(Zakaria 1:20-21)
Perang Bizantin Romawi dengan Sassan Persia pada 572-591 dan 602-628 harus menjadi titik-titik paling penting untuk disoroti dalam memahami sejarah Islam, Muhammad, dan Alquran. Seperti sejarah munculnya Yesus Kristus, sejarah lahirnya Islam berkaitan dengan mesianisme dalam Yudaisme, yang dalam terminologi studi Islam menjadi mahdawiyah. Kematian Muhammad SAW pada 632 sangat jelas memiliki hubungan dengan dua tanduk itu.
[A]. Latar Belakang Tiga Faksi Bangsa Israil.
Keberadaan tiga faksi yang kini disebut tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yudaisme, terbentuk secara solid manakala Heraklius dan Khusrow II saling berperang. Keduanya mewakili dua tanduk — istilah yang merupakan kode atau tanda (sign) dalam teks-teks para resi di balik gerakan rahasia mereka melawan adidaya-adidaya.
Tulisan saya kali ini akan keterlaluan panjang. Saya ingin merevisi banyak hal. Saya akan mendetoksifikasi definisi-definisi doktrinal dan dogmatis tentang gelar-gelar seperti rasulullah dan nabiullah, nama-nama tiga faksi itu yang disebut agama-agama, pengertian mesias dan kitab suci, serta istilah-istilah seperti mitos dan mitologi yang telah direduksi maknanya untuk mitos dan mitologi lainnya. Saya ingin mengajak Anda bermain-main onomastik khususnya antroponom, bagaimana jika sebuah nama tidak ditransliterasi dan diterjemahkan begitu saja?
Penulis dengan lupus yang terkenal, Flanner O’Connor, mengatakan, “I write to discover what I know.” Itulah sebabnya saya menulis. Jadi, meski saya menggunakan pendekatan sejarah dan antropologi, saya melakukannya untuk mengetahui dan memahami transmisi personal yang saya terima dalam sampradaya. Iman saya justru tertantang manakala banyak cendekiawan menyangsikan Muhammad, Alquran, dan Islam melalui pendekatan sejarah modern. Untunglah saya sarjana sejarah!
Saya tidak berasal dari lembaga tertentu seperti Yesuit atau kantor marja’ taklid Khamenei, dan selama 700 tahun sejak tahun 1300an M, mursyid-mursyid dalam silsilah ijazah saya tidak menjadi raja dan penjajah atau pengelola negara, malahan sebagian dari mereka adalah para abdal yang mengalami persekusi dan harus mengungsi. Jadi, “saya punya sejarah ijazah yang bersih” untuk menyampaikan tema kolonialisme-imperialisme. (Tentu saja, leluhur saya secara biologis, lain lagi ceritanya).
Tiga faksi itu muncul karena kolonialisme-imperialisme. Doktrin dan dogma mengenai Yesus adalah Tuhan (satu-satunya) dan Muhammad adalah Rasulullah (terakhir), juga muncul karena kolonialisme-imperialisme. Yudaisme juga muncul karena kolonialisme-imperialisme. “Muhammad (ada) dalam Alkitab” bukanlah pembahasan teologis semata-mata. Pembahasan apokaliptik dan eskatologis dalam sampradaya ini selalu berkaitan dengan kolonialisme-imperialisme.
Jika kita membahas “Muhammad (ada) dalam Alkitab”, maka kita harus membatasinya kepada empat hal. (1) Yang dimaksud adalah nubuat akan hadirnya seorang Muhammad (sebagai mesias terakhir yang dinantikan); (2) Yang dimaksud adalah adanya nama yang serumpun dan atau seakar dengan nama Muhammad dalam Alkitab; (3) Sosok tersebut tidak sedang membawa agama baru, dan bukan pula supersesionis (baru), melainkan suatu keberlanjutan tradisi yang menyejarah sekaligus progresif; (4) Alkitab yang dimaksud melampaui berbagai kanonisasi dalam berbagai komunitas Kekristenan.
[Baca catatan kaki untuk glosari/nirukta dari setiap istilah yang mungkin asing bagi Anda].
Empat hal tersebut telah memenuhi setiap perselisihan mengenai “Muhammad (ada) dalam Alkitab”. Orang-orang Peranakan Israil yang disebut Yahudi pada dua zaman perang itu tidak menerima dan tidak mengakui Yesus Kristus sebagai mesias yang dinantikan. Klaim semacam dari Yesaya 53 untuk Yesus tidak memenuhi persyaratan no (2).
Jauh lebih malang lagi, yang disebut sebagai gereja-gereja yang mengklaim sebagai gereja-gereja apostolik tidak memenuhi persyaratan no (3), karena pada hakikatnya merupakan agama-agama misteri (Hellenisme) yang dipersatukan dan mengadopsi agama rakyat yang memuja Yesus Kristus.
Baik Muhammad merupakan terjemahan bagi kata Aram “yang terpuji” dalam Matius 21:9, maupun serumpun dengan kata-kata seperti “mahamadim” dan “hammad” dalam Kidung Sulaiman (5:16) dan Mazmur (106:24), atau bahkan dalam Yehezkiel (24:16), maka ia memenuhi syarat no (2) sebagai gelar. Gelar itu tampaknya dengan sengaja disandarkan kepada sejumlah sosok yang menggugat imperialisme Bizantin yang mengeksploitasi Yesus Kristus, sekaligus menggugat korupnya para pemimpin peranakan Israil di bawah imperialisme Persia.
Apakah hal tersebut sengaja dilakukan untuk menggenapi no (1) manakala suasana dua perang itu semakin menindas mereka?
[B]. Topo untuk Menanamkan Ideologi.
Hal yang sama pernah dilakukan pada masa Yesus Kristus ketika kekaisaran Bizantin Romawi baru saja membangun kekuatan dari kemerosotan Yunani, begitu pula sekitar delapan abad sebelumnya pada masa Eliyahu Hanavi manakala menghadapi kekuatan kekaisaran Neo-Asyur.
Tentu saja tidaklah keliru menisbahkan “Yang Terpuji”, “Yang Didambakan”, “Kuil Allah”, dst kepada sosok Yesus Kristus, sama seperti menisbahkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam konteks revolusi. Eliyahu adalah Sandalfon, dan Enokh adalah Metatron, maka tidak mengejutkan jika Yesus adalah Ciptaan Sulung atau Anak Allah, dan segalanya berasal dari Nur Muhammad. Apakah Anda merasa semua ini saling berselisih? Saya tidak merasa demikian.
Pada masa purbakala, agama-agama bersifat tribal dan terdesentralisasi, karena itu saya menyebutnya agama-agama rakyat, yaitu agama konsensus suatu kelompok entah suku, kabilah, kota, atau desa. Manakala kolonialisme menjadi semakin ekspansif, menjadi imperialisme, kita melihat segala hal digunakan sebagai sarana penjajahan. Kita melihat Kain-Kain (Kabil-Kabil) berekspansi untuk menindas dan mempersekusi Abel-Abel (Habil-Habil).
Yang patut dicatat adalah (1) setiap sosok mitologis dan era mitologis perlu dimunculkan sebagai topo, yaitu untuk membangun argumentasi mengenai gerakan perlawanan; (2) teks-teks yang ada dalam Alkitab dan Alquran — melampaui seluruh kanonisasi yang ada — sebenarnya bersifat eksklusif bagi para talib, murid, dan mursyid dalam komunitas gemeinschaft terkait; (3) teks-teks itu tidak dimaksudkan untuk didekati sebagai menghadirkan fakta-fakta tertentu, melainkan dimaksudkan untuk menghadirkan pergumulan bagaimana kita menghadapi fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan yang merupakan tantangan hidup kita.
Dengan tiga catatan itu, maka pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Muhammad, atau bahkan Yesus, adalah fakta?” dan “Apakah kisah-kisah dalam Perjanjian Baru dan Alquran adalah fakta?” menjadi tidak lagi relevan (dalam pendekatan sampradaya ini).
Abdul Mutalib (Sheba) menyaksikan perang mengerikan antara kaum mukmin, yaitu orang-orang Kristen dengan orang-orang Yahudi dengan tokoh-tokoh utamanya ialah Dhu Nuwas dan Abrahah, dan puncaknya pada Tahun Gajah (552 M). Kita menemukan syair-syair yang merekam memori tentang perang antara kaum mukmin dalam Alquran antara lain surah Gajah dan surah Gugusan Bintang. [Surah Gugusan Bintang juga membahas tablet Enokh dalam Alkitab kanon gereja-gereja Oriental dan Yahudi Oriental].
