[PERINGATAN: tinggalkan tulisan ini jika mengguncang iman Anda, atau kosongkan gelas Anda untuk dapat menerima tuangan dari tulisan ini. Selain itu, tulisan ini sangat panjang].
Seorang teman Facebook saya [Jesus Anam] mengatakan, “Islam itu (adalah agama) rahmatan lil alamiin”. Siapakah yang mengatakan hal tersebut? Apakah sang nabi yang disebut sebagai Muhammad? Berdasarkan sejarah modern (historiografi) yang saya pelajari, sosok Muhammad 570-632 M itu tidak ada. Silakan protes! Yang saya sampaikan bukanlah berdasarkan dongeng internal yang telah beredar luas, bahkan diamini oleh Non-Muslim. Saya tidak beragama dengan iman yang menerima taklid kepada dongeng yang populer dan terkenal.
Pada suatu hari, sekitar tahun 2018, sahabat saya sesama mursyid menceritakan kepada saya bahwa selama masa meninggalkan Islam periode tahun 2016, ia meragukan sosok Imam Mahdi yang didoktrinkan kepadanya selama ini. [Imam Mahdi versi Syiah 12 Ushulli]. Lalu, ia bertawasul dan bertanya kepada Beliau, siapa Beliau sebenarnya, kemudian ia menceritakan kepada mursyid kami. Saya tergugah oleh cerita sahabat saya.
Maka, dalam tawasul saya, saya bertanya kepada Rasulullah SAW juga, “Siapakah engkau yang sebenarnya?” Tetapi, saya menyarankan Anda untuk tidak melakukan metode ini jika Anda tidak terlatih dengan keterampilan sebagai sejarawan-antropolog. Dalam setiap keraguan saya, saya menyimak respon Beliau, bahwa Beliau pun tidak masalah jika umat manusia terlanjur percaya pada versi 570-632 M itu, sebab bukan itu yang benar-benar penting bagi seseorang dalam menjalankan kehidupan sebagai manusia.
Saya curhat kepada Beliau bahwa begitu banyak orang meninggalkan Islam karena agama Islam versi Neo-Islam dan Pseudo-Islam yang imperialis-konsensus itu telah sedemikian populer dan menindas kehidupannya. Begitu banyak hal dari agama Islam versi itu sedemikian brengsek, konyol, jahat, dan tidak masuk akal. Patut diragukan dan memang pantas ditertawakan, jika tidak dilecehkan. Terutama yang saya curhat pada waktu itu adalah soal jilbab.
Salah satu hal yang mula-mula Beliau arahkan adalah agar saya membuka suatu pasal dalam Injil Wahyu, yang mengantarkan saya kepada Perang Ridda. Sebelum membahas mengenai Perang Ridda, saya akan membahas mengenai mengapa para Muhammad dipadatkan pada satu sosok saja pada 570-632 M.
Tanggal itu dipilih oleh para sejarawan awal Islam seperti Ibn Ishak di bawah patron rezim Abbasiyah yang baru dan memerlukan identitas politik yang kuat. Ibn Ishak, misalnya, hidup sezaman dengan Sayyidina Jafar Sadik [w.765 M], yang menyampaikan transmisi secara rahasia kepada para muridnya dan sebagian dari mereka mengalami persekusi dari rezim Abbasiyah. Bahkan, Sayyidina Jafar Sadik sendiri diracun sampai martir atas perintah khalifah Al-Mansur, sponsor atau patron Ibn Ishak.
Tentulah saya tidak tahu alasan pasti mengapa sosok para Muhammad dipadatkan menjadi satu sosok 570-632 M, tetapi melalui tanggal tersebut, saya dapat memberikan sejumlah dugaan secara historis, di samping adanya kepentingan dinasti yang baru Abbasiyah dalam “mengkanonisasi” sosok legenda bernama Muhammad menjadi satu pribadi 570-632 M saja.
Beberapa alasannya adalah kemungkinan sebagai berikut.
