudiyah mengakui kewalian Sari Saltuk, Sayyid Nessimi, Virani, Yunus Emre, Gul Baba, Kul Himmet, dan Shah Ismail sebagaimana tradisi Alevi, Babagan, Sari Saltuk, dll.

*Babadag muncul sebagai kota asal leluhur Svetlana, tokoh dalam novel perdana saya “Tarian Kabut” (2014).

Standard

Perajin Keempat: Muhammad dalam Alkitab

(Zakaria 1:20-21)

Perang Bizantin Romawi dengan Sassan Persia pada 572-591 dan 602-628 harus menjadi titik-titik paling penting untuk disoroti dalam memahami sejarah Islam, Muhammad, dan Alquran.  Seperti sejarah munculnya Yesus Kristus, sejarah lahirnya Islam berkaitan dengan mesianisme dalam Yudaisme, yang dalam terminologi studi Islam menjadi mahdawiyah. Kematian Muhammad SAW pada 632 sangat jelas memiliki hubungan dengan dua tanduk itu.

[A]. Latar Belakang Tiga Faksi Bangsa Israil.  

Keberadaan tiga faksi yang kini disebut tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yudaisme, terbentuk secara solid manakala Heraklius dan Khusrow II saling berperang. Keduanya mewakili dua tanduk — istilah yang merupakan kode atau tanda (sign) dalam teks-teks para resi di balik gerakan rahasia mereka melawan adidaya-adidaya.

Tulisan saya kali ini akan keterlaluan panjang. Saya ingin merevisi banyak hal. Saya akan mendetoksifikasi definisi-definisi doktrinal dan dogmatis tentang gelar-gelar seperti rasulullah dan nabiullah, nama-nama tiga faksi itu yang disebut agama-agama, pengertian mesias dan kitab suci, serta istilah-istilah seperti mitos dan mitologi yang telah direduksi maknanya untuk mitos dan mitologi lainnya. Saya ingin mengajak Anda bermain-main onomastik khususnya antroponom, bagaimana jika sebuah nama tidak ditransliterasi dan diterjemahkan begitu saja?

Penulis dengan lupus yang terkenal, Flanner O’Connor, mengatakan, “I write to discover what I know.” Itulah sebabnya saya menulis. Jadi, meski saya menggunakan pendekatan sejarah dan antropologi, saya melakukannya untuk mengetahui dan memahami transmisi personal yang saya terima dalam sampradaya. Iman saya justru tertantang manakala banyak cendekiawan menyangsikan Muhammad, Alquran, dan Islam melalui pendekatan sejarah modern. Untunglah saya sarjana sejarah!

Saya tidak berasal dari lembaga tertentu seperti Yesuit atau kantor marja’ taklid Khamenei, dan selama 700 tahun sejak tahun 1300an M, mursyid-mursyid dalam silsilah ijazah saya tidak menjadi raja dan penjajah atau pengelola negara, malahan sebagian dari mereka adalah para abdal yang mengalami persekusi dan harus mengungsi. Jadi, “saya punya sejarah ijazah yang bersih” untuk menyampaikan tema kolonialisme-imperialisme. (Tentu saja, leluhur saya secara biologis, lain lagi ceritanya).

Tiga faksi itu muncul karena kolonialisme-imperialisme. Doktrin dan dogma mengenai Yesus adalah Tuhan (satu-satunya) dan Muhammad adalah Rasulullah (terakhir), juga muncul karena kolonialisme-imperialisme.  Yudaisme juga muncul karena kolonialisme-imperialisme. “Muhammad (ada) dalam Alkitab” bukanlah pembahasan teologis semata-mata. Pembahasan apokaliptik dan eskatologis dalam sampradaya ini selalu berkaitan dengan kolonialisme-imperialisme.

Jika kita membahas “Muhammad (ada) dalam Alkitab”, maka kita harus membatasinya kepada empat hal. (1) Yang dimaksud adalah nubuat akan hadirnya seorang Muhammad (sebagai mesias terakhir yang dinantikan); (2) Yang dimaksud adalah adanya nama yang serumpun dan atau seakar dengan nama Muhammad dalam Alkitab; (3) Sosok tersebut tidak sedang membawa agama baru, dan bukan pula supersesionis (baru), melainkan suatu keberlanjutan tradisi yang menyejarah sekaligus progresif; (4) Alkitab yang dimaksud melampaui berbagai kanonisasi dalam berbagai komunitas Kekristenan.

[Baca catatan kaki untuk glosari/nirukta dari setiap istilah yang mungkin asing bagi Anda].

Empat hal tersebut telah memenuhi setiap perselisihan mengenai “Muhammad (ada) dalam Alkitab”. Orang-orang Peranakan Israil yang disebut Yahudi pada dua zaman perang itu tidak menerima dan tidak mengakui Yesus Kristus sebagai mesias yang dinantikan. Klaim semacam dari Yesaya 53 untuk Yesus tidak memenuhi persyaratan no (2).

Jauh lebih malang lagi, yang disebut sebagai gereja-gereja yang mengklaim sebagai gereja-gereja apostolik tidak memenuhi persyaratan no (3), karena pada hakikatnya merupakan agama-agama misteri (Hellenisme) yang dipersatukan dan mengadopsi agama rakyat yang memuja Yesus Kristus.

Baik Muhammad merupakan terjemahan bagi kata Aram “yang terpuji” dalam Matius 21:9, maupun serumpun dengan kata-kata seperti “mahamadim” dan “hammad” dalam Kidung Sulaiman (5:16) dan Mazmur (106:24), atau bahkan dalam Yehezkiel (24:16), maka ia memenuhi syarat no (2) sebagai gelar.  Gelar itu tampaknya dengan sengaja disandarkan kepada sejumlah sosok yang menggugat imperialisme Bizantin yang mengeksploitasi Yesus Kristus, sekaligus menggugat korupnya para pemimpin peranakan Israil di bawah imperialisme Persia.

Apakah hal tersebut sengaja dilakukan untuk menggenapi no (1) manakala suasana dua perang itu semakin menindas mereka?

[B]. Topo untuk Menanamkan Ideologi.

Hal yang sama pernah dilakukan pada masa Yesus Kristus ketika kekaisaran Bizantin Romawi baru saja membangun kekuatan dari kemerosotan Yunani, begitu pula sekitar delapan abad sebelumnya pada masa Eliyahu Hanavi manakala menghadapi kekuatan kekaisaran Neo-Asyur.

Tentu saja tidaklah keliru menisbahkan “Yang Terpuji”, “Yang Didambakan”, “Kuil Allah”, dst kepada sosok Yesus Kristus, sama seperti menisbahkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam konteks revolusi. Eliyahu adalah Sandalfon, dan Enokh adalah Metatron, maka tidak mengejutkan jika Yesus adalah Ciptaan Sulung atau Anak Allah, dan segalanya berasal dari Nur Muhammad. Apakah Anda merasa semua ini saling berselisih? Saya tidak merasa demikian.

Pada masa purbakala, agama-agama bersifat tribal dan terdesentralisasi, karena itu saya menyebutnya agama-agama rakyat, yaitu agama konsensus suatu kelompok entah suku, kabilah, kota, atau desa. Manakala kolonialisme menjadi semakin ekspansif, menjadi imperialisme, kita melihat segala hal digunakan sebagai sarana penjajahan. Kita melihat Kain-Kain (Kabil-Kabil) berekspansi untuk menindas dan mempersekusi Abel-Abel (Habil-Habil).

Yang patut dicatat adalah (1) setiap sosok mitologis dan era mitologis perlu dimunculkan sebagai topo, yaitu untuk membangun argumentasi mengenai gerakan perlawanan; (2) teks-teks yang ada dalam Alkitab dan Alquran — melampaui seluruh kanonisasi yang ada — sebenarnya bersifat eksklusif bagi para talib, murid, dan mursyid dalam komunitas gemeinschaft terkait; (3) teks-teks itu tidak dimaksudkan untuk didekati sebagai menghadirkan fakta-fakta tertentu, melainkan dimaksudkan untuk menghadirkan pergumulan bagaimana kita menghadapi fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan yang merupakan tantangan hidup kita.

Dengan tiga catatan itu, maka pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Muhammad, atau bahkan Yesus, adalah fakta?” dan “Apakah kisah-kisah dalam Perjanjian Baru dan Alquran adalah fakta?” menjadi tidak lagi relevan (dalam pendekatan sampradaya ini).  

Abdul Mutalib (Sheba) menyaksikan perang mengerikan antara kaum mukmin, yaitu orang-orang Kristen dengan orang-orang Yahudi dengan tokoh-tokoh utamanya ialah Dhu Nuwas dan Abrahah, dan puncaknya pada Tahun Gajah (552 M). Kita menemukan syair-syair yang merekam memori tentang perang antara kaum mukmin dalam Alquran antara lain surah Gajah dan surah Gugusan Bintang. [Surah Gugusan Bintang juga membahas tablet Enokh dalam Alkitab kanon gereja-gereja Oriental dan Yahudi Oriental].

