Injil Koptik Thomas 19: Pohon Kehidupan

Hari Kenaikan Yesus Kristus pada 26 Mei 2022 dirayakan umat Kristen sedunia yang menggunakan kalender Gregorian (kecuali sebagian kecil tidak merayakan).

Memperingati hari tersebut, saya ingin membahas satu bait khusus dari Injil Koptik Thomas, yaitu ayat atau pasal 19, yang mengandung lima ekspresi kunci penting. [1] Tanasukh. [2] Kegaiban. [3]. Batu keberserahan diri. [4] Pohon kehidupan. [5] Rajaah.

Do you not see how God sets out

A parable? Word without doubt

Of a good tree, whose root is fixed

Firm and its branches to not nixed

As far as the sky round about.

ABRAHAM 24 in TBAI

*[1] Transmisi Kearifan dan Sains dari Nabi Khidir*

Berdasarkan Buyruk Alfurqan, hari raya ini tidaklah lain merupakan peringatan berakhirnya gaib sukra atau gaib kecil Yesus Kristus yang juga dikenal sebagai Isa Almasih. Setelah itu, Beliau berada dalam kegaiban kubra atau gaib agung — sampai hari saya menulis ini.

Konsep gaib sukra dan gaib kubra sesungguhnya dikenal akrab dalam tradisi Sinaisme dalam berbagai nama dan ungkapan. Konsep ini dapat dipahami melalui kisah para resi pada setiap zaman dalam daur kemanusiaan kita kali ini. Dari sejak Kisah Taman Eden dalam Taurat (Kejadian 2-3).

Nabi Khidir yang juga dikenal sebagai Idris dan Enokh membagi 10 Zaman untuk daur kemanusiaan kali ini. Babakan 10 Zaman ini berdasarkan pola konjungsi Saturnus-Neptunus. Karena daya konjungsi ini bagi bumi berefek mendaur ulang idealisme dalam kemanusiaan. Misalnya, di ranah budaya, politik, agama, dan ekonomi.  

Seperti dasar matematika Mesopotamia yang sexagesimal, satu daur kemanusiaan lamanya 6000 tahun sebagai masa kesempatan berproses mencapai sidha bagi nafs yang terlahir menjadi manusia. Inilah Zaman 1 sampai Zaman 8. Sisanya adalah masa pemurnian dan masa kemurnian. (Enokh 90-93).

Zaman 9 yaitu masa pemurnian, lazim diekspresikan sebagai masa pengadilan, penghakiman, atau alam masyhar. Zaman 10 yakni masa kemurnian, lazim diekspresikan sebagai surga atau firdaus yang abadi. Saat ini (5782 Y/2022 M) umat Sinai masih punya kesempatan sekitar 278 tahun lagi sebelum masa pemurnian.

Sekitar 5800 tahun lalu, Nabi Khidir telah menemukan kembali kearifan dan sains dari daur kemanusiaan sebelum masanya. Hari Kenaikan Yesus Kristus tidaklah lain merupakan perayaan yang berkaitan erat dengan kearifan dan sains yang ditemukan Nabi Khidir tersebut. Mengapa dan bagaimana ada manusia yang mengalami kegaiban?

*[2]Tanasukh, Rajaah, dan Qadash*

Pada zaman astrologis Taurus, umat manusia di bumi kembali membangun peradaban. Sejumlah orang dari berbagai rumpun bahasa telah memperoleh pencerahan sehingga mencapai sidha, yaitu maqam kesempurnaan.

Dari umat manusia yang berbahasa Semit, Nabi Khidir adalah resi pertama yang diceritakan mengalami gaib sukra dan gaib kubra. Hal tersebut hanya dapat dilakukan manusia yang telah mencapai sidha dan menemukan rahasia dari daur kemanusiaan sebelumnya.

Beliau adalah nafs pertama dari orang-orang Semit yang berhasil menemukan rahasia dari daur kemanusiaan sebelumnya, sehingga mendirikan agama berkelanjutan. Inilah agama sampradaya dari Trans-Semit yang masih ditransmisikan sampai ke hari ini. Dimapankan semenjak 3760 SM, semenjak masa gaib sukranya (Kejadian 5).

Tahun 3760 SM kemudian menjadi titik awal Zaman 1, disebut Anno Mundi, Tahun Penciptaan. Yang dimaksud bukanlah manusia pertama kali diciptakan pada 3760 SM, melainkan permulaan zaman dalam daur kemanusiaan kali ini, bagi seluruh keturunan Trans-Semit dari nasab biologis maupun spiritual Nabi Khidir.

Apa yang membedakan agama Nabi Idris dengan agama-agama Mesopotamia lainnya adalah agama ini menjalani sistem sampradaya. Selain itu, agama sampradaya ini dimapankan dan dikembangkan dalam masyarakat berbudaya transhuman. Jadi, bisa nomaden maupun semi-nomaden.

Taurat menyebut Kain harus memulihkan dampak kejahatannya menggenosida Abel dengan nod, yaitu kehidupan transhuman. Sesungguhnya, pengalaman itu diperlukan bagi manusia untuk lelaku ketidakmelekatan sekaligus belajar di dalam berbagai kondisi baru.

Agama sampradaya merupakan agama natural yang masih kuat memelihara unsur animisme (keyakinan adanya roh), shamanisme (bimbingan roh leluhur), dan tantra (ekspresi bahasa dan seni sebagai zikrullah) untuk berhubungan dengan realitas secara totalitas, demi menyintas dan resilien dalam menghadapi suka duka kehidupan.

Karena unsur shamanisme, itu berarti memelihara transmisi personal yang tidak selalu dapat bersifat massal. Agama ini struktur dan organisasinya sangat sederhana, tidak seperti model agama imperial-konsensus. Transmisi personal itu juga kaderisasi, sehingga perawi berikutnya dapat terpilih untuk melanjutkan transmisi. Sebab itulah, disebut berkelanjutan.

Dari Kisah Taman Eden yang ditransmisikan Nabi Khidir dalam bagian awal Bereshit atau Kejadian, kita sudah menemukan konsep-konsep yang ada dalam Injil Koptik Thomas 19 ini: tanasukh, rajaah, kegaiban, batu keberserahan diri, pohon kehidupan, dan kematian.

Konsep-konsep itu juga berkaitan erat dengan konsep qadash yang kita temukan dalam transmisi mengenai Sabat atau hari ketujuh dalam Kejadian 2. Jadi, setiap konsep terjalin satu sama lain, tidak dapat dipisahkan. Qadash atau pentakdisan ialah lelaku untuk menerima dan menyampaikan transmisi. Inilah terminologi “sampradaya” dalam Taurat.

