*HIDUP & MATI SEBAGAI LIYAN*
Jika, selama hidup kita adalah liyan, terpinggirkan, atau minoritas… Baiklah. Bayangkan jika saat mati pun kita masih dipersulit atau ditolak masyarakat, entah identitas, harapan, atau tubuh kita. Entah karena agama, kebangsaan, ekspresi ketubuhan, orientasi seksual, penyakit, atau stigma seperti tahanan politik.
Ada juga pelaku kriminalitas yang tidak diterima penduduk asalnya untuk dimakamkan di tanah mereka. Untuk masalah kepraktisan yang masih hidup, biasanya diberlakukan, “Lagipula ia sudah meninggal.” Jadi, dimakamkan dengan identitas terakhirnya. Apa pun itu.
Satu contoh. Keinginan terakhir Dorce, kabarnya, tidak terpenuhi, entah benar atau tidak. Jika benar keinginan terakhir Dorce untuk dimakamkan sebagai perempuan tidak dipenuhi pihak keluarga dan atau masyarakat setempat, kemudian muncul lagi komentar, “Lagipula ia sudah meninggal.”
Maksudnya, manusia tidak boleh hidup sesuai dengan yang diharapkannya, begitu juga saat mati. Padahal, harapannya tidaklah membahayakan jiwa dan raga siapa pun. Bukankah semestinya “Lagipula ia sudah meninggal” juga berlaku dalam konteks ini? Jadi, apa masalahnya jika memenuhi harapan terakhirnya? Siapa yang merasa terganggu?
Benar. Yang terganggu tentunya yang masih hidup. Jadi, masalahnya, tidaklah lain EGOSEKTARIAN yang masih menguasai nafs individu maupun nafs kelompok.
Pengalaman diskriminasi dan persekusi selama lebih tujuh abad di Anatolia, Eropa, dan sekitarnya, telah mendewasakan sejumlah komunitas Alevi dan Bektashi agar tidak memberi makan egosektarian mereka.
Sejumlah organisasi Alevi baru-baru ini (Mei, 2022) mengadakan simposium berjudul “Alevi: Agama, Tubuh, Gender: Dari Gembira Jadi Kesedihan”. Dalam simposium tersebut, mewakili seluruh organisasi Alevi yang hadir, Ercan Gecmez sebagai Ketua Umum Yayasan Kebudayaan Anatolia Haji Bektash Wali menyampaikan pengumuman yang mengejutkan banyak pihak.
Pernyataannya menunjukkan bahwa egosektarian justru bisa digubah untuk merawat kearifan, serta lelaku tikkun (rektifikasi/pemulihan) maupun rahayu.
*Alevi & Bektashi*
Kita semua tahu Turki adalah negara dengan mayoritas Sunni (dan bermazhab Hanafi) dan mulai mengalami Neo-Ottomanisasi kembali pasca beberapa dasawarsa berakhirnya kekaisaran Ottoman pada 1924. Sejumlah kelompok mengalami girah Neo-Islam yang menguat, sehingga mendukung Islamisme.
Sementara itu, Alevi merupakan masyarakat adat atau kelompok etnoreligius yang ekspresi imanmya serta ciri khas keagamaannya bersanad kepada Haji Bektash Wali, seorang sayyid trah Musawi dari abad 13 M. Beliau dianggap sebagai wali kutub bagi seluruh Alevi maupun tradisi sampradaya Bektashi. Sebagian memandangnya sebagai tanasukh Imam Ali ibn Abi Talib secara jiljul neshamot, yang lain secara ibur semasa hidupnya.
Alevi adalah masyarakat adat minoritas di Turki (Anatolia), Eropa Tenggara, Mediterania, Aegia, dan sekitarnya. Pada umumnya, mereka adalah suku-suku Turk, Kurdi, dan Indo-Eropa yang dulunya hidup di pedesaan, pedalaman, atau semi-nomaden.
