*MENGAPA NAMA ‘ISA (عِيسَى) BUKAN YSU’ (يَسُوع) DALAM ALQURAN?*

Dua filolog yaitu Dr. Guillaume Dye dan Dr. Manfred Kropp memberi penjelasan mengenai penggunaan nama ‘Isa (عِيسَى) dalam Alquran, yang memang merupakan bentuk skripturalisasi nama ‘Isa (عِيسَى) dari bahasa penuturan yang dipilih pada masa generasi salaf Muhammad (632-705 M).

Menurut Nafsiologi, proyek skripturalisasi secara serius dilakukan sepeninggal Fatimah Az-Zahra, dipimpin oleh dua putranya Imam Hasan Al-Mujtaba dan Imam Al-Husain.  Namun, setelah Imam Ali ibn Abi Talib meninggal dunia, proyek tersebut dipimpin oleh saudara mereka yang berbeda ibu, yakni Imam Muhammad Al-Hanafiyyah (661-694 M).

Kemudian, Imam Muhammad bernegoisasi dengan khalifah Abdul Malik (memerintah 685-705) agar Ahlulbait Al-Islam tidak diganggu, dan mengingatkan kekaisaran yang mengklaim (gerakan) Islam dari Nabi Muhammad itu untuk sepenuhnya menjalani Alquran. Karena mushaf warisan dari Fatimah Az-Zahra telah disalin, atau tepatnya diskripturalisasi ulang mengingat jumlah Muslim yang telah banyak.

Gubernur Al-Hajjaj mengambil kesempatan itu untuk melakukan kanonisasi Alquran demi membersihkan nama dinasti Umayyah akibat Tragedi Karbala pada 680 M. Kemudian, mengklaim kanonisasi pertama dilakukan oleh khalifah Usman, tapi menyita mushaf Usman dan mushaf-mushaf yang diwarisi dari para murid Nabi Muhammad lainnya.  Beberapa murid Imam Muhammad berada di dalam kepanitiaan, dan menggunakan skripturalisasi terbaru dari Imam Muhammad.   

Ada banyak cara menuturkan nama <<‘Ysu>>  dari bahasa Ibrani-nya, bahasa yang serumpun dengan bahasa Arab, Aram, Suryani, Geetz, Amharik, Akkadia, dll. Dalam bahasa Ibrani sendiri nama <<‘Ysu>>  (יֵשׁוּעַ‎ ) dituturkan dalam banyak dialek. Dialek Samaria, misalnya, kadang-kadang lebih mirip dengan bahasa Geetz daripada bahasa Ibrani untuk pelafalan sejumlah kata.  

Dua filolog yaitu Dr. Guillaume Dye dan Dr. Manfred Kropp memberi penjelasan mengenai penggunaan nama ‘Isa (عِيسَى) dalam Alquran, yang memang merupakan bentuk skripturalisasi nama ‘Isa (عِيسَى) dari bahasa penuturan yang dipilih itu.

Dalam bahasa Arab yang dituturkan hari ini, kadang-kadang ada kecendrungan untuk menambahkan suatu ‘ain dalam kata yang dipinjam atau kata asing yang diarabisasi. Misalnya, dalam penuturan Arab modern, kata “makaroni” yang dipinjam dari kata Italia “maccheroni” menjadi “ma’karûna”.

Dalam berbagai dialek bahasa Aram nama Yesus dituturkan sebagai <<‘Ysu>> – dengan berbagai variasi bentuk dalam dialek Aram belakangan, misalnya <<Ysw’>> dalam Suryani, dilafalkan <<Yêšû‘>> dalam dialek Suryani Barat, dan Κô‘ dalam dialek Suryani Timur.

Namun, dalam pengucapan Suryani Timur itu, <<‘ayn>> di belakang nama Κô‘ dihilangkan menjadi <<Κô>> saja.

Variasi dialek yang digunakan dalam Alquran dicontohkan oleh Dye dan Kropp antara lain dalam nama Solomo atau Sulaiman. Kata Suryani untuk itu adalah <<Šlîmûn>> sedangkan dalam Alquran, dialek yang digunakan adalah <<Sulaymân>> dimana huruf diganti <<š>> dengan huruf <<s>> sebagaimana dalam nama <<‘Îsâ >>.

Maka, kita bisa menemukan hal-hal sebagai berikut untuk nama Yesus.

(a) Sebagaimana dalam Suryani Timur, maka <<‘ayn>> pada akhir nama dihilangkan, menjadi <<‘Îsâ >> dalam pengucapan.

(b) Jadi, jika Suryani Timur dialek-nya <<ô>> maka dialek Nabatea adalah <<â>>,

(c) Jika dalam Suryani dialeknya adalah <<š>> maka dalam dialek Nabatea <<s>>,

(d) Penambahan <<’ayn>> di awal nama, mendahului  <<ya>>

Ini juga bisa dilihat dalam kasus Amos 1:8. Kota <<Askalon>> sering disebut dalam Alkitab.

Kata Arab untuk <<‘asqalân>> atau <<‘asqulân>> mesti dibandingkan dengan kata <<’ašqalûn>> dalam Suryani dan <<’ašqelôn>> dalam Ibrani. Di sini kita melihat perubahan << alif (’)>> menjadi <<‘ayn (‘)>> pada awal nama, begitu pula perubahan <<š>> menjadi <<s>> dan perubahan dialek << ô >> maupun <<û>> kepada << â>>.

Dalam “La fondation de l’Islam (2002)” A.L de Prémare telah menyebutkan penemuan arkeolog Y. Nevo di wilayah Nejev, yaitu grafiti dari masa Antiquity menjelang kelahiran Muhammad yang menuliskan dialek tersebut, yaitu «‘Îsâ». Ini menunjukkan formulasi «‘Îsâ» selain yang digunakan dalam skripturalisasi Alquran, sebelum Alquran dikanonisasi.

Hal yang serupa terjadi kepada nama Yohanes. Mengapa Alquran menyebutnya sebagai Yahya dan bukan Yohanes?

Kata “Yahya” adalah perubahan dialek dari kata “Yuhanna” dari bahasa Ibrani-nya “Yohannan”. Dalam dialek Nabatea yang dituliskan dan ditemukan di Nabatea, penulisan secara konsonan duktus atau Arab gundul tanpa manual dan tanpa diakritik adalah << ىحٮ >> yang dapat dibaca sebagai Yahya maupun Yuhanna.

Menurut Nafsiologi, pemilihan skripturalisasi sejumlah “proper name”, toponim, dan nama-nama lain menurut dialek tertentu dalam Alquran, khususnya dialek yang biasa digunakan para saudagar yang dikenal sebagai “Jaringan Dagang Radhan” di Timur Tengah, semacam lingua franca mereka, memang disengaja oleh Ahlulbait Muhammad-Ali di bawah pimpinan Imam Al-Hasan, Imam Al-Husain, dan Imam Muhammad Al-Hanafiyah itu.

Terutama disengaja berbeda dengan skripturalisasi yang digunakan dalam nomenklatur-nomenklatur Sistem Imperialis yang telah ada sebelum gerakan Islam dideklarasikan oleh Nabi Muhammad sebagai gerakan sosial dari tarekat Al-Islam yang dilanjutkan secara pohon hayat dari sijrah Nabi Ainukh/Enokh, Nabi Ilyas/Elia, dan Isa Al-Masih/Yesus Kristus sendiri. Sistem Imperialis itu terutama adalah gereja-gereja Kristen di Barat dan Timur.

“Jaringan Dagang Radhan” itu kelak berkembang menjadi “Jaringan Dagang Sufi” sejak abad ke-11 M, ketika sistem pohon hayat berupa guru-sisya dalam Al-Islam dilanjutkan oleh tarekat-tarekat Sufi yang mulai dimapankan.

[Penjelasan linguistik dalam tulisan ini adalah menyalin maupun memparafrase dari “Roots of Islam”, tanggapan untuk:

Guillaume Dye and Manfred Kropp, “Le nom de Jésus (‘Îsâ) dans le Coran et quelques autres noms bibliques: remarques sur l’onomastique coranique” dalam “Figures bibliques en islam” disunting oleh Guillaume Dye dan Fabien Nobilio, di Bruxelles, ed. E.M.E., 2011].

Sidhamastu,
Grandsheikha Hefzibah Gayatri W.Muthari
( mursyid dan imam tarekat Daudiyah- mursyid ke-44 dari Nabi Muhammad dan ke-61 dari Bunda Maria; marja’ kitab Buyruk Alfurqan atau TBAI [The Beloved and I] dan pelopor Nafsiologi; mujaradah #PengantianElia ).

Sijrah:

61 Hefzibah << 60 Thomas << 59 Hawa <<  58 William <<  57 Yohanes << 56 Yakub

<< 55 (rhs) << 54 (rhs)  << 53 (rhs)  << 52 (rhs) << 51 Ismail << 50 (rhs)

<< 49 (rhs)  << 48 (rhs)  47 Ibrahim << 46 Ismail << 45 Mursel << 44 Yusuf

<< 43 Rasul << 42 Ali << 41 Fatima << 40 Bektash << 39 Ibrahim, Lukman, Rasul

<< 38 Musa << 37 Ishak << 36 Muhammad << 35 Ibrahim << 34 Hasan

<< 33 Ibrahim << 32 Mahdi << 31 Muhammad << 30 Hasan << 29 Al-Mahdi, Al-Ibrahim

<< 28 Hasan << 27 Ali << 26 Muhammad << 25 Ali, Al-Ibrahim

 << 24 Musa << 23 Jafar << 22 Muhammad << 21 Ali, Muhammad << 20 Al-Husein

<< 19 Al-Hasan << 18 Ali, Fatimah << 17 Al-Muhammad << 16 Khadijah, Abdullah

<< 15 (rhs) << 14 Hashem << 13 (rhs) << 12 (rhs)

<< 11 Khalid Sinan << 10 Musa << 9 (rhs)  << 8 Lukman << 7 (rhs)  << 6 (rhs)

<< 5 Thomas/Barnabas << 4 Maria, Thomas/Barnabas, Yohanes << 3 Yeshua

 <<2 Yohanes << 1 Maria << 0 Zakaria <<….. dst. (rhs: rahasia)

Standard

Injil Koptik Thomas 19: Pohon Kehidupan

Hari Kenaikan Yesus Kristus pada 26 Mei 2022 dirayakan umat Kristen sedunia yang menggunakan kalender Gregorian (kecuali sebagian kecil tidak merayakan).

Memperingati hari tersebut, saya ingin membahas satu bait khusus dari Injil Koptik Thomas, yaitu ayat atau pasal 19, yang mengandung lima ekspresi kunci penting. [1] Tanasukh. [2] Kegaiban. [3]. Batu keberserahan diri. [4] Pohon kehidupan. [5] Rajaah.

Do you not see how God sets out

A parable? Word without doubt

Of a good tree, whose root is fixed

Firm and its branches to not nixed

As far as the sky round about.

ABRAHAM 24 in TBAI

*[1] Transmisi Kearifan dan Sains dari Nabi Khidir*

Berdasarkan Buyruk Alfurqan, hari raya ini tidaklah lain merupakan peringatan berakhirnya gaib sukra atau gaib kecil Yesus Kristus yang juga dikenal sebagai Isa Almasih. Setelah itu, Beliau berada dalam kegaiban kubra atau gaib agung — sampai hari saya menulis ini.

Konsep gaib sukra dan gaib kubra sesungguhnya dikenal akrab dalam tradisi Sinaisme dalam berbagai nama dan ungkapan. Konsep ini dapat dipahami melalui kisah para resi pada setiap zaman dalam daur kemanusiaan kita kali ini. Dari sejak Kisah Taman Eden dalam Taurat (Kejadian 2-3).

Nabi Khidir yang juga dikenal sebagai Idris dan Enokh membagi 10 Zaman untuk daur kemanusiaan kali ini. Babakan 10 Zaman ini berdasarkan pola konjungsi Saturnus-Neptunus. Karena daya konjungsi ini bagi bumi berefek mendaur ulang idealisme dalam kemanusiaan. Misalnya, di ranah budaya, politik, agama, dan ekonomi.  

Seperti dasar matematika Mesopotamia yang sexagesimal, satu daur kemanusiaan lamanya 6000 tahun sebagai masa kesempatan berproses mencapai sidha bagi nafs yang terlahir menjadi manusia. Inilah Zaman 1 sampai Zaman 8. Sisanya adalah masa pemurnian dan masa kemurnian. (Enokh 90-93).

Zaman 9 yaitu masa pemurnian, lazim diekspresikan sebagai masa pengadilan, penghakiman, atau alam masyhar. Zaman 10 yakni masa kemurnian, lazim diekspresikan sebagai surga atau firdaus yang abadi. Saat ini (5782 Y/2022 M) umat Sinai masih punya kesempatan sekitar 278 tahun lagi sebelum masa pemurnian.

Sekitar 5800 tahun lalu, Nabi Khidir telah menemukan kembali kearifan dan sains dari daur kemanusiaan sebelum masanya. Hari Kenaikan Yesus Kristus tidaklah lain merupakan perayaan yang berkaitan erat dengan kearifan dan sains yang ditemukan Nabi Khidir tersebut. Mengapa dan bagaimana ada manusia yang mengalami kegaiban?

*[2]Tanasukh, Rajaah, dan Qadash*

Pada zaman astrologis Taurus, umat manusia di bumi kembali membangun peradaban. Sejumlah orang dari berbagai rumpun bahasa telah memperoleh pencerahan sehingga mencapai sidha, yaitu maqam kesempurnaan.