Jesus said “Blessed is he who came

Into being before he came

Into being. If you become

My disciples and hear my words,

These stones will serve you in their herds.

For there are the five trees for you

In Paradise untroubled all

Year whose growing leaves do not fall.

Whoever comes to know them will

Not feel or know at all death’s chill.”

Coptic Thomas:19 in tBAI

*[3] Kegaiban (Occultation) dalam Transmisi Nabi Khidir.*

Pembahasan konsep-konsep itu tentulah berhubungan erat dengan shamanisme dan animisme. Kata “leluhur” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “luhur”, sesuatu yang tinggi dan dimuliakan. Dalam Kejadian 5:21-24, kita menemukan konsep senada:

“Nabi Idris hidup selama 65 tahun, dan kemudian berjalan bersama Allah selama 300 tahun (tanasukh), totalnya 365 tahun, kemudian berjalan bersama Allah (tanasukh), lalu tidak lagi (rajaah), diambil Allah (gaib).”

Dari transmisi tersebut, tahapannya dapat disusun sebagai berikut.

*1~ Seorang resi yang telah meninggal dunia dan mencapai sidha, memutuskan untuk kembali dan menyelesaikan suatu misi penting pada suatu ruang dan waktu.

*2~ Resi tersebut memutuskan tanasukh secara jiljul neshamot. Nabi Idris melakukannya selama 300 tahun atau sekitar 5-6 generasi.

*3~ Kemudian melakukan tanasukh lagi. Kali ini, saat menemui ajal dalam fisik barunya, ia memperoleh karunia mengalami rajaah.

*4~ Setelah rajaah, sang resi tidak disebut mati maupun hidup, melainkan diangkat Allah atau naik ke langit, Inilah fase gaib.

Dalam kasus Eliyahu dan Yesus Kristus, fase gaib dibagi dua periode lagi.

*5~ Gaib sukra. Berlangsung selama 40-180 tahun.

*6~ Gaib kubra.

[**N. Tanasukh adalah metempsikosis atau reinkarnasi dan inkarnasi secara umum. Jiljul neshamot adalah kelahiran kembali nafs dalam tubuh baru. Rajaah adalah kelahiran kembali nafs dalam tubuh yang sama atau kebangkitan tubuh].


*[4] Latar Belakang Injil Koptik Thomas 19 (IKT 19)*
Rahasia kearifan dan sains yang ditemukan Nabi Khidir itu biasanya disampaikan dalam ungkapan seperti tanasukh, rahasia kematian, pohon kehidupan, keabadian jiwa, dst. Sebagian besar dapat kita temukan dalam kitab Khidir atau kitab Idris, yang dikenal juga sebagai kitab Enokh.

Transmisi tulis dari Nabi Idris tersebut paling lambat dicatat kembali sekitar dua abad SM. Akibat masa penjajahan Neo-Asyur, Neo-Babilonia, dan Persia, banyak transmisi tulis lenyap. Kemudian, setelah kegaiban kubra Yesus Kristus, tampaknya hanya diaspora akhara-akhara Oriental (Yaman, Etiopia dan sekitarnya) yang berhasil memeliharanya.

Walau bagaimana pun, transmisi tulis itu masih dapat kita jumpai dalam berbagai teks Injil. Terutama Injil yang dihasilkan oleh akhara-akhara Oriental. Salah  satu transmisi tulis yang membahas hal tersebut ada dalam IKT 19, yang saya terjemahkan dari Buyruk Alfurqan sebagai berikut.

Sabda Kanjeng Gusti Yesus, [1]
“Rahayu bagi yang hadir mewujud [2]
Sebelum dirinya hadir mewujud.  [3]
Jika kalian menjadi muntasibku [4]
Serta mendengar ucapan-ucapanku [5]
Taslim tasi-taslim tasi ini akan menjamu [6]
Kalian dalam kumpulan mereka itu. [7]
Karena terdapat lima pohon bagi kalian [8]
Di Firdaus sama sekali tak tergoyahkan [9]
Hingga sepanjang tahun dedaunan [10]
Yang tumbuh pun tiada berguguran. [11]
Siapa yang hadir mengenal mereka akan [12]
Tak merasa atau tahu dinginnya kematian. [13]

Teks ini merupakan transmisi tulis yang disampaikan akhara yang diasuh oleh Didimus Yudas Thomas, akhara yang juga dikenal sebagai akhara Thomas dan akhara Barnabas. Inilah akhara yang mewariskan sanad Yesus Kristus kepada Nabi Muhammad SAW, yang berada di wilayah Oriental.  

*[5] Tanasukh dan Ahlulbait [the Hearth]*

“Rahayu bagi yang hadir mewujud [2]
Sebelum dirinya hadir mewujud.[3].”
Bait 2-3 membahas konsep tanasukh, khususnya Yesus Kristus menyampaikan salam kepada roh para resi yang hendak hadir kembali ke dalam kemanusiaan. Suatu tawasul atau salawat yang Beliau sampaikan bagi sanadnya secara umum, sebagaimana tradisi dari Nabi Yeremiyah.

“Jika kalian menjadi muntasibku [4]
Serta mendengar ucapan-ucapanku [5]”
Saya menerjemahkan kata “disciple” dalam bait 4 dengan “muntasib”, karena muntasib berarti talib yang telah melalui tahapan murid, yaitu tahap lelaku atau disiplin khusus saat belajar dan dikaderisasi dalam satu akhara.

Dalam nafsiologi, “murid” secara umum meliputi siapa saja yang telah diinisiasi di dalam akhara atau siapa pun yang telah menerima transmisi khusus secara personal. Adapun “talib” ialah muhib atau pengikut yang tertarik untuk diinisiasi sehingga belajar atau menjalani katekisasi sebelum benar-benar siap berbaiat kepada seorang mursyid.

Jadi, bait 4 menunjukkan sabda Yesus Kristus ini bersifat eksklusif kepada para murid, khususnya muntasib, sebab mereka telah mengikuti suatu lelaku khusus dalam akhara Beliau. Dengan kata lain, sabda Yesus Kristus ini diperuntukkan bagi ahlulbaitnya atau ocaknya, yang dalam qadash mereka itu bersedia menerima transmisi personal melalui serangkaian lelaku.

Apakah lelaku itu? Antara lain adalah mendengar yang Beliau sampaikan, dengan maksud agar menaatinya. Ungkapan “sami’na wa’athona” (Annur 51) disampaikan ulang dari Kisah Sinai (antara lain dalam Ulangan 5:27) dan disampaikan lagi oleh Yesus Kristus (antara lain dalam Wahyu 2-3).