Pertama, terkait dengan sejarah proksi Bizantin Romawi dan Sassan Persia. Pada tahun-tahun kelahiran sosok Muhammad itu antara 570-571 M terjadi peristiwa penting yaitu kekalahan konfederasi Ghassan atas konfederasi Lakhmid. Tidak lama kemudian, berlangsunglah Perang Bizantin-Sassan pertama yang berakhir pada 591 M, tepat pada saat kita menemukan kisah pemuda Muhammad dikenal oleh yang disebut sebagai suku Quraish. Siapakah suku Quraish sebenarnya? Apakah namanya dikenal dalam catatan-catatan Romawi dan Persia? Yang dikenal tampaknya hanya konfederasi Ghassan dan konfederasi Lakhmid.
Kedua, tahun kematiannya (632 M) yaitu dua tahun sekitar kekalahan Persia dari Romawi, dan semenjak itu berlangsung sejumlah persekusi dan penindasan terhadap orang-orang Yahudi yang dianggap mendukung Persia, termasuk memaksa sejumlah elit dan pemimpin untuk memeluk Kristen (Barat). Sementara itu, di Persia sedang berlangsung perebutan tahta antara dua klan dan perang sipil, tepat pada masa pemerintahan dua masa kaisar perempuan. Jadi, cukup alasan untuk menceritakan bahwa kemenangan khalifah Umar ke atas Ktesifon (ibukota Persia), dan Yerusalem, pada tahun-tahun 634-637 M adalah antara lain karena faktor-faktor tersebut.
Ketiga, pada tahun-tahun itu, kendati terdapat Perang Bizantin-Sassan yang kedua, tetapi tidak lagi terdapat kekuatan konfederasi Ghassan maupun Lakhmid. Dengan kata lain, wilayah Arabia seluas dari Dekapolis, Nabatea, sampai Hijaz dan perbatasan dengan Yaman (Himyar), Mesir, dan Etiopia (Aksum), tidak terdapat kekuatan konfederasi yang kuat seperti Ghassan yang mendukung Romawi dan Lakhmid yang mendukung Persia.
Itu hanya sedikit saja alasan, untuk sementara waktu.
Namun, dengan “periode kekosongan itu” dan “periode kekisruhan dalam negeri Persia” dan
“periode penindasan Heraklius”, maka memunculkan sosok seorang pahlawan agung bagi suatu masyarakat di suatu wilayah yang berbagi tradisi, budaya, rumpun bahasa, dst, yang berabad-abad menjadi objek rebutan Romawi dan Persia, tentu saja merupakan sesuatu yang sudah tepat sesuai waktu dan kebutuhan. Abbasiyah yang berdiri di atas puing-puing Persia memerlukannya lebih daripada Umayyah yang berdiri di atas puing-puing Dekapolis yang berabad-abad berbudaya Hellenis.
Jadi, ya, tentu saja umat Islam perdana, yang diceritakan sebagai sahabat-sahabat Muhammad 570-632 M adalah para pelopor sesungguhnya dalam suatu gerakan yang bisa dikatakan sebagai gerakan nasionalis pasca Ghassan dan pasca Lakhmid. Yang disebut sebagai Quraish adalah suatu konfederasi berbagai kabilah, yang memimpin gerakan tersebut, meski pada awalnya konfederasi itu terbelah persis seperti di Indonesia ada PDIP yang mendukung Ganjar Pranowo dan ada yang mendukung Puan Maharani. Dalam kasus ini, ada kubu partai Quraish yang mendukung Muawiyah, dan ada kubu partai yang mendukung Sayyidina Ali ibn Abi Talib.
Pembaca yang sudah terbiasa mengikuti tulisan-tulisan saya mungkin sudah dapat menduga saya akan menunjuk kepada siapa saja tokoh Muhammad yang dipadatkan ke dalam satu sosok 570-632 M.