Dari umat manusia yang berbahasa Semit, Nabi Khidir adalah resi pertama yang diceritakan mengalami gaib sukra dan gaib kubra. Hal tersebut hanya dapat dilakukan manusia yang telah mencapai sidha dan menemukan rahasia dari daur kemanusiaan sebelumnya.

Beliau adalah nafs pertama dari orang-orang Semit yang berhasil menemukan rahasia dari daur kemanusiaan sebelumnya, sehingga mendirikan agama berkelanjutan. Inilah agama sampradaya dari Trans-Semit yang masih ditransmisikan sampai ke hari ini. Dimapankan semenjak 3760 SM, semenjak masa gaib sukranya (Kejadian 5).

Tahun 3760 SM kemudian menjadi titik awal Zaman 1, disebut Anno Mundi, Tahun Penciptaan. Yang dimaksud bukanlah manusia pertama kali diciptakan pada 3760 SM, melainkan permulaan zaman dalam daur kemanusiaan kali ini, bagi seluruh keturunan Trans-Semit dari nasab biologis maupun spiritual Nabi Khidir.

Apa yang membedakan agama Nabi Idris dengan agama-agama Mesopotamia lainnya adalah agama ini menjalani sistem sampradaya. Selain itu, agama sampradaya ini dimapankan dan dikembangkan dalam masyarakat berbudaya transhuman. Jadi, bisa nomaden maupun semi-nomaden.

Taurat menyebut Kain harus memulihkan dampak kejahatannya menggenosida Abel dengan nod, yaitu kehidupan transhuman. Sesungguhnya, pengalaman itu diperlukan bagi manusia untuk lelaku ketidakmelekatan sekaligus belajar di dalam berbagai kondisi baru.

Agama sampradaya merupakan agama natural yang masih kuat memelihara unsur animisme (keyakinan adanya roh), shamanisme (bimbingan roh leluhur), dan tantra (ekspresi bahasa dan seni sebagai zikrullah) untuk berhubungan dengan realitas secara totalitas, demi menyintas dan resilien dalam menghadapi suka duka kehidupan.

Karena unsur shamanisme, itu berarti memelihara transmisi personal yang tidak selalu dapat bersifat massal. Agama ini struktur dan organisasinya sangat sederhana, tidak seperti model agama imperial-konsensus. Transmisi personal itu juga kaderisasi, sehingga perawi berikutnya dapat terpilih untuk melanjutkan transmisi. Sebab itulah, disebut berkelanjutan.

Dari Kisah Taman Eden yang ditransmisikan Nabi Khidir dalam bagian awal Bereshit atau Kejadian, kita sudah menemukan konsep-konsep yang ada dalam Injil Koptik Thomas 19 ini: tanasukh, rajaah, kegaiban, batu keberserahan diri, pohon kehidupan, dan kematian.

Konsep-konsep itu juga berkaitan erat dengan konsep qadash yang kita temukan dalam transmisi mengenai Sabat atau hari ketujuh dalam Kejadian 2. Jadi, setiap konsep terjalin satu sama lain, tidak dapat dipisahkan. Qadash atau pentakdisan ialah lelaku untuk menerima dan menyampaikan transmisi. Inilah terminologi “sampradaya” dalam Taurat.

Jesus said “Blessed is he who came

Into being before he came

Into being. If you become

My disciples and hear my words,

These stones will serve you in their herds.

For there are the five trees for you

In Paradise untroubled all

Year whose growing leaves do not fall.

Whoever comes to know them will

Not feel or know at all death’s chill.”

Coptic Thomas:19 in tBAI

*[3] Kegaiban (Occultation) dalam Transmisi Nabi Khidir.*

Pembahasan konsep-konsep itu tentulah berhubungan erat dengan shamanisme dan animisme. Kata “leluhur” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “luhur”, sesuatu yang tinggi dan dimuliakan. Dalam Kejadian 5:21-24, kita menemukan konsep senada:

“Nabi Idris hidup selama 65 tahun, dan kemudian berjalan bersama Allah selama 300 tahun (tanasukh), totalnya 365 tahun, kemudian berjalan bersama Allah (tanasukh), lalu tidak lagi (rajaah), diambil Allah (gaib).”

Dari transmisi tersebut, tahapannya dapat disusun sebagai berikut.

*1~ Seorang resi yang telah meninggal dunia dan mencapai sidha, memutuskan untuk kembali dan menyelesaikan suatu misi penting pada suatu ruang dan waktu.

*2~ Resi tersebut memutuskan tanasukh secara jiljul neshamot. Nabi Idris melakukannya selama 300 tahun atau sekitar 5-6 generasi.

*3~ Kemudian melakukan tanasukh lagi. Kali ini, saat menemui ajal dalam fisik barunya, ia memperoleh karunia mengalami rajaah.

*4~ Setelah rajaah, sang resi tidak disebut mati maupun hidup, melainkan diangkat Allah atau naik ke langit, Inilah fase gaib.

Dalam kasus Eliyahu dan Yesus Kristus, fase gaib dibagi dua periode lagi.

*5~ Gaib sukra. Berlangsung selama 40-180 tahun.

*6~ Gaib kubra.

[**N. Tanasukh adalah metempsikosis atau reinkarnasi dan inkarnasi secara umum. Jiljul neshamot adalah kelahiran kembali nafs dalam tubuh baru. Rajaah adalah kelahiran kembali nafs dalam tubuh yang sama atau kebangkitan tubuh].


*[4] Latar Belakang Injil Koptik Thomas 19 (IKT 19)*
Rahasia kearifan dan sains yang ditemukan Nabi Khidir itu biasanya disampaikan dalam ungkapan seperti tanasukh, rahasia kematian, pohon kehidupan, keabadian jiwa, dst. Sebagian besar dapat kita temukan dalam kitab Khidir atau kitab Idris, yang dikenal juga sebagai kitab Enokh.

Transmisi tulis dari Nabi Idris tersebut paling lambat dicatat kembali sekitar dua abad SM. Akibat masa penjajahan Neo-Asyur, Neo-Babilonia, dan Persia, banyak transmisi tulis lenyap. Kemudian, setelah kegaiban kubra Yesus Kristus, tampaknya hanya diaspora akhara-akhara Oriental (Yaman, Etiopia dan sekitarnya) yang berhasil memeliharanya.

Walau bagaimana pun, transmisi tulis itu masih dapat kita jumpai dalam berbagai teks Injil. Terutama Injil yang dihasilkan oleh akhara-akhara Oriental. Salah  satu transmisi tulis yang membahas hal tersebut ada dalam IKT 19, yang saya terjemahkan dari Buyruk Alfurqan sebagai berikut.

Sabda Kanjeng Gusti Yesus, [1]
“Rahayu bagi yang hadir mewujud [2]
Sebelum dirinya hadir mewujud.  [3]
Jika kalian menjadi muntasibku [4]
Serta mendengar ucapan-ucapanku [5]
Taslim tasi-taslim tasi ini akan menjamu [6]
Kalian dalam kumpulan mereka itu. [7]
Karena terdapat lima pohon bagi kalian [8]
Di Firdaus sama sekali tak tergoyahkan [9]
Hingga sepanjang tahun dedaunan [10]
Yang tumbuh pun tiada berguguran. [11]
Siapa yang hadir mengenal mereka akan [12]
Tak merasa atau tahu dinginnya kematian. [13]

Teks ini merupakan transmisi tulis yang disampaikan akhara yang diasuh oleh Didimus Yudas Thomas, akhara yang juga dikenal sebagai akhara Thomas dan akhara Barnabas. Inilah akhara yang mewariskan sanad Yesus Kristus kepada Nabi Muhammad SAW, yang berada di wilayah Oriental.  

*[5] Tanasukh dan Ahlulbait [the Hearth]*

“Rahayu bagi yang hadir mewujud [2]
Sebelum dirinya hadir mewujud.[3].”
Bait 2-3 membahas konsep tanasukh, khususnya Yesus Kristus menyampaikan salam kepada roh para resi yang hendak hadir kembali ke dalam kemanusiaan. Suatu tawasul atau salawat yang Beliau sampaikan bagi sanadnya secara umum, sebagaimana tradisi dari Nabi Yeremiyah.

“Jika kalian menjadi muntasibku [4]
Serta mendengar ucapan-ucapanku [5]”
Saya menerjemahkan kata “disciple” dalam bait 4 dengan “muntasib”, karena muntasib berarti talib yang telah melalui tahapan murid, yaitu tahap lelaku atau disiplin khusus saat belajar dan dikaderisasi dalam satu akhara.

Dalam nafsiologi, “murid” secara umum meliputi siapa saja yang telah diinisiasi di dalam akhara atau siapa pun yang telah menerima transmisi khusus secara personal. Adapun “talib” ialah muhib atau pengikut yang tertarik untuk diinisiasi sehingga belajar atau menjalani katekisasi sebelum benar-benar siap berbaiat kepada seorang mursyid.

Jadi, bait 4 menunjukkan sabda Yesus Kristus ini bersifat eksklusif kepada para murid, khususnya muntasib, sebab mereka telah mengikuti suatu lelaku khusus dalam akhara Beliau. Dengan kata lain, sabda Yesus Kristus ini diperuntukkan bagi ahlulbaitnya atau ocaknya, yang dalam qadash mereka itu bersedia menerima transmisi personal melalui serangkaian lelaku.

Apakah lelaku itu? Antara lain adalah mendengar yang Beliau sampaikan, dengan maksud agar menaatinya. Ungkapan “sami’na wa’athona” (Annur 51) disampaikan ulang dari Kisah Sinai (antara lain dalam Ulangan 5:27) dan disampaikan lagi oleh Yesus Kristus (antara lain dalam Wahyu 2-3).

*[6] Taslim Tasi dan Manna dari Injil Wahyu*

“Taslim tasi-taslim tasi ini akan menjamu [6]
Kalian dalam kumpulan mereka itu.” [7]

Saya menerjemahkan kata “batu-batu” dalam bait 6 menjadi “taslim tasi-taslim tasi”. Taslim tasi berarti batu keberserahan diri. Karena teks ini merupakan transmisi bersifat eksklusif, untuk para murid atau muntasib, maka istilah batu yang saya gunakan adalah taslim tasi.

Taslim tasi biasa dikenakan para baba, dede, abdal, darwis, muntasib, dan murid Bektashiyah. Biasa juga digunakan sebagai simbol suatu akhara, atau tekke yang menyelenggarakan suatu akhara, atau semewi yang menyelenggarakan semah, atau paguyuban orang-orang Alevi, dst.

Dengan kata lain, taslim tasi adalah juga simbol seseorang atau suatu nafs manusia yang berserah diri dan bersedia menerima transmisi leluhur dalam qadashatau pengasingan mereka di dalam bait/ocak sebagai murid Bektash Wali. Qadash biasanya dilakukan pada Sabat atau saat semah.

Ada beberapa hal penting mengapa saya menggunakan kata “taslim tasi” dan bukan batu biasa. Setidak-tidaknya ada beberapa transmisi tulis dalam dari Injil dan Taurat yang melatarbelakangi pilihan kata tersebut.

*[a] Batu yang mengeluarkan api.*

Kata “batu” dapat dijumpai dalam IKT 13, yang berbicara senada, mengenai keabadian bagi mereka yang terbakar oleh api yang keluar dari batu-batu yang dikumpulkan untuk Thomas apabila ia menyampaikan transmisi tiga hal dari Yesus Kristus.

Ungkapan IKT 13 itu mengingatkan saya pada jenis nafs manusia ashik, salah satu dari empat tingkatan nafs manusia dalam kitab “Maqalat Bektash Wali.” Empat tingkatan itu adalah sebagai berikut.

(i) Abid, yang dilambangkan udara. Golongan abid senang beribadah seperti udara, menghilangkan bau busuk nafsnya dengan aroma harum. (ii) Ashik, yang dilambangkan api. Golongan ashik tidak hanya sekedar mengharumkan nafsnya, tapi juga mabuk terbakar dalam Api Cinta.

(iii) Wali/Rindu, yang dilambangkan air. Golongan wali, selalu hangus terbakar sehingga kembali murni, dapat membersihkan dirinya maupun orang lain seperti air. (iv) Qutub, yang dilambangkan tanah. Golongan qutub selalu menjadi wahana seperti tanah yang mengandung udara, api, dan air.

Jadi, dalam IKT 13, Thomas melihat bahwa para murid beliau akan menjadi seperti para ashik, manakala nanti mendengar sabda Yesus Kristus dalam tiga hal yang ditransmisikan kepada beliau.

Kisah-kisah dalam Bektashiyah dipenuhi oleh para darwis, abdal, baba, dede, muntasib, dan talib yang mengalami tahapan ashik. Baik yang jenaka maupun yang romantis. Yang terbakar dan mencapai keabadian melalui Api Cinta yang mereka alami.  

*[b] Batu, di dalamnya terdapat sifat Allah.*

Dalam Lukas 19:40, Yesus Kristus menyampaikan bahwa salah satu sifat Allah adalah penciptaan ucapan (bahasa; ekspresi; kata-kata). Sifat Allah ini tersebar tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada seluruh ciptaan di alam. Seperti disket yang menyimpan segala memori, demikian juga setiap makhluk dan ciptaan juga mengandung ayat-ayat Allah.

Dalam Buddhisme, dikenal vajrayana dalam tantra (zikir) sebagai wahana yang tidak dapat dihancurkan, terkait amalan mantra (doa), mandala (rajah), mudra (gerakan salat, tari dalam semah, dst, termasuk tumaninah), dan dharani (tilawah). Vajrayana berhubungan dengan sanad yang spesifik dalam Buddhisme.