*[6] Taslim Tasi dan Manna dari Injil Wahyu*

“Taslim tasi-taslim tasi ini akan menjamu [6]
Kalian dalam kumpulan mereka itu.” [7]

Saya menerjemahkan kata “batu-batu” dalam bait 6 menjadi “taslim tasi-taslim tasi”. Taslim tasi berarti batu keberserahan diri. Karena teks ini merupakan transmisi bersifat eksklusif, untuk para murid atau muntasib, maka istilah batu yang saya gunakan adalah taslim tasi.

Taslim tasi biasa dikenakan para baba, dede, abdal, darwis, muntasib, dan murid Bektashiyah. Biasa juga digunakan sebagai simbol suatu akhara, atau tekke yang menyelenggarakan suatu akhara, atau semewi yang menyelenggarakan semah, atau paguyuban orang-orang Alevi, dst.

Dengan kata lain, taslim tasi adalah juga simbol seseorang atau suatu nafs manusia yang berserah diri dan bersedia menerima transmisi leluhur dalam qadashatau pengasingan mereka di dalam bait/ocak sebagai murid Bektash Wali. Qadash biasanya dilakukan pada Sabat atau saat semah.

Ada beberapa hal penting mengapa saya menggunakan kata “taslim tasi” dan bukan batu biasa. Setidak-tidaknya ada beberapa transmisi tulis dalam dari Injil dan Taurat yang melatarbelakangi pilihan kata tersebut.

*[a] Batu yang mengeluarkan api.*

Kata “batu” dapat dijumpai dalam IKT 13, yang berbicara senada, mengenai keabadian bagi mereka yang terbakar oleh api yang keluar dari batu-batu yang dikumpulkan untuk Thomas apabila ia menyampaikan transmisi tiga hal dari Yesus Kristus.

Ungkapan IKT 13 itu mengingatkan saya pada jenis nafs manusia ashik, salah satu dari empat tingkatan nafs manusia dalam kitab “Maqalat Bektash Wali.” Empat tingkatan itu adalah sebagai berikut.

(i) Abid, yang dilambangkan udara. Golongan abid senang beribadah seperti udara, menghilangkan bau busuk nafsnya dengan aroma harum. (ii) Ashik, yang dilambangkan api. Golongan ashik tidak hanya sekedar mengharumkan nafsnya, tapi juga mabuk terbakar dalam Api Cinta.

(iii) Wali/Rindu, yang dilambangkan air. Golongan wali, selalu hangus terbakar sehingga kembali murni, dapat membersihkan dirinya maupun orang lain seperti air. (iv) Qutub, yang dilambangkan tanah. Golongan qutub selalu menjadi wahana seperti tanah yang mengandung udara, api, dan air.

Jadi, dalam IKT 13, Thomas melihat bahwa para murid beliau akan menjadi seperti para ashik, manakala nanti mendengar sabda Yesus Kristus dalam tiga hal yang ditransmisikan kepada beliau.

Kisah-kisah dalam Bektashiyah dipenuhi oleh para darwis, abdal, baba, dede, muntasib, dan talib yang mengalami tahapan ashik. Baik yang jenaka maupun yang romantis. Yang terbakar dan mencapai keabadian melalui Api Cinta yang mereka alami.  

*[b] Batu, di dalamnya terdapat sifat Allah.*

Dalam Lukas 19:40, Yesus Kristus menyampaikan bahwa salah satu sifat Allah adalah penciptaan ucapan (bahasa; ekspresi; kata-kata). Sifat Allah ini tersebar tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada seluruh ciptaan di alam. Seperti disket yang menyimpan segala memori, demikian juga setiap makhluk dan ciptaan juga mengandung ayat-ayat Allah.

Dalam Buddhisme, dikenal vajrayana dalam tantra (zikir) sebagai wahana yang tidak dapat dihancurkan, terkait amalan mantra (doa), mandala (rajah), mudra (gerakan salat, tari dalam semah, dst, termasuk tumaninah), dan dharani (tilawah). Vajrayana berhubungan dengan sanad yang spesifik dalam Buddhisme.

Dalam teks ini, Yesus Kristus menjawab kepada kaum Farisi (salah satu kelompok Neo-Yahudi pada masanya) yang menuntut Beliau mengkritik mereka yang mengelu-elukan Beliau. Jawabnya, batu-batu juga akan berzikir atau bertawasul kepadanya.

Dalam Kejadian 28, kita menemukan Kisah Batu Yakub. Inilah kisah batu sebagai benda keramat karena kemampuannya untuk menyimpan memori dan menghasilkan daya tertentu. Dalam konteks Kisah Batu Yakub, batu yang digunakan Nabi Yakub sebagai bantal berfungsi sebagai portal untuk menerima transmisi dari para leluhur.

Apa yang disampaikan Yesus Kristus dilanjutkan dalam tradisi menggunakan turbah di kalangan sebagian Muslim, khususnya Syiah. Turbah merupakan altar portabel yang dapat dibawa ke mana pun. Senada dengan vajrayana yang mencakup aktivitas mantra, mandala, mudra, serta dharani padanya.

Tradisi menggunakan batu dan tanah untuk sembahyang dimapankan kembali oleh Nabi Musa (Keluaran 20:24-26). Altar dalam Taurat tidak mengimplikasikan suatu tempat yang dibangun khusus. Kita harus ingat bahwa agama sampradaya ini juga agama transhuman. Jadi, pastinya bangunan mereka hampir jarang bersifat permanen. 

Karena itu pula, Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran tidak menyebut altar selain tanah. Jika, altar dari batu yang digunakan, maka harus dipotong tanpa menggunakan alat (Keluaran 20:25). Tujuannya adalah pelestarian alam dan kesederhanaan.

Secara tantrik/zikrullah/Enochian, turbah dipandang sebagai cara bertabaruk (mendekatkan diri kepada Allah melalui benda yang merekam memori tentang seorang atau beberapa resi) saat sembahyang. Kata “turbe” dalam bahasa Turki juga berarti makam.   

Biasanya turbah dihasilkan dari tanah di Karbala atau petilasan tertentu, lalu diukir dengan lafaz Allah ataupun nama salah satu dari 12 mursyid perawi s.d 870 M yang diakui oleh Syiah Duabelas sebagai 12 Imam. Atau, salah satu dari Ahlulkisa, yaitu lima sosok yang diterima dan diakui oleh semua mazhab Syiah. Bahkan, hampir seluruh Sunni. (Al-Ahzab: 33).

Maka, turbah itu diyakini membawa memori mengenai Ahlulkisa/Ahlulbait/12 Imam itu. Kemudian, setiap kita bersujud padanya atau menyentuhnya, turbah itu juga menyimpan memori dari kita. Jadi, berfungsi lebih kurang sebagaimana vajrayana.