Namun, yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah “kejahatan agama Islam” terjadi bukanlah karena Muhammad 570-632 M muncul dalam sejarah membawa pedang untuk menaklukkan dunia, sebab, tokoh 570-632 M itu sama-sama tokoh fiksi seperti Yesus Kristus 0-33 M. Bagaimana mungkin tokoh fiksi seperti Voldermort dapat kita kutuk karena kejahatannya?
Konfederasi Quraish bersama konfederasi-konfederasi lain yang kemudian mendirikan dinasti Umayyah di salah satu kota Dekapolis adalah kumpulan manusia yang kompleks: pada umumnya mereka adalah kaum Peranakan Israil, dan atau Peranakan Yahudi, dan yang lainnya adalah orang-orang Arab. Agama mereka juga sebenarnya beragam, bukanlah “paganisme” belaka sebagaimana pola pikir Orientalis yang masih dipengaruhi alam pikiran Gereja Barat terhadap yang disebut sebagai agama. Pola pikir ini merasuki pola pikir orang-orang Yahudi saat ini, dan kemudian Muslim saat ini, karena Romawi menjajah mereka cukup lama.
Saya mulai membiasakan diri membedakan diri antara “Israil” dengan “Yahudi” meski keduanya “interchangeable”, sebab ada imigran dari Kerajaan Israil yang dijajah oleh Neo-Asyur, dan ada imigran dari Kerajaan Yehuda yang dijajah Babilonia dan Persia, lalu mereka berkawin-mawin.
Imigran-imigran yang di Dekapolis, Nabatea, dan wilayah-wilayah Arabia lainnya itulah yang merupakan nenek moyang klan-klan dalam konfederasi Quraish. Mereka ada dalam konfederasi Ghassan yang memihak Romawi maupun ada dalam konfederasi Lakhmid yang memihak Persia, ada yang memeluk Kristen Oriental seperti saudara-saudara mereka di Yaman dan Etiopia, dan ada juga yang memeluk Yahudi (Oriental juga, seperti yang di Yaman dan Etiopia). Sementara, mereka yang ada di oasis-oasis (gurun) dan bukan perkotaan dan bukan pula pelabuhan, alias di pedalaman, yaitu yang biasa disebut Arab Bedouin, juga banyak yang telah memeluk Kristen Oriental.
Kaum nasionalis itu sudah sangat lelah di antara pertikaian dua adidaya, semula Yunani yang beralih menjadi Romawi, lalu Persia yang masih cukup perkasa sampai sekitar tahun 630 M karena perang di antara mereka sendiri. Kelelahan mereka harus pula dimaklumi: sebab sebagian besar mereka adalah kaum pedagang yang biasa melintasi wilayah-wilayah bertikai dan membawa produk-produk yang diimpor dari jauh, bahkan dari wilayah yang kini kita sebut Indonesia.
Semua dongeng-dongeng dalam hadis-hadis mengenai perang-perang sebenarnya berkaitan erat dengan dua perang Bizantin-Sassan yang saya sebutkan, perang dalam negeri Persia, dan perang proksi keduanya di Yaman yang melibatkan Etiopia. Begitu pula kisah hijrah dua gelombang itu. Bukankah semakin populer dan semakin banyak disukai dongengnya, maka akan semakin dianggap sebagai kebenaran, apalagi jika disampaikan oleh para penguasa? Siapa yang percaya bahwa warga Wadas menentang pertambangan dan bukan bendungan, dan siapa yang percaya kepada para pendengung dan gimik “berkorban untuk bendungan bagi kepentingan bersama”?
Pertikaian di antara keluarga dan faksi pendukung Ali dengan faksi penentang Ali tidaklah sesederhana “skisma agama internal Islam” sebagaimana dongeng-dongeng perseteruan antara Sunni dengan Syiah dan pembahasan Mutazilah, Khawarij, dan berbagai skisma dalam sejarah Islam. Naluri kesejarawanan saya tidak lagi mampu mencernanya sesederhana kaum awam atau kaum simplistik yang membacanya (atau yang menginginkannya?) sebagai dongeng-dongeng religius-spiritual belaka.