Pada perang Bizantin-Sassan yang pertama itulah Sheba memainkan peran penting untuk menghadirkan kepada kita sosok Muhammad 571-632 yang kemudian begitu legendaris. Perhatikan bahwa tahun-tahun itu meliputi awal dan akhir dari dua perang antara dua kekaisaran yang sedang menguasai Asia Barat, Eropa Tenggara dan Afrika Utara — wilayah para resi dan murid Kearifan Sinai.

Kisah Abdullah ibn Sheba yang hendak disembelih, mengadaptasi kisah ritus peralihan dalam Bereshit 22, merupakan topo bagi sosok legendaris Muhammad 571-632, yang harus didekati dengan cara sebagaimana saya sampaikan: bagaimana menghadapi kenyataan dan tantangan saat itu?

Kisah Muhammad mendeklarasikan Islam, dalam balutan dongeng menerima wahyu di gua Hira pada sekitar tahun 610 M dan dakwah sembunyi-sembunyi sampai akhirnya sekitar tahun 614 M, merupakan suatu topo yang terjadi menjelang Sassan berhasil menyerang Bizantin di Yerusalem pada 614 M. Begitu pula kisah pengucilan Quraish terhadap Muhammad, berkaitan erat dengan pogrom yang terjadi terhadap orang-orang Yahudi.

Uskup Musa pada akhir abad ke-4 M dan awal abad 5 M (yang membaptis Ratu Mawiyah) masih hidup ketika tokoh yang menjadi eponim bagi kabilah Hanifiyyah menerima dan mengakui Yesus sebagai mesias. Sementara itu, Khalid ibn Sinan yang disebut Yoshua, Yeshua, atau Isa, masih hidup ketika Abdul Mutalib lahir pada abad 6 M.

[C]. Menghadapi Fakta Kekuatan Dua Tanduk

Sebelumnya, orang-orang Yahudi di wilayah Bizantin mengalami pogrom dari kolonial Romawi pada 610-611 M — dan terjadi gelombang hijrah antara lain ke Mesir untuk menghindari pogrom dan persekusi. Salah satu sosok penting dalam pemberontakan orang-orang Yahudi terhadap Romawi di bawah Heraklius (konon) adalah Nehemiah ibn Hushiel.


Sepanjang abad 6-7 M, yang dimaksud sebagai Yahudi adalah Peranakan Israil yang tidak mengakui Yesus sebagai mesias, tidak menerimanya sebagai otoritas, atau tidak memujanya sebagaimana tetangga-tetangga Kristen mereka.

Di sini saya mengupayakan dekolonialisasi pikiran, meski saya membaca jurnal-jurnal ilmiah dari dunia akademik Barat dan kalangan Orientalis. Justru dengan membaca karya-karya mereka dan menelaah kembali karya-karya internal, maka saya merasa perlu merombak dan merevisi cara kita memandang keagamaan orang-orang yang hidup dalam kisah Muhammad 571-632.

Menurut catatan internal, Muhammad 571-632 diasuh oleh pamannya Abu Talib ibn Abdul Mutalib yang memiliki putra bernama Ali dari istrinya yang bernama Fatimah bt Assad ibn Hashem. Fatimah bt Assad diceritakan mempunyai saudari bernama Adiah bt Assad yang menikah dengan Bustanai ibn Hananiah, kapitan komunitas Yahudi di wilayah kekaisaran Persia yang baru dilantik pada 640 M, sekitar 50 tahun dari ayahnya, kapitan sebelumnya, yang dieksekusi Persia.

Pada 590 atau 591 M, Khusraw II telah mengeksekusi Hananiah. Namun, menarik bagaimana orang-orang Yahudi di wilayah Bizantin mendukung Khusraw II dalam proksi di antara keduanya. Pada 600 M, Khusraw II juga telah mengakhiri dinasti Lakhmid — yang kelak turut memberi celah bagi kehancuran kekaisarannya. Kisah Muhammad muda yang menikah dengan Khadijah sampai melahirkan Fatimah berlangsung pada masa-masa ini: suatu topo penting bagi bagaimana menghadapi proksi antara dua tanduk.

Kisah Hijrah ke Madinah (622 M) adalah kisah menghadapi fakta kekalahan Persia setelah beberapa kali mengalahkan Romawi.  Kisah Hijrah harus juga dilihat dengan memahami bubarnya kekuatan Lakhmid dan melenyapnya kekuatan Ghassan di Arabia, karena setelah itu kita menemukan kisah yang akan mengubah sejarah kawasan itu untuk selama-lamanya:  era khalifaurashidin sebagai era yang historis, yang mengantarkan berdirinya kekaisaran Umayyah.

Sebelumnya, Kisah Hijrah ke Abisinia (616 M) adalah kisah menghadapi fakta pogrom yang dilakukan Bizantin terhadap orang-orang Yahudi di wilayah-wilayah yang mereka rebut atau pertahankan dari pemberontakan dan serangan Persia. Pengalaman pogrom ini mengingatkan mereka di kawasan itu pada pengalaman pada masa Dhu Nuwas dan Abrahah sekitar tahun 550an M.

Jika era Muhammad 571-632 M merupakan era mitologi, maka era khalifaurashidin dikenal karena keberadaan Umar ibn Khattab yang kala itu dipandang membebaskan bangsa Israil dari penjajahan Romawi, pada 636 M — setelah ia membebaskan bangsa Israil dari Persia.

Bangsa Israil di sini harus dipahami sebagai terminologi saat ini, tetapi melampaui konvensi-konvensi teologi dan sosial dalam psikologi kolonialisme-imperialisme, untuk menyebut orang-orang yang merasa mewarisi Kearifan Sinai — dan bukan Kearifan Hellenisme atau pun Kearifan India — yang selama ratusan tahun hidup dalam cengkraman tanduk-tanduk. Baik mereka menerima Yesus ibn Maria sebagai mesias, atau pun tidak, mereka berbagi Kisah Sinai. Sampai abad 7 M, bangsa Israil terbelah ke dalam dua faksi besar yaitu Yahudi dan Kristen. Faksi-faksi lain seperti Sabian dan Samaria, tidak begitu signifikan.

Menjelang berakhirnya abad 7 M, baru kita menemukan satu sosok sekelas Yesus dan Eliyahu dalam bangsa Israil. Kisah wafatnya Muhammad 571-632 M bertepatan dengan berakhirnya masa perang sipil Sassan Persia (628-632 M) dan berbagai pertempuran terkenal dalam sejarah Muhammad 571-632 berlangsung pada tahun-tahun tersebut. Termasuk pertempuran dengan konfederasi Ghassan.

[D]. Gerakan Melawan Manifest Destiny.

Sebuah gerakan memerlukan perancang ideologi, orang-orang yang kreatif dalam menarik psikologi massa, diplomat-diplomat yang licin, mereka yang bersedia menjadi mata-mata, jaringan yang kuat, dan tentu saja dana yang dapat mengamankan pergerakan mereka. Lebih utama lagi, gerakan itu memerlukan kaum perempuan yang berani, tangguh, selalu mempelopori, dan inovatif.

Gerakan yang menanamkan ide-ide biasanya akan menginovasi suatu bahasa baru atau mensabotase bahasa lingua franca dengan menginovasi sesuatu yang baru dan segar dalam kesusastraan — baik lisan maupun tulisan. Mereka tidak akan tunduk pada terminologi populer, konvensi-konvensi yang hegemonik, dan segala hal yang pasaran yang kadung menjadi arus utama. Mereka tahu bahwa mereka sedang menanam benih, dan mungkin akan mati sebelum memanen atau melihat pohon itu tumbuh berbuah.

Di kawasan tiga wilayah Kearifan Sinai itu, tradisi sampradaya Enokh adalah tradisi pergerakan. Pada 3760 SM, “gerakan rahasia Enokh” menggunakan era mitologi Seth untuk menghadapi kekuatan Sumeria — dengan tentu saja menciptakan mitos dan legenda mereka sendiri.

Orang-orang yang kemudian disebut “Amori” adalah konfederasi-konfederasi para kabilah transhuman. Mereka bukan orang-orang kota dan bukan orang-orang yang bercocok tanam. Ada banyak kumpulan Amori karena beberapa gelombang imigrasi dari tempat asal muasal mereka — yang masih diperselisihkan.

Dari mitologi dalam Bereshit, kita mengetahui bahwa Seth adalah pengganti Abel yang dibunuh Kain. Artinya, konfederasi Amori yang lama punah dalam hegemoni masyarakat industri, pertanian, dan kerajinan logam. Kemunculan “Seth” memberikan petunjuk adanya suatu keberadaan tradisi spiritual-religius revivalis, yang dimaksudkan untuk menghadapi tantangan  dalam setiap perubahan politik dan ekonomi pasca industrialisasi di berbagai ranah kehidupan manusia.

Tradisi sampradaya Enokh — dan gerakan rahasianya — mengadopsi cara hidup transhuman sebagai praktek spiritual, antara lain untuk mengelola nafsu serakah dan ego yang sombong. Cara hidup transhuman ialah cara hidup semi-nomaden dan tidak bergantung pada industri dan pertanian. Jika mereka harus hidup di kota dan desa, atau harus menyintas dengan menjadi perajin dan petani, maka mereka harus belajar untuk tidak melekat dengan hal-hal itu. Mereka harus belajar untuk menyintas dengan berhijrah dan menjadi perantau.