Pada perang Bizantin-Sassan yang pertama itulah Sheba memainkan peran penting untuk menghadirkan kepada kita sosok Muhammad 571-632 yang kemudian begitu legendaris. Perhatikan bahwa tahun-tahun itu meliputi awal dan akhir dari dua perang antara dua kekaisaran yang sedang menguasai Asia Barat, Eropa Tenggara dan Afrika Utara — wilayah para resi dan murid Kearifan Sinai.
Kisah Abdullah ibn Sheba yang hendak disembelih, mengadaptasi kisah ritus peralihan dalam Bereshit 22, merupakan topo bagi sosok legendaris Muhammad 571-632, yang harus didekati dengan cara sebagaimana saya sampaikan: bagaimana menghadapi kenyataan dan tantangan saat itu?
Kisah Muhammad mendeklarasikan Islam, dalam balutan dongeng menerima wahyu di gua Hira pada sekitar tahun 610 M dan dakwah sembunyi-sembunyi sampai akhirnya sekitar tahun 614 M, merupakan suatu topo yang terjadi menjelang Sassan berhasil menyerang Bizantin di Yerusalem pada 614 M. Begitu pula kisah pengucilan Quraish terhadap Muhammad, berkaitan erat dengan pogrom yang terjadi terhadap orang-orang Yahudi.
Uskup Musa pada akhir abad ke-4 M dan awal abad 5 M (yang membaptis Ratu Mawiyah) masih hidup ketika tokoh yang menjadi eponim bagi kabilah Hanifiyyah menerima dan mengakui Yesus sebagai mesias. Sementara itu, Khalid ibn Sinan yang disebut Yoshua, Yeshua, atau Isa, masih hidup ketika Abdul Mutalib lahir pada abad 6 M.
[C]. Menghadapi Fakta Kekuatan Dua Tanduk
Sebelumnya, orang-orang Yahudi di wilayah Bizantin mengalami pogrom dari kolonial Romawi pada 610-611 M — dan terjadi gelombang hijrah antara lain ke Mesir untuk menghindari pogrom dan persekusi. Salah satu sosok penting dalam pemberontakan orang-orang Yahudi terhadap Romawi di bawah Heraklius (konon) adalah Nehemiah ibn Hushiel.
Sepanjang abad 6-7 M, yang dimaksud sebagai Yahudi adalah Peranakan Israil yang tidak mengakui Yesus sebagai mesias, tidak menerimanya sebagai otoritas, atau tidak memujanya sebagaimana tetangga-tetangga Kristen mereka.
Di sini saya mengupayakan dekolonialisasi pikiran, meski saya membaca jurnal-jurnal ilmiah dari dunia akademik Barat dan kalangan Orientalis. Justru dengan membaca karya-karya mereka dan menelaah kembali karya-karya internal, maka saya merasa perlu merombak dan merevisi cara kita memandang keagamaan orang-orang yang hidup dalam kisah Muhammad 571-632.
Menurut catatan internal, Muhammad 571-632 diasuh oleh pamannya Abu Talib ibn Abdul Mutalib yang memiliki putra bernama Ali dari istrinya yang bernama Fatimah bt Assad ibn Hashem. Fatimah bt Assad diceritakan mempunyai saudari bernama Adiah bt Assad yang menikah dengan Bustanai ibn Hananiah, kapitan komunitas Yahudi di wilayah kekaisaran Persia yang baru dilantik pada 640 M, sekitar 50 tahun dari ayahnya, kapitan sebelumnya, yang dieksekusi Persia.
Pada 590 atau 591 M, Khusraw II telah mengeksekusi Hananiah. Namun, menarik bagaimana orang-orang Yahudi di wilayah Bizantin mendukung Khusraw II dalam proksi di antara keduanya. Pada 600 M, Khusraw II juga telah mengakhiri dinasti Lakhmid — yang kelak turut memberi celah bagi kehancuran kekaisarannya. Kisah Muhammad muda yang menikah dengan Khadijah sampai melahirkan Fatimah berlangsung pada masa-masa ini: suatu topo penting bagi bagaimana menghadapi proksi antara dua tanduk.
Kisah Hijrah ke Madinah (622 M) adalah kisah menghadapi fakta kekalahan Persia setelah beberapa kali mengalahkan Romawi. Kisah Hijrah harus juga dilihat dengan memahami bubarnya kekuatan Lakhmid dan melenyapnya kekuatan Ghassan di Arabia, karena setelah itu kita menemukan kisah yang akan mengubah sejarah kawasan itu untuk selama-lamanya: era khalifaurashidin sebagai era yang historis, yang mengantarkan berdirinya kekaisaran Umayyah.
Sebelumnya, Kisah Hijrah ke Abisinia (616 M) adalah kisah menghadapi fakta pogrom yang dilakukan Bizantin terhadap orang-orang Yahudi di wilayah-wilayah yang mereka rebut atau pertahankan dari pemberontakan dan serangan Persia. Pengalaman pogrom ini mengingatkan mereka di kawasan itu pada pengalaman pada masa Dhu Nuwas dan Abrahah sekitar tahun 550an M.
Jika era Muhammad 571-632 M merupakan era mitologi, maka era khalifaurashidin dikenal karena keberadaan Umar ibn Khattab yang kala itu dipandang membebaskan bangsa Israil dari penjajahan Romawi, pada 636 M — setelah ia membebaskan bangsa Israil dari Persia.
Bangsa Israil di sini harus dipahami sebagai terminologi saat ini, tetapi melampaui konvensi-konvensi teologi dan sosial dalam psikologi kolonialisme-imperialisme, untuk menyebut orang-orang yang merasa mewarisi Kearifan Sinai — dan bukan Kearifan Hellenisme atau pun Kearifan India — yang selama ratusan tahun hidup dalam cengkraman tanduk-tanduk. Baik mereka menerima Yesus ibn Maria sebagai mesias, atau pun tidak, mereka berbagi Kisah Sinai. Sampai abad 7 M, bangsa Israil terbelah ke dalam dua faksi besar yaitu Yahudi dan Kristen. Faksi-faksi lain seperti Sabian dan Samaria, tidak begitu signifikan.
Menjelang berakhirnya abad 7 M, baru kita menemukan satu sosok sekelas Yesus dan Eliyahu dalam bangsa Israil. Kisah wafatnya Muhammad 571-632 M bertepatan dengan berakhirnya masa perang sipil Sassan Persia (628-632 M) dan berbagai pertempuran terkenal dalam sejarah Muhammad 571-632 berlangsung pada tahun-tahun tersebut. Termasuk pertempuran dengan konfederasi Ghassan.
[D]. Gerakan Melawan Manifest Destiny.
Sebuah gerakan memerlukan perancang ideologi, orang-orang yang kreatif dalam menarik psikologi massa, diplomat-diplomat yang licin, mereka yang bersedia menjadi mata-mata, jaringan yang kuat, dan tentu saja dana yang dapat mengamankan pergerakan mereka. Lebih utama lagi, gerakan itu memerlukan kaum perempuan yang berani, tangguh, selalu mempelopori, dan inovatif.
Gerakan yang menanamkan ide-ide biasanya akan menginovasi suatu bahasa baru atau mensabotase bahasa lingua franca dengan menginovasi sesuatu yang baru dan segar dalam kesusastraan — baik lisan maupun tulisan. Mereka tidak akan tunduk pada terminologi populer, konvensi-konvensi yang hegemonik, dan segala hal yang pasaran yang kadung menjadi arus utama. Mereka tahu bahwa mereka sedang menanam benih, dan mungkin akan mati sebelum memanen atau melihat pohon itu tumbuh berbuah.
Di kawasan tiga wilayah Kearifan Sinai itu, tradisi sampradaya Enokh adalah tradisi pergerakan. Pada 3760 SM, “gerakan rahasia Enokh” menggunakan era mitologi Seth untuk menghadapi kekuatan Sumeria — dengan tentu saja menciptakan mitos dan legenda mereka sendiri.
Orang-orang yang kemudian disebut “Amori” adalah konfederasi-konfederasi para kabilah transhuman. Mereka bukan orang-orang kota dan bukan orang-orang yang bercocok tanam. Ada banyak kumpulan Amori karena beberapa gelombang imigrasi dari tempat asal muasal mereka — yang masih diperselisihkan.