Tanggal 632 M juga sengaja dipilih karena Perang Ridda yang berlangsung pada 632 M. Hampir semua Muslim memandangnya sebagai perang terhadap mereka yang murtad atau meninggalkan Islam dan mereka yang disebut sebagai nabi-nabi palsu seperti Musailamah dan Sajjah. Sebelum membahas konteks peristiwa tersebut, saya akan memberikan sedikit petunjuk mengenai arti kata “ridda” dan “murtad”, dari kamus leksikon Ibrani, dan bukan dari leksikon Arab yang telah tercampur oleh pemaknaan pasca Abbasiyah.
1. Kata ridda berasal dari kata Ibrani, Aram, Arab kuno, Suryani, Akkadia, Geetz,dll, (no.7287, 7287b) yaitu radah yang artinya untuk menguasai, untuk mendominasi, dan untuk mengikis. Dengan kata lain, secara politik Perang Ridda berarti perang untuk mendominasi dan memberangus musuh.
2. Kata ridda yang kemudian berkembang menjadi murtad [irtidad] juga berasal dari kata radad (no.7286) yaitu untuk mengalahkan, untuk memukul, untuk menaklukkan.
3. Ketika dikembangkan menjadi murtad, maka juga diolah dari kata “marad” (no.4775) dan “mered” (no.4776), yaitu untuk membelot, untuk membangkang, memberontak, membangkang, dst.
4. Kata-kata pada marad dan mered juga berkaitan dengan kata “meri” (no.4805) yaitu pembangkangan atau pemberontakan, dan kata “marah” (no.4784) yaitu sifat berontak dan pembangkang.
5. Sementara itu, kata “marah” (no.4751) yang berarti kepahitan berkaitan dengan nama air pahit dalam Kisah Sinai, “marah” (no.4785), diserap bahasa Melayu untuk emosi yang senada dengan rasa pahit dan murka.
Perang Ridda bukanlah perang mengenai meninggalkan agama Islam dan nabi-nabi palsu, melainkan perang terhadap mereka yang keluar dari kesepakatan konfederasi Quraish pasca pemimpin pertama konfederasi mereka meninggal dunia. Pemimpin itulah yang kemudian digelar dan disebut juga sebagai Muhammad. Musailamah yang sebenarnya bernama Muslimah menolak kesepakatan baru yang memilih Abu Bakar sebagai khalifah dengan meniadakan otonomi kepada madina-madina atau haram-haram lainnya, termasuk Yamamah yang dipimpinnya. Sejumlah kabilah yang serumpun dengan Muslimah mendukung konfederasi Yamamah.
Taman Kematian yang berlangsung di Yamamah sebagai puncak Perang Ridda, telah menewaskan Muslimah, dan merupakan tragedi pengulangan dari peristiwa yang berlangsung di Yerusalem pada masa “Yesus Kristus yang asli” hidup, yaitu Peristiwa 66-70 M. Bagi yang mempelajari peristiwa revolusi tersebut, akan ingat ketika kelompok revolusi melawan Romawi terpecah antara Simon bar Giora dengan Yohanes dari Giscala. Inilah yang dibahas dalam Injil Wahyu, menurut Buyruk Alfurqan yang memandang teks-teks itu bukan secara preteris, melainkan secara historisis. Sebagaimana dalam tradisi Bektashiyah, diyakini adanya “pola sejarah yang berulang” dan karena itu Injil Wahyu bukan hanya memuat pengalaman historis melainkan juga nubuat akan berulangnya pengalaman itu.

Pemimpin pertama konfederasi yang kemudian kita kenal sebagai Quraish memimpin konfederasi tersebut di Yathrib yang kelak dikenal sebagai “Madinah” saja, padahal ada sejumlah madina, haram, atau kota dengan tradisi Arab-Yahudi yang juga dihuni oleh banyak orang Kristen Oriental seperti di Yamamah. Muslimah turut bersekutu dengannya karena tidak ada lagi kekuasaan Lakhmid, dan Muslimah tentu saja juga tidak ingin dikangkangi oleh Romawi. Pemimpin Yamamah sebelumnya memang cenderung kepada Lakhmid dan Persia, daripada Ghassan dan Romawi.
