Isra Mikraj (Bagian 2)

*Isra Mikraj, Rakhabiyah, dan Mabaath*

Hari Raya Isra Mikraj (Isra’ Mi’raj) yang dirayakan umat Sunni dan Hari Raya Mabaath (Mab’ath) yang dirayakan umat Syiah, sama-sama dirayakan pada setiap 27 Rajab, yaitu hari ke-27 bulan ketujuh.

Jika HRIM menapaktilasi kisah Muhammad pergi ke langit memperoleh wahyu salat, maka HRM memperingati kisah Muhammad diangkat sebagai rasulullah — yang terakhir.

Melanjutkan bagian pertama “Isra Mikraj”
[baca dalam:

], saya mengutip kembali poin keenam sebagai berikut.

<< Keenam, sosok Muhammad 570-632 M antara lain memuat sosok Khalid ibn Sinan ibn Ghaith, Baba Musa, Zaid ibn Amr ibn Nufail, Quss ibn Saidah, Sheba ibn Hashem, Hashem ibn Abdul Manaf, Abdul Manaf atau Imran ibn Sheba, Al-Zubair ibn Sheba, dan dua pemimpin konfederasi [Quraish] terawal yang biasa dikenal sebagai Abdul Manaf Al-Mughira dan Qusai ibn Kilab. Mereka ini selain daripada Muhammad ibn Ali ibn Imran yang lahir pada 636 M itu. Tentulah mereka ini tidaklah semuanya adalah mursyid perawi dan nabi. Ada mursyid yang memang waliullah, ada pula pahlawan dan atau panglima perang.

Pada masa Abbasiyah, sosok tersebut “dikanonisasi” sedemikian rupa sebagai satu sosok saja, yang memuat berbagai kisah mengenai para resi dan mursyid perawi sebelumnya itu, sebagaimana yang pernah saya tulis dalam status saya berjudul “Murtad” [baca dalam: https://hearth.video.blog/2022/02/19/murtad/ ]. Pola serupa pernah dilakukan antara lain terhadap sosok Yesus Kristus 0-33 M yang masa aktual sejumlah dongeng utama sebenarnya terjadi antara tahun 60-80 M.

Dongeng Isra Mikraj yang kerap dimaknai hanya secara religius-spiritual, ternyata memberi petunjuk mengenai tumpang tindih antara Muhammad 636 dengan para mursyid perawi sebelumnya yang juga bertawasul kepada Enokh (Khidir atau Idris), Eliyahu, dan Yesus Kristus dengan menyebut Mereka sebagai “Muhammad”, terutama untuk memohon kesembuhan dan pemulihan.>>

Keberadaan hari raya yang dimaknai secara berbeda oleh dua faksi utama Islam pada hari yang sama memberi petunjuk penting bahwa dongeng-dongeng untuk menapaktilasi sejarah Muhammad SAW tidak dapat dipahami secara harafiah begitu saja. Pendekatan yang akan saya gunakan untuk memahami transmisi yang saya terkait dengan dua hari raya itu adalah pendekatan historis-antropologis dan sastra secara sederhana.

Sosok Khalid ibn Sinan, yang menurut penelusuran saya berasal dari abad ke-5 M pada akhir masa Yazdigard II, berasal dari kabilah Hanafiyah (Hunafa), yang namanya “Hanif” menjadi sebutan bagi para muhib dan murid sebelum abad 7 M. Beliau melanjutkan sanad dari Yeremiyahu dan Yehezkiel yang dapat dinamakan tarekat Rakhabiyah secara posthumous. Mengapa?

Dalam Yehezkiel, kita menemukan kisah mengenai merkabah, yang merupakan kisah lanjutan mengenai kisah Eliyahu yang naik ke langit dengan kereta dari api yang ditarik kuda-kuda dari api. Kereta dalam 2 Raja 2:11 itu disebut rakhab (Strong’s 7393). 