Bukankah kisah para resi Kearifan Sinai selalu terdapat kisah mengenai hijrah, hidup di perantauan, dan sebagai pengungsi?

[E]. Muhammad SAW sebagai Ikonoklast.

Di antara pengertian ikonoklastik ialah (1) menyerang atau mengkritik tajam lembaga agama, keyakinan yang sedang diglorifikasi atau populer, dan institusi tradisional; (2) menghancurkan simbol-simbol agama (yang disebut ikonoklasme). Ikonoklast juga bisa disematkan kepada orang-orang yang memiliki keyakinan atau keimanan tertentu, tetapi menolak suatu lembaga agama dan atau hal-hal dari institusi tradisional.

Ibrahim adalah seorang ikonoklast. Demikian juga dengan Muhammad SAW. Menurut metodologi atau pendekatan tradisi sampradaya, dapat diketahui bahwa dari sejak Enokh (Idris/Hermes/Khidir), Ibrahim, Musa, Daud, Eliyahu (Ilyas/Elia), Yesus, sampai Muhammad: para resi tersebut semuanya adalah ikonoklast.

Mereka melakukan ikonoklastik dan bahkan ikonoklasme terhadap praktek-praktek dan simbol-simbol yang digunakan oleh orang tua, masyarakat, dan pemuka agama di tempat dan komunitas mereka sendiri. Bukan terhadap agama-agama asing dan simbol-simbol asing.

Mereka tidak menyerang patung dan simbol Mesir, atau simbol-simbol Hitti dan Hurria yang merupakan di antara leluhur Yunani dan Romawi, juga tidak pula terhadap Persia. Sebab simbol-simbol digunakan untuk kolonialisme-imperialisme, untuk menindas dan menghegemoni, dan seterusnya oleh perangkat negara, raja-raja, dan semacamnya.

Istilah pagan adalah istilah yang diciptakan Kristen Bizantin untuk agama-agama rakyat lain yang tidak/belum mengikuti mereka, dan saya mendekolonialisasi pikiran untuk merevisi apa yang dimaksud dengan pagan dalam masyarakat Muhammad 571-632 M. Karena itu, saya terpaksa menyebut peranakan Israil yang pagan sebagai kelompok abangan, meski istilah ini tidak memuaskan bagi saya karena mereka sejatinya masih menganut monorealisme (baca: tauhid).   

Hal yang sama dilakukan oleh banyak orang saat ini manakala menyerang, mengkritik, dan atau menghujat agama Islam sedangkan mereka lahir dan dibesarkan sebagai Muslim. [Atau yang Kristen dan agama-agama lain juga sama. Bahkan yang lahir dan besar sebagai sekuler, ateis, dan agnostik, juga banyak menyerang tradisi-tradisi dan institusi-intitusi mereka]. Mereka melakukan ikonoklasme terhadap masyarakat mereka sendiri.

Di dalam karya sastra, baik sastra tulis maupun sastra lisan, maka kisah-kisah itu diceritakan dengan tanda-tanda (signs), yang sebaiknya didekati dengan pendekatan seperti semiotik. Ungkapan-ungkapan seperti “Muhammad adalah Rasulullah” dan “Yesus adalah Tuhan” adalah untuk melawan simbol-simbol dengan ungkapan senada yang digunakan untuk kolonialisme-imperialisme.

Jadi, sering kali para resi sebagai dalang di balik gerakan-gerakan revolusi perlu “mensabotase konvensi yang luas dan arus utama” dengan cerita-cerita yang provokatif untuk menanamkan ide-ide bagi penerima transmisi mereka bahwa mereka harus tetap kritis. Ditanamkan kesadaran bahwa pola sejarah itu akan berulang.

Dalam kasus tradisi sampradaya Enokh itu, antara lain adalah perlunya terus menjadi ikonoklast karena saat agama sampradaya menjadi agama rakyat akan selalu berpotensi menjadi agama imperial-konsensus yang digunakan untuk menindas dan menghegemoni.

Seperti yang telah disampaikan mengenai pola sejarah. Tentu saja bagi mereka yang tidak memahami dan memaknai karya-karya peninggalan para resi itu sebagai karya sastra, melainkan kitab hukum dan atau kitab jurnal ilmiah, maka karya-karya itu dapat dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk melegitimasi tindakan-tindakan ikonoklasme mereka yang justru bersifat untuk menindas dan menjajah yang lain — yang Manifest Destiny.

Pada kenyataannya, para resi yang saya sebut itu, adalah tokoh-tokoh mitologis. Inskripsi-inskripsi dan situs-situs di mana pun di dunia tidak ada yang merekam mereka pada zaman ketika mereka melakukan ikonoklasme dan gerakan revolusi mereka. Mereka digunakan dan dieksploitasi jauh setelah mereka menjadi legenda dan populer, diglorifikasi dalam agama-agama rakyat, sehingga dapat dimanfaatkan oleh kekaisaran saat itu.

Sekalipun mereka adalah raja, luas kerajaan mereka maupun pengaruh mereka tidaklah signifikan. Misalnya, kerajaan Daud hanyalah seluas kotamadya Jakarta Pusat. Begitu pula Yehuda Medinatan di Yathrib tidaklah dikenal Sassan Persia maupun Romawi Bizantin, sampai Umar ibn Khattab diceritakan menaklukkan Yerusalem. (Thomas Sang Prebister merekamnya terjadi pada 636 M).

Ketika saya mengatakan tokoh-tokoh mitologis, lagi-lagi saya ingin menekankan pendekatan-pendekatan yang telah saya sampaikan: dekolonialisasi pikiran, bagaimana menghadapi fakta dan kenyataan, serta pendekatan sampradaya untuk menghadapi tantangan Manifest Destiny. Jadi, tidak relevan pertanyaan semacam, kalau begitu Daud, Muhammad, Ibrahim, dst bukanlah sosok nyata? 

[F] Gerakan di Media Sosial.

Kata mitos dan mitologis bagi pola pikir dan mentalitas kolonial-imperial adalah hal-hal yang berada dalam ruang hampa, seperti ilusi, halusinasi, dan imajinasi tanpa makna. Nihilis. Namun, bagi tradisi sampradaya melalui gerakan mereka, Gayatri Wedotami Muthari adalah sosok mitologis yang dapat hadir dalam nama apapun, agama apapun, dan dalam era apapun. Elon Musk, Bill Gates, Jeff Besoz, keluarga Rockfeller, keluarga Rothschild, dinasti Windsor, dan Mark Zuckerberg tidak mengenalnya, kecuali menemukan data mengenainya dalam media sosial.

Sheba kecil mendengar kisah-kisah Tahun Gajah dari ibunya, seorang Peranakan Israil, yang waktu itu belum dapat menerima Yesus sebagai mesias. Ayahnya Hashem (Amr) meninggal dalam perjalanan kembali dari Yerusalem, dan ia menjadi yatim piatu. Ia kemudian menjalin persahabatan dengan Zaid, Waraqah, Ubaidillah, Usman, dan talib-talib lain dari Taif, Yathrib, Yamamah, dst, dan bertemu dengan Qus ibn Saadah, dst.

Kata “Hanif” menjadi kata kunci yang penting, tetapi tidak terjebak pada konvensi yang populer tentang kata itu. Begitu pula sosok Khalid ibn Sinan yang legendaris bersama-sama mitologi Maad ibn Adnan sebagai murid Yeremia ibn Hilkiah dan teman sesama talib Barukh ibn Neriah.

Jika saat ini ada berbagai platform media sosial, maka saat itu berbagai platformnya adalah pasar-pasar seperti Ukaz. Seperti di media sosial, mereka memiliki ruang-ruang di pasar untuk menyampaikan pikiran dan mengekspresikan hampir apapun dalam bentuk sastra. Jika saat ini orang-orang yang merasa sepemikiran atau sefrekuensi itu kemudian berusaha kopi darat dan bertatap muka, bahkan kemudian membangun klub dan jejaring, hal yang hampir sama berlangsung pada masa itu.

Kita juga dapat melihat evolusi dan rekam jejak diri kita maupun orang-orang lain yang kita ikuti, teman-teman yang pernah kita kenal di kehidupan sehari-hari, dan semacamnya.

Seperti perkataan Khaulah binti Tsaalabah kepada Umar bin al-Khattab, “Wahai Umar, dulu aku menemuimu saat engkau masih bernama Umair di pasar Ukaz. Engkau menakut-nakuti anak-anak dengan tongkatmu. Hingga hari berlalu dan namamu berganti ‘Umar. Dan masa terus berlalu hingga engkau menjadi seorang amirul mukminin…” (Diriwayatkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya).

Kisah tersebut mengingatkan saya pada fenomena di media sosial, ketika Anda dapat mengetahui evolusi seorang Gayatri Wedotami dari Chen Chen menjadi Hefzibah, dan orang-orang yang harus mengubah nama akun mereka, atau kehilangan akun mereka, dan semacamnya, dari mereka yang semula mendukung Jokowi lalu mengkritik keras Jokowi, atau perubahan status pernikahan dan perjombloan mereka, dst.

