*Mukadimah*
Kekristenan memiliki hubungan yang sangat erat dengan Sufisme khususnya mazhab Sufi Bektashiyah. Hal ini karena Bektashiyah berkembang di wilayah Kekristenan Barat dan Kekristenan Timur, khususnya di Dimetoka, tujuh daerah yang disebut dalam Injil Wahyu, dan sebelah timur, tenggara, hingga selatan Anatolia (Turki saat ini), kemudian menyebar ke seluruh wilayah yang termasuk dalam Kekaisaran Romawi dan Ottoman sampai ke Rusia.
Dalam tulisan kali, hubungan eratnya justru adalah pada Hari Natal dan Santa Klaus. Jadi, sepertinya, bukan Muslim yang melakukan tasyabuh kepada Kristen dalam perayaan Natal dan memakai topi Santa Klaus, melainkan kaum Kristen imperialis-konsensus yang tampaknya melakukan tasyabuh kepada kaum Sufi — khususnya Bektashiyah.
Bektashiyah berkembang dari sanad Sayyid Bektash Wali (w. 1271 M) yang merupakan murid Babaiyah dan Yasawiyah, dan keturunan Sayyidina Musa Kazim (w. 799 M). Sebelum berdirinya kekhalifahan Ottoman pada abad ke-16 (sebelumnya adalah kesultanan Ottoman), sanad Bektash Wali belum disebut sebagai Bektashiyah sampai kemudian diunifikasi dan pada umumnya murid-murid Bektash Wali bermazhab fikih Hanafi.

(Bektash Wali & Sari Saltuk)
*Perayaan Natal*
Perayaan Natal merupakan perayaan yang dapat ditelusuri dari agama-agama Mesopotamia dan Hellenisme, terutama agama misteri Tammuz dan Dionisius. Menurut sebagian sejarawan, ditemukan bahwa orang-orang Mesopotamia merayakan Tammuz berkaitan dengan musim dingin, dimulai dari winter solstice pada 21 Desember, dan Tammuz bangkit pada hari ketiga, sehingga pada malam 24 Desember ia pun dirayakan dengan sukacita. Ritus transubstansi biasanya dilakukan untuk menapaktilasi, sehingga para peserta merasa terlibat dalam momen hierofani kematian, kebangkitan, dan kelahiran kembali Tammuz atau pun Dionisius.
Ada pula sejarawan yang berpendapat bahwa orang-orang Kristen telah merayakan Natal pada 25 Desember sebelum Sol Invictus dimapankan oleh agama imperial Romawi pada abad ke-3 M. Apapun itu, mitologi mengenai dewa yang senada dengan mitologi Yesus Kristus yang populer, dapat kita jumpai dalam banyak versi jauh sebelum era munculnya mitologi Yesus Kristus. Begitu pula kebaktian, doktrin, dan tradisi yang dapat kita temukan dalam agama-agama misteri (yaitu agama-agama Hellenisme).
Dalam Buyruk Alfurqan, indikasi yang jelas adalah Yesus Kristus lahir berkaitan erat dengan Konjugasi Agung (yaitu peristiwa konjugasi Saturnus dengan Yupiter), sebagaimana diceritakan dalam dongeng-dongeng Injil mengenai bintang Betlehem. Ada beberapa tahun yang masuk akal bahwa peristiwa historis yang mengilhami mitologi tersebut adalah pada 1 Oktober 6 SM, 6 Desember 6 SM, dan 26 Desember 14 M. Di antara tanggal-tanggal inilah terjadi kelahiran salah satu mursyid perawi yang kemudian kita kenal sebagai Yesus Kristus.
Bangsa Israil memang tidak memiliki kebiasaan merayakan hari kelahiran sosok resi mereka, sampai masa penjajahan Romawi, dan naturalisasi mereka di wilayah Persia dan Romawi.
Sufisme berarti salah satu bentuk tradisi sampradaya dalam rumpun agama-agama Mesopotamia, tepatnya rumpun agama Kearifan Sinai, yaitu agama-agama yang menerima transmisi mengenai Kisah Sinai. Tradisi sampradaya berarti transmisi personal dari seorang guru kepada murid dalam suatu sanad yang terus berkelanjutan. Hal ini, berarti metodologi agama yang berbeda dengan agama-agama misteri sebagai agama rakyat.