Pemimpin pertama tersebut adalah putra dari salah seorang elit konfederasi sebelumnya, konfederasi Ghassan, yang sebenarnya juga kisahnya banyak disebut sebagai kisah Muhammad 570-632 M. Jadi, karena itu saya mengatakan ada beberapa Muhammad sebelum Muhammad yang sebenarnya dimaksud sebagai nabi dan rasul dalam salawat-salawat. Beliaulah mursyid perawi yang mengumpulkan kembali seluruh transmisi tertulis dan lisan, dan menerima wahyu untuk menanggapi seluruh transmisi tersebut dalam rangka membimbing para muhib dan murid-muridnya dalam situasi abad 7 M saat itu. Para muhib dan murid-muridnya menyebut kitab tersebut sebagai Alquran, yaitu bacaan untuk didaraskan, karena sesungguhnya berupa himne untuk disenandungkan.
Pada tahun 692 M, setelah Al-Hajjaj berhasil menguasai haram Mekkah dan membunuh khalifah saingan dari khalifahnya, Abdul Malik I, ia memiliki ide untuk mengkanonisasi naskah-naskah yang dimiliki oleh murid-murid Muhammad sebagai identitas baru kebangsaan mereka, sekaligus untuk memulihkan citra dinasti Umayyah karena pada 680 M telah membantai keluarga Muhammad dan Ali di Karbala. Terinspirasi oleh Kekristenan Barat yang melakukan kanonisasi Injil, maka Al-Hajjaj juga berinisiatif dengan kitab itu untuk mempopulerkan bahasa persatuan dari salah satu lingua franca saat itu, yaitu suatu dialek Arab kreol saat itu di Dekapolis.
Pada masa itu, sesungguhnya Muhammad masih hidup seperti manusia biasa, dan Beliau pun mendatangi Abdul Malik untuk melakukan kesepakatan. Di antara murid-muridnya yang ikut dalam panitia kanonisasi tersebut adalah Hasan Basri, seorang Sufi terkenal. Namun, Al-Hajjaj bertindak keras dengan merampas seluruh naskah lama dan membakar naskah-naskah yang dianggap tidak sesuai dengan program pemerintahnya. Sementara itu, bahasa dalam Alquran yang kita kenal saat ini, sebenarnya telah banyak berbeda dengan bahasa Arab kreol yang digunakan Muhammad dalam Alquran yang ditransmisikannya kepada para murid dan muhibnya.
Ketika Perang Ridda, Beliau belum lahir. Sebagaimana telah dinubuatkan dalam Injil Wahyu, lebih dari setahun setelah gempa bumi yang sangat dahsyat di Timur Tengah yang mengguncang Yerusalem dan banyak kota di sekitarnya, terutama kota-kota di Dekapolis, pada September 634 M, rumor telah tersebar dari para muhib dan murid yang menceritakan telah diyakini kelahiran kembali pemimpin sekaligus mursyid perawi mereka yang pernah dibunuh. Rumor itu tersebar karena khalifah Umar, salah satu murid, mengklaim nama Beliau untuk menaklukkan Yerusalem pada 637 M.
Tahun 636 M, beliau lahir di dalam rumah keluarga Sayyidina Ali. Akibatnya, Sayyidina Ali harus mengungsikan istri dan putranya untuk sementara waktu. Kita tahu bahwa sepanjang tahun 632 M sampai 655 M, Ali ibn Abu Talib tidak terlibat dengan politik praktis konfederasi baru yang menamakan diri mereka sebagai gerakan Islam, terinspirasi oleh mursyid perawi mereka pada 612 M yang mendeklarasikan gerakan untuk menentang Ghassan — dan kemudian Lakhmid.