Dari mitologi dalam Bereshit, kita mengetahui bahwa Seth adalah pengganti Abel yang dibunuh Kain. Artinya, konfederasi Amori yang lama punah dalam hegemoni masyarakat industri, pertanian, dan kerajinan logam. Kemunculan “Seth” memberikan petunjuk adanya suatu keberadaan tradisi spiritual-religius revivalis, yang dimaksudkan untuk menghadapi tantangan dalam setiap perubahan politik dan ekonomi pasca industrialisasi di berbagai ranah kehidupan manusia.
Tradisi sampradaya Enokh — dan gerakan rahasianya — mengadopsi cara hidup transhuman sebagai praktek spiritual, antara lain untuk mengelola nafsu serakah dan ego yang sombong. Cara hidup transhuman ialah cara hidup semi-nomaden dan tidak bergantung pada industri dan pertanian. Jika mereka harus hidup di kota dan desa, atau harus menyintas dengan menjadi perajin dan petani, maka mereka harus belajar untuk tidak melekat dengan hal-hal itu. Mereka harus belajar untuk menyintas dengan berhijrah dan menjadi perantau.
Bukankah kisah para resi Kearifan Sinai selalu terdapat kisah mengenai hijrah, hidup di perantauan, dan sebagai pengungsi?
[E]. Muhammad SAW sebagai Ikonoklast.
Di antara pengertian ikonoklastik ialah (1) menyerang atau mengkritik tajam lembaga agama, keyakinan yang sedang diglorifikasi atau populer, dan institusi tradisional; (2) menghancurkan simbol-simbol agama (yang disebut ikonoklasme). Ikonoklast juga bisa disematkan kepada orang-orang yang memiliki keyakinan atau keimanan tertentu, tetapi menolak suatu lembaga agama dan atau hal-hal dari institusi tradisional.
Ibrahim adalah seorang ikonoklast. Demikian juga dengan Muhammad SAW. Menurut metodologi atau pendekatan tradisi sampradaya, dapat diketahui bahwa dari sejak Enokh (Idris/Hermes/Khidir), Ibrahim, Musa, Daud, Eliyahu (Ilyas/Elia), Yesus, sampai Muhammad: para resi tersebut semuanya adalah ikonoklast.
Mereka melakukan ikonoklastik dan bahkan ikonoklasme terhadap praktek-praktek dan simbol-simbol yang digunakan oleh orang tua, masyarakat, dan pemuka agama di tempat dan komunitas mereka sendiri. Bukan terhadap agama-agama asing dan simbol-simbol asing.
Mereka tidak menyerang patung dan simbol Mesir, atau simbol-simbol Hitti dan Hurria yang merupakan di antara leluhur Yunani dan Romawi, juga tidak pula terhadap Persia. Sebab simbol-simbol digunakan untuk kolonialisme-imperialisme, untuk menindas dan menghegemoni, dan seterusnya oleh perangkat negara, raja-raja, dan semacamnya.
Istilah pagan adalah istilah yang diciptakan Kristen Bizantin untuk agama-agama rakyat lain yang tidak/belum mengikuti mereka, dan saya mendekolonialisasi pikiran untuk merevisi apa yang dimaksud dengan pagan dalam masyarakat Muhammad 571-632 M. Karena itu, saya terpaksa menyebut peranakan Israil yang pagan sebagai kelompok abangan, meski istilah ini tidak memuaskan bagi saya karena mereka sejatinya masih menganut monorealisme (baca: tauhid).
Hal yang sama dilakukan oleh banyak orang saat ini manakala menyerang, mengkritik, dan atau menghujat agama Islam sedangkan mereka lahir dan dibesarkan sebagai Muslim. [Atau yang Kristen dan agama-agama lain juga sama. Bahkan yang lahir dan besar sebagai sekuler, ateis, dan agnostik, juga banyak menyerang tradisi-tradisi dan institusi-intitusi mereka]. Mereka melakukan ikonoklasme terhadap masyarakat mereka sendiri.
Di dalam karya sastra, baik sastra tulis maupun sastra lisan, maka kisah-kisah itu diceritakan dengan tanda-tanda (signs), yang sebaiknya didekati dengan pendekatan seperti semiotik. Ungkapan-ungkapan seperti “Muhammad adalah Rasulullah” dan “Yesus adalah Tuhan” adalah untuk melawan simbol-simbol dengan ungkapan senada yang digunakan untuk kolonialisme-imperialisme.
Jadi, sering kali para resi sebagai dalang di balik gerakan-gerakan revolusi perlu “mensabotase konvensi yang luas dan arus utama” dengan cerita-cerita yang provokatif untuk menanamkan ide-ide bagi penerima transmisi mereka bahwa mereka harus tetap kritis. Ditanamkan kesadaran bahwa pola sejarah itu akan berulang.
Dalam kasus tradisi sampradaya Enokh itu, antara lain adalah perlunya terus menjadi ikonoklast karena saat agama sampradaya menjadi agama rakyat akan selalu berpotensi menjadi agama imperial-konsensus yang digunakan untuk menindas dan menghegemoni.
Seperti yang telah disampaikan mengenai pola sejarah. Tentu saja bagi mereka yang tidak memahami dan memaknai karya-karya peninggalan para resi itu sebagai karya sastra, melainkan kitab hukum dan atau kitab jurnal ilmiah, maka karya-karya itu dapat dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk melegitimasi tindakan-tindakan ikonoklasme mereka yang justru bersifat untuk menindas dan menjajah yang lain — yang Manifest Destiny.
Pada kenyataannya, para resi yang saya sebut itu, adalah tokoh-tokoh mitologis. Inskripsi-inskripsi dan situs-situs di mana pun di dunia tidak ada yang merekam mereka pada zaman ketika mereka melakukan ikonoklasme dan gerakan revolusi mereka. Mereka digunakan dan dieksploitasi jauh setelah mereka menjadi legenda dan populer, diglorifikasi dalam agama-agama rakyat, sehingga dapat dimanfaatkan oleh kekaisaran saat itu.
Sekalipun mereka adalah raja, luas kerajaan mereka maupun pengaruh mereka tidaklah signifikan. Misalnya, kerajaan Daud hanyalah seluas kotamadya Jakarta Pusat. Begitu pula Yehuda Medinatan di Yathrib tidaklah dikenal Sassan Persia maupun Romawi Bizantin, sampai Umar ibn Khattab diceritakan menaklukkan Yerusalem. (Thomas Sang Prebister merekamnya terjadi pada 636 M).
Ketika saya mengatakan tokoh-tokoh mitologis, lagi-lagi saya ingin menekankan pendekatan-pendekatan yang telah saya sampaikan: dekolonialisasi pikiran, bagaimana menghadapi fakta dan kenyataan, serta pendekatan sampradaya untuk menghadapi tantangan Manifest Destiny. Jadi, tidak relevan pertanyaan semacam, kalau begitu Daud, Muhammad, Ibrahim, dst bukanlah sosok nyata?
[F] Gerakan di Media Sosial.
Kata mitos dan mitologis bagi pola pikir dan mentalitas kolonial-imperial adalah hal-hal yang berada dalam ruang hampa, seperti ilusi, halusinasi, dan imajinasi tanpa makna. Nihilis. Namun, bagi tradisi sampradaya melalui gerakan mereka, Gayatri Wedotami Muthari adalah sosok mitologis yang dapat hadir dalam nama apapun, agama apapun, dan dalam era apapun. Elon Musk, Bill Gates, Jeff Besoz, keluarga Rockfeller, keluarga Rothschild, dinasti Windsor, dan Mark Zuckerberg tidak mengenalnya, kecuali menemukan data mengenainya dalam media sosial.
Sheba kecil mendengar kisah-kisah Tahun Gajah dari ibunya, seorang Peranakan Israil, yang waktu itu belum dapat menerima Yesus sebagai mesias. Ayahnya Hashem (Amr) meninggal dalam perjalanan kembali dari Yerusalem, dan ia menjadi yatim piatu. Ia kemudian menjalin persahabatan dengan Zaid, Waraqah, Ubaidillah, Usman, dan talib-talib lain dari Taif, Yathrib, Yamamah, dst, dan bertemu dengan Qus ibn Saadah, dst.
Kata “Hanif” menjadi kata kunci yang penting, tetapi tidak terjebak pada konvensi yang populer tentang kata itu. Begitu pula sosok Khalid ibn Sinan yang legendaris bersama-sama mitologi Maad ibn Adnan sebagai murid Yeremia ibn Hilkiah dan teman sesama talib Barukh ibn Neriah.