*[c] Batu, menjadi roti*

Dalam transmisi tulis yang disampaikan akhara Lukas (4:3) dan Matius (4:3), terdapat kisah mengenai Yesus Kristus saat berada dalam qadash secara tapa untuk menerima transmisi.

Saat itu Beliau mengalami godaan dari nafs kesombongan (yang disebut iblis). Nafs itu menggodanya untuk mengubah batu menjadi roti, sebagai bukti Beliau seorang Anak Allah (dalam konteks ini, berarti seseorang yang telah menerima transmisi langsung, tanpa melalui mursyid perawi yang masih hidup sebagai manusia biasa).

Yesus Kristus menjawab bahwa manusia tidaklah hanya hidup dari roti. Artinya, manusia bukan hanya tubuh atau fisik untuk kehidupan (satu kali) saat ini saja. Tetapi, manusia juga adalah nafs yang harus memenuhi kebutuhan rohani.

Karena mampu mengatasi pergumulan nafs itulah, diceritakan Yesus Kristus menerima anugrah perjamuan dari para malaikat (baca: roh para resi leluhur yang ada di sidha, yang biasanya diceritakan berasal dari cahaya, sebab menerangi manusia keturunannya dengan bimbingan kearifan, ilmu, dan pengetahuan).

Kesombongan serta keserakahan melalui karunia karomah merupakan salah satu tantangan teragung bagi nafs mereka yang telah menjadi resi (nabi), avatar (rasul), dan begawan (wali/santo).

Batu menjadi roti dapat dipahami secara harafiah, bahwa pada batu terdapat bahan untuk menghasilkan makanan. Saya akan membahas ini dalam bagian *[d] Taslim tasi dalam Injil Wahyu*.

Batu menjadi roti dapat juga dipahami sebagai sejumlah perumpamaan.

Jika batu adalah simbol bagi murid, maka sang iblis menggoda Yesus Kristus bahwa Beliau dapat mengubah para muridnya agar dapat memenuhi kebutuhan manusia. Secara duniawi, dengan karunia karomah, Yesus Kristus dapat mengambil jalan Manifest Destiny seperti Kain atau Kabil.

Namun, Isa Almasih memilih kesadaran bahwa kehidupan bukanlah hanya pada tubuh satu kali (ini) saja, begitu pula dunia bukanlah bagi masanya saja. Nafs manusia diciptakan bagi keabadian (Kearifan Sulaiman 2:23), dari daur ke daur. Itulah yang lebih penting daripada mengumbar karomahnya sebagai Anak Allah.

*[d] Taslim tasi dalam Injil Wahyu*

Keseluruhan teks IKT 19, serta batu menjadi roti, akan semakin lengkap dipahami dengan membaca Injil Wahyu, yaitu transmisi tulis dari akhara Yohanes Sang Musahip.

Buyruk Alfurqan secara tersirat maupun tersurat mengklaim bahwa tradisi Bektashiyah masih memelihara seluruh simbol yang digunakan dalam Injil Wahyu. Melalui Bektash Wali, sanad Thomas Sang Peragu dan Yohanes Sang Musahip bersatu kembali.

Secara tersirat pula, tujuh tekke dalam asuhan akhara Yohanes Sang Musahip yang berada di Anatolia atau Turki saat ini, sebenarnya tidak hilang. Penerus yang istiqomah mengambil sanad Bektash Wali. Kita perhatikan, tujuh tekke di Efesus, Smirna, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laoedikia, terdapat tekke-tekke Bektashi atau pun komunitas Alevi.

Saya ambil simbol-simbol yang ada dalam Wahyu 2-3 saja:

[i] tujuh kaki dian emas, [ii] pohon kehidupan, mahkota kehidupan, [iii] pedang bermata dua, [iv] manna tersembunyi, [v] batu yang di atasnya tertulis nama baru yang tidak diketahui siapa pun kecuali yang menerimanya, [vi] tongkat besi, [vii] tujuh roh dan tujuh bintang, [viii] pakaian putih yang tidak tercemar, [ix] kunci Daud, [x] sokoguru di dalam kuil Allah, [xi] emas yang dimurnikan dalam api, [xii] minyak untuk mata, [xiii] singgahsana Allah, dan [xiv] bintang timur.   

Dalam IKT 19 ini, simbol yang muncul adalah [v] batu yang disebut Buyruk Alfurqan sebagai taslim tasi sebagaimana kisah terkenal Bektash Wali yang melatarbelakangi penggunaan taslim tasi sebagai simbol. Keberserahan diri (taslim) Bektash Wali, membawanya kepada karunia nama yang rahasia itu.

Taslim tasi juga berbentuk sebagai simbol [xiv] bintang timur atau bintang pagi dalam dodekagram atau duabelas sudut. Nama yang rahasia itu, tak lain ialah transmisi rahasia tantra/zikir, yang juga merupakan [iv] manna tersembunyi, yang merupakan makanan rohani para abdal Bektashi.

Secara harafiah, lokma merupakan hidangan sakral dalam semah Bektashi, melambangkan manna, dihidangkan satu dari duabelas petugas khusus semah yang merepresentasikan Mahmud ibn Maslamah Al-Ansari (saudara Muhammad ibn Maslamah). Tradisi lokma dapat kita jumpai di kalangan orang-orang Yahudi.

Namun, manna merupakan istilah yang umum bagi tumbuhan yang mengandung tepung sehingga dapat dijadikan roti. Secara botani, tumbuhan yang menghasilkan manna melimpah di Anatolia. Menarik memperhatikan bahwa lokma maupun manna ek terlihat seperti batu.

Di Diyarbakir, tenggara Anatolia, misalnya. Diyarbakir merupakan kampung halaman banyak orang Alevi-Kurdi. Di antara manna yang dipandang sejumlah peneliti sebagai yang dimaksud dalam Alkitab dapat dijumpai di Diyarbakir dan masih digunakan sebagai bahan makanan.

Di Dersim, timur Anatolia, sejenis manna ek digunakan dalam pengobatan tradisional orang-orang Alevi, disebut gezhemgen. Jika hujan turun, sejenis ek menghasilkan manna, sehingga dikatakan sebagai “Misteri Khidir” yang memberkati mereka dengan manna.

Taslim tasi juga melambangkan [ix] Kunci Daud, yang dikenal sebagai Aturan Daud atau Ketentuan Daud dalam hadis-hadis Syiah. Nama Daudiyah berasal dari konsep ini, yang juga melibatkan suatu transmisi rahasia dari Zabur, terkait bait 7 dalam IKT 19 ini.