Dalam teks ini, Yesus Kristus menjawab kepada kaum Farisi (salah satu kelompok Neo-Yahudi pada masanya) yang menuntut Beliau mengkritik mereka yang mengelu-elukan Beliau. Jawabnya, batu-batu juga akan berzikir atau bertawasul kepadanya.

Dalam Kejadian 28, kita menemukan Kisah Batu Yakub. Inilah kisah batu sebagai benda keramat karena kemampuannya untuk menyimpan memori dan menghasilkan daya tertentu. Dalam konteks Kisah Batu Yakub, batu yang digunakan Nabi Yakub sebagai bantal berfungsi sebagai portal untuk menerima transmisi dari para leluhur.

Apa yang disampaikan Yesus Kristus dilanjutkan dalam tradisi menggunakan turbah di kalangan sebagian Muslim, khususnya Syiah. Turbah merupakan altar portabel yang dapat dibawa ke mana pun. Senada dengan vajrayana yang mencakup aktivitas mantra, mandala, mudra, serta dharani padanya.

Tradisi menggunakan batu dan tanah untuk sembahyang dimapankan kembali oleh Nabi Musa (Keluaran 20:24-26). Altar dalam Taurat tidak mengimplikasikan suatu tempat yang dibangun khusus. Kita harus ingat bahwa agama sampradaya ini juga agama transhuman. Jadi, pastinya bangunan mereka hampir jarang bersifat permanen. 

Karena itu pula, Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran tidak menyebut altar selain tanah. Jika, altar dari batu yang digunakan, maka harus dipotong tanpa menggunakan alat (Keluaran 20:25). Tujuannya adalah pelestarian alam dan kesederhanaan.

Secara tantrik/zikrullah/Enochian, turbah dipandang sebagai cara bertabaruk (mendekatkan diri kepada Allah melalui benda yang merekam memori tentang seorang atau beberapa resi) saat sembahyang. Kata “turbe” dalam bahasa Turki juga berarti makam.   

Biasanya turbah dihasilkan dari tanah di Karbala atau petilasan tertentu, lalu diukir dengan lafaz Allah ataupun nama salah satu dari 12 mursyid perawi s.d 870 M yang diakui oleh Syiah Duabelas sebagai 12 Imam. Atau, salah satu dari Ahlulkisa, yaitu lima sosok yang diterima dan diakui oleh semua mazhab Syiah. Bahkan, hampir seluruh Sunni. (Al-Ahzab: 33).

Maka, turbah itu diyakini membawa memori mengenai Ahlulkisa/Ahlulbait/12 Imam itu. Kemudian, setiap kita bersujud padanya atau menyentuhnya, turbah itu juga menyimpan memori dari kita. Jadi, berfungsi lebih kurang sebagaimana vajrayana.

*[c] Batu, menjadi roti*

Dalam transmisi tulis yang disampaikan akhara Lukas (4:3) dan Matius (4:3), terdapat kisah mengenai Yesus Kristus saat berada dalam qadash secara tapa untuk menerima transmisi.

Saat itu Beliau mengalami godaan dari nafs kesombongan (yang disebut iblis). Nafs itu menggodanya untuk mengubah batu menjadi roti, sebagai bukti Beliau seorang Anak Allah (dalam konteks ini, berarti seseorang yang telah menerima transmisi langsung, tanpa melalui mursyid perawi yang masih hidup sebagai manusia biasa).

Yesus Kristus menjawab bahwa manusia tidaklah hanya hidup dari roti. Artinya, manusia bukan hanya tubuh atau fisik untuk kehidupan (satu kali) saat ini saja. Tetapi, manusia juga adalah nafs yang harus memenuhi kebutuhan rohani.

Karena mampu mengatasi pergumulan nafs itulah, diceritakan Yesus Kristus menerima anugrah perjamuan dari para malaikat (baca: roh para resi leluhur yang ada di sidha, yang biasanya diceritakan berasal dari cahaya, sebab menerangi manusia keturunannya dengan bimbingan kearifan, ilmu, dan pengetahuan).

Kesombongan serta keserakahan melalui karunia karomah merupakan salah satu tantangan teragung bagi nafs mereka yang telah menjadi resi (nabi), avatar (rasul), dan begawan (wali/santo).

Batu menjadi roti dapat dipahami secara harafiah, bahwa pada batu terdapat bahan untuk menghasilkan makanan. Saya akan membahas ini dalam bagian *[d] Taslim tasi dalam Injil Wahyu*.

Batu menjadi roti dapat juga dipahami sebagai sejumlah perumpamaan.

Jika batu adalah simbol bagi murid, maka sang iblis menggoda Yesus Kristus bahwa Beliau dapat mengubah para muridnya agar dapat memenuhi kebutuhan manusia. Secara duniawi, dengan karunia karomah, Yesus Kristus dapat mengambil jalan Manifest Destiny seperti Kain atau Kabil.

Namun, Isa Almasih memilih kesadaran bahwa kehidupan bukanlah hanya pada tubuh satu kali (ini) saja, begitu pula dunia bukanlah bagi masanya saja. Nafs manusia diciptakan bagi keabadian (Kearifan Sulaiman 2:23), dari daur ke daur. Itulah yang lebih penting daripada mengumbar karomahnya sebagai Anak Allah.

*[d] Taslim tasi dalam Injil Wahyu*

Keseluruhan teks IKT 19, serta batu menjadi roti, akan semakin lengkap dipahami dengan membaca Injil Wahyu, yaitu transmisi tulis dari akhara Yohanes Sang Musahip.

Buyruk Alfurqan secara tersirat maupun tersurat mengklaim bahwa tradisi Bektashiyah masih memelihara seluruh simbol yang digunakan dalam Injil Wahyu. Melalui Bektash Wali, sanad Thomas Sang Peragu dan Yohanes Sang Musahip bersatu kembali.

Secara tersirat pula, tujuh tekke dalam asuhan akhara Yohanes Sang Musahip yang berada di Anatolia atau Turki saat ini, sebenarnya tidak hilang. Penerus yang istiqomah mengambil sanad Bektash Wali. Kita perhatikan, tujuh tekke di Efesus, Smirna, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laoedikia, terdapat tekke-tekke Bektashi atau pun komunitas Alevi.

Saya ambil simbol-simbol yang ada dalam Wahyu 2-3 saja:

[i] tujuh kaki dian emas, [ii] pohon kehidupan, mahkota kehidupan, [iii] pedang bermata dua, [iv] manna tersembunyi, [v] batu yang di atasnya tertulis nama baru yang tidak diketahui siapa pun kecuali yang menerimanya, [vi] tongkat besi, [vii] tujuh roh dan tujuh bintang, [viii] pakaian putih yang tidak tercemar, [ix] kunci Daud, [x] sokoguru di dalam kuil Allah, [xi] emas yang dimurnikan dalam api, [xii] minyak untuk mata, [xiii] singgahsana Allah, dan [xiv] bintang timur.   

Dalam IKT 19 ini, simbol yang muncul adalah [v] batu yang disebut Buyruk Alfurqan sebagai taslim tasi sebagaimana kisah terkenal Bektash Wali yang melatarbelakangi penggunaan taslim tasi sebagai simbol. Keberserahan diri (taslim) Bektash Wali, membawanya kepada karunia nama yang rahasia itu.

Taslim tasi juga berbentuk sebagai simbol [xiv] bintang timur atau bintang pagi dalam dodekagram atau duabelas sudut. Nama yang rahasia itu, tak lain ialah transmisi rahasia tantra/zikir, yang juga merupakan [iv] manna tersembunyi, yang merupakan makanan rohani para abdal Bektashi.

Secara harafiah, lokma merupakan hidangan sakral dalam semah Bektashi, melambangkan manna, dihidangkan satu dari duabelas petugas khusus semah yang merepresentasikan Mahmud ibn Maslamah Al-Ansari (saudara Muhammad ibn Maslamah). Tradisi lokma dapat kita jumpai di kalangan orang-orang Yahudi.

Namun, manna merupakan istilah yang umum bagi tumbuhan yang mengandung tepung sehingga dapat dijadikan roti. Secara botani, tumbuhan yang menghasilkan manna melimpah di Anatolia. Menarik memperhatikan bahwa lokma maupun manna ek terlihat seperti batu.

Di Diyarbakir, tenggara Anatolia, misalnya. Diyarbakir merupakan kampung halaman banyak orang Alevi-Kurdi. Di antara manna yang dipandang sejumlah peneliti sebagai yang dimaksud dalam Alkitab dapat dijumpai di Diyarbakir dan masih digunakan sebagai bahan makanan.

Di Dersim, timur Anatolia, sejenis manna ek digunakan dalam pengobatan tradisional orang-orang Alevi, disebut gezhemgen. Jika hujan turun, sejenis ek menghasilkan manna, sehingga dikatakan sebagai “Misteri Khidir” yang memberkati mereka dengan manna.

Taslim tasi juga melambangkan [ix] Kunci Daud, yang dikenal sebagai Aturan Daud atau Ketentuan Daud dalam hadis-hadis Syiah. Nama Daudiyah berasal dari konsep ini, yang juga melibatkan suatu transmisi rahasia dari Zabur, terkait bait 7 dalam IKT 19 ini.

Kunci Daud antara lain disampaikan dalam Mazmur 132:11-12, dan berkaitan erat dengan sistem parampara yang berkelanjutan, sebagaimana penerimaan dan pengakuan terhadap otoritas Musa, Daud, Sulaiman, Yesus, Muhammad, Ali, dst. Maka, sistem ini bukanlah supersesionis.

Yesus Kristus dalam Wahyu 3 dikatakan berwenang membuka dan menutup pintu, suatu simbol yang berwenang dalam menentukan pewarisan transmisi. Pintu dibuka untuk masuk ke dalam ocak atau bait, menerima transmisi. Jika ditutup, tidak diizinkan menerima transmisi.

Karena itulah, tradisi Bektashi mencium ambang pintu sebelum masuk semewi. Inilah simbol nyuwunsewu kepada para leluhur yang menjaga dan memberi transmisi. Sementara itu, Imam Ali biasanya disimbolkan sebagai pintu, sedangkan Nabi Muhammad adalah ilmu pengetahuan atau transmisi itu sendiri.

Dalam semah-semah tertentu, atau sejumlah semewi, disediakan kursi untuk Nabi Khidir dan atau Nabi Ilyas (Eliyahu Hanavi). Ini dapat juga melambangkan [xiii] singgahsana Allah, tempat Nabi Khidir mentransmisikan tablet kahyangan (Lauh Mahfuz) dan atau Eliyahu Hanavi menegakkan [vi] tongkat besi.

Salah satu pesan Yesus Kristus dalam Wahyu 3 ditujukan bagi tekke di Filadelfia. Sekarang bernama Alasehir. Di sini terdapat petilasan Sari Saltuk, waliullah yang terkenal, yang disebut sebagai makam beliau. (Ada sejumlah tempat lain yang mengklaim makam Sari Saltuk, seperti di Babadag, Romania).

Kepada tekke di Filadelfia, Yesus Kristus menjanjikan jika mereka tekun dalam lelaku, akan menjadi [x] sokoguru di kuil Allah. Dua sokoguru yang dibangun Nabi Sulaiman dalam kuil Allah bernama Yakin [bersiap-siap] yang merupakan nama salah satu penerus akhara Simon, serta Boaz [tidak keberatan atau tidak menolak tugas] yang merupakan nama kakek Nabi Daud (1 Raja 7).

Bersiap-siap dan tidak keberatan saat menerima tugas, merupakan hikmah dari berbagai cerita tentang para abdal Bektashiyah. Kisah asal mula simbol taslim tasi juga merefleksikan kesiapan dan kesanggupan para abdal yang berbuah karomah.

Taslim tasi juga biasanya dibentuk dari batu unam atau oniks yang merupakan batu hosen lambang akhara Yusuf pada zirah yang dikenakan seorang kadi. Jubah yang dikenakan para darwis Bektashi melambangkan zirah, yang diberikan kepadanya saat inisiasi, dan ia berupaya untuk tidak mencemari dirinya.

Jagalah mulutmu, tanganmu, pinggangmu,” kata Bektash Wali sebagai lelaku yang terangkum dalam pemberian jubah sebagai zirah penghakiman atau penilaian (sebagai kadi bagi kehidupannya). Dalam Taurat, zirah ini disebut hosen.

Dengan kalung taslim tasi sebagai pengingat diri, duabelas sudutnya juga diceritakan berkaitan dengan duabelas akhara Israil seperti kisah batu yang terbelah sehingga dapat memberi air kepada mereka saat kehausan di Sinai.

Batu unam (shoham) disebut dalam Kejadian 2:21 berada di Havilah. Menurut Buyruk Alfurqan, Havilah ada di sebelah selatan Arabia. Dulunya merupakan tekke-tekke penerus Yoktan. Jenis batu kalsedonia ini terdapat beberapa jenis. Yang menjadi simbol akhara Yusuf adalah yang hitam.

Batu hitam ini kemudian dilambangkan dalam hajar aswad di Kaabah saat ini, meski hajar aswad tampak seperti meteorit dan dari dekat memiliki beberapa lapisan warna. Selain yang putih, batu unam yang dipakai sebagai taslim tasi biasanya berwarna kecoklatan, kemerahan, dan kehijauan. Seperti nuansa hajar aswad.  

*[7] Para penggembala dari Quraish*

“Taslim tasi-taslim tasi ini akan menjamu [6]
Kalian dalam kumpulan mereka itu. [7]”

Dalam bait 6-7, taslim tasi-taslim tasi itu diibaratkan akan menjamu atau melayani mereka yang menjadi muntasib dan “sami’na wa atho’na.” Untuk sementara, ada dua makna yang dapat dipelajari di sini.