Jika saat ini ada berbagai platform media sosial, maka saat itu berbagai platformnya adalah pasar-pasar seperti Ukaz. Seperti di media sosial, mereka memiliki ruang-ruang di pasar untuk menyampaikan pikiran dan mengekspresikan hampir apapun dalam bentuk sastra. Jika saat ini orang-orang yang merasa sepemikiran atau sefrekuensi itu kemudian berusaha kopi darat dan bertatap muka, bahkan kemudian membangun klub dan jejaring, hal yang hampir sama berlangsung pada masa itu.
Kita juga dapat melihat evolusi dan rekam jejak diri kita maupun orang-orang lain yang kita ikuti, teman-teman yang pernah kita kenal di kehidupan sehari-hari, dan semacamnya.
Seperti perkataan Khaulah binti Tsaalabah kepada Umar bin al-Khattab, “Wahai Umar, dulu aku menemuimu saat engkau masih bernama Umair di pasar Ukaz. Engkau menakut-nakuti anak-anak dengan tongkatmu. Hingga hari berlalu dan namamu berganti ‘Umar. Dan masa terus berlalu hingga engkau menjadi seorang amirul mukminin…” (Diriwayatkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya).
Kisah tersebut mengingatkan saya pada fenomena di media sosial, ketika Anda dapat mengetahui evolusi seorang Gayatri Wedotami dari Chen Chen menjadi Hefzibah, dan orang-orang yang harus mengubah nama akun mereka, atau kehilangan akun mereka, dan semacamnya, dari mereka yang semula mendukung Jokowi lalu mengkritik keras Jokowi, atau perubahan status pernikahan dan perjombloan mereka, dst.
Tentu saja saya tidak menelan bulat-bulat semua kisah dari sumber internal, maupun dari sumber eksternal dan kajian historiografi modern. Dari nama-nama yang sebut dalam kisah Sheba itu, beberapa di antaranya adalah sosok-sosok Muhammad dalam Muhammad 571-632. Beberapa di antaranya mungkin tidak dapat bertahan dalam tradisi sampradaya yang liyan dan marjinal, di tengah-tengah tekanan dua tanduk dan para penyokongnya.
Apapun itu, pada suatu titik ketika perang Romawi-Persia berakhir pada 628 M, mereka yang istiqomah telah mempersiapkan seorang pemuda yang diberi nama Ali: sebuah nama yang tidak asing dalam Alkitab. Kisah Idul Ghadir dalam Kisah Haji Terakhir tidak dapat dilepaskan dari proksi dua tanduk itu.
Kisah Haji Terakhir pada 632 M bersamaan dengan terbunuhnya Borandokht pada 632 M ketika suatu pemberontakan terjadi di Ktesifon (ibukota kekaisaran saat itu). Ayahnya Khusraw II wafat pada 628 M: ketika kita menemukan kisah perjanjian Hudaibiyah dan perang Khaibar.
Kalau kita tidak memahami hubungan-hubungan ini dan hanya berpaku pada kisah-kisah dari sumber internal, maka kita akan selamanya gagal untuk memahami perbedaan mendasar antara gerakan Muhammad 571-632 M (yang disebut Islam) dengan bagaimana akhirnya Umayyah menciptakan Islam yang solid sejak 705 M dengan mengeksploitasi legenda Muhammad 571-632 M itu.
Sejarawan-sejarawan awal Islam seperti Ibnu Ishaq (w. 767 M) dan Maamar ibn Rashid (w. 770 M) belum menggunakan metodologi sejarah modern ketika mengumpulkan semua data dan memilah fakta mengenai sosok legendaris yang disebut Muhammad, sehingga secara umum dianggap adalah sosok historis antara tahun 570 sampai 632 M dan menjadi konvensi yang diterima semua Muslim — dan Non-Muslim. Begitu pun Ibnu Hisham (w. 833 M) dan Abdul Razak ibn Hamman al-Shanaani (w. 827 M).
Saya sengaja memberi tahun kematian para sejarawan itu agar kita mengetahui dalam ruang dan waktu kapan ketika mereka menulis catatan sejarah yang disebut sirah nabawiyah. Ada kesenjangan sekurang-kurangnya seabad dari 632 M. Seperti sejarawan-sejarawan masa kini, mereka juga pasti memiliki kepentingan tertentu dan atau disokong oleh kepentingan tertentu. Misalnya, akhir-akhir ini kita menemukan pertarungan menarik antara penyair Saut Situmorang dengan pendiri Historia, Bonnie Triyana, seorang sarjana sejarah terkenal, dalam wacana dekolonialisasi sejarah Indonesia.
Kisah Khadijah Kubra dan Fatimah Az-Zahra adalah topo yang menarik, untuk memberi dasar hujjah penting bagi klaim perajin keempat yang diberi gelar Muhammad dan kemudian terlahir bernama Muhammad. Topo serupa muncul dalam kisah Maria bt Hannah, Miriam bt Yokhebed, Sarah, Hajar, Naomi dan Ruth, dst. Kebanyakan dari kita terjebak ke dalam pendekatan “inilah fakta-fakta” dan bukan “bagaimana menghadapi fakta-fakta dan kenyataan penjajahan saat itu” sehingga kita melewatkan ide-ide dasar yang ditanamkan dari kesatuan seluruh kisah yang tersaji.
Muhammad yang melakukan revolusi di Mekkah (Petra?) disponsori dan didukung kuat oleh kaum perempuan elit. Ia monogamis seperti Waraqa dan sangat berbakat dalam puisi seperti Zaid. Muhammad yang menerima didaulat sebagai pemimpin konfederasi peranakan Israil di Yehuda Medinatan, Yathrib, digambarkan selalu berperang seperti pemberontakan Nehemiah ibn Hushiel. Ia berpoligini seperti Sheba dan sangat karismatik seperti Qus ibn Saadah dan Khalid ibn Sinan. Perempuan-perempuan di sekelilingnya merepresentasikan faksi-faksi yang menarik dalam dunia abad 7 M di bawah dua tanduk saat itu.
Tradisi Sunni mengatakan Abu Talib tidak menerima kenabian Muhammad sampai akhir hayatnya meski selalu melindungi Muhammad. Tradisi Syiah mengatakan Abu Talib melakukannya sebagai taqiyah. Keduanya tidak sepakat, bahkan dalam internal, apakah nama sebenarnya Abu Talib adalah Abdul Manaf atau Imran, atau kedua-duanya valid. Bahkan tidak semua ulama Syiah sepakat bahwa Fatimah az-Zahra mengalami kekerasan dari Umar ibn Khattab karena protesnya, tetapi catatan-catatan dalam trdisi Sunni merekamnya.
Ketika kita menemukan hadis semacam “Fatimah berasal dari Muhammad” dan “Al-Mahdi berasal dari Fatimah putri Muhammad itu” maka sekarang kita perlu menyadari apakah Khadijah, Fatimah, Aminah, Aisyah, Hafsa, Maria, Khawla, dan semua nama-nama itu juga adalah karakter-karakter mitologis sebagaimana pendekatan yang telah saya sampaikan.
Perempuan-perempuan tertentu memperoleh nama Fatimah untuk suatu model yang diperlukan bagi topo ini, begitu juga nama seperti Maria dan Aisyah. Bahkan, kita harus begitu kritis terhadap kisah-kisah yang memuat praktek pernikahan antar sepupu meski itu lazim terjadi pada abad-abad selanjutnya.
Apapun itu, sosok yang historis dan dikenal di Persia maupun Bizantin adalah Ali ibn Abu Talib, yang dilahirkan oleh seorang Fatimah, dan diceritakan menikah pula dengan Fatimah, sepupunya sendiri, dan putri Muhammad 571-632 M. Jika Anda memiliki kesempatan membaca genealogi Muhammad SAW seperti yang dikumpulkan Imran Husein, maka Anda mungkin memerlukan jamur ajaib untuk mengurai benang kusut di dalamya.
Itu sebabnya klaim seluruh faksi Syiah mengenai imamah (dan atau walayah) Ali ibn Abu Talib memiliki fondasi yang pas dalam tawarikh (chronicles) di luar sumber internal, meski telah terjadi perlakuan berlebihan terhadap apa yang dimaksud sebagai imamah dan penerus Muhammad. Dapat dimengerti bahwa perlakuan berlebihan ini merupakan implikasi dari kebijakan politik pecah-belah kekaisaran Abbasiyah dan terbunuhnya seorang mursyid perawi pada 874 M (bernama Hasan al-Askari).