Tentu saja saya tidak menelan bulat-bulat semua kisah dari sumber internal, maupun dari sumber eksternal dan kajian historiografi modern. Dari nama-nama yang sebut dalam kisah Sheba itu, beberapa di antaranya adalah sosok-sosok Muhammad dalam Muhammad 571-632. Beberapa di antaranya mungkin tidak dapat bertahan dalam tradisi sampradaya yang liyan dan marjinal, di tengah-tengah tekanan dua tanduk dan para penyokongnya.

Apapun itu, pada suatu titik ketika perang Romawi-Persia berakhir pada 628 M, mereka yang istiqomah telah mempersiapkan seorang pemuda yang diberi nama Ali: sebuah nama yang tidak asing dalam Alkitab. Kisah Idul Ghadir dalam Kisah Haji Terakhir tidak dapat dilepaskan dari proksi dua tanduk itu.

Kisah Haji Terakhir pada 632 M bersamaan dengan terbunuhnya Borandokht pada 632 M ketika suatu pemberontakan terjadi di Ktesifon (ibukota kekaisaran saat itu). Ayahnya Khusraw II wafat pada 628 M: ketika kita menemukan kisah perjanjian Hudaibiyah dan perang Khaibar.

Kalau kita tidak memahami hubungan-hubungan ini dan hanya berpaku pada kisah-kisah dari sumber internal, maka kita akan selamanya gagal untuk memahami perbedaan mendasar antara gerakan Muhammad 571-632 M (yang disebut Islam) dengan bagaimana akhirnya Umayyah menciptakan Islam yang solid sejak 705 M dengan mengeksploitasi legenda Muhammad 571-632 M itu.

Sejarawan-sejarawan awal Islam seperti Ibnu Ishaq (w. 767 M) dan Maamar ibn Rashid (w. 770 M) belum menggunakan metodologi sejarah modern ketika mengumpulkan semua data dan memilah fakta mengenai sosok legendaris yang disebut Muhammad, sehingga secara umum dianggap adalah sosok historis antara tahun 570 sampai 632 M dan menjadi konvensi yang diterima semua Muslim — dan Non-Muslim. Begitu pun Ibnu Hisham (w. 833 M) dan Abdul Razak ibn Hamman al-Shanaani (w. 827 M).

Saya sengaja memberi tahun kematian para sejarawan itu agar kita mengetahui dalam ruang dan waktu kapan ketika mereka menulis catatan sejarah yang disebut sirah nabawiyah. Ada kesenjangan sekurang-kurangnya seabad dari 632 M. Seperti sejarawan-sejarawan masa kini, mereka juga pasti memiliki kepentingan tertentu dan atau disokong oleh kepentingan tertentu. Misalnya, akhir-akhir ini kita menemukan pertarungan menarik antara penyair Saut Situmorang dengan pendiri Historia, Bonnie Triyana, seorang sarjana sejarah terkenal, dalam wacana dekolonialisasi sejarah Indonesia.

Kisah Khadijah Kubra dan Fatimah Az-Zahra adalah topo yang menarik, untuk memberi dasar hujjah penting bagi klaim perajin keempat  yang diberi gelar Muhammad dan kemudian terlahir bernama Muhammad. Topo serupa muncul dalam kisah Maria bt Hannah, Miriam bt Yokhebed, Sarah, Hajar, Naomi dan Ruth, dst. Kebanyakan dari kita terjebak ke dalam pendekatan “inilah fakta-fakta” dan bukan “bagaimana menghadapi fakta-fakta dan kenyataan penjajahan saat itu” sehingga kita melewatkan ide-ide dasar yang ditanamkan dari kesatuan seluruh kisah yang tersaji.

Muhammad yang melakukan revolusi di Mekkah (Petra?) disponsori dan didukung kuat oleh kaum perempuan elit. Ia monogamis seperti Waraqa dan sangat berbakat dalam puisi seperti Zaid. Muhammad yang menerima didaulat sebagai pemimpin konfederasi peranakan Israil di Yehuda Medinatan, Yathrib, digambarkan selalu berperang seperti pemberontakan Nehemiah ibn Hushiel. Ia berpoligini seperti Sheba dan sangat karismatik seperti Qus ibn Saadah dan Khalid ibn Sinan. Perempuan-perempuan di sekelilingnya merepresentasikan faksi-faksi yang menarik dalam dunia abad 7 M di bawah dua tanduk saat itu.

Tradisi Sunni mengatakan Abu Talib tidak menerima kenabian Muhammad sampai akhir hayatnya meski selalu melindungi Muhammad. Tradisi Syiah mengatakan Abu Talib melakukannya sebagai taqiyah. Keduanya tidak sepakat, bahkan dalam internal, apakah nama sebenarnya Abu Talib adalah Abdul Manaf atau Imran, atau kedua-duanya valid. Bahkan tidak semua ulama Syiah sepakat bahwa Fatimah az-Zahra mengalami kekerasan dari Umar ibn Khattab karena protesnya, tetapi catatan-catatan dalam trdisi Sunni merekamnya.

Ketika kita menemukan hadis semacam “Fatimah berasal dari Muhammad” dan “Al-Mahdi berasal dari Fatimah putri Muhammad itu” maka sekarang kita perlu menyadari apakah Khadijah, Fatimah, Aminah, Aisyah, Hafsa, Maria, Khawla, dan semua nama-nama itu juga adalah karakter-karakter mitologis sebagaimana pendekatan yang telah saya sampaikan.

Perempuan-perempuan tertentu memperoleh nama Fatimah untuk suatu model yang diperlukan bagi topo ini, begitu juga nama seperti Maria dan Aisyah. Bahkan, kita harus begitu kritis terhadap kisah-kisah yang memuat praktek pernikahan antar sepupu meski itu lazim terjadi pada abad-abad selanjutnya. 

Apapun itu, sosok yang historis dan dikenal di Persia maupun Bizantin adalah Ali ibn Abu Talib, yang dilahirkan oleh seorang Fatimah, dan diceritakan menikah pula dengan Fatimah, sepupunya sendiri, dan putri Muhammad 571-632 M. Jika Anda memiliki kesempatan membaca genealogi Muhammad SAW seperti yang dikumpulkan Imran Husein, maka Anda mungkin memerlukan jamur ajaib untuk mengurai benang kusut di dalamya.

Itu sebabnya klaim seluruh faksi Syiah mengenai imamah (dan atau walayah) Ali ibn Abu Talib memiliki fondasi yang pas dalam tawarikh (chronicles) di luar sumber internal, meski telah terjadi perlakuan berlebihan terhadap apa yang dimaksud sebagai imamah dan penerus Muhammad. Dapat dimengerti bahwa perlakuan berlebihan ini merupakan implikasi dari kebijakan politik pecah-belah kekaisaran Abbasiyah dan terbunuhnya seorang mursyid perawi pada 874 M (bernama Hasan al-Askari).

Kitab Majmu yang disimpan orang-orang Nusairi atau Alawi (Syiah Sebelas) memberi petunjuk menarik mengenai gurukula yang menghadirkan kepada kita Muhammad Al-Mahdi. Mereka menyebut nama-nama seperti Abu Talib, Fatimah bt Asad, Fathir, Jafar ibn Abu Talib (yang biasa disebut Jafar al-Tayyar), Akil ibn Abi Talib, Hasan ibn Ali, dan Husain ibn Ali, selain nama Muhammad, dalam simbol-simbol Alkitabiah:

Abu Talib adalah kubah, Fatimah bt Asad adalah lantainya, dan empat penjurunya adalah Muhammad, Fathir, Hasan, dan Husain. Secara simbolisme dikatakan Ali senada dengan Roh Kudus, Muhammad senada dengan Sang Putra, dan rasul (apostle) yang menyampaikan pesan-pesan mereka adalah Salman al-Farisi — seorang Persia yang namanya mengingatkan kita pada kata salam, muslim, sulaiman, dan semacamnya.

Meski saya bukan seorang Alawi, petunjuk kitab Syiah Sebelas itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Dengan menyebut Talib sebagai misteri, secara praktis itu juga merujuk kepada bagaimana cara gurukula dan akhara mentransmisikan ilmu secara sampradaya.

Kisah Konsili Saqifah pada 632 M ketika jenazah Muhammad masih terbujur dan tidak dimakamkan sampai tiga hari, adalah topo untuk membangun argumentasi mengenai ijtihad sekelompok talib dan murid yang ingin dengan segera merespon pasca kematian Boran dan naiknya Yazdegard II di tengah-tengah Heraklius yang mengamuk terhadap orang-orang Yahudi. Karena itulah, Perang Ridda pada masa Abu Bakar bukanlah kisah mengenai nabi-nabi palsu — begitu pun seluruh kisah yang disebut Masa Fitnah I dan II. Heraklius meninggal pada 641 M, dan Bizantin tidaklah begitu stabil selama beberapa waktu sesudahnya.