Karena ekspresi iman dan ciri khas mereka dalam rumpun mazhab Bektashiyah, maka mereka kerap mengalami diskriminasi, bahkan persekusi, sekali pun setelah berakhirnya kekaisaran Ottoman. Di antaranya, mereka mengalami penolakan saat menjalani ibadah di masjid-masjid Sunni. Akhirnya, mereka membangun semewi untuk mengakomodasi ekspresi iman mereka.
Semewi sebenarnya semula bukanlah rumah ibadah semacam masjid, melainkan rumah berkumpul menyelenggarakan majlis semah dan zikir. Ada batasan yang jelas antara salat dengan majlis semah dan zikir. Sebab, salat dapat dilakukan secara individual. Nah, majlis semah dan zikir justru hanya bisa dilakukan bersama-sama sebagai satu keluarga untuk mentransmisikan ilmu dan kearifan dari Bektash Wali melalui sanad yang mereka warisi.
Perbedaan antara Alevi dengan Sufi Bektashiyah adalah juga jelas. Alevi adalah masyarakat adat dengan identitas yang diwarisi dan diwariskan. Jadi, seseorang tidak dapat menjadi Alevi jika ayah dan ibunya bukan Alevi.
Sementara itu, siapa pun bisa saja menjadi Sufi Bektashi melalui katekisasi, kaderisasi, dan inisiasi. Entah ke dalam tradisi Babagan, atau tradisi lainnya, juga tradisi Daudiyah (yang saya jalani).
Memang, acap kali antara Alevi dengan Sufi Bektashi tumpang tindih karena ada banyak Alevi yang menjadi Sufi Bektashi dengan menjalani lelaku tertentu sebagai abdal atau darwis di tekke-tekke atau berkelana sebagai darwis kalandar. Beberapa mursyid perawi dalam sanad yang saya terima, adalah Alevi.

*Pintu Semewi Terbuka bagi LGBT*
Simposium itu dihadiri antara lain oleh tiga organisasi penting Alevi yaitu Asosiasi untuk Promosi Budaya Alevi-Bektashi (ABKTD), Yayasan Kebudayaan Anatolia Haji Bektash Wali (HBVAKV), dan Asosiasi Budaya Pir Sultan Abdal (PSAKD). Mereka merupakan di antara unsur Gerakan Demokratik Alevi (DAM). Organisasi Hak LGBT Turki, Kaos GL, juga ikut serta.
Ercan Gecmez sebagai Ketua Umum ABKTD menyampaikan pengumuman bahwa tiga organisasi Alevi itu telah bersepakat untuk membuka semewi mereka sebagai rumah persemayaman dan pengurusan jenazah kelompok LGBTIQA dari latar belakang agama mana pun. Termasuk yang non-religius, ateis, dan agnostik. Mereka boleh menyelenggarakan upacara dengan cara apapun yang mereka kehendaki di semewi.
Jika mereka Muslim yang religius, dan mungkin tidak dikehendaki diurus dalam fikih Islam lainnya, pihak semewi akan membantu mengurus jenazah sesuai fikih yang dianut Alevi. Pernyataan ini membuat saya terharu. Seperti mendengar suara Haji Bektash Wali rahimullah bergaung kembali, melihatnya tersenyum.
Tiga organisasi Alevi dalam simposium itu memelihara doktrin Bektash Wali yang terkenal, “Biarkan hatimu, tanganmu, dan mejamu terbuka bagi yang lain.” Mereka menegaskan bahwa semewi terbuka bagi LGBTIQ. Dalam upacara pemakaman, mereka tidak lagi harus mengalami diskriminasi atau penolakan. Ya Shah!
Sikap tiga organisasi Alevi ini senada dengan apa yang telah saya sampaikan beberapa waktu lalu sebagai mursyid perawi Daudiyah. Hanya saja bedanya bahwa tradisi Daudiyah adalah transhuman atau semi-nomaden. Jadi, tidak diizinkan mendirikan bangunan kegiatan yang permanen kecuali menyewa atau semi-permanen.
Tentu, saya memiliki impian kelak mampu menyewa untuk semewi supaya bukan hanya komunitas liyan di Turki yang dapat dilayani dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan dari Bektash Wali.