Pertama, taslim tasi itu dapat berarti sebagaimana halnya para abdal yang akan mewarisi dan mewariskan sanad para muntasib Yesus Kristus dari generasi salaf.

Kedua, taslim tasi itu dapat berarti sebagaimana halnya lokma, hidangan sakral, yang terus akan melimpahkan berkat nutrisi dari Yesus Kristus kepada keturunan mereka.

Jadi, yang pertama adalah berkat berupa transmisi keberlanjutan, sehingga misi mereka akan terus berlangsung sampai akhir zaman (baca: Zaman 8). 

Yang kedua, lelaku itu menyebabkan mereka dapat “mengintervensi” agar keturunan mereka selalu terhubung dengan bimbingan Yesus Kristus. 

Buyruk Alfurqan menambahkan “dalam kumpulan mereka itu” dari transmisi lisan Daudiyah untuk teks yang telah diterjemahkan ini. Tetapi, ungkapan “in their herds” tidak ada dalam terjemahan Layton, Doresse, dan Blatz dari teks Nag Hammadi. 

Tambahan transmisi lisan tersebut berkaitan erat dengan syarahan Buyruk Alfurqan untuk Wahyu 5-14. Mereka adalah para penggembala dari suatu konfederasi Peranakan Israil yang dalam bahasa saat itu adalah quraish.

Jadi, taslim tasi sebagai berkat yang berkelanjutan maupun sebagai berkat bagi keturunan, telah dinubuatkan Wahyu 5 akan berasal sanad Muhammad-Ali. Ini dijelaskan lebih terang dalam IKT bait 8-11:

“Karena terdapat lima pohon bagi kalian [8]
Di Firdaus sama sekali tak tergoyahkan [9]
Hingga sepanjang tahun dedaunan [10]
Yang tumbuh pun tiada berguguran. [11]”

*[8] Kejadian 2-3 dan Lima Pohon Kehidupan*

Lima pohon pada bait 8-11 merupakan lima pohon kehidupan. Dalam Kejadian 2, diceritakan dalam metafora bagaimana generasi awal menemukan kearifan dan sains mengenai kehidupan.

Mereka diizinkan mengkonsumsi buah pohon kehidupan yang banyak berada di Eden. Tetapi, dilarang mengkonsumsi buah hadaat/kuldi, yaitu buah pohon pengetahuan baik-buruk.

Mengkonsumsi buah pohon kehidupan adalah simbol menerima dan mengakui wewenang nafs mereka yang telah mencapai sidha, sehingga menerima dan menyimak transmisi mereka untuk menyintas dan mengelola kehidupan di Eden.

Sebaliknya, mengkonsumsi buah hadaat berarti mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan akal pikiran, untuk menentukan baik dan buruk. Karena potensi membesarkan ego, maka konsekuensinya adalah kematian. Tetapi, manusia selalu cenderung memilih yang ini, sehingga diceritakan mereka dikeluarkan dari Eden.

Mengkonsumsi ilmu pengetahuan di sini harus dipahami sebagai mengeksploitasinya dalam keserakahan dan kesombongan. Para pemimpin (yang disimbolkan Hawa) memilih mendengar saran para pengusaha (yang disimbolkan Nagini) untuk mengeksploitasi alam, sedangkan umat manusia (yang disimbolkan Adam) diam menikmati.

Pendeknya, Kejadian 2-3 adalah simbol pergulatan untuk menghasilkan peradaban secara regresif terhadap alam, yang dianggap progresif dan suatu kemajuan. Akibatnya, terjadi kerusakan dan bencana alam, sehingga mereka harus keluar dari Eden.   

Ya, IKT 19 mensyarahkan kembali Kejadian 2-3 untuk menubuatkan bagi penerus akhara Yesus Kristus kelak bahwa ada lima pohon kehidupan yang harus dirujuk pada masa mereka. Lima pohon kehidupan untuk mengasuh dan membimbing nafs mereka.

Ilmu pengetahuan tidaklah buruk. Tetapi, mendefinisikan dan menilai yang baik-buruk maupun yang benar-salah dengan akal budi sendiri memiliki konsekuensi seperti bayi yang dilepas hidup sendirian: ia akan mati. Kejadian 2:9 dapat diterjemahkan sebagai berikut:

“Dari adam (kemanusiaan), YHWH Elohim (yahuwahu allahumma – konspirasi semesta) menyebabkan tumbuh bersemi seluruh etz (pohon) yang hamad (didambakan atau menyenangkan) bagi pandangan dan tuba (baik) sebagai makanan; etz hayamim (pohon-pohon kehidupan) di tengah hajjan/jannah (taman yang terlindungi) terdapat hadaat mengenai tuba (yang baik) dan bara (yang buruk).”

Secara hurufisme atau jafarisme, kita menemukan simbol-simbol dalam Kejadian 2:9 yang sebenarnya akrab dalam sampradaya Islam, sebagai berikut.

I. Pohon kehidupan dari huruf ‘ain dan tsa. Kita menemukannya dalam nama Imam Ali dan Imam Jafar Sadik.

II. Pohon-pohon itu Muhammad — yang dihasrati dan didambakan.

III. Tuba merupakan nama pohon dalam mitologi lahirnya Fatimah Azzahra. Buahnya dimakan Muhammad sebelum menggauli Khadijah, sehingga Khadijah mengandung Fatimah.

IV.  Pohon-pohon kehidupan mengandung huruf ‘ain, tsa, ha, ya, dan mim. Kita akan membahasnya dalam bab selanjutnya ini.

V. Mengapa menggunakan perumpamaan dari pohon yang baik (tuba) dapat kita jumpai dalam surah Ibrahim 24.

“Tidakkah kau lihat bagaimana Tuhan
Menghadirkan sebuah perumpamaan?
Kata-kata tanpa ragu tentang sebatang
Pohon baik, yang akarnya kokoh teguh  
Dan cabang-cabangnya tidak menentang
Ke saujana langit menjulang sungguh.”

*[9] Empat belas Pohon Kehidupan dalam kitab Nabi Idris*

Dalam Enokh 4:1, terdapat simbol empat belas pohon abadi. Buyruk Alfurqan mensyarahkan IKT 19 bait 8-9 ini, bahwa lima pohon memandang empat belas pohon. Suatu pesan mengenai tanasukh dan arketipe para resi.

Buyruk Alfurqan mengajarkan tiga arketipe, lima arketipe, tujuh arketipe, duabelas arketipe, dan empatbelas arketipe. Angka-angka ini memiliki kaitan dengan numerologi atau gematria, yang tak akan saya bahas di sini.

Yang pasti, lima arketipe tersebut merepresentasikan lima arketipe dalam Kisah Sinai, sekaligus lima arketipe dalam Kisah Muhammad. Dalam Kisah Sinai, yaitu Miryam, Musa, Harun, Shuaib (Yethro), dan  Yoshua (Yeshua). Dalam Kisah Muhammad, dikenal sebagai ahlulkisa, yaitu Fatimah, Muhammad, Ali, Hasan, dan Husein.

Dalam syair Kejadian 2:9 itu, nama untuk pohon-pohon kehidupan mengandung lima huruf yaitu ‘ain, tsa, ha, ya, dan mim. Dari hurufisme kita menemukan sebagai berikut.

1. Empat nama Ali dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam. (Ali Murtaza, Ali Zainal Abidin, Ali Ridha, Ali Al-Hadi).

2. Satu nama Jafar Sadik dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam.

3. Dua nama Hasan dan satu Husein dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam. Dari kata “hosen” atau zirah untuk penghakiman, yang telah saya bahas. (Hasan Al-Mujtaba, Husein Aba Abdillah, Hasan Al-Askari).

4. Tiga nama Muhammad dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam. (Muhammad Al-Mahdi, Muhammad Al-Baqir, Muhammad Al-Jawad).

5. Dua nama dengan inisial “ya” merupakan nama rahasia bagi dua arketipe nafs dalam 14 pohon kehidupan. Sebagaimana dalam Wahyu 3 bahwa Yesus Kristus merupakan pemangku wewenang transmisi:

“Nama gelar bagi Yeshua adalah juga Muhammad. Dalam Alquran, terdapat surah Keluarga Imran. Yang dimaksud adalah ocak Imran dari Yeshua dilanjutkan oleh ocak Imran dari mereka yang kemudian disebut Muhammad.”

6. Salah satu dari pohon kehidupan adalah nafs perempuan atau ibu bagi seluruh kehidupan itu. Maka, inisial nama rahasia para perempuan itu (Miryam, Maria, Fatimah, dst) adalah huruf ya.

“Ibu dari Nabi Musa bernama Yokhebed (kemuliaan bagi Allah), salah satu putri Lewi. Nama lainnya adalah Yehudiyah. Asiyah atau Bithiyah yang menyelamatkan Nabi Musa juga bernama Yehudiyah. Salah satu putri atau penerus akhara Ayub adalah Yemimah (hari-hari atau merpati).”

Buyruk Alfurqan menyebut empat arketipe istri yang diberkati:

-1- Yokhebed, kemuliaan bagi Allah, istri Imran dan ibunda Musa, lambang syariat;
-2- Elisheba, sumpah Allah, istri Harun dan putri Aminadab dan saudarinya Nahson, lambang tarekat;
-3- Nama yang dirahasiakan, putri Putiel dan ibu Fineas, lambang hakikat;
-4- Zipporah, burung gereja, istri Musa dan putri Yethro, lambang makrifat.

*[10] Nafs dan Pohon Kehidupan*

Jumlah lima pohon kehidupan juga mengingatkan kita pada tangan hamsa yang juga disebut sebagai tangan Miryam dan tangan Fatimah. Pada telapaknya terdapat satu mata untuk mengusir kekuatan jahat, atau roh dari memori traumatik yang dapat mengganggu nafs.

Mandala atau rajah pada tangan hamsa biasa digunakan sebagai jimat. Di kalangan Bektashi atau Alevi pedesaan, dulu terdapat dukun perempuan yang biasanya dikaruniai karomah sehingga dapat melakukan pengobatan dengan tangannya sebagaimana tangan hamsa. Saya  tidak tahu apakah dukun-dukun ini masih ada sampai sekarang.

Jika diperhatikan dengan seksama, maka nama Fatimah adalah gelar bagi sejumlah mursyid perawi dan mursyid. Dari Buyruk Alfurqan itu, nama Fatimah istri Imam Ali adalah juga Yokhebed, sedangkan ibunya adalah Yehudiyah, saudari Adiyah. Nama Khadijah adalah juga Hodiyah dan Yehudiyah. Khawla adalah nama istri Hasan dan Muhammad Al-Hanafiyah.

Simbol-simbol dalam nama-nama itu masih digunakan dalam tradisi Bektashi, misalnya sebagai berikut:

{1} Fatimah yang biasanya diartikan sebagai pengasuh bayi berasal dari pohon tuba, memiliki kedudukan sebagaimana Miryam dan Maria.

{2} Totem bagi akhara Yehuda adalah singa, selalu ada dalam ikon Bektash Wali. Di kanan atau berjalan bersamanya. Ekspresi “berjalan bersama Allah” dalam lukisan.

{3} Rusa dalam kisah Imam Ali Ridha, muncul juga dalam ikon Bektash Wali. Khawla berarti rusa, merupakan lambang seperti burung gereja. Biasanya duduk pada pangkuan Bektash Wali.

Jadi, pohon adalah juga simbol nafs dalam Bektashiyah. Bahkan ini secara harafiah, karena Bektashi selalu memaknai transmisi (tulis dan lisan) dalam banyak lapisan.

Inilah lambang nafs yang selalu mewujudkan “urip iku urup”. Lima arketipe dan empatbelas arketipe itu juga memberi contoh secara manusiawi bagaimana untuk “urip iku urup.”

Orang Bektashi, khususnya Alevi, dikenal sangat memelihara alam. Para peneliti telah mengkonfirmasi ini. Transmisi secara turun-temurun adalah untuk selalu menanam pohon, tak hanya merawat pepohonan.

Di antara banyak kabilah Alevi, Tahtaci dikenal begitu mencintai pepohonan. Menurut dongeng mereka, nenek moyang mereka biasa mengikuti semah dengan Bektash Wali di hutan. Karena itu, jika mereka terpaksa menebang sebatang pohon saja, mereka akan melakukan ritual yang rumit untuk memohon maaf.

Di Dimetoka (Yunani), dan Kizildeli (orang Pomak, Bulgaria), saya pernah membaca ada aturan dalam kompleks tekke yang juga petilasan. Sebatang pohon melambangkan nafs seorang waliullah. Maka, jika menebang sebatang pohon, harus menggantinya setidak-tidaknya satu pohon lagi. Jika tidak, akan mendapat celaka.

Alhasil, wilayah-wilayah Turki yang didominasi orang Alevi atau Bektashi, biasanya terkenal dengan kelestarian alamnya. Banyak orang Alevi terjun sebagai aktivis lingkungan hidup, dan mereka memiliki ritual unjuk rasa tahunan untuk menentang kebijakan merusak alam. Biasanya mereka sangat keras melawan upaya pembangunan yang merusak alam mereka.

Imam Al-Ghazali pernah mengutip hadis yang mengatakan bahwa seorang wali mendapat berkat 70 murid. Hadis ini senada dengan Taurat dan Injil, mengenai 70 mursyid dalam kemah pertemuan (baca: kemah untuk semah) dan 70 mursyid dalam sanad Yesus Kristus — yang 12 di antaranya adalah mursyid perawi.

Kadang-kadang jumlahnya juga 72. Dua tambahan dari kisah dua pemuda yang terikut dalam kisah 70 mursyid itu. Entah bagaimana simbol anggur sebagai berkat ini, kemudian diterjemahkan sebagai 72 bidadari dalam pengertian yang oversexualized.