Saya pernah menulis bahwa kata merkabah dan rakhab berasal dari kata dasar yang sama yang berkaitan dengan kereta atau kendaraan beroda, yang kemudian digunakan sebagai tamsil bagi perjalanan spiritual. Pada masa Abbasiyah, tamsil yang terkenal adalah bouraq,

Khalid ibn Sinan sepertinya adalah mursyid perawi yang pertama kali mengajarkan hikmah mengenai ritus persembahan diri dalam tiga waktu dan menyederhanakannya menjadi praktek lima kali dari tujuh kali dalam tiga waktu (pagi, siang, dan malam) sebagai latihan bagi para murid dan muhibnya. Bahasa-bahasa Semit menyebutnya sebagai salat, senada dengan salawat.

Apabila salat adalah yoga hatha sekaligus yoga bakti atau sembahyang secara olahraga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Elohim, maka salawat adalah yoga bakti atau kowtow kepada resi leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas bimbingan Mereka. Tentu saja dalam salat juga terdapat salawat yang sebenarnya ketika Muhammad 636 melakukannya adalah merujuk kepada para Muhammad sebelum Beliau. Termasuk kepada Yesus Kristus.

Sang Mursyid Perawi saat itu bermaksud mentransmisikan bahwa latihan lelaku bagi para murid dan muhib yang ingin menjadi pengikutnya tidaklah berat, melainkan cukup praktek salat lima kali dalam tiga waktu, dengan yang pertama dan kedua (Isya dan Maghrib) dan yang keempat dan kelima (Zuhur dan Asar) dapat disatukan dalam satu waktu.

Hal tersebut berkait erat dengan populernya praktek-praktek salat yang melampaui batas di gereja-gereja dan sinagog-sinagog. Maka, Sang Mursyid Perawi menenangkan mereka bahwa secara minyan maupun secara individual cukup lima kali sehari, dan boleh ditambah dua kali secara individual yaitu pada pagi hari setelah fajar (dhuha) dan sebelum tidur (tahajud).

Namun, perlu diingat, transmisi yang saya terima tidak memandang salat sebagai kewajiban seperti seseorang wajib membayar pajak atau saat masuk tol, melainkan salat sebagai fardu ain yaitu latihan spiritual yang sebaiknya dilakukan serta cara yang patut dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur secara individual maupun berjamaah.

Latihan dan ungkapan ini ditransmisikan mula-mula oleh sosok di balik kitab Daniel, pada masa penjajahan Persia. Yang diwajibkan adalah memelihara Alfurqan/Dekalog (10 Perintah Allah yang diterima di Sinai), sedangkan salat, puasa, membayar zakat, dan pergi berziarah (haji) adalah justru praktek atau latihan spiritual agar para murid dan muhib dapat memelihara Alfurqan/Dekalog itu. Bukan sebaliknya seperti kaum Neo-Muslim saat ini.

Cerita terkenal mengenai Khalid ibn Sinan adalah beliau berhasil memadamkan api yang terus-menerus menyala di suatu negeri Arab sehingga penduduk setempat tidak jadi memeluk Zoroaster atau Majusi. Api itu keluar dari suatu gua yang disebut Narul Haramain. Pada mulanya penduduk setempat tidak mempercayainya, dan menyangka beliau hangus terbakar saat masuk ke dalam gua yang menyemburkan api itu.

Setelah itu, Khalid ibn Sinan memberitahu kepada mereka bahwa pada hari tertentu dan tahun tertentu ia akan meninggal dunia. Jika hari itu terjadi, beliau ingin dikuburkan di satu tempat, dan lihatlah beberapa hari kemudian akan muncul hewan-hewan liar tanpa ekor. Salah satunya akan berdiri di atas makamnya. Apabila hal itu terjadi, beliau meminta kuburannya digali dan siapa saja nanti boleh bertanya apapun kepadanya mengenai masa lalu dan masa depan.