Kitab Majmu yang disimpan orang-orang Nusairi atau Alawi (Syiah Sebelas) memberi petunjuk menarik mengenai gurukula yang menghadirkan kepada kita Muhammad Al-Mahdi. Mereka menyebut nama-nama seperti Abu Talib, Fatimah bt Asad, Fathir, Jafar ibn Abu Talib (yang biasa disebut Jafar al-Tayyar), Akil ibn Abi Talib, Hasan ibn Ali, dan Husain ibn Ali, selain nama Muhammad, dalam simbol-simbol Alkitabiah:
Abu Talib adalah kubah, Fatimah bt Asad adalah lantainya, dan empat penjurunya adalah Muhammad, Fathir, Hasan, dan Husain. Secara simbolisme dikatakan Ali senada dengan Roh Kudus, Muhammad senada dengan Sang Putra, dan rasul (apostle) yang menyampaikan pesan-pesan mereka adalah Salman al-Farisi — seorang Persia yang namanya mengingatkan kita pada kata salam, muslim, sulaiman, dan semacamnya.
Meski saya bukan seorang Alawi, petunjuk kitab Syiah Sebelas itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Dengan menyebut Talib sebagai misteri, secara praktis itu juga merujuk kepada bagaimana cara gurukula dan akhara mentransmisikan ilmu secara sampradaya.
Kisah Konsili Saqifah pada 632 M ketika jenazah Muhammad masih terbujur dan tidak dimakamkan sampai tiga hari, adalah topo untuk membangun argumentasi mengenai ijtihad sekelompok talib dan murid yang ingin dengan segera merespon pasca kematian Boran dan naiknya Yazdegard II di tengah-tengah Heraklius yang mengamuk terhadap orang-orang Yahudi. Karena itulah, Perang Ridda pada masa Abu Bakar bukanlah kisah mengenai nabi-nabi palsu — begitu pun seluruh kisah yang disebut Masa Fitnah I dan II. Heraklius meninggal pada 641 M, dan Bizantin tidaklah begitu stabil selama beberapa waktu sesudahnya.
Tentu saja saya setuju bahwa Sunni dan Syiah solid diklasifikasi pada abad 10-11 M, pada masa Abbasiyah, maka menarik memperhatikan ungkapan, “Duapertiga dalam Sunni berasal dari Aisyah bt Abu Bakar, dan dua pertiga dalam Syiah berasal dari Fatimah Az-Zahra.” Pada masa yang sama, dunia Kearifan Sinai memang telah memapankan tradisi skolastika mereka, baik itu faksi Islam, faksi Kekristenan, maupun faksi Yudaisme.
Psikologi pascakolonial Barat mengglorifikasi Zaman Abbasiyah itu sebagai Zaman Keemasan, sebab ketika itulah penerokaan ilmu kalam (filsafat), yurisprudensi (fikih), dan berbagai sains (tidak hanya sains natural) begitu marak. Sains-sains itu telah mulai solid menjadi subjek-subjek terpisah, yang berperang di Perang Salib, dan memenuhi masa abad pertengahan dengan klaim mesianik masing-masing.
Keberadaan “Yang Terpuji” maupun “Yang Didambakan” itu akhirnya juga menjadi supersesionis, ekstra eklesia nulla salus, universalis, dan Manifest Destiny — seperti yang terjadi ketika Romawi mengadopsi agama rakyat para pemuja Yesus.
Jadi, keberadaan Islam tidak akan pernah dapat dipisahkan dari Kekristenan dan Yudaisme, Begitu pula keberadaan Alquran dengan Alkitab, keberadaan mesianisme di tiga faksi dan setiap turunan mereka, serta apa yang kita sebut sebagai kemunduran dan kemajuan Islam. Semuanya memiliki hubungan yang organik dengan tanduk-tanduk yang selalu bereinkarnasi. Memisahkan ketiga faksi itu, dan melihatnya hanya dari satu-dua lingkungan internalnya untuk pemulihan kemanusiaan adalah absurd dan sia-sia, apalagi memisahkannya dari percakapan kolonialisme-imperialisme: tanduk-tanduk Manifest Destiny.
Kebanyakan percakapan kita dibatasi oleh pola pikir dan mentalitas kolonialisme-imperialisme serta dibatasi oleh psikologi ego-spiritual sehingga hanya membahas aspek teologi, esoterik, dan perennialisme. Bahkan, semua percakapan ini (perennialisme, pluralisme, ekumenisme, dst) adalah buah dari kolonialisme-imperialisme, maupun ruang lingkup dalam pola pikir dan mentalitas kolonialisme-imperialisme Eropa (kelanjutan dari dua tanduk pada abad 7 M).
Tentu saja, secara internal, para talib dan murid-murid melatih spiritualitas transhuman mereka: merantau, berhijrah, dan melakukan berbagai praktek yoga — termasuk yoga yana yang mendalam dalam hal mistisisme atau gnostik. Karena itulah kita menemukan kode-kode esotearik dalam kitab Majmu Syiah Sebelas, atau Hurufiyah yang dipelajari secara rahasia sebagai mursyid Bektashiyah.
Namun, kehidupan wanaprasta dan sunyasa mereka yang telah menjadi para abdal bukanlah mengasingkan diri dari dunia (baca: kehidupan sekular) untuk eskapisme dan ego-spiritual belaka. Karena dua hal itu, Monastisme Kekristenan telah menghasilkan sikap apatis dan abai terhadap tanduk-tanduk, begitu pula Sufisme pada masa dekolonialisasi Eropa abad 21 M ini.
[G] Ali ibn Abu Talib dan Persia.
Mengapa spiritualitas transhuman begitu penting? Inilah yang sedikit membedakan dengan tradisi sampradaya di Peradaban Hindia. Kolonialisme-imperialisme muncul, seperti Jared Diamond mengatakan, antara lain sebagai implikasi dari perubahan pada habitat akibat perubahan iklim sekaligus akibat eksploitasi alam yang telah melampaui batas. Itu sebabnya, kita tidak menemukan apa yang disebut sebagai perkembangan peradaban di Papua.
Jazirah India dan Cina secara umum tidak mengalami perubahan-perubahan habitat yang sedahsyat di Asia Barat dan Eropa pada masa-masa yang mendorong adanya invasi dan penaklukan itu. Meski para adidaya di wilayah-wilayah itu sama-sama didasari keserakahan dan kesombongan, pergerakan sampradaya dan ekspresi-ekspresi spiritualitas mereka menjadi berbeda karena faktor-faktor alam.
Manakala putranya lahir pada 636 M, dua tahun setelah gempa bumi yang tercatat dalam naskah-naskah kuno secara akurat (September, 634), Ali segera mengetahui bahwa nubuat-nubuat yang telah ditransmisikan kepadanya mulai menjadi kenyataan. Mayat-mayat yang tergeletak di dua kota serupa Sodom dan Mesir secara spiritual sebagaimana nubuat dalam kitab Wahyu (11:10-13) digambarkan dalam kisah Taman Kematian manakala banyak hafiz Alquran tewas terbunuh, merefleksikan pula Taman Kematian 630-641 M selama masa Heraklius.
Ketika Heraklius berhasil merebut kembali Yerusalem pada 630 M, ia menghukum orang-orang Yahudi yang pada 614 M mendukung Persia, dengan memaksa mereka konversi menjadi Kristen. Pemimpin kedua dalam revolusi Yahudi setelah Nehemiah ibn Hushiel adalah Benyamin Tiberias, yang diceritakan juga akhirnya menjadi Kristen. Dia seorang saudagar yang selama ini mendanai revolusi orang-orang Yahudi.
Kemenangan Heraklius adalah implikasi perang di antara faksi-faksi dalam kekaisaran Sassan-Persia, khususnya di antara faksi Parsi dengan faksi Pahlawi (Parthia), sepanjang tahun 628-632 M. Mereka saling merebut tahta pasca kematian Khusraw II, yang juga menikah dengan putri dari Maurice, pendahulu Heraklius. Jadi, proksi dua tanduk ini sangat kompleks.
Kawadh II penerus Khusraw II meninggal dunia karena sampar pada 634 M, dan meninggalkan Persia dalam ketidakstabilan. Istrinya Boran dua kali naik tahta, diselingi Azarmi saudarinya. Ya, Khawad dan Boran mempraktekkan tradisi khedodah (inses) yang biasa dipraktekkan orang-orang Persia. Sampai Yazdagird III yang naik tahta pada 632 M, praktisnya Persia tidak stabil oleh banyaknya pemberontakan.