Ketika suatu tarekat Sufi menjadi agama rakyat karena popularitasnya, seperti Alevisme dari Bektashiyah, maka ada pemisahan yang jelas antara muhib sebagai talib dan muntasib yang belajar secara sampradaya, dengan muhib sebagai ashik yang belajar secara massal, serta dengan ashik secara umum yang tidak menerima otoritas spiritual Muhammad SAW maupun Yesus Kristus.
Suatu agama rakyat yang merupakan suatu agama konsensus dapat diambil oleh suatu penguasa sebagai agama imperial-konsensus. Agama konsensus berarti menyepakati suatu atau beberapa sosok legenda yang diglorifikasi, slogan yang populer, ritus yang dijalani, hikmah dan doktrin dari sastra sakral yang berasal dari para sosok legenda dan resi yang diglorifikasi itu, dan seterusnya. Konsensus berarti jumlah jemaat yang banyak, sedangkan imperial berarti suatu wilayah (kekaisaran) yang luas.
Karena itulah, jika kemudian dalam tradisi sampradaya ada diriwayatkan mengenai kelahiran Bunda Maria maupun Yesus Kristus, kemudian menjadi populer, maka terbentuklah konsensus, baik secara formal maupun informal. Jadi, tidaklah begitu penting apakah Yesus Kristus benar-benar lahir pada 25 Desember.
Transmisi yang saya terima sejalan dengan sebagian sejarawan yang mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan seperti “Yesus adalah Putra Tuhan” dan “Maria adalah Bunda Tuhan” adalah slogan-slogan politik yang dimaksudkan oleh para Sufi saat abad pertama Masehi untuk melawan dan menghadapi penjajahan Romawi. Kekaisaran Romawi pada masa awal berdirinya mengobarkan slogan Kaisar adalah Tuhan dan semacamnya untuk melegitimasi kekuasaannya serta penindasannya. Terutama semenjak Kuil Yerusalem hancur pada 70 M.
Ya, seperti halnya Bektashiyah, pada awalnya juga gerakan dan tradisi sampradaya dari rumpun Kearifan Sinai tidak disebut Sufisme, melainkan dalam nama-nama lain seperti Nazariyah dan Rahabiyah.
Jika tradisi sampradaya bermakna sesuatu yang bersifat internal, yakni kaderisasi para talib, murid, dan muntasib untuk menyintaskan transmisi, maka gerakan adalah sesuatu yang bersifat eksternal, yaitu para talib, murid, dan muntasib yang mewujudkannya di luar tekke mereka dalam berbagai revolusi dan evolusi sosial. Semenjak masa penjajahan Persia, gerakan itu berfokus kepada melawan dan mengguncang tanduk-tanduk imperialisme, terutamanya dalam memapankan jejaring dagang yang telah ada mengikuti jalur dagang purbakala semenjak 1000 SM.
Demikianlah pula gerakan Sufi yang dipimpin oleh sosok-sosok yang disebut Zakaria, Yahya atau Yohanes Pembaptis, Hannah, Yoakhim, Maria, Yusuf, Yesus, Marta, Magdalena, Yusuf Arimatea, dan seterusnya.
Karena itulah pada sekitar abad 3 M, manakala terjadi Wabah Antonia, para abdal Sufi yang biasanya juga menerima transmisi ilmu pengobatan, mereka mengobati dan menyembuhkan banyak orang yang terpapar. Akhirnya, banyak orang di Anatolia dan sekitarnya akhirnya memuja Yesus Kristus di altar-altar mereka, dan menggantikan dewa-dewa lain dalam agama-agama misteri mereka. Inilah salah satu faktor berkembangnya agama sampradaya Kristen menjadi agama rakyat.
Saya tidak sependapat dengan sebagian sejarawan atau teolog yang mengatakan bahwa Paulus melakukan Kristenisasi terhadap orang-orang Non-Israil, tetapi penafsiran terhadap misi Paulus yang bersifat Manifest Destiny adalah interpolasi (yaitu memasukkan unsur baru ke dalam teks).