Semewi itu karena asalnya bukanlah rumah ibadah, maka akan terbuka bagi komunitas atau kelompok liyan dan marjinal mana pun. Sekiranya mereka kesulitan menemukan ruang untuk beribadah atau berkegiatan untuk tikkun dan kerahayuan.
Kenapa harus dari Bektash Wali, sepertinya egosektarian?
Ya, selain karena egosektarian yang saya punya, tapi juga sepanjang pengetahuan saya, hanya mereka yang bersanad kepada Bektash Wali yang memiliki sikap jelas dan tegas dalam kesetaraan dan kemanusiaan, termasuk kepada LGBT dan atau keberagaman SOGIEB. Sejak enam atau tujuh abad lalu, biara-biara Bektashi juga telah menjadi suaka bagi LGBT yang direpresi Kekristenan dan Ottoman.

*Akar Religiusitas-Spiritualitas Bektashiyah*
Baik orang-orang Alevi maupun Sufi Bektashiyah masih memelihara nilai-nilai atau hal esensial dalam agama natural. Karena itu para antropolog orientalis melihat mereka merawat unsur shamanisme atau menggunakan istilah semacam sinkretisme, khas pola pikir imperialis-konsensus Kekristenan Barat atau kolonialiasme Eropa.
Karena pola pikir imperialis-konsensus ini diidap oleh Neo-Islam, Neo-Kristen, dan Neo-Yahudi, maka hal semacam animisme dan shamanisme tidak dilihat sebagai bagian integral yang esensial dalam beragama.
Kalau kita melihat agama-agama natural yang menjalankan shamanisme pada masyarakat adat yang disebut tradisional, kita akan menemukan konsep SOGIEB yang tidak dualis atau tidak hitam putih seperti mayoritas dan arus utama Neo-Islam, Neo-Kristen, dan Neo-Yahudi saat ini. Masyarakat-masyarakat adat ini mengakui kebinekaan SOGIEB, dan karenanya tidak memandang orientasi seksual dan ekspresi ketubuhan LGBT sebagai dosa.
Mereka yang mengatakan, “Semua agama menganggap LGBT atau homoseksualitas itu berdosa”, menisbahkan AGAMA kepada AGAMA IMPERIALIS-KONSENSUS. Bukan agama natural yang umumnya masih dijalankan secara sampradaya: secara personal turun temurun.
Adapun Alevi adalah kelompok yang hidup secara konsensus menerima wewenang dan sanad Bektash Wali. Tetapi, hanya satu kelompok mereka yang berhasil mendirikan kerajaan, yaitu Safawiyah. Dinasti Safawiyah berupaya mengimbangi kekuatan kekaisaran Ottoman, meski tidak benar-benar berhasil, kecuali menjadikan Syiah 12 sebagai mazhab teologi dominan di Iran.
Sementara itu, tarekat-tarekat Bektashi dijalankan secara sampradaya. Tidak ada konsensus di antara tekke kecuali tekke itu berasal dari akhara atau satu mursyid yang sama. Satu sama lain independen sebagai mursyid dengan sanad masing-masing.
Para baba mungkin membentuk paguyuban untuk melindungi satu sama lain, dan memilih pemimpin paguyuban mereka. Namun, antara baba di Albania, dengan di Makedonia, Jerman, Balkan, dan AS, misalnya, bukanlah hubungan eklesia manapun yang ada dalam kebijakan eklesia Kekristenan (episkopal, hierarkis, kongregasional, prebisterian, koneksional, dan Moravian).
Jadi, karena elemen imperialis-konsensus yang begitu kurang dalam Alevi maupun Sufi Bektashi, atau persisnya kerap dihindari oleh para baba maupun dede dan syekh. Maka, masih banyak dapat dipelihara karakter agama natural (di dalamnya termasuk agama sampradaya) dan nilai-nilai shamanisme (baca: terhubung kepada roh para nabi dan waliullah).
