*MENGAPA NAMA ‘ISA (عِيسَى) BUKAN YSU’ (يَسُوع) DALAM ALQURAN?*

Dua filolog yaitu Dr. Guillaume Dye dan Dr. Manfred Kropp memberi penjelasan mengenai penggunaan nama ‘Isa (عِيسَى) dalam Alquran, yang memang merupakan bentuk skripturalisasi nama ‘Isa (عِيسَى) dari bahasa penuturan yang dipilih pada masa generasi salaf Muhammad (632-705 M).

Menurut Nafsiologi, proyek skripturalisasi secara serius dilakukan sepeninggal Fatimah Az-Zahra, dipimpin oleh dua putranya Imam Hasan Al-Mujtaba dan Imam Al-Husain.  Namun, setelah Imam Ali ibn Abi Talib meninggal dunia, proyek tersebut dipimpin oleh saudara mereka yang berbeda ibu, yakni Imam Muhammad Al-Hanafiyyah (661-694 M).

Kemudian, Imam Muhammad bernegoisasi dengan khalifah Abdul Malik (memerintah 685-705) agar Ahlulbait Al-Islam tidak diganggu, dan mengingatkan kekaisaran yang mengklaim (gerakan) Islam dari Nabi Muhammad itu untuk sepenuhnya menjalani Alquran. Karena mushaf warisan dari Fatimah Az-Zahra telah disalin, atau tepatnya diskripturalisasi ulang mengingat jumlah Muslim yang telah banyak.

Gubernur Al-Hajjaj mengambil kesempatan itu untuk melakukan kanonisasi Alquran demi membersihkan nama dinasti Umayyah akibat Tragedi Karbala pada 680 M. Kemudian, mengklaim kanonisasi pertama dilakukan oleh khalifah Usman, tapi menyita mushaf Usman dan mushaf-mushaf yang diwarisi dari para murid Nabi Muhammad lainnya.  Beberapa murid Imam Muhammad berada di dalam kepanitiaan, dan menggunakan skripturalisasi terbaru dari Imam Muhammad.   

Ada banyak cara menuturkan nama <<‘Ysu>>  dari bahasa Ibrani-nya, bahasa yang serumpun dengan bahasa Arab, Aram, Suryani, Geetz, Amharik, Akkadia, dll. Dalam bahasa Ibrani sendiri nama <<‘Ysu>>  (יֵשׁוּעַ‎ ) dituturkan dalam banyak dialek. Dialek Samaria, misalnya, kadang-kadang lebih mirip dengan bahasa Geetz daripada bahasa Ibrani untuk pelafalan sejumlah kata.  

Dua filolog yaitu Dr. Guillaume Dye dan Dr. Manfred Kropp memberi penjelasan mengenai penggunaan nama ‘Isa (عِيسَى) dalam Alquran, yang memang merupakan bentuk skripturalisasi nama ‘Isa (عِيسَى) dari bahasa penuturan yang dipilih itu.

Dalam bahasa Arab yang dituturkan hari ini, kadang-kadang ada kecendrungan untuk menambahkan suatu ‘ain dalam kata yang dipinjam atau kata asing yang diarabisasi. Misalnya, dalam penuturan Arab modern, kata “makaroni” yang dipinjam dari kata Italia “maccheroni” menjadi “ma’karûna”.

Dalam berbagai dialek bahasa Aram nama Yesus dituturkan sebagai <<‘Ysu>> – dengan berbagai variasi bentuk dalam dialek Aram belakangan, misalnya <<Ysw’>> dalam Suryani, dilafalkan <<Yêšû‘>> dalam dialek Suryani Barat, dan Κô‘ dalam dialek Suryani Timur.

Namun, dalam pengucapan Suryani Timur itu, <<‘ayn>> di belakang nama Κô‘ dihilangkan menjadi <<Κô>> saja.

Variasi dialek yang digunakan dalam Alquran dicontohkan oleh Dye dan Kropp antara lain dalam nama Solomo atau Sulaiman. Kata Suryani untuk itu adalah <<Šlîmûn>> sedangkan dalam Alquran, dialek yang digunakan adalah <<Sulaymân>> dimana huruf diganti <<š>> dengan huruf <<s>> sebagaimana dalam nama <<‘Îsâ >>.

Maka, kita bisa menemukan hal-hal sebagai berikut untuk nama Yesus.

(a) Sebagaimana dalam Suryani Timur, maka <<‘ayn>> pada akhir nama dihilangkan, menjadi <<‘Îsâ >> dalam pengucapan.

(b) Jadi, jika Suryani Timur dialek-nya <<ô>> maka dialek Nabatea adalah <<â>>,

(c) Jika dalam Suryani dialeknya adalah <<š>> maka dalam dialek Nabatea <<s>>,

(d) Penambahan <<’ayn>> di awal nama, mendahului  <<ya>>

Ini juga bisa dilihat dalam kasus Amos 1:8. Kota <<Askalon>> sering disebut dalam Alkitab.