Tentu saja saya setuju bahwa Sunni dan Syiah solid diklasifikasi pada abad 10-11 M, pada masa Abbasiyah, maka menarik memperhatikan ungkapan, “Duapertiga dalam Sunni berasal dari Aisyah bt Abu Bakar, dan dua pertiga dalam Syiah berasal dari Fatimah Az-Zahra.”  Pada masa yang sama, dunia Kearifan Sinai memang telah memapankan tradisi skolastika mereka, baik itu faksi Islam, faksi Kekristenan, maupun faksi Yudaisme.

Psikologi pascakolonial Barat mengglorifikasi Zaman Abbasiyah itu sebagai Zaman Keemasan, sebab ketika itulah penerokaan ilmu kalam (filsafat), yurisprudensi (fikih), dan berbagai sains (tidak hanya sains natural) begitu marak. Sains-sains itu telah mulai solid menjadi subjek-subjek terpisah, yang berperang di Perang Salib, dan memenuhi masa abad pertengahan dengan klaim mesianik masing-masing.

Keberadaan “Yang Terpuji” maupun “Yang Didambakan” itu akhirnya juga menjadi supersesionis, ekstra eklesia nulla salus, universalis, dan Manifest Destiny — seperti yang terjadi ketika Romawi mengadopsi agama rakyat para pemuja Yesus.  

Jadi, keberadaan Islam tidak akan pernah dapat dipisahkan dari Kekristenan dan Yudaisme, Begitu pula keberadaan Alquran dengan Alkitab, keberadaan mesianisme di tiga faksi dan setiap turunan mereka, serta apa yang kita sebut sebagai kemunduran dan kemajuan Islam. Semuanya memiliki hubungan yang organik dengan tanduk-tanduk yang selalu bereinkarnasi. Memisahkan ketiga faksi itu, dan melihatnya hanya dari satu-dua lingkungan internalnya untuk pemulihan kemanusiaan adalah absurd dan sia-sia, apalagi memisahkannya dari percakapan kolonialisme-imperialisme: tanduk-tanduk Manifest Destiny.

Kebanyakan percakapan kita dibatasi oleh pola pikir dan mentalitas kolonialisme-imperialisme serta dibatasi oleh psikologi ego-spiritual sehingga hanya membahas aspek teologi, esoterik, dan perennialisme. Bahkan, semua percakapan ini (perennialisme, pluralisme, ekumenisme, dst) adalah buah dari kolonialisme-imperialisme, maupun ruang lingkup dalam pola pikir dan mentalitas kolonialisme-imperialisme Eropa (kelanjutan dari dua tanduk pada abad 7 M).

Tentu saja, secara internal, para talib dan murid-murid melatih spiritualitas transhuman mereka: merantau, berhijrah, dan melakukan berbagai praktek yoga — termasuk yoga yana yang mendalam dalam hal mistisisme atau gnostik. Karena itulah kita menemukan kode-kode esotearik dalam kitab Majmu Syiah Sebelas, atau Hurufiyah yang dipelajari secara rahasia sebagai mursyid Bektashiyah.

Namun, kehidupan wanaprasta dan sunyasa mereka yang telah menjadi para abdal bukanlah mengasingkan diri dari dunia (baca: kehidupan sekular) untuk eskapisme dan ego-spiritual belaka. Karena dua hal itu, Monastisme Kekristenan telah menghasilkan sikap apatis dan abai terhadap tanduk-tanduk, begitu pula Sufisme pada masa dekolonialisasi Eropa abad 21 M ini.

[G] Ali ibn Abu Talib dan Persia.

Mengapa spiritualitas transhuman begitu penting? Inilah yang sedikit membedakan dengan tradisi sampradaya di Peradaban Hindia. Kolonialisme-imperialisme muncul, seperti Jared Diamond mengatakan, antara lain sebagai implikasi dari perubahan pada habitat akibat perubahan iklim sekaligus akibat eksploitasi alam yang telah melampaui batas. Itu sebabnya, kita tidak menemukan apa yang disebut sebagai perkembangan peradaban di Papua.

Jazirah India dan Cina secara umum tidak mengalami perubahan-perubahan habitat yang sedahsyat di Asia Barat dan Eropa pada masa-masa yang mendorong adanya invasi dan penaklukan itu. Meski para adidaya di wilayah-wilayah itu sama-sama didasari keserakahan dan kesombongan, pergerakan sampradaya dan ekspresi-ekspresi spiritualitas mereka menjadi berbeda karena faktor-faktor alam.

Manakala putranya lahir pada 636 M, dua tahun setelah gempa bumi yang tercatat dalam naskah-naskah kuno secara akurat (September, 634), Ali segera mengetahui bahwa nubuat-nubuat yang telah ditransmisikan kepadanya mulai menjadi kenyataan.  Mayat-mayat yang tergeletak di dua kota serupa Sodom dan Mesir secara spiritual sebagaimana nubuat dalam kitab Wahyu (11:10-13) digambarkan dalam kisah Taman Kematian manakala banyak hafiz Alquran tewas terbunuh, merefleksikan pula Taman Kematian 630-641 M selama masa Heraklius.

Ketika Heraklius berhasil merebut kembali Yerusalem pada 630 M, ia menghukum orang-orang Yahudi yang pada 614 M mendukung Persia, dengan memaksa mereka konversi menjadi Kristen. Pemimpin kedua dalam revolusi Yahudi setelah Nehemiah ibn Hushiel adalah Benyamin Tiberias, yang diceritakan juga akhirnya menjadi Kristen. Dia seorang saudagar yang selama ini mendanai revolusi orang-orang Yahudi.

Kemenangan Heraklius adalah implikasi perang di antara faksi-faksi dalam kekaisaran Sassan-Persia, khususnya di antara faksi Parsi dengan faksi Pahlawi (Parthia), sepanjang tahun 628-632 M. Mereka saling merebut tahta pasca kematian Khusraw II, yang juga menikah dengan putri dari Maurice, pendahulu Heraklius. Jadi, proksi dua tanduk ini sangat kompleks.

Kawadh II penerus Khusraw II meninggal dunia karena sampar pada 634 M, dan meninggalkan Persia dalam ketidakstabilan. Istrinya Boran dua kali naik tahta, diselingi Azarmi saudarinya. Ya, Khawad dan Boran mempraktekkan tradisi khedodah (inses) yang biasa dipraktekkan orang-orang Persia.  Sampai Yazdagird III yang naik tahta pada 632 M, praktisnya Persia tidak stabil oleh banyaknya pemberontakan.

Thomas Sang Prebister melaporkan (pada sekitar tahun 633-634 M) dalam Tawarikh 640, pasukan Tayyayar Muhammad dan pasukan Romawi bertemu di sebelah timur Gaza. Perang itu menyebabkan hampir 4000 orang petani meninggal dunia, baik Yahudi, Kristen, Samaria, maupun Sabian. Sekitar dua tahun kemudian 635-636, pasukan Muhammad berhasil menguasai Suriah dan menaklukkan Persia.

Sepanjang masa itu, dapat dimaklumi manakala orang-orang Arab yang memeluk Kristen memiliki kecenderungan menganut Monofisit sesunggguhnya bukanlah karena masalah teologi an-sich. Ini terkait semangat dan gerakan nasionalis yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat mazlum dan menentang hegemoni tanduk di Konstaninopel serta para pendukung mereka yakni kelompok menengah atas yang telah ter-Helenisasi.  Banu Kalbi sebagai salah satu pendukung faksi Umayyah adalah contoh kabilah Monofisit.

Tentu saja Umayyah berhasil mendirikan dinasti pada sekitar 657 M berkat konfederasi kabilah-kabilah Arab Kristen yang Monofisit itu. Sementara itu, sebagian orang Yahudi yang selamat dari kebijakan Heraklius adalah yang menyelamatkan diri ke Mesir. Jadi, cikal bakal dinasti Umayah adalah konfederasi kabilah-kabilah Arab Kristen yang Monofisit.

Kekuatan Umayyah berupaya menyaingi Ali ibn Abu Talib yang baru saja memimpin federasi yang diinisiasi dalam Konsili Saqifah 632 M itu. Namun, mereka tampaknya menyadari bahwa mereka tidak dapat mempertahankan identitas politik Monofisit untuk menjadi independen dan menyaingi Bizantin Romawi maupun sepenuhnya mengambil alih Sassan Persia.

Alquran secara tersirat menentang nilai dan strategi berbasis trauma dari Monofisit itu ketika menggunakan teologi Monofisit (yang disebut tauhid) untuk bentuk hegemoni yang baru. Alquran memulihkan kata tauhid kepada makna yang monorealisme dan tidak berpusat semata-mata kepada Yesus Kristus.

Kata Al-Mahdi pertama kali tercatat muncul jauh sebelum Muhammad Al-Baqir (676-733 M) muncul ke pentas sejarah. Ada berbagai riwayat menarik yang sesungguhnya dapat direkonsiliasi, alih-alih dianggap saling kontradiktif.  “Bahwa dialah yang membimbing Hasan ibn Ali dan Husein ibn Ali dalam mengajarkan Alquran yang telah dikompilasi Ali. Bahwa dia adalah keturunan Fatimah bt Muhammad. Bahwa ayahnya adalah Abdullah. Dst.”