Ini mungkin karena perawatan dan pemulihan keberadaan pepohonan tidak (lagi) menjadi suatu tradisi integral dan khas dalam kelompok Muslim dan Kristen lain secara umum.

Nama ibunda dari Imam Ali Zainal Abidin, Shahrabanu (putri negeri), juga adalah Sofala, yaitu (anggur) yang terpilih. Dari ocak Imam Ali Zainal Abidin sampai Imam Hasan Al-Askari, para mursyid perawi berasal. Maka, pengertian yang tepat untuk 72 huri adalah berkat dari anggur yang terpilih dalam ocak Imam Husein.

Maka, memahami pohon sebagai simbol nafs tidak lagi semudah yang segala ritual dan zikirnya MASIH berhubungan dengan pohon serta unsur alamiah lainnya. Anggur sebagai pohon yang amat bermanfaat, misalnya, menjadi bidadari yang dimaknai sedemikian profan.

Jadi, para abdal Muhammad menjamu atau melayani para muntasib Yesus Kristus. Inilah berkat bagi transmisi mereka yang masih terus berlanjut.

Salawat dalam setiap majlis dan salat juga telah menjamu mereka, bagaikan hidangan bergizi. Inilah juga berkat bagi keturunan mereka karena para abdal Muhammad masih terus melanjutkan transmisi mereka.

 

*[11] Lazarus dan Dinginnya Kematian*

Siapa yang hadir mengenal mereka akan [12]
Tak merasa atau tahu dinginnya kematian. [13]

Buyruk Alfurqan menambahkan kata sifat dingin bagi kematian itu. Kata sifat ini mengisyaratkan jika “urip tidak urup” maka dinginlah yang kita rasakan. Hati yang dingin. Sikap yang dingin. Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan demikian.

Transmisi tulis IKT 19 ini kemudian ditutup dengan ungkapan, bilamana mengenal lima arketipe nafs itu, maka akan tidak merasakan atau pun tidak mengetahui kematian.

Tentu saja yang dimaksud dengan “mengenal” bukan sekedar mengetahui, tetapi menerima dan mengakui keberadaan lima arketipe tersebut, sekaligus sosok historisnya. Ini dijelaskan antara lain dalam Lukas 16:19-31 mengenai Orang Kaya yang mendapat siksa (untuk dimurnikan) di Hades (alam kubur) karena menolak pengemis Lazarus.

Orang Kaya itu memohon kepada Nabi Ibrahim agar menghidupkan kembali Lazarus kepada saudara-saudaranya. Agar mereka tidak perlu mengalami siksa kubur seperti dirinya. Nabi Ibrahim menjawab bahwa Nabi Musa dan para Resi saja sudah cukup. Tetapi, Orang Kaya itu yakin lima saudaranya akan percaya pada orang mati yang bangkit.

Lalu, Nabi Ibrahim berkata bahwa jika lima saudaranya tidak percaya kepada Nabi Musa dan para Resi/Nabi, maka mereka tidak akan dapat percaya kepada orang mati yang mengalami rajaah.

Jawaban itu mengindikasikan mengapa umat Sinai tidak mempercayai kebangkitan kembali, karena mereka tidak mempercayai Nabi Musa dan para Nabi. Mereka lebih percaya kepada berbagai institusi agama imperialis-konsensus, yang menyusun mengenai iman tentang para nabi dan mesias. Bukannya menjadi wadah qadash agar “sami’na wa atho’na.”

Kegaiban merupakan alternatif bagi kematian yang dialami para mursyid perawi yang menerima peran sebagai nabi dan imam. Demikian pula halnya dengan rajaah dan kehidupan abadi.

Dari Kejadian 2-3, kita mengetahui bahwa kematian adalah implikasi dari mengkonsumsi hadaat. Jadi, kematian adalah ungkapan lain bagi lingkaran samsara; mengkonsumsi hadaat adalah ekspresi lain bagi karma. Untuk moksha, ekspresi dalam Sinaisme adalah keabadian, dengan cara mengenal pohon kehidupan.

Tetapi, pohon-pohon kehidupan juga dijaga oleh pedang dan api yang menyala-nyala. Artinya, jika kita memberi ego kita untuk menerima bimbingan Mereka, maka kita juga akan mati dan terbakar untuk hidup kembali. Kadang-kadang disebut kematian pertama, yang biasa dialami para nabi, rasul, wali, dan darwis dalam maqam “ashik”.

Jika sifat kematian pertama adalah kehangatan, cinta yang memabukkan, dan menghanguskan, maka sifat kematian kedua adalah kedinginan, gelap, mencekam, dan penderitaan — inilah lingkaran samsara. Manusia yang memilih hadaat akan selalu jatuh dalam lingkaran samsara ini.

Secara harafiah, apabila kita mampu mengenal pohon kehidupan, maka kita akan menyimak mereka dan merawat alam, dan akan terhindar dari dingin dan sengsara kematian bagi kehidupan di bumi ini. Kita tidak akan memilih memberi makan ego untuk keserakahan dan kesombongan sebagai manusia yang dianugrahi kuasa untuk mendominasi dan mengeksploitasi dunia.

Di Pardes, Firdaus, atau Jannah, pohon-pohon itu tidak tergoyahkan. Daun-daunnya tidak pernah rontok meski musim gugur dan angin bertiup kencang.

Menurut sebuah hadis, akar dari pepohonan kehidupan adalah Muhammad, yang berarti meliputi seluruh nabi dan rasul. Bahwa Muhammad juga adalah pujian bagi Yeshua, dan Al-Mahdi (yang terbimbing) juga adalah Kristus.

Para mursyid dan waliullah penerus mereka adalah cabang dan dahannya. Daun-daunnya adalah para abdal dan murid. Buah-buahannya adalah kearifan dan sains yang mereka transmisikan.

Syariat dilambangkan dalam Yokhebed yang melahirkan Musa darinya. Inilah mengagungkan alam semesta kita ini. Seperti Khadijah yang “mengeluarkan” Muhammad. Ia yang terpuji, yang didambakan. Jadi, syariat tidaklah mungkin sesuatu yang tidak kita dambakan bagi alam kita, secara natural.

Tarekat dilambangkan dengan Elisheba, istri Harun. Seperti Sheba ibn Hashem mengambil jalan tarekat, dilanjutkan Imam Ali dan ocaknya. Kita menemukan para Fatimah. Istri Bektash Wali juga adalah Fatimah.

Hakikat dilambangkan dengan kerahasiaan dari istri Eliazar, putri dari Putiel. Ini mengingatkan kita pada transmisi rahasia dalam ocak Imam Jafar Sadik. Imam Fineas mendapat karunia “imamah yang abadi” dari sanadnya. Demikian pula Imam Musa Kazim.   

Makrifat dilambangkan dengan Zipporah, istri Musa (Alqasas: 23). Transmisi adalah kesederhanaan yang dapat kita alami dan rasakan dari segenap kemanusiaan dan kehidupan. Khawla Al-Hanafiyyah yang sederhana, telah dinubuatkan dalam Wahyu 11-12. Bektash Wali sering digambarkan memangku rusa.  Ya Shah!

Dengan bersalawat kepada Muhammad dan ocaknya, maka kita berupaya untuk selalu mempercayai Musa dan para Nabi, serta percaya kepada rajaah dan mereka yang telah mengalami rajaah.

Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad.”

Dalam dunia yang memperlihatkan berbagai penemuan kecerdasan rekayasa, digital, dan metaverse, kita dapat melihat transmisi kearifan dan sains mengenai nafs, keabadian, memori, tanasukh, dan pohon kehidupan telah semakin terserlah. Bedanya, transmisi para resi disampaikan dalam kode-kode sastra pada puisi dan peribahasa yang bersifat tantrik/zikrullah.

Siddhamastu []

Standard

Hidup dan Mati sebagai Liyan

*HIDUP & MATI SEBAGAI LIYAN*

Jika, selama hidup kita adalah liyan, terpinggirkan, atau minoritas… Baiklah. Bayangkan jika saat mati pun kita masih dipersulit atau ditolak masyarakat, entah identitas, harapan, atau tubuh kita. Entah karena agama, kebangsaan, ekspresi ketubuhan, orientasi seksual, penyakit, atau stigma seperti tahanan politik.

Ada juga pelaku kriminalitas yang tidak diterima penduduk asalnya untuk dimakamkan di tanah mereka. Untuk masalah kepraktisan yang masih hidup, biasanya diberlakukan, “Lagipula ia sudah meninggal.” Jadi, dimakamkan dengan identitas terakhirnya. Apa pun itu.

Satu contoh. Keinginan terakhir Dorce, kabarnya, tidak terpenuhi, entah benar atau tidak.  Jika benar keinginan terakhir Dorce untuk dimakamkan sebagai perempuan tidak dipenuhi pihak keluarga dan atau masyarakat setempat, kemudian muncul lagi komentar, “Lagipula ia sudah meninggal.”

Maksudnya, manusia tidak boleh hidup sesuai dengan yang diharapkannya, begitu juga saat mati. Padahal, harapannya tidaklah membahayakan jiwa dan raga siapa pun. Bukankah semestinya “Lagipula ia sudah meninggal” juga berlaku dalam konteks ini? Jadi, apa masalahnya jika memenuhi harapan terakhirnya? Siapa yang merasa terganggu?

Benar. Yang terganggu tentunya yang masih hidup. Jadi, masalahnya, tidaklah lain EGOSEKTARIAN yang masih menguasai nafs individu maupun nafs kelompok.

Pengalaman diskriminasi dan persekusi selama lebih tujuh abad di Anatolia, Eropa, dan sekitarnya, telah mendewasakan sejumlah komunitas Alevi dan Bektashi agar tidak memberi makan egosektarian mereka.

Sejumlah organisasi Alevi baru-baru ini (Mei, 2022) mengadakan simposium berjudul “Alevi: Agama, Tubuh, Gender:  Dari Gembira Jadi Kesedihan”. Dalam simposium tersebut, mewakili seluruh organisasi Alevi yang hadir, Ercan Gecmez sebagai Ketua Umum Yayasan Kebudayaan Anatolia Haji Bektash Wali menyampaikan pengumuman yang mengejutkan banyak pihak.

Pernyataannya menunjukkan bahwa egosektarian justru bisa digubah untuk merawat  kearifan, serta lelaku tikkun (rektifikasi/pemulihan) maupun rahayu.

*Alevi & Bektashi*

Kita semua tahu Turki adalah negara dengan mayoritas Sunni (dan bermazhab Hanafi) dan mulai mengalami Neo-Ottomanisasi kembali pasca beberapa dasawarsa berakhirnya kekaisaran Ottoman pada 1924. Sejumlah kelompok mengalami girah Neo-Islam yang menguat, sehingga mendukung Islamisme.

Sementara itu, Alevi merupakan masyarakat adat atau kelompok etnoreligius yang ekspresi imanmya serta ciri khas keagamaannya bersanad kepada Haji Bektash Wali, seorang sayyid trah Musawi dari abad 13 M. Beliau dianggap sebagai wali kutub bagi seluruh Alevi maupun tradisi sampradaya Bektashi. Sebagian memandangnya sebagai tanasukh Imam Ali ibn Abi Talib secara jiljul neshamot, yang lain secara ibur semasa hidupnya.

Alevi adalah masyarakat adat minoritas di Turki (Anatolia), Eropa Tenggara, Mediterania, Aegia, dan sekitarnya. Pada umumnya, mereka adalah suku-suku Turk, Kurdi, dan Indo-Eropa yang dulunya hidup di pedesaan, pedalaman, atau semi-nomaden.

Karena ekspresi iman dan ciri khas mereka dalam rumpun mazhab Bektashiyah, maka mereka kerap mengalami diskriminasi, bahkan persekusi, sekali pun setelah berakhirnya kekaisaran Ottoman. Di antaranya, mereka mengalami penolakan saat menjalani ibadah di masjid-masjid Sunni. Akhirnya, mereka membangun semewi untuk mengakomodasi ekspresi iman mereka.

Semewi sebenarnya semula bukanlah rumah ibadah semacam masjid, melainkan rumah berkumpul menyelenggarakan majlis semah dan zikir. Ada batasan yang jelas antara salat dengan majlis semah dan zikir. Sebab, salat dapat dilakukan secara individual. Nah, majlis semah dan zikir justru hanya bisa dilakukan bersama-sama sebagai satu keluarga untuk mentransmisikan ilmu dan kearifan dari Bektash Wali melalui sanad yang mereka warisi.

Perbedaan antara Alevi dengan Sufi Bektashiyah adalah juga jelas. Alevi adalah masyarakat adat dengan identitas yang diwarisi dan diwariskan. Jadi, seseorang  tidak dapat menjadi Alevi jika ayah dan ibunya bukan Alevi.

Sementara itu, siapa pun bisa saja menjadi Sufi Bektashi melalui katekisasi, kaderisasi, dan inisiasi. Entah ke dalam tradisi Babagan, atau tradisi lainnya, juga tradisi Daudiyah (yang saya jalani).

Memang, acap kali antara Alevi dengan Sufi Bektashi tumpang tindih karena ada banyak Alevi yang menjadi Sufi Bektashi dengan menjalani lelaku tertentu sebagai abdal atau darwis di tekke-tekke atau berkelana sebagai darwis kalandar. Beberapa mursyid perawi dalam sanad yang saya terima, adalah Alevi.


*Pintu Semewi Terbuka bagi LGBT*
Simposium itu dihadiri antara lain oleh tiga organisasi penting Alevi yaitu Asosiasi untuk Promosi Budaya Alevi-Bektashi (ABKTD), Yayasan Kebudayaan Anatolia Haji Bektash Wali (HBVAKV), dan Asosiasi Budaya Pir Sultan Abdal (PSAKD). Mereka merupakan di antara unsur Gerakan Demokratik Alevi (DAM). Organisasi Hak LGBT Turki, Kaos GL, juga ikut serta.