Sang mursyid perawi mengambil nama dan doa bagi gerakannya dari ungkapan-ungkapan Yeremiyah dan Yesayah, “Tidak ada Islam, tidak ada Islam!” untuk mengkritik para pemuka Yahudi yang bekerjasama dengan para penjajah Neo-Asyur, Mesir, dan Babilonia. Kali itu, beliau mengkritik elit Peranakan Yahudi dan Israel yang menjadi kacung-kacung dan antek-antek Romawi maupun Persia.
Salah satu misi mereka tentu saja adalah membebaskan Yerusalem, tanah suci bagi mereka, dari penjajahan Romawi yang baru berjaya saat itu. Sebuah kesempatan karena kekuatan Persia sudah hancur di kawasan dua adidaya tersebut. Adapun Mekkah kemudian dimapankan sebagai replika Yerusalem,, setelah kota itu ditaklukkan dari Abdullah ibn Zubair pada 692 M, karena sejak masa 622-632 M ia menjadi basis untuk merebut Yerusalem. Sebelum itu, ibukota kekhalifahan ditetapkan di Damaskus semenjak 660 M, dari Kufah pada 657 M.
Ya, Ali ibn Talib sengaja memindahkan ibukota dari Yathrib ke Kufah pada 657 M, sebuah kota Persia, karena beliau lebih banyak mendapat dukungan dari kubu Persia dan pro-Lakhmid. Jadi, jangan heran bila kelak beberapa abad kemudian Tanah Persia banyak yang menganut Syiah dan memuja Ali beserta keluarganya (meski bermazhab Sunni).
Kalau kita hendak mengatakan “kejahatan agama Islam yang pertama” maka itu adalah keberhasilan kekhalifahan di bawah Umar ibn Khattab saat merampas kekuasaan adidaya Persia. Lalu, sekitar dua dekade kemudian Muawiyah membangun ibukota di Damaskus yang Hellenis sejak zaman Yunani berkibar dengan kaisar Alexander. Maka lengkaplah sudah! Kekhalifahan dengan identitas Islam menjadi saingan utama Romawi yang telah berhasil menumbangkan Yunani beberapa dekade sebelum kaum revolusioner menciptakan sosok Yesus Kristus 0-33 M.
Kalau Anda masih menganut Kristen atau Yahudi, sebaiknya bercermin dulu sebelum menertawakan “kejahatan agama Islam” dan menertawakan sosok Muhammad 570-632 M itu. Namun, saya bisa memaklumi jika Anda ahistoris, apalagi jika anakronistik.
Bagaimanapun, gerakan ini dimunculkan dengan nama “Islam” dan sosok tersebut dipopulerkan dengan nama “Muhammad” karena hal-hal yang terdapat dalam tradisi Kekristenan dan Yudaisme yang dianut para pelopor gerakan itu sendiri. Bukan dari ujug-ujug kekosongan. Kecuali bagi Anda yang peta buta, tidak tahu di mana letak Dekapolis, Nabatea, situs Al-Jawf, kota purbakala Dumah yang disebut dalam Perjanjian Lama, kota pelabuhan tua Aden yang disebut dalam Yehezkiel, dst sehingga berhalusinasi bahwa agama Islam lahir dari nol di gurun tandus tanpa peradaban kota sama sekali.
Di antaranya, Matius meriwayatkan Yesus berkata, “Aku tidak datang membawa islam, melainkan membawa pedang”, dan orang-orang Kristen Oriental telah bertawasul kepada Yesus Kristus dengan nama “Muhammad” dalam doa mereka pada abad 7 M itu. Sementara itu, Heraklius telah semakin menindas orang-orang Yahudi di wilayahnya karena mereka bersimpati bahkan mengikuti gerakan nasionalis ini, sedangkan para elit Yahudi ikut bersama penguasa Persia saling bertikai, semakin mengingatkan mereka pada suara Yesaya dan Yeremiyah saat menyuarakan tiada islam, yang digemakan kembali oleh mursyid perawi mereka pada 612-622 M.