Laporan Thomas Sang Prebister pada Tawarikh 640 M itu membuat sebagian orang mengaitkan kata “Tayyar Muhammad” kepada Iyas ibn Qabisah al-Tayy, seorang gubernur al-Hira yang berada di wilayah Persia yang memerintah 602-618. Al-Hira adalah ibukota Lakhmid, yang ditaklukkan Khalid al-Walid pada 633 M. Dua data ini membuat spekulasi bahwa legenda Muhammad juga dibentuk berdasarkan karakternya. Karena itulah kita harus memperhatikan sejarah Persia dengan seksama.

Sejarah Persia menyebut Shahpur sempat berkuasa di antara Borandokht dan Azarmidokht, dua raja perempuan Persia yang pernah ada setelah Musa Parthia pada masa dinasti Parthia menguasai kekaisaran Persia. Menarik mengetahui bahwa nasibnya setelah terbunuhnya Boran tidaklah diketahui dengan pasti. Kalau ada yang berspekulasi untuk Iyas, maka kita juga bisa berspekulasi untuk Shahpur.

Sementara itu, ibukota tempat Ali ibn Abu Talib mengelola federasi Islam yang disebut era khulafaurashidin berada di Kufah, ketika Yazdagird III meninggal pada 651 M. Kita kemudian memiliki kisah salah satu putrinya yang bernama Shahrabanu menikah dengan Husain ibn Ali, dan keturunan mereka bergelar “sayyid” dan sebagian keturunan mereka berdua menjadi para mursyid perawi yang sangat penting.

Kita tidak menemukan kisah serupa untuk putri-putri Bizantin, meski Yazdegird III sendiri adalah putra seorang Kristen bernama Shirin, dan pamannya Kawad II (saudara Shahriyar putra Khusraw II) adalah Maria putri Maurice. Jadi, sedari awal, seluruh topo dalam tradisi sampradaya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Persia daripada Romawi. Kisah Khusraw dan Shirin yang ditulis pengarang Nizami Ganjawi, yang juga mengarang Layla Majnun, terinspirasi dari sini.

Hal-hal ini menyediakan pesan bahwa, “Kalau kita tidak dapat melawan tanduk-tanduk, maka kita harus bergabung dalam salah satu tanduk untuk menggulingkan tanduk itu sendiri maupun tanduk-tanduk yang lainnya.” Model seperti “bergabung dengan tanduk Persia” telah diteladankan oleh resi-resi yang menulis kitab Daniel dan semacamnya.

Kita memiliki Khadijah, Abu Talib, dan Sheba yang merupakan saudagar-saudagar kaya, seperti itu juga Benyamin Tiberias yang sosoknya tiba-tiba direbut dalam dongeng Heraklius yang sukses merebut kembali Yerusalem. Hal ini juga bukanlah hal yang asing dalam mitologi Yesus Kristus, dengan adanya sosok semacam Yusuf Arimatea dan Yusuf, ayah sambungnya.

Katakanlah Muhammad SAW adalah juga Muhammad Al-Mahdi, baik itu [i] sosok Muhammad yang perintis itu terlahir kembali sebagai Muhammad Al-Mahdi, maupun [ii] jika Anda sulit mempercayai gilgul atau tanasukh sehingga memandang mereka adalah dua sosok yang berbeda, dan [iii] bahwa Muhammad SAW adalah kesatuan dari seluruh Muhammad yang pernah berkarya sepanjang abad 7 M. Semua ini juga dapat diaplikasikan untuk Yesus Kristus.

Mitologi Yesus Kristus harus dapat dipahami dari titik penting revolusi Yahudi pada 46-48 M dan 66-73 M, meski telah memiliki cikal bakalnya sejak Sensus Quirinius (6 M), Sensus Seianus (31 M), dan Krisis Kaligula (37-41 M). Jadi, lebih kurang sama-sama 60-70 tahun dari era mitologis tokoh-tokoh yang kita glorifikasi. Namun, pada masa ini, hanya ada satu tanduk yang hendak digulingkan, dan itu adalah Romawi yang baru menjulang dari kekuatan Yunani yang berakhir semenjak naiknya kaisar Agustus pada 27 SM.

[H] Muhammad Al-Mahdi.

Kita dapat memberlakukan hal senada dengan Muhammad SAW untuk tiga perajin lain yaitu Enokh, dan Eliyahu Hanavi, dan Yesus Kristus. Revolusi-revolusi itu berlangsung pada masa yang sama dengan kematian Paulus (66 atau 67 M) dan dua atau tiga dekade kemudian adalah kematian Yohanes yang secara tradisional dianggap sebagai menghasilkan kitab Wahyu (sekitar tahun 90-95 M).

Kemunculan Eliyahu dengan sengaja ditempatkan pada masa Adadnirari II dan Ashurnasirpal II yang membangkitkan kembali Asyur sehingga kita menemukan kekaisaran Neo-Asyur. Namun, Eliyahu lebih aktif sepanjang Shalmanasar III, yang akan menanamkan ide-ide perlawanan sepanjang masa Neo-Asyur, tanduk yang terus gemilang sampai  abad ke-6 SM ketika kekuatan Medes-Persia menaklukkan Neo-Asyur — setelah bersekutu dengan Neo-Babilonia.

Selama masa penjajahan Akameni Persia, dan Selesia Yunani,  ide-ide tersebut semakin dalam dan terstruktur sampai kita menemukan Revolusi Makabe pada pertengahan abad kedua SM. Persekusi dan diskriminasi terhadap orang-orang Yahudi memicu revolusi yang terekam dalam teks-teks Makabe. Menurut sebagian sejarawan, inilah latar belakang kitab Daniel yang memuat setting masa Persia untuk menghadapi kenyataan kolonial-imperial Yunani — dan juga kitab Yudit.

Kitab Yudit tentu saja menarik, menyediakan kepada kita plot yang jauh lebih keras dan sadis, tetapi senada dengan munculnya sosok Hannah, Maria, Khadijah, dan Fatimah, dalam rangka menggulingkan para tanduk. Sosok ini jauh lebih “seksi” dalam gaya feminisme abad 21 M daripada gaya Esther yang sepenuhnya bergabung dengan Persia untuk menyelamatkan Israil. Dari sini, kita mengerti bahwa mereka semua menghadapi tanduk-tanduk, bukan? Kita bukan hanya sedang berbicara mengenai ego-spiritual dan egosektarian.

Sekarang kita memiliki petunjuk mengapa para pendamping atau mitra tiga perajin kita tidaklah terkenal dan bahkan dianggap tiada. “Eliyahu tidak menikah. Yesus tidak menikah. Siapakah istri Al-Mahdi?” Tradisi sampradaya tentu saja mengetahui eksistensi istri-istri mereka, karena perempuan memiliki empat peran penting (a) sebagai ibu; (b) sebagai saudari; (c) sebagai mitra; (d) sebagai anak — yang akan melanjutkan sampradaya. Baik mereka kemudian menjadi seperti Yudit atau Ester, seperti Yael atau Deborah, seperti putri-putri Zelofehad atau putri-putri Ayub, seperti Sarah-Hajar atau Naomi-Ruth, karakter-karakter itu menyediakan panutan yang diperlukan.  

Sebagai segel kenabian (khatam-al-anbiya) yang membawa pesan-pesan para resi sebelumnya, Muhammad Al-Mahdi bukan berarti supersesionisme maupun universalisme ala Gereja Katolik Roma abad pertengahan. Ketika kita membaca kata muslim, mukmin, murtad, dan kafir, maka terminologi-terminologi haruslah di-dekolonialisasi dari segala bentuk Manifest Destiny para tanduk yang justru ditentang oleh Muhammad SAW dan Yesus Kristus.

Sosok historis yang memenuhi nubuat, tanda-tanda (signs) dalam berbagai transmisi, dan karakter yang diperlukan pada era historis, dan bukan lagi era mitologis, adalah Muhammad ibn Ali Al-Hanafiyah. Kita harus melampaui teologi Kaisaniyah di sini, yang supersesionis dan tidak berkelanjutan.

Dalam tradisi internal, Muhammad ibn Ali dikenal sebagai kedua tangan Ali — sedangkan Hasan dan Husain adalah kedua matanya. Sebagian orang memahaminya semata-mata sebagai tangan yang membawa pedang untuk berperang, dan bukan pedang merupakan pena yang membawakan kepada kita naskah Alquran yang hari ini ada di tangan kita.

Dia juga membesarkan Ali Zainal Abidin sepeninggal Husain, dan Ali Zainal Abidin dilanjutkan kepada Muhamamd Al-Baqir. Dalam metode sejarah lisan dan tradisi lisan Van Sina, kita dapat memahami genealogi dengan nama yang berulang ini sebagai petunjuk yang penting bagi karakteristik suatu tradisi sampradaya. Karena itulah, bagi saya mudah memahami salawat “Allah bir Muhammad Ali” dengan tanpa kata penghubung di antara Muhammad dengan Ali, begitu juga tanda-tanda yang begitu gnostik dalam kitab Majmu orang-orang Syiah Sebelas.