Yang dimaksud sebagai bangsa-bangsa atau goyyim adalah Peranakan Israil yang telah berada dalam berbagai suku berbeda, karena diaspora Israil dan perkawinan mereka dengan orang-orang asing dan Trans-Semit lainnya (kabilah-kabilah selain Israil yang menerima Kisah Sinai) yang di antaranya juga meliputi Israilisasi dan bahkan Yudaisasi. Israilisasi itu juga termasuk adanya sejumlah kecil agama rakyat setempat yang menerima Dekalog/Alfurqan, misalnya Hipsistarian. Komunitas ini sulit dipastikan apakah Peranakan Israil atau agama adat Hellenisme yang mengadopsi Dekalog/Alfurqan.
Jadi, Paulus mengajar di tekke-tekke atau di kota-kota yang sudah terdapat tekke-tekke tempat para muhib dan talib yang telah menerima Kisah Sinai, seperti Hipsistarian itu maupun Yahudi dan kelompok lainnya. Di pertengahan jalan, musahiplik di antara Paulus atau Saul dengan Barnabas atau Thomas berakhir — tampaknya karena masalah pribadi. Cerita-cerita dalam “Kisah Para Rasul” atau bisa juga dikatakan sebagai “Kisah Para Mursyid Perawi” mengandung seluruh unsur tradisi sampradaya yang masih dapat ditemukan dalam Sufisme, khususnya Bektashiyah.
Akibat sejarah panjang kolonialisme Romawi, Kekristenan pada hari ini, baik Barat, Timur, maupun Oriental dan New Age, telah kehilangan tradisi sampradaya yang bersanad sebagaimana Sufisme. Namun, pada abad pertama hingga empat Masehi, Kekristenan di Anatolia masih mempraktekkan Sufisme atau tradisi sampradaya dan dapat dikatakan sebagai “Paleo-Bektashiyah” sebagaimana terserlah dalam Injil Wahyu.
Dalam Injil Wahyu (3:4-5) telah direkam mengenai para talib dan muntasib yang setia dengan perumpamaan pakaian putih mereka, yaitu pakaian yang biasa dikenakan para Sufi sejak dahulu kala, yang dilanjutkan oleh sebagian kaum biarawan Kristen dan kemudian para darwis Sufi Islam. Itu sebabnya, warna kain ihram yang disyaratkan haruslah putih.
Manakala Kristen sampradaya yang populer menjadi agama rakyat itu kemudian disabotase oleh kekaisaran Romawi menjadi agama imperialis-konsensus, maka tidak sedikit para darwis Kristen yang menyepi dan dari merekalah lahirlah tradisi monastik yang awalnya menolak atau menghindari bentuk agama imperialis-konsensus dan perselisihan di antara berbagai mazhab teologi (untuk berkuasa dan menanamkan pengaruh di wilayah kekaisaran).
Naturalisasi dalam Kristenisasi ini sebelum menjadi agama imperialis-konsensus kerap kali disederhanakan, diabaikan, atau diremehkan karena bingkai pemahaman berasal dari pola pikir agama imperialis-konsensus mengenai kemurnian, sehingga konotasi sinkretisme, hibrida, akulturasi, dan asimilasi menjadi hina dan buruk.
Yang jelas adalah Gerakan Maria yang melahirkan sosok Yesus Kristus menggunakan berbagai perumpamaan, slogan, simbolisme dan ritual untuk menyintaskan transmisi (baca: kaderisasi) secara internal dan menekuni gerakan sosial kemanusiaan secara eksternal. Oleh karena itu, pastilah melakukan naturalisasi, yaitu menggunakan simbol-simbol populer, mensabotase bahasa dan mitos (sebab mitos adalah bahasa) dalam sastra sakral baik sastra lisan maupun sastra tulis, dan juga memperbaharui berbagai majlis pengajian yang akrab dengan konteks saat itu untuk menyintaskan transmisi.