Haleluya! Hosana! Hosana!
Tentu saja, untuk “kejahatan tersebut”, Umayyah dan Abbasiyah perlu mempopulerkan doktrin “Islam adalah agama rahmatan lil alamiin.” Pernah mendengar Pax Romana? Tidakkah Anda merindukan Indonesia yang damai, gemah ripah loh jinawi, dalam kestabilan politik?
Ketika saya memberi tanda-tanda tahun kronologis seperti Muhammad 570-632 M dan Yesus Kristus 0-33 M, itu artinya saya memberi petunjuk bahwa saya tidak menggeneralisasi seperti sikap sebagian ateis dan agnostik yang mengatakan Yesus adalah kisah mitologi belaka, dan begitu pula dengan Muhammad (yang anehnya banyak yang benar-benar percaya pada satu sosok pada tahun-tahun itu). Tentu saja, ada tokoh-tokoh historis di balik mereka.
Dalam tradisi sampradaya, “Islam adalah rahmatan lil alamiin” adalah suatu lelaku yang utuh sebagai manusia, dan bukan lelaku ekspansionis, Manifest Destiny, dan destruktif. Murtad adalah sikap pembangkangan atau pemberontakan dari murid atau muhib kepada seorang mursyid perawi — yang sering kali juga adalah seorang nabi atau rasul — yaitu melakukan hal-hal destruktif melawan ajaran dan kebijaksanaan sang guru. Begitu pula halnya dengan kafir, yang secara sederhana adalah sikap muhib, murid, dan mereka yang mendengar nasehat serta ajaran seorang resi, tetapi menghijabi dirinya dari kebenaran yang diterimanya, sehingga tetap melakukan hal-hal destruktif.
Ketika suatu tradisi sampradaya yang menjadi gerakan revolusioner seperti pada 6-70 M, dan kemudian pada 612-632 M, lalu diambil alih oleh ijtihad nasionalisme yang sempit, maka kita menemukan perubahan makna murtad, kafir, dan sesat. Untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi dalam Perang Ridda, dan perlawanan para mursyid Sufi yang revolusioner, maka yang ditonjolkan adalah kisah-kisah pembangkangan mereka secara akidah.
Kita misalnya mendengar kisah Al-Hallaj, Sayyid Nessimi, Hamzah Fansuri, dan Syekh Siti Jenar yang mengesankan mereka sebagai pembangkangan dalam segi akidah dan keagamaan. Begitu pula banyak sekali baba dan dede serta kalandar Sufi menjelang berdirinya Ottoman sampai berakhirnya Ottoman yang melawan dan dieksekusi maupun dipersekusi atas tuduhan murtad, kafir, dan atau sesat. Padahal, gerakan dan atau perlawanan mereka adalah gerakan sosial atau revolusi untuk menentang kebijakan yang korup (corrupted; destruktif), zalim, diskriminatif, dan merugikan bahkan membahayakan rakyat (dan alam) di tempat mereka hidup.
Cerita-cerita mereka memang sering kali dibumbui romantisme spiritual, karena para pemimpin pergerakan itu memang seorang waliullah, santo, atau seorang mursyid yang mempersembahkan dirinya di altar-altar kehidupan bagi kemanusiaan sampai akhirnya martir. Dalam konteks yang sama pula, cerita-cerita mengenai Nabi Muhammad 570-632 M dipenuhi romantisme spiritual dan glorifikasi agama, sebagaimana kisah Yesus Kristus 0-33 M, untuk kemudian dimanfaatkan dan dieksploitasi bagi kepentingan politik dan “ nasionalisme baru” dari “bangsa Israil” dalam keterjajahan dan diaspora mereka.