Sebuah dongeng menyebutkan, manakala Muhammad bertemu dengan muhibnya (yang tampaknya belum menjadi talib), mereka memberikan salam, “Assalamualaikum ya Mahdi.” Lalu, Beliau pun menjawab, “Ya, saya memang Mahdi ke jalan kebaikan dan engkau semua adalah Mahdiyyun kepada kebaikan. Insyaallah! Namun, baiklah kiranya jika engkau sekalian memberi salam kepadaku, sebutlah saja namaku, assalamualaika ya Muhammad.” Kata Mahdi tersebut secara sederhana diartikan sebagai pemberi petunjuk.

Jadi, kata Imam Mahdi pada mulanya bersifat generik, sama halnya dengan Mesias atau Kristus, dan Hanavi (yang berevolusi menjadi Hanafi, Hanufa, dan Hanif). Manakala, para mursyid merasa perlu melawan Abbasiyah, maka gelar itu dipatenkan sebagai simbol pergerakan.

Dari berbagai kisah yang tumpang tindih dan tampak berselisih, kita dapat merekonsiliasi bahwa Muhammad Al-Hanafiyyah hidup dalam masa-masa genting sepeninggal Abu Talib dan Abdul Mutalib. Dua orang itulah yang paling berperan dalam menghasilkan legenda untuk mengambil alih Persia yang lunglai dan menandingi Bizantin yang semakin keji. Dia hidup berpindah-pindah, karena tidak disukai oleh penguasa setempat yang khuatir oleh kharismanya, sedangkan ia tidak ingin berbaiat kepada mereka, terutama Abdullah ibn Zubair dan Abdul Malik ibn Marwan.

Kata baiat harus direvisi kepada perjanjian yang bersifat politik semata-mata. Sesungguhnya, Abdul Malik belum sepenuhnya menciptakan Islam sampai ia berhasil merebut Mekkah dan mengalahkan Abdullah ibn Zubair. Untuk membersihkan citra Umayyah yang telah membantai keluarga Ali di Karbala, Abdul Malik dan Al-Hajjaj melakukan kanonisasi Alquran dan melakukan penyeragaman yang mapan. Melihat perkembangan ini, Muhammad berbaiat kepada Abdul Malik — dan menyusupkan murid-muridnya ke dalam komite kanonisasi Alquran.

Bagian akhir dalam Hikayat Muhammad Al-Hanafiyyah yang diterjemahkan dan diadaptasi dari suatu karya Persia via India mengingatkan saya pada pemberontakan yang dilakukan Abdurahman Ashaath pada 699-701 M terhadap Al-Hajjaj setelah ia melayani Umayyah, meninggalkan faksi-faksi Ali. Para kantor (pendaras kitab suci) terutama di Kufah turut serta dalam pemberontakan yang berakhir gagal itu.

Sebelum bertarung dengan pasukan Yazid dan gaib, diceritakan Muhammad mengordinasi Ali Zainal Abidin sebagai mursyid perawi selanjutnya, dan kemudian ia membatalkan sumpahnya untuk tidak lagi berperang menumpahkan darah sesama muslim/mukmin sehingga menerima konsekuensi yaitu mengalami kegaiban — untuk selama-lamanya.

Tentu saja Yazid ibn Muawiyah sudah mati pada masa itu, tetapi yang dimaksud sudah pasti adalah pasukan Umayyah, dan bagaimana ia memanfaatkan gejolak baru itu untuk melakukan kaderisasi. Kader pemberontak yang paling terkenal tentu saja adalah Zaid ibn Ali Zainal Abidin, yang menikah dengan cucunya sendiri (ibunya adalah Raita ibn Abdullah ibn Muhammad Al-Hanafiyyah). Gerakan-gerakan bawah tanah itulah yang akan membawa kita kepada Revolusi Abasiyah pada 750 M — dan Al-Suffah bahkan harus mengklaim tahta Abbasiyah melalui “ijazah Muhammad Al-Hanafiyah.”

[I] Muhammad 571-632.

Ketika sosok-sosok dalam hadis-hadis menyebut kata-kata [a] rasulullah, [b] nabiullah, [c] karamallahuwajha, [c] Islam, [d] kitabullah, [e] Alquran, [f] Al-Mahdi, dst, maka saat inilah tiba saatnya untuk melihat dengan cara yang sama ketika Nehushtan ibn Subakh diberi gelar Eliyahu yang amat teoforik, dan doktrin Yesus adalah Tuhan. Bahasa-bahasa pergerakan ini sekarang sudah terlalu bercampur dalam percakapan teologis dan esoteris yang mereduksi tujuan dari kata-kata itu disabotase dari konvensi yang populer dan umum saat itu.

Rasulullah adalah kata yang generik, sebagaimana Paulus disebut rasul, dan Yesus adalah allah, dan allah dapat berarti Tuhan maupun Tuan. Jika Yesus dianggap Tuhan, atau pun Tuan, maka klaim Muhammad SAW saat mengatakan dirinya adalah rasulullah pada abad 7 M harus diberlakukan untuk mengecam eksploitasi gereja di Bizantin yang terlibat mempersekusi orang-orang Yahudi.  

Tentu saja syahadat dengan deklarasi “Muhammad adalah rasulullah” memiliki pengertian yang telah diinterpolasi dari kisah-kisah abad 7 M itu. Jika Muhammad itu adalah juga Yesus, Eliyahu, dan seluruh resi Kearifan Sinai, maka kita akan mengerti mengapa nama itu muncul dari sesuatu yang generik kepada yang paten dan eksklusif.

Ketika Ali ibn Abu Talib diceritakan memiliki gelar Abu Turab dan karamallahuwajha, kita dapat melihatnya dalam konteks ruang dan waktu itu pula. Di hadapan faksi-faksi Kristen dan Yahudi yang saling berperang, dia dinyatakan telah melihat wajah Tuhan atau Tuan, dan dinyatakan sebagai tanah atau negeri — yang mengingatkan kita pada “tanah yang dijanjikan”.

Karena itulah, pengertian kitabullah atau alkitab tidaklah harus merujuk kepada Alquran saja, dan Alquran sendiri semula juga adalah kitab yang generik bagi komunitas gemeinschaft itu. Begitu pula nama Muhammad. Jika ia sebuah gelar, maka ia pada mulanya pastilah tidak untuk merujuk kepada satu orang saja, melainkan untuk orang-orang dengan ketentuan atau kriteria tertentu.

Namun, seperti halnya melawan “Tuhan universalis” yang telah digunakan untuk kaisar-kaisar Romawi untuk menindas mereka, sekarang diperlukan satu sosok pemersatu dari seluruh resi yang disebut Muhammad setelah munculnya “Mesias universalis” yang digunakan oleh misionaris Kristen turut mempromosikan kekaisaran Romawi.

Muhammad 552-630 menyaksikan Tahun Gajah (552 M) dari kejauhan sebagai pemuda yatim piatu, sebab ia baru lahir pada masa itu. Seperti saya melihat Revolusi Iran 1979, tahun ketika saya lahir, saat saya berusia 17 tahun dan terpesona oleh Persia. Ibunya memberi rujukan penting bagi karakter Khadijah, seorang Yahudi yang kemudian memeluk Kristen (sebagaimana pengertian abad 7 M).

Muhammad 570-605 memiliki bakat yang sangat luar biasa dalam berpuisi, tetapi ia dibunuh pada usia muda, dan meninggalkan seorang anak perempuan dewasa yang kelak memiliki peran penting dalam kompilasi Alquran. Musahipnya meneruskan gurukulanya dan memberikan kepada kita karakter Fatimah az-Zahra yang diglorifikasi orang-orang Syiah dari seluruh faksi.

Muhammad 590-640 memperjuangkan kedudukan dan memperolehnya di Yathrib. Dia berumur sekitar 40an tahun ketika Umar ibn Khattab menyerang Romawi dan Persia.  Dia mengembangkan jaringan dengan kabilah-kabilah Yahudi maupun Kristen seperti politisi yang lihai. Di pasar-pasar seperti Ukaz, dia terinspirasi penyair Imru Al-Qais yang dikagumi, bukan hanya karena syair-syair kebebasannya, tetapi juga karena kisah-kisah romantis Imru yang menikah beberapa kali dalam pencarian cintanya.

Ayah saya Abdul Hadi WM pernah mengatakan bahwa narasi-narasi fiksi sastra sering kali jauh lebih kuat menyentuh dan mengilhami kita. Siti Nurbaya karya Marah Rusli kini hampir menjadi sosok historis, sama seperti Harry Potter. Jadi, melihat konteks Imru Al-Qais dalam zaman ketika masyarakat merayakan hal-hal dari sosok Imru, kita harus mengerti mengapa sosok Muhammad 570-632 diceritakan memiliki banyak istri di Madinah, setelah hidup bermonogami selama 25 tahun dengan Khadijah.  