Kunci Daud antara lain disampaikan dalam Mazmur 132:11-12, dan berkaitan erat dengan sistem parampara yang berkelanjutan, sebagaimana penerimaan dan pengakuan terhadap otoritas Musa, Daud, Sulaiman, Yesus, Muhammad, Ali, dst. Maka, sistem ini bukanlah supersesionis.

Yesus Kristus dalam Wahyu 3 dikatakan berwenang membuka dan menutup pintu, suatu simbol yang berwenang dalam menentukan pewarisan transmisi. Pintu dibuka untuk masuk ke dalam ocak atau bait, menerima transmisi. Jika ditutup, tidak diizinkan menerima transmisi.

Karena itulah, tradisi Bektashi mencium ambang pintu sebelum masuk semewi. Inilah simbol nyuwunsewu kepada para leluhur yang menjaga dan memberi transmisi. Sementara itu, Imam Ali biasanya disimbolkan sebagai pintu, sedangkan Nabi Muhammad adalah ilmu pengetahuan atau transmisi itu sendiri.

Dalam semah-semah tertentu, atau sejumlah semewi, disediakan kursi untuk Nabi Khidir dan atau Nabi Ilyas (Eliyahu Hanavi). Ini dapat juga melambangkan [xiii] singgahsana Allah, tempat Nabi Khidir mentransmisikan tablet kahyangan (Lauh Mahfuz) dan atau Eliyahu Hanavi menegakkan [vi] tongkat besi.

Salah satu pesan Yesus Kristus dalam Wahyu 3 ditujukan bagi tekke di Filadelfia. Sekarang bernama Alasehir. Di sini terdapat petilasan Sari Saltuk, waliullah yang terkenal, yang disebut sebagai makam beliau. (Ada sejumlah tempat lain yang mengklaim makam Sari Saltuk, seperti di Babadag, Romania).

Kepada tekke di Filadelfia, Yesus Kristus menjanjikan jika mereka tekun dalam lelaku, akan menjadi [x] sokoguru di kuil Allah. Dua sokoguru yang dibangun Nabi Sulaiman dalam kuil Allah bernama Yakin [bersiap-siap] yang merupakan nama salah satu penerus akhara Simon, serta Boaz [tidak keberatan atau tidak menolak tugas] yang merupakan nama kakek Nabi Daud (1 Raja 7).

Bersiap-siap dan tidak keberatan saat menerima tugas, merupakan hikmah dari berbagai cerita tentang para abdal Bektashiyah. Kisah asal mula simbol taslim tasi juga merefleksikan kesiapan dan kesanggupan para abdal yang berbuah karomah.

Taslim tasi juga biasanya dibentuk dari batu unam atau oniks yang merupakan batu hosen lambang akhara Yusuf pada zirah yang dikenakan seorang kadi. Jubah yang dikenakan para darwis Bektashi melambangkan zirah, yang diberikan kepadanya saat inisiasi, dan ia berupaya untuk tidak mencemari dirinya.

Jagalah mulutmu, tanganmu, pinggangmu,” kata Bektash Wali sebagai lelaku yang terangkum dalam pemberian jubah sebagai zirah penghakiman atau penilaian (sebagai kadi bagi kehidupannya). Dalam Taurat, zirah ini disebut hosen.

Dengan kalung taslim tasi sebagai pengingat diri, duabelas sudutnya juga diceritakan berkaitan dengan duabelas akhara Israil seperti kisah batu yang terbelah sehingga dapat memberi air kepada mereka saat kehausan di Sinai.

Batu unam (shoham) disebut dalam Kejadian 2:21 berada di Havilah. Menurut Buyruk Alfurqan, Havilah ada di sebelah selatan Arabia. Dulunya merupakan tekke-tekke penerus Yoktan. Jenis batu kalsedonia ini terdapat beberapa jenis. Yang menjadi simbol akhara Yusuf adalah yang hitam.

Batu hitam ini kemudian dilambangkan dalam hajar aswad di Kaabah saat ini, meski hajar aswad tampak seperti meteorit dan dari dekat memiliki beberapa lapisan warna. Selain yang putih, batu unam yang dipakai sebagai taslim tasi biasanya berwarna kecoklatan, kemerahan, dan kehijauan. Seperti nuansa hajar aswad.  

*[7] Para penggembala dari Quraish*

“Taslim tasi-taslim tasi ini akan menjamu [6]
Kalian dalam kumpulan mereka itu. [7]”

Dalam bait 6-7, taslim tasi-taslim tasi itu diibaratkan akan menjamu atau melayani mereka yang menjadi muntasib dan “sami’na wa atho’na.” Untuk sementara, ada dua makna yang dapat dipelajari di sini.

Pertama, taslim tasi itu dapat berarti sebagaimana halnya para abdal yang akan mewarisi dan mewariskan sanad para muntasib Yesus Kristus dari generasi salaf.

Kedua, taslim tasi itu dapat berarti sebagaimana halnya lokma, hidangan sakral, yang terus akan melimpahkan berkat nutrisi dari Yesus Kristus kepada keturunan mereka.

Jadi, yang pertama adalah berkat berupa transmisi keberlanjutan, sehingga misi mereka akan terus berlangsung sampai akhir zaman (baca: Zaman 8). 

Yang kedua, lelaku itu menyebabkan mereka dapat “mengintervensi” agar keturunan mereka selalu terhubung dengan bimbingan Yesus Kristus. 

Buyruk Alfurqan menambahkan “dalam kumpulan mereka itu” dari transmisi lisan Daudiyah untuk teks yang telah diterjemahkan ini. Tetapi, ungkapan “in their herds” tidak ada dalam terjemahan Layton, Doresse, dan Blatz dari teks Nag Hammadi. 

Tambahan transmisi lisan tersebut berkaitan erat dengan syarahan Buyruk Alfurqan untuk Wahyu 5-14. Mereka adalah para penggembala dari suatu konfederasi Peranakan Israil yang dalam bahasa saat itu adalah quraish.

Jadi, taslim tasi sebagai berkat yang berkelanjutan maupun sebagai berkat bagi keturunan, telah dinubuatkan Wahyu 5 akan berasal sanad Muhammad-Ali. Ini dijelaskan lebih terang dalam IKT bait 8-11:

“Karena terdapat lima pohon bagi kalian [8]
Di Firdaus sama sekali tak tergoyahkan [9]
Hingga sepanjang tahun dedaunan [10]
Yang tumbuh pun tiada berguguran. [11]”

*[8] Kejadian 2-3 dan Lima Pohon Kehidupan*

Lima pohon pada bait 8-11 merupakan lima pohon kehidupan. Dalam Kejadian 2, diceritakan dalam metafora bagaimana generasi awal menemukan kearifan dan sains mengenai kehidupan.