Thomas Sang Prebister melaporkan (pada sekitar tahun 633-634 M) dalam Tawarikh 640, pasukan Tayyayar Muhammad dan pasukan Romawi bertemu di sebelah timur Gaza. Perang itu menyebabkan hampir 4000 orang petani meninggal dunia, baik Yahudi, Kristen, Samaria, maupun Sabian. Sekitar dua tahun kemudian 635-636, pasukan Muhammad berhasil menguasai Suriah dan menaklukkan Persia.
Sepanjang masa itu, dapat dimaklumi manakala orang-orang Arab yang memeluk Kristen memiliki kecenderungan menganut Monofisit sesunggguhnya bukanlah karena masalah teologi an-sich. Ini terkait semangat dan gerakan nasionalis yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat mazlum dan menentang hegemoni tanduk di Konstaninopel serta para pendukung mereka yakni kelompok menengah atas yang telah ter-Helenisasi. Banu Kalbi sebagai salah satu pendukung faksi Umayyah adalah contoh kabilah Monofisit.
Tentu saja Umayyah berhasil mendirikan dinasti pada sekitar 657 M berkat konfederasi kabilah-kabilah Arab Kristen yang Monofisit itu. Sementara itu, sebagian orang Yahudi yang selamat dari kebijakan Heraklius adalah yang menyelamatkan diri ke Mesir. Jadi, cikal bakal dinasti Umayah adalah konfederasi kabilah-kabilah Arab Kristen yang Monofisit.
Kekuatan Umayyah berupaya menyaingi Ali ibn Abu Talib yang baru saja memimpin federasi yang diinisiasi dalam Konsili Saqifah 632 M itu. Namun, mereka tampaknya menyadari bahwa mereka tidak dapat mempertahankan identitas politik Monofisit untuk menjadi independen dan menyaingi Bizantin Romawi maupun sepenuhnya mengambil alih Sassan Persia.
Alquran secara tersirat menentang nilai dan strategi berbasis trauma dari Monofisit itu ketika menggunakan teologi Monofisit (yang disebut tauhid) untuk bentuk hegemoni yang baru. Alquran memulihkan kata tauhid kepada makna yang monorealisme dan tidak berpusat semata-mata kepada Yesus Kristus.
Kata Al-Mahdi pertama kali tercatat muncul jauh sebelum Muhammad Al-Baqir (676-733 M) muncul ke pentas sejarah. Ada berbagai riwayat menarik yang sesungguhnya dapat direkonsiliasi, alih-alih dianggap saling kontradiktif. “Bahwa dialah yang membimbing Hasan ibn Ali dan Husein ibn Ali dalam mengajarkan Alquran yang telah dikompilasi Ali. Bahwa dia adalah keturunan Fatimah bt Muhammad. Bahwa ayahnya adalah Abdullah. Dst.”
Laporan Thomas Sang Prebister pada Tawarikh 640 M itu membuat sebagian orang mengaitkan kata “Tayyar Muhammad” kepada Iyas ibn Qabisah al-Tayy, seorang gubernur al-Hira yang berada di wilayah Persia yang memerintah 602-618. Al-Hira adalah ibukota Lakhmid, yang ditaklukkan Khalid al-Walid pada 633 M. Dua data ini membuat spekulasi bahwa legenda Muhammad juga dibentuk berdasarkan karakternya. Karena itulah kita harus memperhatikan sejarah Persia dengan seksama.
Sejarah Persia menyebut Shahpur sempat berkuasa di antara Borandokht dan Azarmidokht, dua raja perempuan Persia yang pernah ada setelah Musa Parthia pada masa dinasti Parthia menguasai kekaisaran Persia. Menarik mengetahui bahwa nasibnya setelah terbunuhnya Boran tidaklah diketahui dengan pasti. Kalau ada yang berspekulasi untuk Iyas, maka kita juga bisa berspekulasi untuk Shahpur.
Sementara itu, ibukota tempat Ali ibn Abu Talib mengelola federasi Islam yang disebut era khulafaurashidin berada di Kufah, ketika Yazdagird III meninggal pada 651 M. Kita kemudian memiliki kisah salah satu putrinya yang bernama Shahrabanu menikah dengan Husain ibn Ali, dan keturunan mereka bergelar “sayyid” dan sebagian keturunan mereka berdua menjadi para mursyid perawi yang sangat penting.
Kita tidak menemukan kisah serupa untuk putri-putri Bizantin, meski Yazdegird III sendiri adalah putra seorang Kristen bernama Shirin, dan pamannya Kawad II (saudara Shahriyar putra Khusraw II) adalah Maria putri Maurice. Jadi, sedari awal, seluruh topo dalam tradisi sampradaya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Persia daripada Romawi. Kisah Khusraw dan Shirin yang ditulis pengarang Nizami Ganjawi, yang juga mengarang Layla Majnun, terinspirasi dari sini.
Hal-hal ini menyediakan pesan bahwa, “Kalau kita tidak dapat melawan tanduk-tanduk, maka kita harus bergabung dalam salah satu tanduk untuk menggulingkan tanduk itu sendiri maupun tanduk-tanduk yang lainnya.” Model seperti “bergabung dengan tanduk Persia” telah diteladankan oleh resi-resi yang menulis kitab Daniel dan semacamnya.
Kita memiliki Khadijah, Abu Talib, dan Sheba yang merupakan saudagar-saudagar kaya, seperti itu juga Benyamin Tiberias yang sosoknya tiba-tiba direbut dalam dongeng Heraklius yang sukses merebut kembali Yerusalem. Hal ini juga bukanlah hal yang asing dalam mitologi Yesus Kristus, dengan adanya sosok semacam Yusuf Arimatea dan Yusuf, ayah sambungnya.
Katakanlah Muhammad SAW adalah juga Muhammad Al-Mahdi, baik itu [i] sosok Muhammad yang perintis itu terlahir kembali sebagai Muhammad Al-Mahdi, maupun [ii] jika Anda sulit mempercayai gilgul atau tanasukh sehingga memandang mereka adalah dua sosok yang berbeda, dan [iii] bahwa Muhammad SAW adalah kesatuan dari seluruh Muhammad yang pernah berkarya sepanjang abad 7 M. Semua ini juga dapat diaplikasikan untuk Yesus Kristus.
Mitologi Yesus Kristus harus dapat dipahami dari titik penting revolusi Yahudi pada 46-48 M dan 66-73 M, meski telah memiliki cikal bakalnya sejak Sensus Quirinius (6 M), Sensus Seianus (31 M), dan Krisis Kaligula (37-41 M). Jadi, lebih kurang sama-sama 60-70 tahun dari era mitologis tokoh-tokoh yang kita glorifikasi. Namun, pada masa ini, hanya ada satu tanduk yang hendak digulingkan, dan itu adalah Romawi yang baru menjulang dari kekuatan Yunani yang berakhir semenjak naiknya kaisar Agustus pada 27 SM.
[H] Muhammad Al-Mahdi.
Kita dapat memberlakukan hal senada dengan Muhammad SAW untuk tiga perajin lain yaitu Enokh, dan Eliyahu Hanavi, dan Yesus Kristus. Revolusi-revolusi itu berlangsung pada masa yang sama dengan kematian Paulus (66 atau 67 M) dan dua atau tiga dekade kemudian adalah kematian Yohanes yang secara tradisional dianggap sebagai menghasilkan kitab Wahyu (sekitar tahun 90-95 M).
Kemunculan Eliyahu dengan sengaja ditempatkan pada masa Adadnirari II dan Ashurnasirpal II yang membangkitkan kembali Asyur sehingga kita menemukan kekaisaran Neo-Asyur. Namun, Eliyahu lebih aktif sepanjang Shalmanasar III, yang akan menanamkan ide-ide perlawanan sepanjang masa Neo-Asyur, tanduk yang terus gemilang sampai abad ke-6 SM ketika kekuatan Medes-Persia menaklukkan Neo-Asyur — setelah bersekutu dengan Neo-Babilonia.
Selama masa penjajahan Akameni Persia, dan Selesia Yunani, ide-ide tersebut semakin dalam dan terstruktur sampai kita menemukan Revolusi Makabe pada pertengahan abad kedua SM. Persekusi dan diskriminasi terhadap orang-orang Yahudi memicu revolusi yang terekam dalam teks-teks Makabe. Menurut sebagian sejarawan, inilah latar belakang kitab Daniel yang memuat setting masa Persia untuk menghadapi kenyataan kolonial-imperial Yunani — dan juga kitab Yudit.