Dari sebelas istri Muhammad 570-632, delapan di antaranya mewakili delapan proporsi konfederasi Quraish yang diperlukan:

[1] Perempuan Kristen keturunan Lewi (603-678), Pro-Romawi.
[2] Perempuan Kristen keturunan non-Lewi (606-666), Pro-Romawi.
[3] Perempuan Kristen keturunan non-Lewi (590-625), Pro-Persia.
[4] Perempuan Kristen keturunan non-Lewi (591-681), Nasionalis.
[5] Perempuan Yahudi keturunan non-Lewi (608-671), Pro-Romawi.
[6] Perempuan Kristen Monofisit keturunan Lewi (593-665), Nasionalis.
[7] Perempuan Yahudi keturunan Lewi (610-670), Pro-Persia.
[8] Perempuan Yahudi keturunan Lewi (600-671), Pro-Romawi.

Namun, yang menjadi pertanyaan, benarkah Muhammad 590-640 memiliki banyak istri? Yang menarik, ternyata menurut penelusuran saya, dia hanya menikah sekali sampai akhir hayatnya.

Muhammad 636-699 adalah Muhammad yang historis, yang dikenal antara lain oleh Yahya ibn Penkaya (Yohanan ben Penkaye) dan Sabeos di Armenia. Dia menikah dua kali. Istri pertamanya 637-680 dan melahirkan beberapa anak di antaranya empat putra (Ali, Umar, Ibrahim, dan Abdullah). Istri keduanya 640-699 melahirkan beberapa anak di antaranya seorang putra bernama Hasan.

[J] Agnotologik Islam Karya Abbasiyah.

Meskipun Abdul Malik I berjasa menciptakan Islam bersama-sama Al-Hajjaj, yang berjasa memapankan sejarah dan ilmu Islam yang sampai kepada kita hari ini adalah orang-orang Abbasiyah.  Justru dengan Muhammad Al-Hanafiyah berbaiat dengannya, Abdul Malik I menyadari kekeliruannya dan mulai mengupayakan rektifikasi meski tidak dilanjutkan oleh penerusnya setelah 715 M.

Abbasiyah menghasilkan “Agnotologik Islam” dengan sempurna. Yang terjadi dengan adanya buku-buku antologi ribuan hadis dan karya para sejarawan masa Abbasiyah adalah keadaan dengan pengetahuan kita yang melimpah mengenai Muhammad dan Alquran justru membuat kita semakin tidak yakin mana yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, setiap faksi (yang dengan sengaja dipecah belah) mempromosikan sebagian saja untuk memenangkan selera. Maka, yang terjadi kemudian adalah suatu kejahiliyahan (ignorant) yang terus diproduksi dan dipelihara agar agama Islam dapat tetap berfungsi sebagai legitimasi kekhalifahan.

Londa Schiebinger mengatakan bahwa kejahiliyahan seringkali bukanlah absennya pengetahuan, melainkan buah dari pergumulan budaya dan politik. Ini mengingatkan kita pada bagaimana kita didoktrinkan adanya periode Arab jahiliyah dengan periode Islam dengan kehadiran Islam. Dalam hal ini, kita akhirnya telah sebegitu mendalam terinternalisasi oleh Muhammad 571-630, rasulullah yang terakhir, agama yang sempurna, dan pemenang dunia.

Justru dengan adanya doktrin itu kita menjadi jahiliyah terhadap periode berkabut Muhammad yang sesungguhnya, yang meliputi era mitologinya dan era yang mengantarkan kita kepada era historis ketika nama Muhammad dikenal oleh dua tanduk saat itu. Kita menjadi jahiliyah terhadap bagaimana agama Islam difungsikan sebagai alat politik oleh Abbasiyah, dan akhirnya Ottoman.

Ketika Abdul Malik bermaksud menjadikan suatu identitas persatuan untuk mengambil alih Persia dan menyaingi Bizantin, maka Abbasiyah menciptakan identitas itu sebagai pemenang terhadap faksi-faksi bangsa Israil lainnya. Namun, dengan direbutnya Konstaninopel pada abad 16, maka semenjak itu Ottoman menghadirkan identitas itu sebagai pemenang dunia.

Namun, yang patut diperhatikan, dua kekhalifahan awal itu sesungguhnya bersifat sekuler. Bahkan, Neo-Umayyah di Andalusia sangatlah sekuler. Mereka membawa identitas Islam, Alquran, dan Muhammad sebagai hal yang bersifat nasionalis, dan bukan universalis seperti Gereja Katolik Roma. Karena itu sistem kependetaan tidak dikenal dalam dunia Islam. Baru pada masa Ottoman, ia berupaya mengimitasi Romawi Bizantin.

Dari sisi ini, Muhammad SAW sebagai perajin keempat memberi kita pemulihan tentang apa yang dimaksud sebagai agama, kebenaran, dan kehidupan yang sampai sekarang masih dihegemoni oleh kekuatan tanduk-tanduk dalam reinkarnasi mereka.

Pesan-pesan dalam Alquran mengenai koeksistensi, kesetaraan manusia, dan kebinekaan di dunia yang tidak perlu dijadikan ke dalam satu gereja universal, sesungguhnya telah menolong Kekristenan merektifikasi dirinya melalui pertembungan mereka yang kerap kali berdarah-darah. Sementara itu, Yudaisme yang kecil dan tergilas, secara langsung atau tidak, suaranya diamplifikasi oleh Islam yang sama-sama menyuarakan monorealitas dan perlawanan terhadap penindasan.  

Tiga faksi itu (Yahudi, Kristen, dan Islam) telah berjalan ke arah tanduk-tanduk dengan kecenderungan masing-masing yang unik.

Sebagian Yahudi telah menjadi bagian dari tanduk itu sendiri, sebagai Kain, yang memberikan kepada kita harapan mengenai dunia yang akan datang adalah dunia sains dan teknologi yang menakjubkan. Sebagian Kristen telah menyesali keterlibatan mereka sebagai tanduk, tetapi sayangnya mendakwahkan kehidupan Abel untuk mengampuni dan mengasihi Kain yang menindasnya.  Sebagian Muslim tidak menginginkan diri mereka ditindas sebagai Abel, tetapi psikologi pascakolonial mereka membawa mereka sebagai Kain.

“Muhammad dalam Alkitab” sebagaimana kitab Buyruk Alfurqan menggambarkan, telah menubuatkan bagaimana Islam muncul ke pentas sejarah dan mengalami apa yang disebut sebagai kemunduran atau kemerosotan, dalam bidang-bidang yang dikuasai tanduk-tanduk untuk menguasai dunia. Namun, kemunduran atau kemerosotan yang semacam itu justru seharusnya dirayakan.  Karena itu artinya sebagian Muslim masih menyimak bimbingan Muhammad SAW secara darah dan daging.

Sang Sandalfon sedang meleburkan hati para ilmuwan yang mau menyimaknya agar mereka tidak tunduk kepada tanduk-tanduk yang membiayai mereka, meski bergabung di dalamnya. Sang Mesias Putra Yusuf sedang menempa hati orang-orang yang memilih menjadi Abel dengan pengalaman-pengalaman yang memukul kesadaran mereka. Sang Mesias Putra Daud sedang memurnikan hati mereka yang hendak menjadi Kain dengan tersingkapnya hal-hal untuk menenggelamkan kejahiliyahan mereka.

Di antara mereka yang tidak merasa dirinya sebagai bagian dari bangsa Israil, padahal menerima dan menjalani khazanah Kearifan Sinai, Sang Metatron sedang mencetak hati mereka seperti molding, sehingga kita menemukan ada begitu banyak bentuk yang dihasilkan.

Siddhamastu,
Syekhah Hefzibah.


20 November 2021.

*Nirukta*

[1] Supersessionisme: doktrin, paham, dan atau keyakinan teologis bahwa agama yang datang belakangan berfungsi menghapus atau menggantikan agama sebelumnya (replacement theology) sebagai penyempurna atau yang terakhir karena keunggulannya.

[2] Gemeinschaft: sebuah asosiasi sosial dengan setiap individu lebih cenderung kepada komunitas mereka daripada keinginan individual mereka: kelompok sosial yang berbagi satu pandangan dunia atau budaya secara akrab, erat, eksklusif, dan guyub.

[3] Gurukula: resi atau sepasang resi yang bertanggung jawab mengelola akhara atau padepokan.

[4] Wanaprasta: masa kehidupan di hutan, yaitu masa kehidupan pensiun dari kesibukan berumah tangga dan bekerja untuk membesarkan anak, dan mulai mengabdi sebagai abdal atau talib yang tekun.

[5] Sunyasa: masa meninggalkan kemelekatan terhadap kehidupan sekuler dan sepenuhnya hidup zuhud sebagai abdal.

[6] Gilgul atau tanasukh: reinkarnasi, menitis kembali, metempsikosis.

[7] Wikipedia menulis agnotologi sebagai, “The study of deliberate, culturally-induced ignorance or doubt, typically to sell a product or win favour, particularly through the publication of inaccurate or misleading scientific data. More generally, the term also highlights the condition where more knowledge of a subject leaves one more uncertain than before.”

[8] Ekstra eklesia nulla salus: tidak ada keselamatan di luar gereja/komunitas agama(nya).

Standard