Dengan begitu, apa yang dulunya merupakan hal yang natural dan biasa-biasa saja sepertinya ada mereka yang terlahir sebagai interseks, transpuan, transpria, gay, lesbian, aseksual, dst atau cenderung homoromantik, aromantik, demiseksual, dll karena berbagai faktor dalam kehidupan sosial yang natural sebagai manusia, SEMUA-nya masih dapat dipahami dan diterima hidup koeksis dengan yang heteroseksual dan cisgender.
Banyak kelompok Alevi dan Sufi Bektashi telah menyediakan diri untuk menyelenggarakan atau memberkati pernikahan sesama jenis atau ikatan sipil dua orang yang sejenis kelamin. Ini merupakan penerjemahan baru konsep musahiplik yang dulu menjadi sarana menyintas kabilah-kabilah Turk purbakala dari genosida musuh, maupun orang-orang gay pada masa Ottoman dan Kekristenan.
Jadi, orang-orang Bektashi didoktrin selalu progresif justru sebagai tradisi mereka. Karena yang natural itu adalah yang berfokus pada menyintas dan resilien bersama-sama. Yang fokus pada bergotong-royong untuk adaptasi dan mitigasi dalam berbagai perubahan kehidupan di bumi. Kalau yang lain bicara bahwa mereka memilih kemanusiaan daripada agama, maka orang Bektashi akan bilang, “Agama kami adalah kemanusiaan.” Itulah tradisi Bektashi: kemanusiaan dan kesetaraan.
Orang Bektashi bisa bicara tinggi, rumit, aneh, dan ilmiah mengenai filsafat, mistisisme/sufisme, dan sains natural. Tetapi, Tuhan bagi kami ada dalam nafs manusia dan nafs segenap makhluk dan unsur di kehidupan bumi ini. Inilah dasar #Nafsiologi yang penting. Jadi, bagaimana mungkin kami menyingkirkan, menyakiti, dan melenyapkan yang di dalamnya ada Sang Nafs?
Sekalipun liyan, marjinal, minoritas, dan asing, kita semua manusia itu setara. Prinsipnya, ada dalam doktrin Imam Ali ibn Abi Talib, kita semau bersaudara dalam satu kemanusiaan. Imam Ali Reza mengajarkan bahwa kita bersaudara dengan semua makhluk. #Tauhidialahsatukemanusiaan #Tauhidialahsatukemakhlukan

*Mahkota Kehidupan Umat di Smirna*
Simposium ini sepertinya merupakan kelanjutan simposium “Mati sebagai Liyan” pada 2015. Tempat simposium in mengingatkan saya pada teks Wahyu 2. Bertempat di kota Izmir, persisnya di Gedung Budaya Ismet Inonu, di distrik Alsancak. Ya, Izmir dulunya bernama Smirna.
Distrik Narlidere di Izmir, misalnya, dibangun pada abad 18 M oleh orang Tahtaci, yaitu Alevi Turk yang menurut sejarawan/antropolog adalah keturunan suku bangsa Akatziri. Suku bangsa Akatziri tampaknya adalah peranakan Scythian, Huns, dan mereka yang disebut Khazar. Akatziri tinggal di sepanjang Laut Hitam. Lalu, Tahtaci hidup di pesisir Aegia dan Mediterania.
Dalam teks Wahyu 2, dikatakan tentang mereka yang tergelincir dan yang setia kepada sanad Yesus Kristus, sedangkan Smirna merupakan salah satu tempat adanya tekke dalam asuhan akhara Yohanes Sang Musahip (yang diasingkan ke Patmos). Jadi, karena itu ada surat kepada tujuh tekke untuk akhara dalam sanad Yohanes.
Untuk para murid dan muhib di Smirna: yang setia memperoleh mahkota kehidupan. Dalam ungkapan Bektashi, mahkota kehidupan dilambangkan dengan surban yang dikenakan para abdal, disebut taj. “Keajaiban tidak terletak pada taj, melainkan pada khirkah,” kata Bektash Wali. Ini merupaka syarahan bagi Wahyu 3 (4-5), sebab khirkah adalah busana putih khas abdal atau darwis Sufi.