Mereka diizinkan mengkonsumsi buah pohon kehidupan yang banyak berada di Eden. Tetapi, dilarang mengkonsumsi buah hadaat/kuldi, yaitu buah pohon pengetahuan baik-buruk.

Mengkonsumsi buah pohon kehidupan adalah simbol menerima dan mengakui wewenang nafs mereka yang telah mencapai sidha, sehingga menerima dan menyimak transmisi mereka untuk menyintas dan mengelola kehidupan di Eden.

Sebaliknya, mengkonsumsi buah hadaat berarti mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan akal pikiran, untuk menentukan baik dan buruk. Karena potensi membesarkan ego, maka konsekuensinya adalah kematian. Tetapi, manusia selalu cenderung memilih yang ini, sehingga diceritakan mereka dikeluarkan dari Eden.

Mengkonsumsi ilmu pengetahuan di sini harus dipahami sebagai mengeksploitasinya dalam keserakahan dan kesombongan. Para pemimpin (yang disimbolkan Hawa) memilih mendengar saran para pengusaha (yang disimbolkan Nagini) untuk mengeksploitasi alam, sedangkan umat manusia (yang disimbolkan Adam) diam menikmati.

Pendeknya, Kejadian 2-3 adalah simbol pergulatan untuk menghasilkan peradaban secara regresif terhadap alam, yang dianggap progresif dan suatu kemajuan. Akibatnya, terjadi kerusakan dan bencana alam, sehingga mereka harus keluar dari Eden.   

Ya, IKT 19 mensyarahkan kembali Kejadian 2-3 untuk menubuatkan bagi penerus akhara Yesus Kristus kelak bahwa ada lima pohon kehidupan yang harus dirujuk pada masa mereka. Lima pohon kehidupan untuk mengasuh dan membimbing nafs mereka.

Ilmu pengetahuan tidaklah buruk. Tetapi, mendefinisikan dan menilai yang baik-buruk maupun yang benar-salah dengan akal budi sendiri memiliki konsekuensi seperti bayi yang dilepas hidup sendirian: ia akan mati. Kejadian 2:9 dapat diterjemahkan sebagai berikut:

“Dari adam (kemanusiaan), YHWH Elohim (yahuwahu allahumma – konspirasi semesta) menyebabkan tumbuh bersemi seluruh etz (pohon) yang hamad (didambakan atau menyenangkan) bagi pandangan dan tuba (baik) sebagai makanan; etz hayamim (pohon-pohon kehidupan) di tengah hajjan/jannah (taman yang terlindungi) terdapat hadaat mengenai tuba (yang baik) dan bara (yang buruk).”

Secara hurufisme atau jafarisme, kita menemukan simbol-simbol dalam Kejadian 2:9 yang sebenarnya akrab dalam sampradaya Islam, sebagai berikut.

I. Pohon kehidupan dari huruf ‘ain dan tsa. Kita menemukannya dalam nama Imam Ali dan Imam Jafar Sadik.

II. Pohon-pohon itu Muhammad — yang dihasrati dan didambakan.

III. Tuba merupakan nama pohon dalam mitologi lahirnya Fatimah Azzahra. Buahnya dimakan Muhammad sebelum menggauli Khadijah, sehingga Khadijah mengandung Fatimah.

IV.  Pohon-pohon kehidupan mengandung huruf ‘ain, tsa, ha, ya, dan mim. Kita akan membahasnya dalam bab selanjutnya ini.

V. Mengapa menggunakan perumpamaan dari pohon yang baik (tuba) dapat kita jumpai dalam surah Ibrahim 24.

“Tidakkah kau lihat bagaimana Tuhan
Menghadirkan sebuah perumpamaan?
Kata-kata tanpa ragu tentang sebatang
Pohon baik, yang akarnya kokoh teguh  
Dan cabang-cabangnya tidak menentang
Ke saujana langit menjulang sungguh.”

*[9] Empat belas Pohon Kehidupan dalam kitab Nabi Idris*

Dalam Enokh 4:1, terdapat simbol empat belas pohon abadi. Buyruk Alfurqan mensyarahkan IKT 19 bait 8-9 ini, bahwa lima pohon memandang empat belas pohon. Suatu pesan mengenai tanasukh dan arketipe para resi.

Buyruk Alfurqan mengajarkan tiga arketipe, lima arketipe, tujuh arketipe, duabelas arketipe, dan empatbelas arketipe. Angka-angka ini memiliki kaitan dengan numerologi atau gematria, yang tak akan saya bahas di sini.

Yang pasti, lima arketipe tersebut merepresentasikan lima arketipe dalam Kisah Sinai, sekaligus lima arketipe dalam Kisah Muhammad. Dalam Kisah Sinai, yaitu Miryam, Musa, Harun, Shuaib (Yethro), dan  Yoshua (Yeshua). Dalam Kisah Muhammad, dikenal sebagai ahlulkisa, yaitu Fatimah, Muhammad, Ali, Hasan, dan Husein.

Dalam syair Kejadian 2:9 itu, nama untuk pohon-pohon kehidupan mengandung lima huruf yaitu ‘ain, tsa, ha, ya, dan mim. Dari hurufisme kita menemukan sebagai berikut.

1. Empat nama Ali dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam. (Ali Murtaza, Ali Zainal Abidin, Ali Ridha, Ali Al-Hadi).

2. Satu nama Jafar Sadik dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam.

3. Dua nama Hasan dan satu Husein dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam. Dari kata “hosen” atau zirah untuk penghakiman, yang telah saya bahas. (Hasan Al-Mujtaba, Husein Aba Abdillah, Hasan Al-Askari).

4. Tiga nama Muhammad dalam 12 Mursyid Perawi Muhammad yang disebut imam. (Muhammad Al-Mahdi, Muhammad Al-Baqir, Muhammad Al-Jawad).

5. Dua nama dengan inisial “ya” merupakan nama rahasia bagi dua arketipe nafs dalam 14 pohon kehidupan. Sebagaimana dalam Wahyu 3 bahwa Yesus Kristus merupakan pemangku wewenang transmisi:

“Nama gelar bagi Yeshua adalah juga Muhammad. Dalam Alquran, terdapat surah Keluarga Imran. Yang dimaksud adalah ocak Imran dari Yeshua dilanjutkan oleh ocak Imran dari mereka yang kemudian disebut Muhammad.”

6. Salah satu dari pohon kehidupan adalah nafs perempuan atau ibu bagi seluruh kehidupan itu. Maka, inisial nama rahasia para perempuan itu (Miryam, Maria, Fatimah, dst) adalah huruf ya.