Tujuh tekke di Asia Kecil atau Anatolia (Wahyu 1-3) adalah tujuh tekke yang bersanad kepada Yohanes (Yohanes Patmos; Yohanes Sang Ahli Kalam; Yohanes Sang Perawi), musahip Yesus Kristus yang menerima nubuat dari Yesus Kristus mengenai munculnya mursyid perawi selanjutnya yang seorang nabi dan gerakannya serta bagaimana gerakannya itu kelak disabotase juga sebagaimana gerakan mereka. Itulah Gerakan Islam, itulah Gerakan Muhammad.
Namun, tujuh tekke itu mendapat peringatan khusus yang sangat spesial dari Yesus Kristus! Mengapa? Saya juga bertanya-tanya, dan mungkin jawaban saya berunsur egosektarian. Tujuh tekke itu adalah Smirna, Tiatira, Pergamum, Efesus, Sardis, Filadelfia, dan Laodikea yang kelak di wilayah itu akan menjadi kantong-kantong para abdal Bektashiyah baik tradisi Babagan, Alevi, maupun yang lainnya.
Setelah Ottoman merebut Konstantinopel, keturunan mereka yang berada di daerah tujuh tekke itu memilih menjadi Sufi, terutama Bektashiyah. Artinya, setelah menerima sanad dari Yohanes, dan terputus selama beberapa abad, mereka kembali ke ocak Yesus Kristus dengan menerima sanad dari Thomas Barnabas, sebab Gerakan Muhammad juga menerima sanad dari Thomas Barnabas. (Ocak: bait, ndalem, focolare, rumah tangga, gurukula).
Dari semenjak Paleo-Bektashiyah kepada Proto-Bektashiyah sehingga Bektashiyah dan Neo-Bektashiyah, hari-hari raya dari zaman Enokh (Khidir atau Idris) telah dipelihara dan selalu diperbaharui. Jika ada summer equinox, yang dirayakan dalam Nowruz setiap bulan Maret (tanggalnya bisa berbeda-beda dan ada tekke yang selalu merayakan pada 21 Maret), maka begitu pula dengan winter solstice sudah pasti telah dirayakan Paleo-Bektashiyah.
Sebagai orang-orang Persia, Turk, dan Kurdi, perayaan winter solstice mereka yang masih dipelihara antara lain seperti sahb yalda di kalangan orang Persia dan gağan (baca: gajan) di kalangan orang Turki. Perayaan itu biasanya berlangsung pada puncaknya tanggal 21 Desember, tetapi keseluruhan berlangsung selama 40 hari, atau berakhir pada minggu pertama Januari. Idulgajan di Lembah Munzur dirayakan setiap Kamis terakhir bulan Desember. Lembah Munzur terletak di sebelah timur Anatolia, di negeri yang dulu dikenal sebagai Dersim (sekarang Tunceli) dan merupakan satu-satunya provinsi dengan mayoritas penduduknya orang Kurdi Alevi.
Jika berdasarkan Idulgajan itu, maka dapat dimengerti jika Yesus Kristus diceritakan lahir pada 25 Desember. Bersamaan dengan Konjugasi Agung pada Jumat, 26 Desember 14 M, tampaknya mursyid perawi dalam Gerakan Maria lahir pada Kamis, 25 Desember 14 M. Baik makna “lahir” di sini adalah secara harafiah maupun secara gerakan, yaitu akhirnya terdapat regenerasi gerakan dari tradisi sampradaya ini. Dalam buku “Petualangan Yohanes bersama Muhammad dalam Alkitab” saya menjelaskan lebih lengkap mengenai hal ini.
Baik orang Persia maupun orang Kurdi yang merayakan winter solstice (dan summer equinox juga) merayakannya secara sosial keagamaan, sehingga antara orang Kristen, Islam, Majusi, dan Yahudi dapat saja memiliki makna-makna dan dongeng-dongeng yang berbeda-beda. Namun, fungsi spiritual dan sosial yang sama dalam momen yang sama pula. Perayaan winter solstice sama purbanya dengan perayaan summer equinox.
Jadi, mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang Kristen imperialis-konsensus yang memapankan perayaan winter solstice itu untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus sebenarnya yang bertasyabuh kepada orang-orang Paleo-Bektashiyah dalam merayakan winter solstice untuk memperingati regenerasi sampradaya Gerakan Maria sebagaimana makna Idul Gajan adalah juga regenerasi.