Kitab Yudit tentu saja menarik, menyediakan kepada kita plot yang jauh lebih keras dan sadis, tetapi senada dengan munculnya sosok Hannah, Maria, Khadijah, dan Fatimah, dalam rangka menggulingkan para tanduk. Sosok ini jauh lebih “seksi” dalam gaya feminisme abad 21 M daripada gaya Esther yang sepenuhnya bergabung dengan Persia untuk menyelamatkan Israil. Dari sini, kita mengerti bahwa mereka semua menghadapi tanduk-tanduk, bukan? Kita bukan hanya sedang berbicara mengenai ego-spiritual dan egosektarian.
Sekarang kita memiliki petunjuk mengapa para pendamping atau mitra tiga perajin kita tidaklah terkenal dan bahkan dianggap tiada. “Eliyahu tidak menikah. Yesus tidak menikah. Siapakah istri Al-Mahdi?” Tradisi sampradaya tentu saja mengetahui eksistensi istri-istri mereka, karena perempuan memiliki empat peran penting (a) sebagai ibu; (b) sebagai saudari; (c) sebagai mitra; (d) sebagai anak — yang akan melanjutkan sampradaya. Baik mereka kemudian menjadi seperti Yudit atau Ester, seperti Yael atau Deborah, seperti putri-putri Zelofehad atau putri-putri Ayub, seperti Sarah-Hajar atau Naomi-Ruth, karakter-karakter itu menyediakan panutan yang diperlukan.
Sebagai segel kenabian (khatam-al-anbiya) yang membawa pesan-pesan para resi sebelumnya, Muhammad Al-Mahdi bukan berarti supersesionisme maupun universalisme ala Gereja Katolik Roma abad pertengahan. Ketika kita membaca kata muslim, mukmin, murtad, dan kafir, maka terminologi-terminologi haruslah di-dekolonialisasi dari segala bentuk Manifest Destiny para tanduk yang justru ditentang oleh Muhammad SAW dan Yesus Kristus.
Sosok historis yang memenuhi nubuat, tanda-tanda (signs) dalam berbagai transmisi, dan karakter yang diperlukan pada era historis, dan bukan lagi era mitologis, adalah Muhammad ibn Ali Al-Hanafiyah. Kita harus melampaui teologi Kaisaniyah di sini, yang supersesionis dan tidak berkelanjutan.
Dalam tradisi internal, Muhammad ibn Ali dikenal sebagai kedua tangan Ali — sedangkan Hasan dan Husain adalah kedua matanya. Sebagian orang memahaminya semata-mata sebagai tangan yang membawa pedang untuk berperang, dan bukan pedang merupakan pena yang membawakan kepada kita naskah Alquran yang hari ini ada di tangan kita.
Dia juga membesarkan Ali Zainal Abidin sepeninggal Husain, dan Ali Zainal Abidin dilanjutkan kepada Muhamamd Al-Baqir. Dalam metode sejarah lisan dan tradisi lisan Van Sina, kita dapat memahami genealogi dengan nama yang berulang ini sebagai petunjuk yang penting bagi karakteristik suatu tradisi sampradaya. Karena itulah, bagi saya mudah memahami salawat “Allah bir Muhammad Ali” dengan tanpa kata penghubung di antara Muhammad dengan Ali, begitu juga tanda-tanda yang begitu gnostik dalam kitab Majmu orang-orang Syiah Sebelas.
Sebuah dongeng menyebutkan, manakala Muhammad bertemu dengan muhibnya (yang tampaknya belum menjadi talib), mereka memberikan salam, “Assalamualaikum ya Mahdi.” Lalu, Beliau pun menjawab, “Ya, saya memang Mahdi ke jalan kebaikan dan engkau semua adalah Mahdiyyun kepada kebaikan. Insyaallah! Namun, baiklah kiranya jika engkau sekalian memberi salam kepadaku, sebutlah saja namaku, assalamualaika ya Muhammad.” Kata Mahdi tersebut secara sederhana diartikan sebagai pemberi petunjuk.
Jadi, kata Imam Mahdi pada mulanya bersifat generik, sama halnya dengan Mesias atau Kristus, dan Hanavi (yang berevolusi menjadi Hanafi, Hanufa, dan Hanif). Manakala, para mursyid merasa perlu melawan Abbasiyah, maka gelar itu dipatenkan sebagai simbol pergerakan.
Dari berbagai kisah yang tumpang tindih dan tampak berselisih, kita dapat merekonsiliasi bahwa Muhammad Al-Hanafiyyah hidup dalam masa-masa genting sepeninggal Abu Talib dan Abdul Mutalib. Dua orang itulah yang paling berperan dalam menghasilkan legenda untuk mengambil alih Persia yang lunglai dan menandingi Bizantin yang semakin keji. Dia hidup berpindah-pindah, karena tidak disukai oleh penguasa setempat yang khuatir oleh kharismanya, sedangkan ia tidak ingin berbaiat kepada mereka, terutama Abdullah ibn Zubair dan Abdul Malik ibn Marwan.
Kata baiat harus direvisi kepada perjanjian yang bersifat politik semata-mata. Sesungguhnya, Abdul Malik belum sepenuhnya menciptakan Islam sampai ia berhasil merebut Mekkah dan mengalahkan Abdullah ibn Zubair. Untuk membersihkan citra Umayyah yang telah membantai keluarga Ali di Karbala, Abdul Malik dan Al-Hajjaj melakukan kanonisasi Alquran dan melakukan penyeragaman yang mapan. Melihat perkembangan ini, Muhammad berbaiat kepada Abdul Malik — dan menyusupkan murid-muridnya ke dalam komite kanonisasi Alquran.
Bagian akhir dalam Hikayat Muhammad Al-Hanafiyyah yang diterjemahkan dan diadaptasi dari suatu karya Persia via India mengingatkan saya pada pemberontakan yang dilakukan Abdurahman Ashaath pada 699-701 M terhadap Al-Hajjaj setelah ia melayani Umayyah, meninggalkan faksi-faksi Ali. Para kantor (pendaras kitab suci) terutama di Kufah turut serta dalam pemberontakan yang berakhir gagal itu.
Sebelum bertarung dengan pasukan Yazid dan gaib, diceritakan Muhammad mengordinasi Ali Zainal Abidin sebagai mursyid perawi selanjutnya, dan kemudian ia membatalkan sumpahnya untuk tidak lagi berperang menumpahkan darah sesama muslim/mukmin sehingga menerima konsekuensi yaitu mengalami kegaiban — untuk selama-lamanya.
Tentu saja Yazid ibn Muawiyah sudah mati pada masa itu, tetapi yang dimaksud sudah pasti adalah pasukan Umayyah, dan bagaimana ia memanfaatkan gejolak baru itu untuk melakukan kaderisasi. Kader pemberontak yang paling terkenal tentu saja adalah Zaid ibn Ali Zainal Abidin, yang menikah dengan cucunya sendiri (ibunya adalah Raita ibn Abdullah ibn Muhammad Al-Hanafiyyah). Gerakan-gerakan bawah tanah itulah yang akan membawa kita kepada Revolusi Abasiyah pada 750 M — dan Al-Suffah bahkan harus mengklaim tahta Abbasiyah melalui “ijazah Muhammad Al-Hanafiyah.”
[I] Muhammad 571-632.
Ketika sosok-sosok dalam hadis-hadis menyebut kata-kata [a] rasulullah, [b] nabiullah, [c] karamallahuwajha, [c] Islam, [d] kitabullah, [e] Alquran, [f] Al-Mahdi, dst, maka saat inilah tiba saatnya untuk melihat dengan cara yang sama ketika Nehushtan ibn Subakh diberi gelar Eliyahu yang amat teoforik, dan doktrin Yesus adalah Tuhan. Bahasa-bahasa pergerakan ini sekarang sudah terlalu bercampur dalam percakapan teologis dan esoteris yang mereduksi tujuan dari kata-kata itu disabotase dari konvensi yang populer dan umum saat itu.
Rasulullah adalah kata yang generik, sebagaimana Paulus disebut rasul, dan Yesus adalah allah, dan allah dapat berarti Tuhan maupun Tuan. Jika Yesus dianggap Tuhan, atau pun Tuan, maka klaim Muhammad SAW saat mengatakan dirinya adalah rasulullah pada abad 7 M harus diberlakukan untuk mengecam eksploitasi gereja di Bizantin yang terlibat mempersekusi orang-orang Yahudi.