“Ibu dari Nabi Musa bernama Yokhebed (kemuliaan bagi Allah), salah satu putri Lewi. Nama lainnya adalah Yehudiyah. Asiyah atau Bithiyah yang menyelamatkan Nabi Musa juga bernama Yehudiyah. Salah satu putri atau penerus akhara Ayub adalah Yemimah (hari-hari atau merpati).”

Buyruk Alfurqan menyebut empat arketipe istri yang diberkati:

-1- Yokhebed, kemuliaan bagi Allah, istri Imran dan ibunda Musa, lambang syariat;
-2- Elisheba, sumpah Allah, istri Harun dan putri Aminadab dan saudarinya Nahson, lambang tarekat;
-3- Nama yang dirahasiakan, putri Putiel dan ibu Fineas, lambang hakikat;
-4- Zipporah, burung gereja, istri Musa dan putri Yethro, lambang makrifat.

*[10] Nafs dan Pohon Kehidupan*

Jumlah lima pohon kehidupan juga mengingatkan kita pada tangan hamsa yang juga disebut sebagai tangan Miryam dan tangan Fatimah. Pada telapaknya terdapat satu mata untuk mengusir kekuatan jahat, atau roh dari memori traumatik yang dapat mengganggu nafs.

Mandala atau rajah pada tangan hamsa biasa digunakan sebagai jimat. Di kalangan Bektashi atau Alevi pedesaan, dulu terdapat dukun perempuan yang biasanya dikaruniai karomah sehingga dapat melakukan pengobatan dengan tangannya sebagaimana tangan hamsa. Saya  tidak tahu apakah dukun-dukun ini masih ada sampai sekarang.

Jika diperhatikan dengan seksama, maka nama Fatimah adalah gelar bagi sejumlah mursyid perawi dan mursyid. Dari Buyruk Alfurqan itu, nama Fatimah istri Imam Ali adalah juga Yokhebed, sedangkan ibunya adalah Yehudiyah, saudari Adiyah. Nama Khadijah adalah juga Hodiyah dan Yehudiyah. Khawla adalah nama istri Hasan dan Muhammad Al-Hanafiyah.

Simbol-simbol dalam nama-nama itu masih digunakan dalam tradisi Bektashi, misalnya sebagai berikut:

{1} Fatimah yang biasanya diartikan sebagai pengasuh bayi berasal dari pohon tuba, memiliki kedudukan sebagaimana Miryam dan Maria.

{2} Totem bagi akhara Yehuda adalah singa, selalu ada dalam ikon Bektash Wali. Di kanan atau berjalan bersamanya. Ekspresi “berjalan bersama Allah” dalam lukisan.

{3} Rusa dalam kisah Imam Ali Ridha, muncul juga dalam ikon Bektash Wali. Khawla berarti rusa, merupakan lambang seperti burung gereja. Biasanya duduk pada pangkuan Bektash Wali.

Jadi, pohon adalah juga simbol nafs dalam Bektashiyah. Bahkan ini secara harafiah, karena Bektashi selalu memaknai transmisi (tulis dan lisan) dalam banyak lapisan.

Inilah lambang nafs yang selalu mewujudkan “urip iku urup”. Lima arketipe dan empatbelas arketipe itu juga memberi contoh secara manusiawi bagaimana untuk “urip iku urup.”

Orang Bektashi, khususnya Alevi, dikenal sangat memelihara alam. Para peneliti telah mengkonfirmasi ini. Transmisi secara turun-temurun adalah untuk selalu menanam pohon, tak hanya merawat pepohonan.

Di antara banyak kabilah Alevi, Tahtaci dikenal begitu mencintai pepohonan. Menurut dongeng mereka, nenek moyang mereka biasa mengikuti semah dengan Bektash Wali di hutan. Karena itu, jika mereka terpaksa menebang sebatang pohon saja, mereka akan melakukan ritual yang rumit untuk memohon maaf.

Di Dimetoka (Yunani), dan Kizildeli (orang Pomak, Bulgaria), saya pernah membaca ada aturan dalam kompleks tekke yang juga petilasan. Sebatang pohon melambangkan nafs seorang waliullah. Maka, jika menebang sebatang pohon, harus menggantinya setidak-tidaknya satu pohon lagi. Jika tidak, akan mendapat celaka.

Alhasil, wilayah-wilayah Turki yang didominasi orang Alevi atau Bektashi, biasanya terkenal dengan kelestarian alamnya. Banyak orang Alevi terjun sebagai aktivis lingkungan hidup, dan mereka memiliki ritual unjuk rasa tahunan untuk menentang kebijakan merusak alam. Biasanya mereka sangat keras melawan upaya pembangunan yang merusak alam mereka.

Imam Al-Ghazali pernah mengutip hadis yang mengatakan bahwa seorang wali mendapat berkat 70 murid. Hadis ini senada dengan Taurat dan Injil, mengenai 70 mursyid dalam kemah pertemuan (baca: kemah untuk semah) dan 70 mursyid dalam sanad Yesus Kristus — yang 12 di antaranya adalah mursyid perawi.

Kadang-kadang jumlahnya juga 72. Dua tambahan dari kisah dua pemuda yang terikut dalam kisah 70 mursyid itu. Entah bagaimana simbol anggur sebagai berkat ini, kemudian diterjemahkan sebagai 72 bidadari dalam pengertian yang oversexualized.

Ini mungkin karena perawatan dan pemulihan keberadaan pepohonan tidak (lagi) menjadi suatu tradisi integral dan khas dalam kelompok Muslim dan Kristen lain secara umum.

Nama ibunda dari Imam Ali Zainal Abidin, Shahrabanu (putri negeri), juga adalah Sofala, yaitu (anggur) yang terpilih. Dari ocak Imam Ali Zainal Abidin sampai Imam Hasan Al-Askari, para mursyid perawi berasal. Maka, pengertian yang tepat untuk 72 huri adalah berkat dari anggur yang terpilih dalam ocak Imam Husein.

Maka, memahami pohon sebagai simbol nafs tidak lagi semudah yang segala ritual dan zikirnya MASIH berhubungan dengan pohon serta unsur alamiah lainnya. Anggur sebagai pohon yang amat bermanfaat, misalnya, menjadi bidadari yang dimaknai sedemikian profan.

Jadi, para abdal Muhammad menjamu atau melayani para muntasib Yesus Kristus. Inilah berkat bagi transmisi mereka yang masih terus berlanjut.