Namun, ketika hal tersebut benar-benar terjadi, dan sebagian dari penduduk mulai hendak menggali, penduduk yang lain mengatakan kepada mereka bahwa akan sangat memalukan konfederasi Arab mereka jika beliau benar. Maka, mereka pun tidak melakukannya. Akhirnya,

Konon, yang menceritakan kisah ini kepada Muhammad 636 yang menceritakan kembali kisah ini adalah keturunannya seorang perempuan bernama Muhayat. Ini menurut hadis dari Jafar Sadik dan Muhammad Al-Baqir.

Dari kisah tersebut, dapat dipahami bahwa ketika Khalid ibn Sinan mulai diordinasi sebagai mursyid perawi dan resi/nabi, beliau sedang menghadapi kekuatan bangsa Persia yang sedang menindas Peranakan Israil di Arabia. Gerakan yang dipelopori beliau berhasil meredam penindasan dan eksploitasi tersebut.

Pada masa Yazdegard II dikenal kebijakan religius yang menindas kelompok minoritas, termasuk orang-orang Yahudi, dan terutama kepada orang-orang Kristen. Banyak pemuka Yahudi dan Kristen mengalami eksekusi, dan umat mereka mengalami persekusi. Sang kaisar dikenal melakukan Zoroastrianisasi ke wilayah kekaisarannya, berbeda dengan leluhurnya Yazdegard I.

Pada abad ke-5 M, muncul revolusi dari komunitas Arab-Yahudi terhadap penerus Yazdegard II, yaitu Firuz, yang melanjutkan kebijakan ayahnya. Revolusi itu mengantarkan kota Mahoza (Al-Madain) di Babilonia (Irak) selama tujuh tahun merdeka dari Persia, sebelum penerus Firuz yang bernama Kawadh I merebutnya dan mengeksekusi pemimpin revolusi serta raja Mahoza yang bernama Mar Zutra II.

Jadi, pada abad itu, kita dapat melihat perkembangan Arab-Yahudi kendati berada dalam tekanan pada masa Yazdegard II dan Firuz. Banu Quraiza dan Banu Al-Nadir yang merupakan dua kabilah Arab-Yahudi (baca: Peranakan Israil beragama Yahudi) yang memimpin Yehuda Medina di Yathrib dan membayar pajak kepada Persia. Di Al-Hira, ibukota Lakhmid, yang terletak di sebelah selatan Kufah, akademi Yahudi tumbuh sejak abad 4 M, dan semenjak penerus Firuz, Persia mendukung Kekristenan Nestoria sebagai lawan dari Kekristenan Bizantin.  

Kisah mengenai kematian Khalid ibn Sinan menggambarkan kematian sejumlah mursyid, dan murid pemimpin pergerakan, sebagaimana dikatakan Muhayat bahwa ayahnya (baca: leluhurnya Khalid ibn Sinan) dibunuh oleh umatnya, umat Israil. Bahkan, umatnya lebih memilih gengsi (pride) daripada memenuhi wasiatnya untuk membangkitkannya kembali (baca: melakukan kaderisasi dalam pergerakan dan tradisi sampradaya).

Muhayat berarti pemimpin yang hidup. Sebenarnya, Muhayat adalah sosok Muhammad 636 itu sendiri, yang hendak menceritakan bahwa yang telah dialami Khalid ibn Sinan sehingga ia mengalami eksekusi dan gerakannya ditinggalkan untuk berpihak kepada entah Persia atau Romawi, akan terjadi kembali kepada dirinya.

Hewan-hewan liar yang keluar dari hutan menggambarkan tentara-tentara Heftali yang berhasil mengalahkan Firuz setelah mereka lama bermusuhan dengan Yazdegard II. Heftali adalah konfederasi Huns, gabungan dan peranakan berbagai etnis Indo-Persia dan Turk-Mongol di Asia Tengah, yang berhasil mendirikan kekaisaran di Asia Tengah pada abad 5 dan 6 M.

Pola yang sama berulang ketika tentara Mongol berhasil menaklukkan Bagdad, ibukota Abbasiyah. Sebenarnya, itu saat yang tepat untuk “menggali kuburan Muhammad” dan menerima bimbingan Beliau sepenuhnya untuk mewaspadai masa depan dan belajar dari masa silam.