Betapa perumpamaan, simbolisme dan ritual telah dimanfaatkan dalam masyarakat purbakala untuk mewujudkan pikiran, perasaan, dan harapan mereka tentang kosmologi, untuk menyintas, tentang menyintaskan transmisi, dan sebagainya, sehingga menjadi lebih estetik, menyenangkan, dan. Namun, kini, dalam masyarakat modern, apa yang dilakukan oleh orang-orang arif purbakala itu telah direduksi ke dalam perdebatan mengenai kemurnian dan penjiplakan yang recehan. Hal ini terutama terjadi karena bingkai pemahaman berdasarkan pola pikir dan mentalitas imperialism dan kolonialisme.

*Santa Klaus*
Tokoh yang biasa muncul menjelang Natal adalah Santa Klaus atau Sinterklaas. Hari Sinterklaas misalnya dirayakan secara khusus dalam tradisi menjelang Natal di Belanda pada tiap 6 Desember, yang merupakan Haul Santo Nikolas. Bersama-sama Sinterklaas terdapat Piet yang berkulit hitam dan menghukum anak-anak yang nakal (dengan sapu lidi) sehingga mereka tidak mendapat hadiah. Tradisi dari Belanda (atau tepatnya negeri-negeri Dataran Rendah termasuk Belgia dan Luxembourg) inilah yang konon menyebarluas sampai ke tempat-tempat lain.
Konon, sosok Santa Klaus mengambil model Santo Nikolas yang wafat pada 6 Desember 343 M, yang dikenal sebagai Nikolas Yang Mengerjakan Keajaiban dan santo yang biasa memberikan hadiah secara rahasia. Santo Nikolas berasal dari Myra, Anatolia (sekarang Demri, Turki), di sebelah selatan Turki yang hangat dan tidak bersalju putih.
Namun, model Sinterklaas ini yang juga senada dengam Ayah Musim Dingin yang merupakan sosok mitologis seorang kakek, berjanggut putih, dan gemuk. Ayah Musim Dingin muncul dalam berbagai nama lokal di negara-negara berbahasa Slavia dan bekas Uni Soviet, serta di Mongolia juga ada sosok yang senada. Ada yang muncul bersama cucu perempuannya, seorang gadis, atau bersama istrinya (yang ini terutama di Finlandia dengan nama Joulupukki, atau Kambing Natal).
Di samping itu, model Sinterklaas juga tumpang tindih dengan Amu Nowruz, yaitu tokoh serupa tetapi hanya muncul pada waktu Nowruz yang dirayakan orang-orang Persia. Yang menarik, Amu Nowruz muncul bersama Haji Firuz, seorang berkulit hitam yang menyenandungkan syair riang dan jenaka.
Pakar sejarah Sufisme Turki bernama Prof. Cavit Sunar dan etnologis Dr. Belkis Temren berpendapat bahwa sosok Santa Klaus sebenarnya bukan mengambil model dari Santa Nikolas (yang biasa digambarkan kurus dan tidak berjanggut putih). Namun, berdasarkan cerita-cerita dalam Vilayatname, Seyahatname (karya Evliya Celebi), dan Saltukname, serta sejarah lisan dalam komunitas-komunitas Bektashiyah, sosok sebenarnya di balik Santa Klaus adalah Sari Saltuk. Siapakah Sari Saltuk?
Alkisah, dalam suatu perjalanan ke Balkan, seorang pangeran Ottoman bernama Semah Sultan menyimak legenda Sari Saltuk dengan begitu antusias. Ia kemudian memerintahkan legenda-legenda itu dikompilasi dalam suatu buku oleh Abu Al-Khairi Rumi. Dari situlah, dua ratus tahun setelah wafatnya Sari Saltuk, pada 1480, kita menemukan teks Saltukname.