Salawat dalam setiap majlis dan salat juga telah menjamu mereka, bagaikan hidangan bergizi. Inilah juga berkat bagi keturunan mereka karena para abdal Muhammad masih terus melanjutkan transmisi mereka.

 

*[11] Lazarus dan Dinginnya Kematian*

Siapa yang hadir mengenal mereka akan [12]
Tak merasa atau tahu dinginnya kematian. [13]

Buyruk Alfurqan menambahkan kata sifat dingin bagi kematian itu. Kata sifat ini mengisyaratkan jika “urip tidak urup” maka dinginlah yang kita rasakan. Hati yang dingin. Sikap yang dingin. Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan demikian.

Transmisi tulis IKT 19 ini kemudian ditutup dengan ungkapan, bilamana mengenal lima arketipe nafs itu, maka akan tidak merasakan atau pun tidak mengetahui kematian.

Tentu saja yang dimaksud dengan “mengenal” bukan sekedar mengetahui, tetapi menerima dan mengakui keberadaan lima arketipe tersebut, sekaligus sosok historisnya. Ini dijelaskan antara lain dalam Lukas 16:19-31 mengenai Orang Kaya yang mendapat siksa (untuk dimurnikan) di Hades (alam kubur) karena menolak pengemis Lazarus.

Orang Kaya itu memohon kepada Nabi Ibrahim agar menghidupkan kembali Lazarus kepada saudara-saudaranya. Agar mereka tidak perlu mengalami siksa kubur seperti dirinya. Nabi Ibrahim menjawab bahwa Nabi Musa dan para Resi saja sudah cukup. Tetapi, Orang Kaya itu yakin lima saudaranya akan percaya pada orang mati yang bangkit.

Lalu, Nabi Ibrahim berkata bahwa jika lima saudaranya tidak percaya kepada Nabi Musa dan para Resi/Nabi, maka mereka tidak akan dapat percaya kepada orang mati yang mengalami rajaah.

Jawaban itu mengindikasikan mengapa umat Sinai tidak mempercayai kebangkitan kembali, karena mereka tidak mempercayai Nabi Musa dan para Nabi. Mereka lebih percaya kepada berbagai institusi agama imperialis-konsensus, yang menyusun mengenai iman tentang para nabi dan mesias. Bukannya menjadi wadah qadash agar “sami’na wa atho’na.”

Kegaiban merupakan alternatif bagi kematian yang dialami para mursyid perawi yang menerima peran sebagai nabi dan imam. Demikian pula halnya dengan rajaah dan kehidupan abadi.

Dari Kejadian 2-3, kita mengetahui bahwa kematian adalah implikasi dari mengkonsumsi hadaat. Jadi, kematian adalah ungkapan lain bagi lingkaran samsara; mengkonsumsi hadaat adalah ekspresi lain bagi karma. Untuk moksha, ekspresi dalam Sinaisme adalah keabadian, dengan cara mengenal pohon kehidupan.

Tetapi, pohon-pohon kehidupan juga dijaga oleh pedang dan api yang menyala-nyala. Artinya, jika kita memberi ego kita untuk menerima bimbingan Mereka, maka kita juga akan mati dan terbakar untuk hidup kembali. Kadang-kadang disebut kematian pertama, yang biasa dialami para nabi, rasul, wali, dan darwis dalam maqam “ashik”.

Jika sifat kematian pertama adalah kehangatan, cinta yang memabukkan, dan menghanguskan, maka sifat kematian kedua adalah kedinginan, gelap, mencekam, dan penderitaan — inilah lingkaran samsara. Manusia yang memilih hadaat akan selalu jatuh dalam lingkaran samsara ini.

Secara harafiah, apabila kita mampu mengenal pohon kehidupan, maka kita akan menyimak mereka dan merawat alam, dan akan terhindar dari dingin dan sengsara kematian bagi kehidupan di bumi ini. Kita tidak akan memilih memberi makan ego untuk keserakahan dan kesombongan sebagai manusia yang dianugrahi kuasa untuk mendominasi dan mengeksploitasi dunia.

Di Pardes, Firdaus, atau Jannah, pohon-pohon itu tidak tergoyahkan. Daun-daunnya tidak pernah rontok meski musim gugur dan angin bertiup kencang.

Menurut sebuah hadis, akar dari pepohonan kehidupan adalah Muhammad, yang berarti meliputi seluruh nabi dan rasul. Bahwa Muhammad juga adalah pujian bagi Yeshua, dan Al-Mahdi (yang terbimbing) juga adalah Kristus.

Para mursyid dan waliullah penerus mereka adalah cabang dan dahannya. Daun-daunnya adalah para abdal dan murid. Buah-buahannya adalah kearifan dan sains yang mereka transmisikan.

Syariat dilambangkan dalam Yokhebed yang melahirkan Musa darinya. Inilah mengagungkan alam semesta kita ini. Seperti Khadijah yang “mengeluarkan” Muhammad. Ia yang terpuji, yang didambakan. Jadi, syariat tidaklah mungkin sesuatu yang tidak kita dambakan bagi alam kita, secara natural.

Tarekat dilambangkan dengan Elisheba, istri Harun. Seperti Sheba ibn Hashem mengambil jalan tarekat, dilanjutkan Imam Ali dan ocaknya. Kita menemukan para Fatimah. Istri Bektash Wali juga adalah Fatimah.

Hakikat dilambangkan dengan kerahasiaan dari istri Eliazar, putri dari Putiel. Ini mengingatkan kita pada transmisi rahasia dalam ocak Imam Jafar Sadik. Imam Fineas mendapat karunia “imamah yang abadi” dari sanadnya. Demikian pula Imam Musa Kazim.   

Makrifat dilambangkan dengan Zipporah, istri Musa (Alqasas: 23). Transmisi adalah kesederhanaan yang dapat kita alami dan rasakan dari segenap kemanusiaan dan kehidupan. Khawla Al-Hanafiyyah yang sederhana, telah dinubuatkan dalam Wahyu 11-12. Bektash Wali sering digambarkan memangku rusa.  Ya Shah!

Dengan bersalawat kepada Muhammad dan ocaknya, maka kita berupaya untuk selalu mempercayai Musa dan para Nabi, serta percaya kepada rajaah dan mereka yang telah mengalami rajaah.

Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad.”

Dalam dunia yang memperlihatkan berbagai penemuan kecerdasan rekayasa, digital, dan metaverse, kita dapat melihat transmisi kearifan dan sains mengenai nafs, keabadian, memori, tanasukh, dan pohon kehidupan telah semakin terserlah. Bedanya, transmisi para resi disampaikan dalam kode-kode sastra pada puisi dan peribahasa yang bersifat tantrik/zikrullah.

Siddhamastu []

Standard

Leave a comment