Menurut saya, orang-orang Anatolia yang mengikuti Alevi maupun Bektashi adalah keturunan dari para muhib dan murid Yohanes Sang Musahip di tujuh tekke itu. Karena begitu banyak simbol yang mereka masih rawat dalam transmisi. Misalnya, batu taslim, taj, pedang bermata dua, busana putih, pohon kehidupan, manna, sokoguru, tongkat besi, kunci Daud, dan bintang timur.

*Bukan Hal Baru*
Di dunia ini ada begitu banyak hal yang sebenarnya bukanlah hal baru. LGBT & SOGIEB bukan hal baru. Bagi saya, begitu juga penemuan sains dan pencapaian teknologi saat ini. “Tidak ada yang baru di bawah matahari,” begitu kata Qoheleth (Pengkotbah).
Hidup dan mati sebagai liyan juga bukanlah hal baru. Justru salah satu hal penting dari Kisah Sinai yang ditransmisikan secara tertulis dalam Taurat dan diulang-ulang syarahannya dalam Zabur, Injil, dan Alquran itu adalah hidup dan mati sebagai liyan. Maka, di antara doktrinnya antara lain bagaimana memperlakukan liyan, tamu, orang asing, yang marjinal dan yang tertindas.
Namun, tentu saja, jika elemen-elemen dari imperialis-konsensus begitu kuat, maka ajaran dan nilai-nilai mengenai bagaimana memperlakukan liyan, tamu, orang asing, yang marjinal dan yang tertindas akan diredam, atau digubah untuk memenuhi egosektarian dalam menguasai yang lain. Jadi, AGAMA BUKANLAH MASALAHNYA, melainkan model beragama, bernegara, hidup bersama, dst yang akan bermasalah.
Karena semua hal di dunia seperti transmisi tulis atau teks, transmisi lisan, sains, teknologi, matematika, sastra, dll dapat digunakan untuk hasrat serakah dan sombong pada ego kita. Egoindividual, egosektarian, egospiritual, egonasional, dst. Termasuk topik SOGIEB dan LGBT juga dapat diekploitasi demi keserakahan dan kesombongan segelintir pihak.
Walau begitu, bukanlah egosektarian itu selalu hanya diwujudkan untuk hal-hal buruk. Karena egosektarian adalah potensi pada nafs setiap individu dan setiap kelompok. Sebenarnya, egosektarian dapat diwujudkan untuk hal-hal baik seperti tikkun, dengan memandang setiap ego itu setara dalam hak dan potensi. Patokannya adalah menghindari keserakahan dan kesombongan.
Jadi, kita justru dapat bergotong-royong dengan egosektarian masing-masing untuk kemanusiaan dan kehidupan di bumi. Misalnya, seperti yang dilakukan tiga organisasi Alevi dalam Gerakan Demokratik Alevi ini dalam melayani dan melindungi sesama manusia tanpa diskriminasi. Melakukannya sebagai wujud egosektarian mereka sebagai Alevi.
“Kami yang menerima dan mengakui wewenang Haji Bektash Wali dalam transmisi religius-spiritual sejak Nabi Khidir (Enokh) 3760 SM sampai kini, tidak ingin kehilangan identitas diri kami yang berbeda (daripada Neo-Islam atau kelompok Sinaisme lainnya).” Inilah egosektarian orang-orang Bektashiyah. Namun, dalam keping-keping ego kita, adakah yang dapat mempersatukan kita?
Memandang, menuntut, dan mengharapkan seluruh manusia itu satu agama, satu orientasi seksual, dan satu bahasa dengan kita, atau hanya ada dua hal yaitu hitam-putih, laki-perempuan, dan benar-salah saja, ini adalah wujud keserakahan dan kesombongan. Saat dimanifestasikan, itulah Manifestasi Destiny. Pada wujud batinnya, itulah Iman Kabil/Kain.
Mungkinkah Yesus Kristus, Nabi Muhammad, Eliyahu Hanavi, dan seterusnya adalah mereka yang menganut Iman Kabil? Renungkanlah.
Siddhamastu,
Syeikha Hefzibah.