Muhammad Bukhari Sari Saltuk lahir di Bukhara, Asia Tengah, entah kapan, dan meninggal di Babadag, Romania pada 1297, sekitar 27 tahun setelah wafatnya Sayyid Bektash Wali. Keduanya berasal dari Khorasan, Persia (Iran saat ini), atau persisnya orang tua mereka adalah imigran dari Khorasan. Ia merupakan murid dari mursyid perawi dari sanad Ahmad Rifai (Rifaiyah) dan juga murid dari seorang mursyid yang bersanad kepada Bektash Wali yaitu Mahmud Hairan.
Diceritakan bahwa suatu ketika Sari Saltuk diperintahkan ke Anatolia untuk menemui Haji Bektash Wali. Kemudian, pergilah ia dan sampai di daerah yang disebut Suludja Karahoyuk. Saat di sana, ia bermimpi melihat Haji Bektash Wali sedang berada dalam kamar untuk bertapa brata dan dalam tapa brata itu ia mengambil air dari mata air zamzam. Saat berjalan mengambil air, beliau melihat dirinya sebagai seorang penggembala bersama dombanya.
“Siapa namamu?” tanya Haji Bektash Wali atau Sayyid Hunkar. “Namaku Sari Saltuk,” jawab penggembala. Lalu Sayyid Hunkar pun berkata, “Sari, ayolah, jangan tunda lagi! Kami akan mengirimmu ke Rum (Balkan).” Lalu Sari Saltuk bertanya apa yang mesti ia lakukan terhadap domba yang digembalakannya. Sayyid Hunkar menjawab, “Jangan pergi sampai pemilik domba itu datang. Setelah itu, pergilah ke Tapduk Emre dan sampaikan salam kami padanya. Biarkanlah ia memberikanmu sebilah pedang dan seorang kamerad. Barulah setelah itu, pergilah engkau ke Rum (Balkan). Jika engkau menemui kesulitan, panggillah nama kami!”
Setelah itu (terbangun dari tidurnya), Sari Saltuk pun pergi menemui Tapduk Emre (yang juga mursyid Yunus Emre) dan menyampaikan salam serta pesan Sayyid Hunkar kepadanya. Tapduk Emre pun memberi sebuah panah dan tujuh anak panah. Lalu, diberikan pula kepada Sari Saltuk sebilah pedang dari kayu, dan dua abdal untuk menemani perjalanannya yaitu Ulu Abdal dan Kisil Abdal, serta selembar sajadah. Untuk perjalanan ini, mereka akan diawasi oleh Hazrat Enokh (Nabi Khidir atau Nabi Idris).
Perjalanan tersebut dimulai dari waktu semah Idulgajan pada 21 Desember ketika rasi Sagitarius bergerak ke rasi Capricorn. Pada 22 Desember, Sari Saltuk meletakkan sajadahnya di tepi Laut Hitam, di pantai Sarikum dekat Sinop, dan memulai perjalanan bersama dua abdal kameradnya. Pada pokoknya, sajadah itulah yang membawa mereka menyeberangi Laut Hitam sampai ke Dobruja, di dekat kastil bernama Kaliakra, di dekat sungai Danube yang mengalir sampai Laut Hitam. Mereka berjalan di atas air pada saat matahari terbit 25 Desember.
Saat tiba di Kaliakra, Sari Saltuk melihat penduduk setempat merasa sedih. Setelah bertanya, mereka menjawab bahwa anak-anak dan harta mereka dibawa oleh seekor naga berkepala tujuh ke dalam sebuah gua. Pendek cerita, Sari Saltuk melawan naga itu dengan berani, memanah tujuh kepalanya dengan tujuh anak panah pemberian Tapduk Emre. Namun, naga itu tidak juga mati dan malah makin mengamuk. Naga itu menerkam Sari Saltuk dengan taringnya, sehingga Sari Saltuk berseru memanggil mursyidnya, “Oh Hunkar Bektash Wali!”
Mendengar seruannya, Nabi Khidir pun menyelamatkan Sari Saltuk dengan menyuruhnya mengambil pedang yang ada padanya, dan dengan sekuat tenaga Sari Saltuk membelah naga itu dengan pedang kayu yang diberikan kepadanya. Lalu, mereka pun mencari anak-anak yang diculik. Namun, mereka tidak menemukannya.