Kata Arab untuk <<‘asqalân>> atau <<‘asqulân>> mesti dibandingkan dengan kata <<’ašqalûn>> dalam Suryani dan <<’ašqelôn>> dalam Ibrani. Di sini kita melihat perubahan << alif (’)>> menjadi <<‘ayn (‘)>> pada awal nama, begitu pula perubahan <<š>> menjadi <<s>> dan perubahan dialek << ô >> maupun <<û>> kepada << â>>.

Dalam “La fondation de l’Islam (2002)” A.L de Prémare telah menyebutkan penemuan arkeolog Y. Nevo di wilayah Nejev, yaitu grafiti dari masa Antiquity menjelang kelahiran Muhammad yang menuliskan dialek tersebut, yaitu «‘Îsâ». Ini menunjukkan formulasi «‘Îsâ» selain yang digunakan dalam skripturalisasi Alquran, sebelum Alquran dikanonisasi.

Hal yang serupa terjadi kepada nama Yohanes. Mengapa Alquran menyebutnya sebagai Yahya dan bukan Yohanes?

Kata “Yahya” adalah perubahan dialek dari kata “Yuhanna” dari bahasa Ibrani-nya “Yohannan”. Dalam dialek Nabatea yang dituliskan dan ditemukan di Nabatea, penulisan secara konsonan duktus atau Arab gundul tanpa manual dan tanpa diakritik adalah << ىحٮ >> yang dapat dibaca sebagai Yahya maupun Yuhanna.

Menurut Nafsiologi, pemilihan skripturalisasi sejumlah “proper name”, toponim, dan nama-nama lain menurut dialek tertentu dalam Alquran, khususnya dialek yang biasa digunakan para saudagar yang dikenal sebagai “Jaringan Dagang Radhan” di Timur Tengah, semacam lingua franca mereka, memang disengaja oleh Ahlulbait Muhammad-Ali di bawah pimpinan Imam Al-Hasan, Imam Al-Husain, dan Imam Muhammad Al-Hanafiyah itu.

Terutama disengaja berbeda dengan skripturalisasi yang digunakan dalam nomenklatur-nomenklatur Sistem Imperialis yang telah ada sebelum gerakan Islam dideklarasikan oleh Nabi Muhammad sebagai gerakan sosial dari tarekat Al-Islam yang dilanjutkan secara pohon hayat dari sijrah Nabi Ainukh/Enokh, Nabi Ilyas/Elia, dan Isa Al-Masih/Yesus Kristus sendiri. Sistem Imperialis itu terutama adalah gereja-gereja Kristen di Barat dan Timur.

“Jaringan Dagang Radhan” itu kelak berkembang menjadi “Jaringan Dagang Sufi” sejak abad ke-11 M, ketika sistem pohon hayat berupa guru-sisya dalam Al-Islam dilanjutkan oleh tarekat-tarekat Sufi yang mulai dimapankan.

[Penjelasan linguistik dalam tulisan ini adalah menyalin maupun memparafrase dari “Roots of Islam”, tanggapan untuk:

Guillaume Dye and Manfred Kropp, “Le nom de Jésus (‘Îsâ) dans le Coran et quelques autres noms bibliques: remarques sur l’onomastique coranique” dalam “Figures bibliques en islam” disunting oleh Guillaume Dye dan Fabien Nobilio, di Bruxelles, ed. E.M.E., 2011].

Sidhamastu,
Grandsheikha Hefzibah Gayatri W.Muthari
( mursyid dan imam tarekat Daudiyah- mursyid ke-44 dari Nabi Muhammad dan ke-61 dari Bunda Maria; marja’ kitab Buyruk Alfurqan atau TBAI [The Beloved and I] dan pelopor Nafsiologi; mujaradah #PengantianElia ).

Sijrah:

61 Hefzibah << 60 Thomas << 59 Hawa <<  58 William <<  57 Yohanes << 56 Yakub

<< 55 (rhs) << 54 (rhs)  << 53 (rhs)  << 52 (rhs) << 51 Ismail << 50 (rhs)

<< 49 (rhs)  << 48 (rhs)  47 Ibrahim << 46 Ismail << 45 Mursel << 44 Yusuf

<< 43 Rasul << 42 Ali << 41 Fatima << 40 Bektash << 39 Ibrahim, Lukman, Rasul

<< 38 Musa << 37 Ishak << 36 Muhammad << 35 Ibrahim << 34 Hasan

<< 33 Ibrahim << 32 Mahdi << 31 Muhammad << 30 Hasan << 29 Al-Mahdi, Al-Ibrahim

<< 28 Hasan << 27 Ali << 26 Muhammad << 25 Ali, Al-Ibrahim

 << 24 Musa << 23 Jafar << 22 Muhammad << 21 Ali, Muhammad << 20 Al-Husein

<< 19 Al-Hasan << 18 Ali, Fatimah << 17 Al-Muhammad << 16 Khadijah, Abdullah

<< 15 (rhs) << 14 Hashem << 13 (rhs) << 12 (rhs)

<< 11 Khalid Sinan << 10 Musa << 9 (rhs)  << 8 Lukman << 7 (rhs)  << 6 (rhs)

<< 5 Thomas/Barnabas << 4 Maria, Thomas/Barnabas, Yohanes << 3 Yeshua

 <<2 Yohanes << 1 Maria << 0 Zakaria <<….. dst. (rhs: rahasia)

Standard

Leave a comment