Ketika Kawadh I mendapat sokongan dari pasukan Heftali untuk menumbangkan Balash (penerus Firuz), kita menemukan seorang mursyid perawi yang menjadi eponim bagi wangsa Muhammad, yaitu Hashem ibn Abdul Manaf. Adapun pada abad 13 M ketika Mongol menyerang Abbasiyah, kita menemukan seorang mursyid perawi yang menjadi eponim bagi salah satu mazhab Sufi di wilayah Bizantin, yaitu Bektash ibn Ibrahim.

Namun, sayangnya, hanya sedikit dari umat Israil yang bersedia menyimak transmisi dari Hashem dan Bektash.

Ketika Muhammad 636 hidup di Kufah, Beliau mengembangkan cerita mengenai perjalanan spiritual dari 2 Raja 2: 11, Yehezkiel, Daniel, dan dari para mursyid beliau yang lain mengenai salat, serta kehidupan di alam Hades dan atau konsekuensi karma di kehidupan berikutnya dengan tamsil-tamsil dari Persia.

Tamsil “kereta berapi dan kuda berapi” yang memberi kesan “menyala-nyala” digubah dari gabungan kata “barq” dalam bahasa Arab yang berarti kilat, terang-benderang, membara, menyala-nyala dan semacamnya, dengan hewan mitologi Persia, yaitu hewan yang dapat ditunggangi. Hewan mitologi ini senada dengan sentaurus (centaur) yang terkenal di Yunani, mungkin dari Budaya Minoan-Agean di Mediterania, dan yang berkembang dari mitologi leluhur mereka di India yaitu mitologi gandarwa dan kinnara.

Adapun detail kisah yang memuat sejumlah tempat seperti Madinah, Mekkah, dan Yerusalem, merujuk kepada latar belakang geopolitik perjuangan Muhammad 636, manakala Beliau lahir di Yathrib, dan kemudian pada 684-687 M ditawan oleh Abdullah ibn Zubair, tetapi Beliau muncul di Mekkah pada musim haji 688 M sebagai salah satu dari empat pemimpin pergerakan Quraish selain Abdullah ibn Zubair, Najdah ibn Amr, dan Abdul Malik I.

Setelah menunaikan haji itu, mengingat semakin agresifnya Abdullah ibn Zubair di Mekkah, Beliau merekomendasikan kepada Abdul Malik I untuk merenovasi Klenteng Allah di Yerusalem dengan mendirikan Kubah Batu. Setelah Abdul Malik I berhasil mengalahkan Abdullah ibn Zubair dan merebut kembali Mekkah pada 691 M, maka Beliau bersepakat untuk menerima kepemimpinan Abdul Malik I pada 692 M.

Sikap Abdul Malik I melunak kepadanya dengan menerima dan mengakui Beliau sebagai mursyid perawi semenjak haji 688 M, dan pada 692 M itu. Gubernur Al-Hajjaj yang menginisiasi proyek kanonisasi dari naskah-naskah Alquran pada murid-murid Beliau, menyimpan kekhuatiran akan pengaruh Beliau, sehingga pada 699 M memerintahkan untuk menyingkirkan Beliau.  

Alkisah, pada masa Abdullah ibn Umar masih hidup, ia bercerita bahwa suatu hari saat Beliau berumur 40 tahun(sekitar 676 M), dalam suatu mikraj (perjalanan spiritual) yang dilakukannya, Beliau mendengar suara bimbingan Elohim dalam mempelajari dan memahami transmisi sampradaya yang diterimanya (teks-teks dan sejarah lisan). Suara tersebut terdengar bagai suara ayahnya (Ali ibn Abi Talib).