Maka, Sari Saltuk berpikir bahwa anak-anak itu pasti bersembunyi di kedalaman gua karena sangat ketakutan, dan dia pun memiliki ide. Sari Saltuk lalu meminta dua abdal kameradnya untuk mengambil buah pinus dan membuat mainan kayu dan menaruhnya di dalam kaos kaki mereka. Setelah itu, mereka membuat lampu yang terang dan masuk ke kedalaman gua sehingga anak-anak itu dapat ditemukan dan tidak merasa takut, melainkan bergembira melihat mainan dan hadiah dari Sari Saltuk dan dua abdal kameradnya.
Peristiwa itu berlangsung saat malam telah tiba, dan penduduk desa di sekitar kastil Kaliakra telah menyalakan lentera-lentera di antara pepohonan pinus. Sari Saltuk dan dua abdal kameradnya membawa anak-anak itu keluar dari gua dan harus melalui salju lebat di antara pepohonan pinus. Maka, mereka membuat papan luncuran kayu dan pulang dengan meluncur. Akhirnya, anak-anak itu pun tiba dengan selamat kembali ke rumah orang tua mereka.
Sambil mengantarkan tiap anak ke rumah orang tua mereka, dia berkata, “Hu! Hu! Hu!” yang merupakan zikir yang khas diucapkan para Sufi. Lalu, Sari Saltuk memberkati tiap anak. Orang tua mereka melihat sang waliullah mengenakan jubah merah berhias hijau dan topi runcing. Di tempat ini (Dobruja), warga setempat masih memanggil Sari Saltuk sebagai Aya Nikola, yang berarti Juru Selamat dari Laut.
Diceritakan lagi bahwa anak-anak itu kemudian makan malam bersama orang tua mereka dan terkejut mereka mengetahui bahwa tiga pria itu adalah Muslim Turki. Namun, orang tua mereka yang adalah orang-orang Kristen itu kemudian menyuguhkan amer (wine) kepada mereka sebagai ucapan terima kasih. Garam juga disuguhkan di atas meja.
Merupakan tradisi di kalangan Bektashi bahwa garam harus disajikan dalam perjamuan makan atau sofra Bektashi karena sofra Bektashi harus dimulai dan diakhiri dengan garam. Mereka kemudian makan bersama seperti Perjamuan Terakhir dengan memecah roti dan minum amer. Sambil makan-makan, mereka juga bersohbet secara guyub.
Tentu saja dongeng ini mengandung alegori dan simbolisme mengenai kedatangan para darwis Bektashi ke Balkan melalui murid-murid Sari Saltuk manakala mereka membuka tekke. Setidak-tidaknya menurut klaim mereka yang berasal dari tradisi Babagan. Dalam dongeng ini terdapat kisah mengenai zikir Hu tiga kali, pohon pinus yang diberi lentera, dan berbagai unsur yang dapat ditemukan dalam dongeng-dongeng Santa Klaus.
Baba Mahmud Erik Aydin yang menceritakan kembali kisah ini mengklaim hubungan dongeng Santa Klaus yang populer dengan Sari Saltuk dengan melihat zikir “Hu! Hu! Hu!”, busana Sari Saltuk dari wol yang tebal (yang tidak cocok dengan udara hangat di selatan Turki), serta pohon cemara berhias lentera.
Legenda Sari Saltuk masih hidup di Balkan sampai saat ini. Sementara tetangga-tetangga Kristen merayakan Natal, orang-orang Bektashi memberikan hadiah kepada tetangga-tetangga Kristen mereka dan anak-anak mereka. Orang-orang Bektashi itu memberikan hadiah Natal sambil berwasilah kepada Sari Saltuk yang merupakan manifestasi ilahiah sebagaimana matahari yang terbenam dan terbit kembali setelah masa winter solstice.
Bagi orang-orang Bektashi, tidaklah penting apakah dongeng tersebut historis atau tidak. Namun, berbagai perumpamaan, simbolisme, dan ritual di dalam setiap sastra lisan dan tulisan dari para mursyid selalu memiliki banyak lapisan makna. Makna-makna itulah yang diajarkan pada sofra oleh para mursyid untuk mengantarkan para talib kepada hakikat. Di Balkan, karena itulah pula, hari Natal juga berarti Sari Saltuk Bayram atau hari raya Sari Saltuk.