Ercan Gecmez sebagai Ketua Umum ABKTD menyampaikan pengumuman bahwa tiga organisasi Alevi itu telah bersepakat untuk membuka semewi mereka sebagai rumah persemayaman dan pengurusan jenazah kelompok LGBTIQA dari latar belakang agama mana pun. Termasuk yang non-religius, ateis, dan agnostik. Mereka boleh menyelenggarakan upacara dengan cara apapun yang mereka kehendaki di semewi.

Jika mereka Muslim yang religius, dan mungkin tidak dikehendaki diurus dalam fikih Islam lainnya, pihak semewi akan membantu mengurus jenazah sesuai fikih yang dianut Alevi. Pernyataan ini membuat saya terharu. Seperti mendengar suara Haji Bektash Wali rahimullah bergaung kembali, melihatnya tersenyum.

Tiga organisasi Alevi dalam simposium itu memelihara doktrin Bektash Wali yang terkenal, “Biarkan hatimu, tanganmu, dan mejamu terbuka bagi yang lain.” Mereka menegaskan bahwa semewi terbuka bagi LGBTIQ. Dalam upacara pemakaman, mereka tidak lagi harus mengalami diskriminasi atau penolakan. Ya Shah!

Sikap tiga organisasi Alevi ini senada dengan apa yang telah saya sampaikan beberapa waktu lalu sebagai mursyid perawi Daudiyah. Hanya saja bedanya bahwa tradisi Daudiyah adalah transhuman atau semi-nomaden. Jadi, tidak diizinkan mendirikan bangunan kegiatan yang permanen kecuali menyewa atau semi-permanen.

Tentu, saya memiliki impian kelak mampu menyewa untuk semewi supaya bukan hanya komunitas liyan di Turki yang dapat dilayani dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan dari Bektash Wali.

Semewi itu karena asalnya bukanlah rumah ibadah, maka akan terbuka bagi komunitas atau kelompok liyan dan marjinal mana pun. Sekiranya mereka kesulitan menemukan ruang untuk beribadah atau berkegiatan untuk tikkun dan kerahayuan.

Kenapa harus dari Bektash Wali, sepertinya egosektarian?

Ya, selain karena egosektarian yang saya punya, tapi juga sepanjang pengetahuan saya, hanya mereka yang bersanad kepada Bektash Wali yang memiliki sikap jelas dan tegas dalam kesetaraan dan kemanusiaan, termasuk kepada LGBT dan atau keberagaman SOGIEB. Sejak enam atau tujuh abad lalu, biara-biara Bektashi juga telah menjadi suaka bagi LGBT yang direpresi Kekristenan dan Ottoman.

*Akar Religiusitas-Spiritualitas Bektashiyah*

Baik orang-orang Alevi maupun Sufi Bektashiyah masih memelihara nilai-nilai atau hal esensial dalam agama natural. Karena itu para antropolog orientalis melihat mereka merawat unsur shamanisme atau menggunakan istilah semacam sinkretisme, khas pola pikir imperialis-konsensus Kekristenan Barat atau kolonialiasme Eropa.

Karena pola pikir imperialis-konsensus ini diidap oleh Neo-Islam, Neo-Kristen, dan Neo-Yahudi, maka hal semacam animisme dan shamanisme tidak dilihat sebagai bagian integral yang esensial dalam beragama.

Kalau kita melihat agama-agama natural yang menjalankan shamanisme pada masyarakat adat yang disebut tradisional, kita akan menemukan konsep SOGIEB yang tidak dualis atau tidak hitam putih seperti mayoritas dan arus utama Neo-Islam, Neo-Kristen, dan Neo-Yahudi saat ini. Masyarakat-masyarakat adat ini mengakui kebinekaan SOGIEB, dan karenanya tidak memandang orientasi seksual dan ekspresi ketubuhan LGBT sebagai dosa.

Mereka yang mengatakan, “Semua agama menganggap LGBT atau homoseksualitas itu berdosa”, menisbahkan AGAMA kepada AGAMA IMPERIALIS-KONSENSUS. Bukan agama natural yang umumnya masih dijalankan secara sampradaya: secara personal turun temurun.

Adapun Alevi adalah kelompok yang hidup secara konsensus menerima wewenang dan sanad Bektash Wali. Tetapi, hanya satu kelompok mereka yang berhasil mendirikan kerajaan, yaitu Safawiyah. Dinasti Safawiyah berupaya mengimbangi kekuatan kekaisaran Ottoman, meski tidak benar-benar berhasil, kecuali menjadikan Syiah 12 sebagai mazhab teologi dominan di Iran.

Sementara itu, tarekat-tarekat Bektashi dijalankan secara sampradaya. Tidak ada konsensus di antara tekke kecuali tekke itu berasal dari akhara atau satu mursyid yang sama. Satu sama lain independen sebagai mursyid dengan sanad masing-masing.

Para baba mungkin membentuk paguyuban untuk melindungi satu sama lain, dan memilih pemimpin paguyuban mereka. Namun, antara baba di Albania, dengan di Makedonia, Jerman, Balkan, dan AS, misalnya, bukanlah hubungan eklesia manapun yang ada dalam kebijakan eklesia Kekristenan (episkopal, hierarkis, kongregasional, prebisterian, koneksional, dan Moravian).   

Jadi, karena elemen imperialis-konsensus yang begitu kurang dalam Alevi maupun Sufi Bektashi, atau persisnya kerap dihindari oleh para baba maupun dede dan syekh. Maka, masih banyak dapat dipelihara karakter agama natural (di dalamnya termasuk agama sampradaya) dan nilai-nilai shamanisme (baca: terhubung kepada roh para nabi dan waliullah).

Dengan begitu, apa yang dulunya merupakan hal yang natural dan biasa-biasa saja sepertinya ada mereka yang terlahir sebagai interseks, transpuan, transpria, gay, lesbian, aseksual, dst atau cenderung homoromantik, aromantik, demiseksual, dll karena berbagai faktor dalam kehidupan sosial yang natural sebagai manusia, SEMUA-nya masih dapat dipahami dan diterima hidup koeksis dengan yang heteroseksual dan cisgender.

Banyak kelompok Alevi dan Sufi Bektashi telah menyediakan diri untuk menyelenggarakan atau memberkati pernikahan sesama jenis atau ikatan sipil dua orang yang sejenis kelamin. Ini merupakan penerjemahan baru konsep musahiplik yang dulu menjadi sarana menyintas kabilah-kabilah Turk purbakala dari genosida musuh, maupun orang-orang gay pada masa Ottoman dan Kekristenan.

Jadi, orang-orang Bektashi didoktrin selalu progresif justru sebagai tradisi mereka. Karena yang natural itu adalah yang berfokus pada menyintas dan resilien bersama-sama. Yang fokus pada bergotong-royong untuk adaptasi dan mitigasi dalam berbagai perubahan kehidupan di bumi. Kalau yang lain bicara bahwa mereka memilih kemanusiaan daripada agama, maka orang Bektashi akan bilang, “Agama kami adalah kemanusiaan.” Itulah tradisi Bektashi: kemanusiaan dan kesetaraan.

Orang Bektashi bisa bicara tinggi, rumit, aneh, dan ilmiah mengenai filsafat, mistisisme/sufisme, dan sains natural. Tetapi, Tuhan bagi kami ada dalam nafs manusia dan nafs segenap makhluk dan unsur di kehidupan bumi ini. Inilah dasar #Nafsiologi yang penting. Jadi, bagaimana mungkin kami menyingkirkan, menyakiti, dan melenyapkan yang di dalamnya ada Sang Nafs?

Sekalipun liyan, marjinal, minoritas, dan asing, kita semua manusia itu setara. Prinsipnya, ada dalam doktrin Imam Ali ibn Abi Talib, kita semau bersaudara dalam satu kemanusiaan.  Imam Ali Reza mengajarkan bahwa kita bersaudara dengan semua makhluk. #Tauhidialahsatukemanusiaan #Tauhidialahsatukemakhlukan

*Mahkota Kehidupan Umat di Smirna*

Simposium ini sepertinya merupakan kelanjutan simposium “Mati sebagai Liyan” pada 2015. Tempat simposium in mengingatkan saya pada teks Wahyu 2. Bertempat di kota Izmir, persisnya di Gedung Budaya Ismet Inonu, di distrik Alsancak. Ya, Izmir dulunya bernama Smirna.

Distrik Narlidere di Izmir, misalnya, dibangun pada abad 18 M oleh orang Tahtaci, yaitu Alevi Turk yang menurut sejarawan/antropolog adalah keturunan suku bangsa Akatziri. Suku bangsa Akatziri tampaknya adalah peranakan Scythian, Huns, dan mereka yang disebut Khazar. Akatziri tinggal di sepanjang Laut Hitam. Lalu, Tahtaci hidup di pesisir Aegia dan Mediterania.

Dalam teks Wahyu 2, dikatakan tentang mereka yang tergelincir dan yang setia kepada sanad Yesus Kristus, sedangkan Smirna merupakan salah satu tempat adanya tekke dalam asuhan akhara Yohanes Sang Musahip (yang diasingkan ke Patmos). Jadi, karena itu ada surat kepada tujuh tekke untuk akhara dalam sanad Yohanes.

Untuk para murid dan muhib di Smirna: yang setia memperoleh mahkota kehidupan. Dalam ungkapan Bektashi, mahkota kehidupan dilambangkan dengan surban yang dikenakan para abdal, disebut taj. “Keajaiban tidak terletak pada taj, melainkan pada khirkah,” kata Bektash Wali. Ini merupaka syarahan bagi Wahyu 3 (4-5), sebab khirkah adalah busana putih khas abdal atau darwis Sufi.

Menurut saya, orang-orang Anatolia yang mengikuti Alevi maupun Bektashi adalah keturunan dari para muhib dan murid Yohanes Sang Musahip di tujuh tekke itu. Karena begitu banyak simbol yang mereka masih rawat dalam transmisi. Misalnya, batu taslim, taj, pedang bermata dua, busana putih, pohon kehidupan, manna, sokoguru, tongkat besi, kunci Daud, dan bintang timur.

*Bukan Hal Baru*

Di dunia ini ada begitu banyak hal yang sebenarnya bukanlah hal baru. LGBT & SOGIEB bukan hal baru. Bagi saya, begitu juga penemuan sains dan pencapaian teknologi saat ini. “Tidak ada yang baru di bawah matahari,” begitu kata Qoheleth (Pengkotbah).

Hidup dan mati sebagai liyan juga bukanlah hal baru. Justru salah satu hal penting dari Kisah Sinai yang ditransmisikan secara tertulis dalam Taurat dan diulang-ulang syarahannya dalam Zabur, Injil, dan Alquran itu adalah hidup dan mati sebagai liyan. Maka, di antara doktrinnya antara lain bagaimana memperlakukan liyan, tamu, orang asing, yang marjinal dan yang tertindas.

Namun, tentu saja, jika elemen-elemen dari imperialis-konsensus begitu kuat, maka ajaran dan nilai-nilai mengenai bagaimana memperlakukan liyan, tamu, orang asing, yang marjinal dan yang tertindas akan diredam, atau digubah untuk memenuhi egosektarian dalam menguasai yang lain. Jadi, AGAMA BUKANLAH MASALAHNYA, melainkan model beragama, bernegara, hidup bersama, dst yang akan bermasalah.

Karena semua hal di dunia seperti transmisi tulis atau teks, transmisi lisan, sains, teknologi, matematika, sastra, dll dapat digunakan untuk hasrat serakah dan sombong pada ego kita. Egoindividual, egosektarian, egospiritual, egonasional, dst. Termasuk topik SOGIEB dan LGBT juga dapat diekploitasi demi keserakahan dan kesombongan segelintir pihak.

Walau begitu, bukanlah egosektarian itu selalu hanya diwujudkan untuk hal-hal buruk. Karena egosektarian adalah potensi pada nafs setiap individu dan setiap kelompok. Sebenarnya, egosektarian dapat diwujudkan untuk hal-hal baik seperti tikkun, dengan memandang setiap ego itu setara dalam hak dan potensi. Patokannya adalah menghindari keserakahan dan kesombongan.

Jadi, kita justru dapat bergotong-royong dengan egosektarian masing-masing untuk kemanusiaan dan kehidupan di bumi. Misalnya, seperti yang dilakukan tiga organisasi Alevi dalam Gerakan Demokratik Alevi ini dalam melayani dan melindungi sesama manusia tanpa diskriminasi. Melakukannya sebagai wujud egosektarian mereka sebagai Alevi.

“Kami yang menerima dan mengakui wewenang Haji Bektash Wali dalam transmisi religius-spiritual sejak Nabi Khidir (Enokh) 3760 SM sampai kini, tidak ingin kehilangan identitas diri kami yang berbeda (daripada Neo-Islam atau kelompok Sinaisme lainnya).” Inilah egosektarian orang-orang Bektashiyah. Namun, dalam keping-keping ego kita, adakah yang dapat mempersatukan kita?

Memandang, menuntut, dan mengharapkan seluruh manusia itu satu agama, satu orientasi seksual, dan satu bahasa dengan kita, atau hanya ada dua hal yaitu hitam-putih, laki-perempuan, dan benar-salah saja, ini adalah wujud keserakahan dan kesombongan. Saat dimanifestasikan, itulah Manifestasi Destiny. Pada wujud batinnya, itulah Iman Kabil/Kain.