Namun, diceritakan Sang Suara menyampaikan bahwa tidak ada yang dapat menyamakan Suara Allah dengan suara apapun, tetapi sebagai manusia maka suara yang terdengar adalah sesuai dengan suara yang dicintai Beliau. Peristiwa itu terjadi tujuh hari setelah perayaan Sukkot, yaitu perayaan ziarah ke Yerusalem, dan karenanya dirayakan tiap 27 Rajab. Apa yang disampaikan mengenai Suara Allah bermaksud untuk menunjukkan kecintaan Beliau kepada Imam Ali sekaligus meneguhkan otoritas ayahnya sebagai mursyid perawi pada 632-661 M.

Beliau berkata, “Salat adalah mikraj mereka yang beriman.” Jadi, salat bukanlah kewajiban, karena jika disebut kewajiban selalu berpotensi dilakukan dengan terpaksa, dengan tergesa-gesa, dan dengan rasa ketakutan mendapat sanksi. Sementara itu, mikraj atau perjalanan spiritual bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan terpaksa, tergesa-gesa, dan rasa takut mendapat hukuman.

Peristiwa Isra’ Mikraj pada 27 Rajab 676 M itu — dan bukan 610 M — juga dirayakan sebagai Hari Raya Mabaath, sebagaimana kita dapat memahami sejumlah kisah sebagaimana dari Abdullah ibn Umar itu: Imam Ali mengordinasinya sebagai mursyid perawi setelah Husein ibn Ali yang saat itu telah menjadi mursyid perawi (670-680) melanjutkan Hasan ibn Ali (661-670).

Kata “mabaath” (mim, ba, ain, tha) dan “biitha” (ba, ayn, tha) berasal dari kata “bo” (Strong’s 935) yang dalam bahasa Arab “ba” dan “ayn” berarti “kembali”. Kata “biitha” antara lain dapat ditemukan dalam surah Albaqara 56, surah Yasin 52, dan surah Haji 7, yang biasanya diartikan sebagai kebangkitan kembali dari kematian.

Namun, kata “mabaath” untuk memperingati Isra Mikraj sesungguhnya dapat ditemukan dalam Mazmur 45:14, “mubaoth”, yang diterjemahkan sebagai “yang dibawa kepada engkau”. Teks Mazmur ini merupakan tamsil mengenai ordinasi seorang mursyid perawi, dengan perumpamaan pengantin untuk raja.  

Dalam Buyruk Alfurqan, Mazmur 45 disyarahkan untuk menapaktilasi kepasrahan Ali Zainal Abidin ibn Husain saat diordinasi sebagai mursyid perawi melanjutkan ayah dan pamandanya pada 699 M, ketika usianya 40 tahun. Muhammad 636 “memberikan tongkatnya” kepada beliau sebelum harus menghindari upaya pembunuhan terhadap dirinya. Hikayat Muhammad Al-Hanafiyyah menggambarkan peristiwa ordinasi ini dengan penuh glorifikasi dan menghadirkan kepiluan dalam tamsil Sang Muhammad “ditelan oleh gua” dan kelak akan kembali.

Patut diduga, kisah deklarasi Islam pada 610 setelah Muhammad 570-632 M mengalami Isra Mikraj, sengaja diletakkan pada 610 M, yaitu ketika Heraklius naik tahta setelah menumbangkan kaisar Romawi sebelumnya, Phocas.

Pada umumnya, cendekiawan pasca Abbasiyah menisbahkan surah Al-Isra sebagai perekam kisah Isra Mikraj, khususnya ayat 1 dan 60, dan begitu juga surah Al-Najm ayat 13-14 sebagai perjumpaan Muhammad dengan Allah dalam dongeng Isra Mikraj.

Buyruk Alfurqan tidak menerjemahkan Al-Isra sebagai perjalanan malam untuk kisah Isra Mikraj ini, melainkan menerjemahkan sebagai umat Israil. Jadi, ayat pertama berlaku secara umum bagi seluruh resi atau nabi umat Israil, dan ayat ke-60 mengingatkan para murid dan muhib mengenai kisah pohon fig yang dikutuk dalam Injil, tetapi yang terkutuk dalam Alquran kali ini adalah pohon ek.