Mungkin, dari dongeng yang berasal dari abad ke-13 M dan dicatat pada pada ke-15 M itu, saya bisa pula mengklaim bahwa tradisi Sinterklaas dari Belanda itu pada awalnya berkembang dari Balkan dari sosok Sari Saltuk, setelah diramu dengan kisah Santa Nikolas dari Turki, Ayah Musim Dingin, dan Amu Nowruz. Sebelum dimapankan oleh wong Londo, melalui sosok Sari Saltuk inilah Santa Klaus menjadi sosok legendaris yang kokoh.
Orang-orang Belanda itu kemudian membawa sapu lidi dari Nusantara ke dalam tradisi mereka memapankan Sinterklas, dengan kisah Sinterklas naik kapal datang dari Spanyol ke Belanda. Kemudian mereka mempopulerkannya ke benua Amerika terutama Amerika Serikat dan Suriname. Demikianlah sebagai sarjana sejarah, saya dapat menyimpulkannya untuk sementara waktu. Jangan lupa, banyak orang Belanda adalah orang-orang Yahudi! Jadi, orang-orang ini biasa berhijrah dan melakukan perjalanan dagang ke Balkan, Rusia, dan wilayah Ottoman.
Di samping itu, sebelum kekhalifahan Ottoman berdiri pada abad 16 M dari suatu kesultanan yang ambisius, sosok-sosok santo dan waliullah lainnya bertumpang tindih dengan Sari Saltuk, misalnya Santo Spyridon dan Santo Naum, sebagaimana halnya Bektash Wali yang tumpang tindih antara lain dengan Santo Beathan. Apalagi menarik ketika mengetahui bahwa Santo Beathan berarti seseorang yang berambut pirang beruban, dan sosok Bektash Wali juga mirip Santa Klaus jika berpakaian seperti dirinya.

(patung Sari Saltuk)
*Penutup*
Orang-orang Bektashi secara internal tidak merayakan Idulfitri dan Iduladha, karena memandang dua hari raya tersebut sebenarnya tidak dirayakan oleh Muhammad SAW. Namun, kami merayakan antara lain Nowruz, Idulkhidirliyas, dan Asyura. Hari raya winter solstice dirayakan secara berbeda karena tidak semua tempat mengalami musim dingin yang sama. Idulkhidirliyas (Hidirellez) dirayakan pada hari yang sama dengan hari raya Santo George di sejumlah tempat.
Kisah semacam ini menunjukkan bahwa agama rakyat yang umumnya merupakan agama natural sesungguhnya tidak begitu mempedulikan kemurnian, keotentikan, dan masalah tasyabuh sebagaimana agama imperial-konsensus. Namun, seperti dilukiskan bagaimana orang tua Kristen menjamu tiga abdal Bektashi, dan setiap orang merayakan entah winter solstice, summer equinox, atau hari raya panen dalam keyakinan komunitas adat atau suku masing-masing. Yang terpenting adalah, meski meyakini hal-hal berbeda atau ritus yang sedikit berbeda, mereka hidup berdampingan dengan harmonis, dan merayakan peristiwa-peristiwa alam pada momen yang sama dan saling memberi pula. Entah memberi hadiah, makanan, atau menjamu dalam pesta meriah bersama-sama.
Selamat Natal dan Tahun Baru. Allah bir Muhammad Ali.
Siddhamastu,
Syekhah Hefzibah.
*Rujukan tambahan: edisi lengkap Buyruk Alfurqan tahun 2021.
*Disclaimer: sanad Daudiyah tidak berasal dari Balim Sultan sebagaimana halnya tradisi Babagan yang berkembang di Balkan dan Makedonia. Namun, tradisi Daudiyah mengakui kewalian Sari Saltuk, Sayyid Nessimi, Virani, Yunus Emre, Gul Baba, Kul Himmet, dan Shah Ismail sebagaimana tradisi Alevi, Babagan, Sari Saltuk, dll.
*Babadag muncul sebagai kota asal leluhur Svetlana, tokoh dalam novel perdana saya “Tarian Kabut” (2014).