Mungkinkah Yesus Kristus, Nabi Muhammad, Eliyahu Hanavi, dan seterusnya adalah mereka yang menganut Iman Kabil? Renungkanlah.

Siddhamastu,
Syeikha Hefzibah.

Standard

Isra Mikraj (Bagian 2)

*Isra Mikraj, Rakhabiyah, dan Mabaath*

Hari Raya Isra Mikraj (Isra’ Mi’raj) yang dirayakan umat Sunni dan Hari Raya Mabaath (Mab’ath) yang dirayakan umat Syiah, sama-sama dirayakan pada setiap 27 Rajab, yaitu hari ke-27 bulan ketujuh.

Jika HRIM menapaktilasi kisah Muhammad pergi ke langit memperoleh wahyu salat, maka HRM memperingati kisah Muhammad diangkat sebagai rasulullah — yang terakhir.

Melanjutkan bagian pertama “Isra Mikraj”
[baca dalam:

], saya mengutip kembali poin keenam sebagai berikut.

<< Keenam, sosok Muhammad 570-632 M antara lain memuat sosok Khalid ibn Sinan ibn Ghaith, Baba Musa, Zaid ibn Amr ibn Nufail, Quss ibn Saidah, Sheba ibn Hashem, Hashem ibn Abdul Manaf, Abdul Manaf atau Imran ibn Sheba, Al-Zubair ibn Sheba, dan dua pemimpin konfederasi [Quraish] terawal yang biasa dikenal sebagai Abdul Manaf Al-Mughira dan Qusai ibn Kilab. Mereka ini selain daripada Muhammad ibn Ali ibn Imran yang lahir pada 636 M itu. Tentulah mereka ini tidaklah semuanya adalah mursyid perawi dan nabi. Ada mursyid yang memang waliullah, ada pula pahlawan dan atau panglima perang.

Pada masa Abbasiyah, sosok tersebut “dikanonisasi” sedemikian rupa sebagai satu sosok saja, yang memuat berbagai kisah mengenai para resi dan mursyid perawi sebelumnya itu, sebagaimana yang pernah saya tulis dalam status saya berjudul “Murtad” [baca dalam: https://hearth.video.blog/2022/02/19/murtad/ ]. Pola serupa pernah dilakukan antara lain terhadap sosok Yesus Kristus 0-33 M yang masa aktual sejumlah dongeng utama sebenarnya terjadi antara tahun 60-80 M.

Dongeng Isra Mikraj yang kerap dimaknai hanya secara religius-spiritual, ternyata memberi petunjuk mengenai tumpang tindih antara Muhammad 636 dengan para mursyid perawi sebelumnya yang juga bertawasul kepada Enokh (Khidir atau Idris), Eliyahu, dan Yesus Kristus dengan menyebut Mereka sebagai “Muhammad”, terutama untuk memohon kesembuhan dan pemulihan.>>

Keberadaan hari raya yang dimaknai secara berbeda oleh dua faksi utama Islam pada hari yang sama memberi petunjuk penting bahwa dongeng-dongeng untuk menapaktilasi sejarah Muhammad SAW tidak dapat dipahami secara harafiah begitu saja. Pendekatan yang akan saya gunakan untuk memahami transmisi yang saya terkait dengan dua hari raya itu adalah pendekatan historis-antropologis dan sastra secara sederhana.

Sosok Khalid ibn Sinan, yang menurut penelusuran saya berasal dari abad ke-5 M pada akhir masa Yazdigard II, berasal dari kabilah Hanafiyah (Hunafa), yang namanya “Hanif” menjadi sebutan bagi para muhib dan murid sebelum abad 7 M. Beliau melanjutkan sanad dari Yeremiyahu dan Yehezkiel yang dapat dinamakan tarekat Rakhabiyah secara posthumous. Mengapa?

Dalam Yehezkiel, kita menemukan kisah mengenai merkabah, yang merupakan kisah lanjutan mengenai kisah Eliyahu yang naik ke langit dengan kereta dari api yang ditarik kuda-kuda dari api. Kereta dalam 2 Raja 2:11 itu disebut rakhab (Strong’s 7393). 

Saya pernah menulis bahwa kata merkabah dan rakhab berasal dari kata dasar yang sama yang berkaitan dengan kereta atau kendaraan beroda, yang kemudian digunakan sebagai tamsil bagi perjalanan spiritual. Pada masa Abbasiyah, tamsil yang terkenal adalah bouraq,

Khalid ibn Sinan sepertinya adalah mursyid perawi yang pertama kali mengajarkan hikmah mengenai ritus persembahan diri dalam tiga waktu dan menyederhanakannya menjadi praktek lima kali dari tujuh kali dalam tiga waktu (pagi, siang, dan malam) sebagai latihan bagi para murid dan muhibnya. Bahasa-bahasa Semit menyebutnya sebagai salat, senada dengan salawat.

Apabila salat adalah yoga hatha sekaligus yoga bakti atau sembahyang secara olahraga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Elohim, maka salawat adalah yoga bakti atau kowtow kepada resi leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas bimbingan Mereka. Tentu saja dalam salat juga terdapat salawat yang sebenarnya ketika Muhammad 636 melakukannya adalah merujuk kepada para Muhammad sebelum Beliau. Termasuk kepada Yesus Kristus.

Sang Mursyid Perawi saat itu bermaksud mentransmisikan bahwa latihan lelaku bagi para murid dan muhib yang ingin menjadi pengikutnya tidaklah berat, melainkan cukup praktek salat lima kali dalam tiga waktu, dengan yang pertama dan kedua (Isya dan Maghrib) dan yang keempat dan kelima (Zuhur dan Asar) dapat disatukan dalam satu waktu.

Hal tersebut berkait erat dengan populernya praktek-praktek salat yang melampaui batas di gereja-gereja dan sinagog-sinagog. Maka, Sang Mursyid Perawi menenangkan mereka bahwa secara minyan maupun secara individual cukup lima kali sehari, dan boleh ditambah dua kali secara individual yaitu pada pagi hari setelah fajar (dhuha) dan sebelum tidur (tahajud).

Namun, perlu diingat, transmisi yang saya terima tidak memandang salat sebagai kewajiban seperti seseorang wajib membayar pajak atau saat masuk tol, melainkan salat sebagai fardu ain yaitu latihan spiritual yang sebaiknya dilakukan serta cara yang patut dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur secara individual maupun berjamaah.

Latihan dan ungkapan ini ditransmisikan mula-mula oleh sosok di balik kitab Daniel, pada masa penjajahan Persia. Yang diwajibkan adalah memelihara Alfurqan/Dekalog (10 Perintah Allah yang diterima di Sinai), sedangkan salat, puasa, membayar zakat, dan pergi berziarah (haji) adalah justru praktek atau latihan spiritual agar para murid dan muhib dapat memelihara Alfurqan/Dekalog itu. Bukan sebaliknya seperti kaum Neo-Muslim saat ini.

Cerita terkenal mengenai Khalid ibn Sinan adalah beliau berhasil memadamkan api yang terus-menerus menyala di suatu negeri Arab sehingga penduduk setempat tidak jadi memeluk Zoroaster atau Majusi. Api itu keluar dari suatu gua yang disebut Narul Haramain. Pada mulanya penduduk setempat tidak mempercayainya, dan menyangka beliau hangus terbakar saat masuk ke dalam gua yang menyemburkan api itu.

Setelah itu, Khalid ibn Sinan memberitahu kepada mereka bahwa pada hari tertentu dan tahun tertentu ia akan meninggal dunia. Jika hari itu terjadi, beliau ingin dikuburkan di satu tempat, dan lihatlah beberapa hari kemudian akan muncul hewan-hewan liar tanpa ekor. Salah satunya akan berdiri di atas makamnya. Apabila hal itu terjadi, beliau meminta kuburannya digali dan siapa saja nanti boleh bertanya apapun kepadanya mengenai masa lalu dan masa depan.

Namun, ketika hal tersebut benar-benar terjadi, dan sebagian dari penduduk mulai hendak menggali, penduduk yang lain mengatakan kepada mereka bahwa akan sangat memalukan konfederasi Arab mereka jika beliau benar. Maka, mereka pun tidak melakukannya. Akhirnya,

Konon, yang menceritakan kisah ini kepada Muhammad 636 yang menceritakan kembali kisah ini adalah keturunannya seorang perempuan bernama Muhayat. Ini menurut hadis dari Jafar Sadik dan Muhammad Al-Baqir.

Dari kisah tersebut, dapat dipahami bahwa ketika Khalid ibn Sinan mulai diordinasi sebagai mursyid perawi dan resi/nabi, beliau sedang menghadapi kekuatan bangsa Persia yang sedang menindas Peranakan Israil di Arabia. Gerakan yang dipelopori beliau berhasil meredam penindasan dan eksploitasi tersebut.

Pada masa Yazdegard II dikenal kebijakan religius yang menindas kelompok minoritas, termasuk orang-orang Yahudi, dan terutama kepada orang-orang Kristen. Banyak pemuka Yahudi dan Kristen mengalami eksekusi, dan umat mereka mengalami persekusi. Sang kaisar dikenal melakukan Zoroastrianisasi ke wilayah kekaisarannya, berbeda dengan leluhurnya Yazdegard I.

Pada abad ke-5 M, muncul revolusi dari komunitas Arab-Yahudi terhadap penerus Yazdegard II, yaitu Firuz, yang melanjutkan kebijakan ayahnya. Revolusi itu mengantarkan kota Mahoza (Al-Madain) di Babilonia (Irak) selama tujuh tahun merdeka dari Persia, sebelum penerus Firuz yang bernama Kawadh I merebutnya dan mengeksekusi pemimpin revolusi serta raja Mahoza yang bernama Mar Zutra II.

Jadi, pada abad itu, kita dapat melihat perkembangan Arab-Yahudi kendati berada dalam tekanan pada masa Yazdegard II dan Firuz. Banu Quraiza dan Banu Al-Nadir yang merupakan dua kabilah Arab-Yahudi (baca: Peranakan Israil beragama Yahudi) yang memimpin Yehuda Medina di Yathrib dan membayar pajak kepada Persia. Di Al-Hira, ibukota Lakhmid, yang terletak di sebelah selatan Kufah, akademi Yahudi tumbuh sejak abad 4 M, dan semenjak penerus Firuz, Persia mendukung Kekristenan Nestoria sebagai lawan dari Kekristenan Bizantin.  

Kisah mengenai kematian Khalid ibn Sinan menggambarkan kematian sejumlah mursyid, dan murid pemimpin pergerakan, sebagaimana dikatakan Muhayat bahwa ayahnya (baca: leluhurnya Khalid ibn Sinan) dibunuh oleh umatnya, umat Israil. Bahkan, umatnya lebih memilih gengsi (pride) daripada memenuhi wasiatnya untuk membangkitkannya kembali (baca: melakukan kaderisasi dalam pergerakan dan tradisi sampradaya).

Muhayat berarti pemimpin yang hidup. Sebenarnya, Muhayat adalah sosok Muhammad 636 itu sendiri, yang hendak menceritakan bahwa yang telah dialami Khalid ibn Sinan sehingga ia mengalami eksekusi dan gerakannya ditinggalkan untuk berpihak kepada entah Persia atau Romawi, akan terjadi kembali kepada dirinya.

Hewan-hewan liar yang keluar dari hutan menggambarkan tentara-tentara Heftali yang berhasil mengalahkan Firuz setelah mereka lama bermusuhan dengan Yazdegard II. Heftali adalah konfederasi Huns, gabungan dan peranakan berbagai etnis Indo-Persia dan Turk-Mongol di Asia Tengah, yang berhasil mendirikan kekaisaran di Asia Tengah pada abad 5 dan 6 M.

Pola yang sama berulang ketika tentara Mongol berhasil menaklukkan Bagdad, ibukota Abbasiyah. Sebenarnya, itu saat yang tepat untuk “menggali kuburan Muhammad” dan menerima bimbingan Beliau sepenuhnya untuk mewaspadai masa depan dan belajar dari masa silam.

Ketika Kawadh I mendapat sokongan dari pasukan Heftali untuk menumbangkan Balash (penerus Firuz), kita menemukan seorang mursyid perawi yang menjadi eponim bagi wangsa Muhammad, yaitu Hashem ibn Abdul Manaf. Adapun pada abad 13 M ketika Mongol menyerang Abbasiyah, kita menemukan seorang mursyid perawi yang menjadi eponim bagi salah satu mazhab Sufi di wilayah Bizantin, yaitu Bektash ibn Ibrahim.

Namun, sayangnya, hanya sedikit dari umat Israil yang bersedia menyimak transmisi dari Hashem dan Bektash.

Ketika Muhammad 636 hidup di Kufah, Beliau mengembangkan cerita mengenai perjalanan spiritual dari 2 Raja 2: 11, Yehezkiel, Daniel, dan dari para mursyid beliau yang lain mengenai salat, serta kehidupan di alam Hades dan atau konsekuensi karma di kehidupan berikutnya dengan tamsil-tamsil dari Persia.

Tamsil “kereta berapi dan kuda berapi” yang memberi kesan “menyala-nyala” digubah dari gabungan kata “barq” dalam bahasa Arab yang berarti kilat, terang-benderang, membara, menyala-nyala dan semacamnya, dengan hewan mitologi Persia, yaitu hewan yang dapat ditunggangi. Hewan mitologi ini senada dengan sentaurus (centaur) yang terkenal di Yunani, mungkin dari Budaya Minoan-Agean di Mediterania, dan yang berkembang dari mitologi leluhur mereka di India yaitu mitologi gandarwa dan kinnara.