Makna pohon ek dalam tradisi Israil adalah tempat pertemuan yang penting, dan berkaitan dengan kesadikan:

Mula-mula dalam Kej 12:6, Ibrahim menerima wahyu di pohok ek di Moreh, bahwa tarekatnya akan berkembang di situ, sehingga beliau mendirikan altar di situ. Di suatu pohon ek di Mamre juga, Ibrahim menerima wahyu mengenai mursyid penerus yang akan melanjutkan sanad paramparanya. Menurut Kisah Sinai, tekke dari sanadnya kepada Musa akan hidup berdampingan dengan orang-orang Kanaan atau Phoenicia (Ul 11:30).

Yoshua ibn Nun, salah satu mursyid dari sanad Musa, memimpin pembaharuan baiat para murid di bawah sebatang ek (Yos 24:26). Salah seorang kadi yaitu Gideon — arketipe Ali Zainal Abidin — menerima wahyu untuk melakukan ikonoklasme di bawah pohon ek di Ofra. Setelah kematian Gideon, seorang murid bernama Abimelekh memimpin revolusi dan diangkat sebagai raja di bawah pohon ek untuk tiang di Shekhem — yang dipercaya Ibrahim membangun altar di situ, Yakub menyembunyikan berhala (baca: ikonoklasme secara halus), dan Yoshua membangun batu fondasi (baca: memapankan tekke).

“Ek yang dikutuk dalam Alquran” mengingatkan kita pada kisah dalam 1 Raja 13, mengenai seorang “abdullah” yang melanggar perintah Allah (baca: tirakat dari mursyidnya) sehingga ia tidak akan diterima oleh para leluhur. Ia diceritakan mati diterkam singa (baca: seorang hamba Allah yang memilih menjadi seorang Abel sehingga ditindas oleh Kain, tetapi seorang nabi tua yang membuatnya melakukan pelanggaran memutuskan untuk dimakamkan bersama dengannya (baca: supaya mereka terlahir kembali merektifikasi kesalahan mereka dalam menjadi Abel — dan mendukung Kain).

Dalam Yesayah (61:3) pohon ek jenis tarbantin merupakan simbol kesadikan, yaitu orang-orang yang sadik. Al-Isra 56-60 menceritakan umat Thamud yang menolak bimbingan ilahi, dan penglihatan-penglihatan para mursyid perawi yang merupakan ujian bagi umat, apakah mereka akan mempercayai bimbingan mereka atau tidak? Jadi, dengan segera Nabi Muhammad menanggapi Yesayah 61:3 untuk konteks akhir abad 7 M, bahwa penglihatan-penglihatannya dan para mursyid perawi sebelumnya merupakan ujian bagi para murid dan muhib yang memutuskan mendirikan kekhalifahan Islam.

Adapun surah Al-Najm (bintang) ayat 13-14 kita menemukan pohon yang disebut sidratul muntaha sebagai simbol sempadan di surga ketujuh, yang menceritakan kembali Kej 3 mengenai pohon kehidupan. Tamsil yang berasal dari pohon sidr, dan pohon yang menghasilkan manna yang dapat dibuat sebagai dasar bahan makanan kaum imigran atau perantau Trans-Semit di habitat mereka. Pohon ini kadang-kadang diterjemahkan sebagai bidara.

Dalam Buyruk Alfurqan, teks tersebut (53:13-17) bila dimaknai dari terjemahan menurut Kemenag RI adalah sebagai berikut:

“Dan sungguh, dia, yaitu Muhammad, telah melihatnya untuk kali yang kedua, yakni betapa luasnya wahyu-wahyu atau transmisi-transmisi ilahiah yang sedemikian agungnya, yaitu di dekat sidratul muntaha yang belum pernah didatangi siapa pun (yang hidup pada masanya) dan taman yang merupakan kediaman surgawi, betapa pohon kehidupan tersebut di dalamnya membuahkan rahasia-rahasia yang tak terucapkan! (Transmisi-transmisi yang hanya dapat diutarakan dalam perumpamaan-perumpamaan).”