“Bangsa Israil” yang saya maksud adalah mereka semua yang percaya dan atau menerima transmisi Kisah Sinai, dalam level apapun. Injil maupun Alquran mengulang-ulang Kisah Sinai dan menanggapi seluruh persoalan para murid dan muhib antara lain lewat Kisah Sinai. Setelah “bangsa Yahudi” gagal pasca tumbangnya Makabe dan kegagalan merebut Yerusalem pada 70 M, kekaisaran Romawi merampas identitas gerakan revolusi Yesus Kristus untuk Kekristenan yang diciptakannya (yang saya sebut Neo-Kristen).
Begitu juga pada masa Abdul Malik I, ia melakukannya bersama dengan Al-Hajjaj setelah semua rampung: penaklukan Yerusalem, serta musnahnya kekuatan Persia, lalu separuh dari keluarga dan faksi Ali berhasil digenosida, kemudian kota Mekkah dan Yathrib ditaklukkan, dan akhirnya Muhammad bersedia berkompromi sehingga kanonisasi Alquran dapat dilakukan. Pekerjaan Abdul Malik I dilengkapi oleh keberhasilan Neo-Umayyah di Iberia, lalu sejak 750 M dimapankan oleh Abbasiyah yang berhasil membungkam para murid dan muhib Ali dengan divide et impera, dan akhirnya disempurnakan oleh Ottoman yang berhasil menggulingkan Romawi untuk selama-lamanya.
Saya tidak ingin menjelaskan dalam tulisan-tulisan saya di media sosial mengenai detail para Muhammad yang mentransmisikan wahyu-wahyu ilahi yang Mereka terima, dan begitu pula Muhammad yang perdana yang telah memapankan Alquran (sebelum kanonisasi). Silakan tunggu buku yang sedang saya garap. Semoga Allah dengan doa para mursyid perawi leluhur mengizinkan! Apapun itu, ungkapan-ungkapan terkenal termasuk istilah-istilah menurut tradisi sampradaya dengan menurut tradisi imeperial konsensus (Neo-Islam dan Pseudo-Islam), tentu saja sangat berbeda, bahkan sangat ngawur menurut tradisi sampradaya.
Maka, ungkapan “Islam adalah agama rahmatan lil alamiin” juga tinggal menjadi slogan “Pax Islamica” seperti halnya seluruh slogan dan gimik kaum imperialis dan oligarki yang serakah, tetapi berbaju malaikat dengan segenap bantuan filantropi dan sponsor murah hatinya.
(Kita melihatnya dalam berbagai kasus serupa di Indonesia, seperti kasus Wadas. Manakala sebagian dari Anda memandang rakyat Wadas menolak bendungan dan dituntut untuk berkorban sebagai bentuk nasionalisme mereka. Apakah bendungan benar-benar diperlukan dan solusi terbaik untuk irigasi pertanian, dan ataukah itu hanya siasat untuk tambang yang merupakan jalan bagi pemiskinan struktural? Kapitalisme tentu saja adalah agama baru dari sebagian besar kita yang lebih sibuk membicarakan wacana toleransi dan kebinekaan serta “kejahatan agama-agama” seperti Islam).
Menurut pola sejarah, untuk mengakhiri semua kerusakan dan kehancuran itu, setelah berulang kali kehidupan untuk memberi kesempatan kepada setiap jiwa, maka pada saat bisul sudah semakin besar, barulah akan meledak. Jadi, ini sudah lebih dari 2000 tahun bagi seluruh bangsa Israil (menurut definisi saya itu), dan mungkin dalam waktu dekat akan meledak, untuk selesai selama-lamanya. Jika pun tidak dalam waktu dekat, karena sudah 100 kali kesempatan, waktunya tidaklah lama lagi dalam tujuh kali lagi kesempatan terlahir kembali.
Rahayu Sabat. Semoga bimbingan Enokh, Eliyahu, Yesus, dan Al-Mahdi dalam setiap pikiran dan tindakan kita. Amin, amin, amin.
Siddhamastu,
Syekhah Hefzibah RA Gayatri Wedotami Muthari.
#Nafsiologi