Adapun detail kisah yang memuat sejumlah tempat seperti Madinah, Mekkah, dan Yerusalem, merujuk kepada latar belakang geopolitik perjuangan Muhammad 636, manakala Beliau lahir di Yathrib, dan kemudian pada 684-687 M ditawan oleh Abdullah ibn Zubair, tetapi Beliau muncul di Mekkah pada musim haji 688 M sebagai salah satu dari empat pemimpin pergerakan Quraish selain Abdullah ibn Zubair, Najdah ibn Amr, dan Abdul Malik I.

Setelah menunaikan haji itu, mengingat semakin agresifnya Abdullah ibn Zubair di Mekkah, Beliau merekomendasikan kepada Abdul Malik I untuk merenovasi Klenteng Allah di Yerusalem dengan mendirikan Kubah Batu. Setelah Abdul Malik I berhasil mengalahkan Abdullah ibn Zubair dan merebut kembali Mekkah pada 691 M, maka Beliau bersepakat untuk menerima kepemimpinan Abdul Malik I pada 692 M.

Sikap Abdul Malik I melunak kepadanya dengan menerima dan mengakui Beliau sebagai mursyid perawi semenjak haji 688 M, dan pada 692 M itu. Gubernur Al-Hajjaj yang menginisiasi proyek kanonisasi dari naskah-naskah Alquran pada murid-murid Beliau, menyimpan kekhuatiran akan pengaruh Beliau, sehingga pada 699 M memerintahkan untuk menyingkirkan Beliau.  

Alkisah, pada masa Abdullah ibn Umar masih hidup, ia bercerita bahwa suatu hari saat Beliau berumur 40 tahun(sekitar 676 M), dalam suatu mikraj (perjalanan spiritual) yang dilakukannya, Beliau mendengar suara bimbingan Elohim dalam mempelajari dan memahami transmisi sampradaya yang diterimanya (teks-teks dan sejarah lisan). Suara tersebut terdengar bagai suara ayahnya (Ali ibn Abi Talib).

Namun, diceritakan Sang Suara menyampaikan bahwa tidak ada yang dapat menyamakan Suara Allah dengan suara apapun, tetapi sebagai manusia maka suara yang terdengar adalah sesuai dengan suara yang dicintai Beliau. Peristiwa itu terjadi tujuh hari setelah perayaan Sukkot, yaitu perayaan ziarah ke Yerusalem, dan karenanya dirayakan tiap 27 Rajab. Apa yang disampaikan mengenai Suara Allah bermaksud untuk menunjukkan kecintaan Beliau kepada Imam Ali sekaligus meneguhkan otoritas ayahnya sebagai mursyid perawi pada 632-661 M.

Beliau berkata, “Salat adalah mikraj mereka yang beriman.” Jadi, salat bukanlah kewajiban, karena jika disebut kewajiban selalu berpotensi dilakukan dengan terpaksa, dengan tergesa-gesa, dan dengan rasa ketakutan mendapat sanksi. Sementara itu, mikraj atau perjalanan spiritual bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan terpaksa, tergesa-gesa, dan rasa takut mendapat hukuman.

Peristiwa Isra’ Mikraj pada 27 Rajab 676 M itu — dan bukan 610 M — juga dirayakan sebagai Hari Raya Mabaath, sebagaimana kita dapat memahami sejumlah kisah sebagaimana dari Abdullah ibn Umar itu: Imam Ali mengordinasinya sebagai mursyid perawi setelah Husein ibn Ali yang saat itu telah menjadi mursyid perawi (670-680) melanjutkan Hasan ibn Ali (661-670).

Kata “mabaath” (mim, ba, ain, tha) dan “biitha” (ba, ayn, tha) berasal dari kata “bo” (Strong’s 935) yang dalam bahasa Arab “ba” dan “ayn” berarti “kembali”. Kata “biitha” antara lain dapat ditemukan dalam surah Albaqara 56, surah Yasin 52, dan surah Haji 7, yang biasanya diartikan sebagai kebangkitan kembali dari kematian.

Namun, kata “mabaath” untuk memperingati Isra Mikraj sesungguhnya dapat ditemukan dalam Mazmur 45:14, “mubaoth”, yang diterjemahkan sebagai “yang dibawa kepada engkau”. Teks Mazmur ini merupakan tamsil mengenai ordinasi seorang mursyid perawi, dengan perumpamaan pengantin untuk raja.  

Dalam Buyruk Alfurqan, Mazmur 45 disyarahkan untuk menapaktilasi kepasrahan Ali Zainal Abidin ibn Husain saat diordinasi sebagai mursyid perawi melanjutkan ayah dan pamandanya pada 699 M, ketika usianya 40 tahun. Muhammad 636 “memberikan tongkatnya” kepada beliau sebelum harus menghindari upaya pembunuhan terhadap dirinya. Hikayat Muhammad Al-Hanafiyyah menggambarkan peristiwa ordinasi ini dengan penuh glorifikasi dan menghadirkan kepiluan dalam tamsil Sang Muhammad “ditelan oleh gua” dan kelak akan kembali.

Patut diduga, kisah deklarasi Islam pada 610 setelah Muhammad 570-632 M mengalami Isra Mikraj, sengaja diletakkan pada 610 M, yaitu ketika Heraklius naik tahta setelah menumbangkan kaisar Romawi sebelumnya, Phocas.

Pada umumnya, cendekiawan pasca Abbasiyah menisbahkan surah Al-Isra sebagai perekam kisah Isra Mikraj, khususnya ayat 1 dan 60, dan begitu juga surah Al-Najm ayat 13-14 sebagai perjumpaan Muhammad dengan Allah dalam dongeng Isra Mikraj.

Buyruk Alfurqan tidak menerjemahkan Al-Isra sebagai perjalanan malam untuk kisah Isra Mikraj ini, melainkan menerjemahkan sebagai umat Israil. Jadi, ayat pertama berlaku secara umum bagi seluruh resi atau nabi umat Israil, dan ayat ke-60 mengingatkan para murid dan muhib mengenai kisah pohon fig yang dikutuk dalam Injil, tetapi yang terkutuk dalam Alquran kali ini adalah pohon ek.

Makna pohon ek dalam tradisi Israil adalah tempat pertemuan yang penting, dan berkaitan dengan kesadikan:

Mula-mula dalam Kej 12:6, Ibrahim menerima wahyu di pohok ek di Moreh, bahwa tarekatnya akan berkembang di situ, sehingga beliau mendirikan altar di situ. Di suatu pohon ek di Mamre juga, Ibrahim menerima wahyu mengenai mursyid penerus yang akan melanjutkan sanad paramparanya. Menurut Kisah Sinai, tekke dari sanadnya kepada Musa akan hidup berdampingan dengan orang-orang Kanaan atau Phoenicia (Ul 11:30).

Yoshua ibn Nun, salah satu mursyid dari sanad Musa, memimpin pembaharuan baiat para murid di bawah sebatang ek (Yos 24:26). Salah seorang kadi yaitu Gideon — arketipe Ali Zainal Abidin — menerima wahyu untuk melakukan ikonoklasme di bawah pohon ek di Ofra. Setelah kematian Gideon, seorang murid bernama Abimelekh memimpin revolusi dan diangkat sebagai raja di bawah pohon ek untuk tiang di Shekhem — yang dipercaya Ibrahim membangun altar di situ, Yakub menyembunyikan berhala (baca: ikonoklasme secara halus), dan Yoshua membangun batu fondasi (baca: memapankan tekke).

“Ek yang dikutuk dalam Alquran” mengingatkan kita pada kisah dalam 1 Raja 13, mengenai seorang “abdullah” yang melanggar perintah Allah (baca: tirakat dari mursyidnya) sehingga ia tidak akan diterima oleh para leluhur. Ia diceritakan mati diterkam singa (baca: seorang hamba Allah yang memilih menjadi seorang Abel sehingga ditindas oleh Kain, tetapi seorang nabi tua yang membuatnya melakukan pelanggaran memutuskan untuk dimakamkan bersama dengannya (baca: supaya mereka terlahir kembali merektifikasi kesalahan mereka dalam menjadi Abel — dan mendukung Kain).

Dalam Yesayah (61:3) pohon ek jenis tarbantin merupakan simbol kesadikan, yaitu orang-orang yang sadik. Al-Isra 56-60 menceritakan umat Thamud yang menolak bimbingan ilahi, dan penglihatan-penglihatan para mursyid perawi yang merupakan ujian bagi umat, apakah mereka akan mempercayai bimbingan mereka atau tidak? Jadi, dengan segera Nabi Muhammad menanggapi Yesayah 61:3 untuk konteks akhir abad 7 M, bahwa penglihatan-penglihatannya dan para mursyid perawi sebelumnya merupakan ujian bagi para murid dan muhib yang memutuskan mendirikan kekhalifahan Islam.

Adapun surah Al-Najm (bintang) ayat 13-14 kita menemukan pohon yang disebut sidratul muntaha sebagai simbol sempadan di surga ketujuh, yang menceritakan kembali Kej 3 mengenai pohon kehidupan. Tamsil yang berasal dari pohon sidr, dan pohon yang menghasilkan manna yang dapat dibuat sebagai dasar bahan makanan kaum imigran atau perantau Trans-Semit di habitat mereka. Pohon ini kadang-kadang diterjemahkan sebagai bidara.

Dalam Buyruk Alfurqan, teks tersebut (53:13-17) bila dimaknai dari terjemahan menurut Kemenag RI adalah sebagai berikut:

“Dan sungguh, dia, yaitu Muhammad, telah melihatnya untuk kali yang kedua, yakni betapa luasnya wahyu-wahyu atau transmisi-transmisi ilahiah yang sedemikian agungnya, yaitu di dekat sidratul muntaha yang belum pernah didatangi siapa pun (yang hidup pada masanya) dan taman yang merupakan kediaman surgawi, betapa pohon kehidupan tersebut di dalamnya membuahkan rahasia-rahasia yang tak terucapkan! (Transmisi-transmisi yang hanya dapat diutarakan dalam perumpamaan-perumpamaan).”

Maka, teks ini mengandung doktrin yang senada sebagaimana hadis dari Abdullah ibn Umar.

Manakala seseorang baru diordinasi sebagai mursyid perawi dan menyimak Elohim dalam setiap kontemplasinya, dalam setiap langkahnya manakala terjaga maupun tidur, dan dalam setiap nafasnya, maka ia dapat mengalami perjalanan malam alias kedalaman yang gelap (Isra) maupun pergumulan dahsyat (Isra) dalam dirinya, sehingga ia pun hanya bertumpu dan bergantung kepada bimbingan Elohim sepenuhnya.  Saat itulah, apakah ia mendengar Suara Ilahi, atau melihat Wajah Ilahi, ia berada dalam mikraj yang sesungguhnya.

Ya, ia berada dalam salat sesungguhnya.

Seperti itulah yang diceritakan dengan amat indah oleh Syekh Ali Haidar dalam bagian non-Alkitabiah dalam Buyruk Alfurqan, yaitu dari bukunya yang berjudul “Rahasia tentang Harta Karun dalam Salat”. Tamsil yang digunakan adalah tangga emas untuk ke surga dan taman indah yang merupakan mikraj itu sendiri, disebut Namaz. Di taman itu, beliau pun menjumpai tujuh arketipe resi atau mursyid perawi yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yesus, dan kemudian Muhammad — bersama seekor singa.

Tak dapat disangkal bahwa “Rahasia tentang Harta Karun dalam Salat” juga merekam pengalaman beliau setelah diordinasi untuk memulai enam volume Buyruk Alfurqan. Penglihatan-penglihatan yang beliau terima, merupakan ujian bagi setiap orang yang mengenalnya. Setelah kitab Buyruk Alfurqan selesai, dia kehilangan banyak teman, sahabat, dan murid. — Begitu pun setelah saya mulai mengajarkan Buyruk Alfurqan.

Jafar Sadik mengatakan bahwa seseorang tidak dapat dilihat dari salat dan puasanya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Inilah kriteria bagaimana seseorang memilih menjadi Kain yang membunuh demi dunia yang lebih baik, atau memilih menjadi Abel yang pasifis membiarkan ketidakadilan demi kedamaian, atau memilih menjadi Seth yang tetap berupaya agar kita semua menyintas bersama-sama — secara setara dan moderasi, tidak saling menindas dan tidak saling mengeksploitasi.

Kisah Isra Mikraj dan Mabaath tentu saja amat indah, dan harus dirangkai dengan sangat elok, untuk menarik perhatian para murid dan muhib, mengenai perjalanan spiritual di tengah-tengah kehidupan dunia yang nyata, sekuler, dan terbelenggu jasmani. Kehidupan yang acap kali tidak masuk akal, memuakkan, menyakitkan, dan menjemukan, sekaligus melenakan, menyenangkan, menggugah semangat, dan begitu nyaman. Begitu pula “Rahasia tentang Harta Karun dalam Salat” adalah kisah yang amat indah.

Namun, hanya sungguh-sungguh sedikit dari para murid dan muhib yang memilih dan apalagi istiqomah mengupayakan diri sebagai seorang Seth dalam setiap salatnya. Dalam setiap isra mikrajnya. Jika kita tergelincir melalaikan mikraj, karena isra yang sedemikian muram, berkabut, menyesakkan dada, dan memilukan, sehingga kita mati diterkam singa, semoga kiranya seorang resi menemani kita dalam kematian kita, agar melalui wasilahnya kita dibangkitkan kembali dan memulihkan segala kesengsaraan dan kezaliman yang telah kita lakukan.

Amiin, amiin, amiin ya rabbal alamin.

*SELESAI*

Selamat Merayakan Isra’ Mikraj dan Mab’ath.

Siddhamastu,

Syekhah Hefzibah R.A. Gayatri W. Muthari.

Standard