Maka, teks ini mengandung doktrin yang senada sebagaimana hadis dari Abdullah ibn Umar.

Manakala seseorang baru diordinasi sebagai mursyid perawi dan menyimak Elohim dalam setiap kontemplasinya, dalam setiap langkahnya manakala terjaga maupun tidur, dan dalam setiap nafasnya, maka ia dapat mengalami perjalanan malam alias kedalaman yang gelap (Isra) maupun pergumulan dahsyat (Isra) dalam dirinya, sehingga ia pun hanya bertumpu dan bergantung kepada bimbingan Elohim sepenuhnya.  Saat itulah, apakah ia mendengar Suara Ilahi, atau melihat Wajah Ilahi, ia berada dalam mikraj yang sesungguhnya.

Ya, ia berada dalam salat sesungguhnya.

Seperti itulah yang diceritakan dengan amat indah oleh Syekh Ali Haidar dalam bagian non-Alkitabiah dalam Buyruk Alfurqan, yaitu dari bukunya yang berjudul “Rahasia tentang Harta Karun dalam Salat”. Tamsil yang digunakan adalah tangga emas untuk ke surga dan taman indah yang merupakan mikraj itu sendiri, disebut Namaz. Di taman itu, beliau pun menjumpai tujuh arketipe resi atau mursyid perawi yaitu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yesus, dan kemudian Muhammad — bersama seekor singa.

Tak dapat disangkal bahwa “Rahasia tentang Harta Karun dalam Salat” juga merekam pengalaman beliau setelah diordinasi untuk memulai enam volume Buyruk Alfurqan. Penglihatan-penglihatan yang beliau terima, merupakan ujian bagi setiap orang yang mengenalnya. Setelah kitab Buyruk Alfurqan selesai, dia kehilangan banyak teman, sahabat, dan murid. — Begitu pun setelah saya mulai mengajarkan Buyruk Alfurqan.

Jafar Sadik mengatakan bahwa seseorang tidak dapat dilihat dari salat dan puasanya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Inilah kriteria bagaimana seseorang memilih menjadi Kain yang membunuh demi dunia yang lebih baik, atau memilih menjadi Abel yang pasifis membiarkan ketidakadilan demi kedamaian, atau memilih menjadi Seth yang tetap berupaya agar kita semua menyintas bersama-sama — secara setara dan moderasi, tidak saling menindas dan tidak saling mengeksploitasi.

Kisah Isra Mikraj dan Mabaath tentu saja amat indah, dan harus dirangkai dengan sangat elok, untuk menarik perhatian para murid dan muhib, mengenai perjalanan spiritual di tengah-tengah kehidupan dunia yang nyata, sekuler, dan terbelenggu jasmani. Kehidupan yang acap kali tidak masuk akal, memuakkan, menyakitkan, dan menjemukan, sekaligus melenakan, menyenangkan, menggugah semangat, dan begitu nyaman. Begitu pula “Rahasia tentang Harta Karun dalam Salat” adalah kisah yang amat indah.

Namun, hanya sungguh-sungguh sedikit dari para murid dan muhib yang memilih dan apalagi istiqomah mengupayakan diri sebagai seorang Seth dalam setiap salatnya. Dalam setiap isra mikrajnya. Jika kita tergelincir melalaikan mikraj, karena isra yang sedemikian muram, berkabut, menyesakkan dada, dan memilukan, sehingga kita mati diterkam singa, semoga kiranya seorang resi menemani kita dalam kematian kita, agar melalui wasilahnya kita dibangkitkan kembali dan memulihkan segala kesengsaraan dan kezaliman yang telah kita lakukan.

Amiin, amiin, amiin ya rabbal alamin.

*SELESAI*

Selamat Merayakan Isra’ Mikraj dan Mab’ath.

Siddhamastu,

Syekhah Hefzibah R.A. Gayatri W. Muthari.

Standard

Leave a comment