Tentu saja syahadat dengan deklarasi “Muhammad adalah rasulullah” memiliki pengertian yang telah diinterpolasi dari kisah-kisah abad 7 M itu. Jika Muhammad itu adalah juga Yesus, Eliyahu, dan seluruh resi Kearifan Sinai, maka kita akan mengerti mengapa nama itu muncul dari sesuatu yang generik kepada yang paten dan eksklusif.
Ketika Ali ibn Abu Talib diceritakan memiliki gelar Abu Turab dan karamallahuwajha, kita dapat melihatnya dalam konteks ruang dan waktu itu pula. Di hadapan faksi-faksi Kristen dan Yahudi yang saling berperang, dia dinyatakan telah melihat wajah Tuhan atau Tuan, dan dinyatakan sebagai tanah atau negeri — yang mengingatkan kita pada “tanah yang dijanjikan”.
Karena itulah, pengertian kitabullah atau alkitab tidaklah harus merujuk kepada Alquran saja, dan Alquran sendiri semula juga adalah kitab yang generik bagi komunitas gemeinschaft itu. Begitu pula nama Muhammad. Jika ia sebuah gelar, maka ia pada mulanya pastilah tidak untuk merujuk kepada satu orang saja, melainkan untuk orang-orang dengan ketentuan atau kriteria tertentu.
Namun, seperti halnya melawan “Tuhan universalis” yang telah digunakan untuk kaisar-kaisar Romawi untuk menindas mereka, sekarang diperlukan satu sosok pemersatu dari seluruh resi yang disebut Muhammad setelah munculnya “Mesias universalis” yang digunakan oleh misionaris Kristen turut mempromosikan kekaisaran Romawi.
Muhammad 552-630 menyaksikan Tahun Gajah (552 M) dari kejauhan sebagai pemuda yatim piatu, sebab ia baru lahir pada masa itu. Seperti saya melihat Revolusi Iran 1979, tahun ketika saya lahir, saat saya berusia 17 tahun dan terpesona oleh Persia. Ibunya memberi rujukan penting bagi karakter Khadijah, seorang Yahudi yang kemudian memeluk Kristen (sebagaimana pengertian abad 7 M).
Muhammad 570-605 memiliki bakat yang sangat luar biasa dalam berpuisi, tetapi ia dibunuh pada usia muda, dan meninggalkan seorang anak perempuan dewasa yang kelak memiliki peran penting dalam kompilasi Alquran. Musahipnya meneruskan gurukulanya dan memberikan kepada kita karakter Fatimah az-Zahra yang diglorifikasi orang-orang Syiah dari seluruh faksi.
Muhammad 590-640 memperjuangkan kedudukan dan memperolehnya di Yathrib. Dia berumur sekitar 40an tahun ketika Umar ibn Khattab menyerang Romawi dan Persia. Dia mengembangkan jaringan dengan kabilah-kabilah Yahudi maupun Kristen seperti politisi yang lihai. Di pasar-pasar seperti Ukaz, dia terinspirasi penyair Imru Al-Qais yang dikagumi, bukan hanya karena syair-syair kebebasannya, tetapi juga karena kisah-kisah romantis Imru yang menikah beberapa kali dalam pencarian cintanya.
Ayah saya Abdul Hadi WM pernah mengatakan bahwa narasi-narasi fiksi sastra sering kali jauh lebih kuat menyentuh dan mengilhami kita. Siti Nurbaya karya Marah Rusli kini hampir menjadi sosok historis, sama seperti Harry Potter. Jadi, melihat konteks Imru Al-Qais dalam zaman ketika masyarakat merayakan hal-hal dari sosok Imru, kita harus mengerti mengapa sosok Muhammad 570-632 diceritakan memiliki banyak istri di Madinah, setelah hidup bermonogami selama 25 tahun dengan Khadijah.
Dari sebelas istri Muhammad 570-632, delapan di antaranya mewakili delapan proporsi konfederasi Quraish yang diperlukan:
[1] Perempuan Kristen keturunan Lewi (603-678), Pro-Romawi.
[2] Perempuan Kristen keturunan non-Lewi (606-666), Pro-Romawi.
[3] Perempuan Kristen keturunan non-Lewi (590-625), Pro-Persia.
[4] Perempuan Kristen keturunan non-Lewi (591-681), Nasionalis.
[5] Perempuan Yahudi keturunan non-Lewi (608-671), Pro-Romawi.
[6] Perempuan Kristen Monofisit keturunan Lewi (593-665), Nasionalis.
[7] Perempuan Yahudi keturunan Lewi (610-670), Pro-Persia.
[8] Perempuan Yahudi keturunan Lewi (600-671), Pro-Romawi.
Namun, yang menjadi pertanyaan, benarkah Muhammad 590-640 memiliki banyak istri? Yang menarik, ternyata menurut penelusuran saya, dia hanya menikah sekali sampai akhir hayatnya.
Muhammad 636-699 adalah Muhammad yang historis, yang dikenal antara lain oleh Yahya ibn Penkaya (Yohanan ben Penkaye) dan Sabeos di Armenia. Dia menikah dua kali. Istri pertamanya 637-680 dan melahirkan beberapa anak di antaranya empat putra (Ali, Umar, Ibrahim, dan Abdullah). Istri keduanya 640-699 melahirkan beberapa anak di antaranya seorang putra bernama Hasan.
[J] Agnotologik Islam Karya Abbasiyah.
Meskipun Abdul Malik I berjasa menciptakan Islam bersama-sama Al-Hajjaj, yang berjasa memapankan sejarah dan ilmu Islam yang sampai kepada kita hari ini adalah orang-orang Abbasiyah. Justru dengan Muhammad Al-Hanafiyah berbaiat dengannya, Abdul Malik I menyadari kekeliruannya dan mulai mengupayakan rektifikasi meski tidak dilanjutkan oleh penerusnya setelah 715 M.
Abbasiyah menghasilkan “Agnotologik Islam” dengan sempurna. Yang terjadi dengan adanya buku-buku antologi ribuan hadis dan karya para sejarawan masa Abbasiyah adalah keadaan dengan pengetahuan kita yang melimpah mengenai Muhammad dan Alquran justru membuat kita semakin tidak yakin mana yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, setiap faksi (yang dengan sengaja dipecah belah) mempromosikan sebagian saja untuk memenangkan selera. Maka, yang terjadi kemudian adalah suatu kejahiliyahan (ignorant) yang terus diproduksi dan dipelihara agar agama Islam dapat tetap berfungsi sebagai legitimasi kekhalifahan.
Londa Schiebinger mengatakan bahwa kejahiliyahan seringkali bukanlah absennya pengetahuan, melainkan buah dari pergumulan budaya dan politik. Ini mengingatkan kita pada bagaimana kita didoktrinkan adanya periode Arab jahiliyah dengan periode Islam dengan kehadiran Islam. Dalam hal ini, kita akhirnya telah sebegitu mendalam terinternalisasi oleh Muhammad 571-630, rasulullah yang terakhir, agama yang sempurna, dan pemenang dunia.
Justru dengan adanya doktrin itu kita menjadi jahiliyah terhadap periode berkabut Muhammad yang sesungguhnya, yang meliputi era mitologinya dan era yang mengantarkan kita kepada era historis ketika nama Muhammad dikenal oleh dua tanduk saat itu. Kita menjadi jahiliyah terhadap bagaimana agama Islam difungsikan sebagai alat politik oleh Abbasiyah, dan akhirnya Ottoman.
Ketika Abdul Malik bermaksud menjadikan suatu identitas persatuan untuk mengambil alih Persia dan menyaingi Bizantin, maka Abbasiyah menciptakan identitas itu sebagai pemenang terhadap faksi-faksi bangsa Israil lainnya. Namun, dengan direbutnya Konstaninopel pada abad 16, maka semenjak itu Ottoman menghadirkan identitas itu sebagai pemenang dunia.
Namun, yang patut diperhatikan, dua kekhalifahan awal itu sesungguhnya bersifat sekuler. Bahkan, Neo-Umayyah di Andalusia sangatlah sekuler. Mereka membawa identitas Islam, Alquran, dan Muhammad sebagai hal yang bersifat nasionalis, dan bukan universalis seperti Gereja Katolik Roma. Karena itu sistem kependetaan tidak dikenal dalam dunia Islam. Baru pada masa Ottoman, ia berupaya mengimitasi Romawi Bizantin.
Dari sisi ini, Muhammad SAW sebagai perajin keempat memberi kita pemulihan tentang apa yang dimaksud sebagai agama, kebenaran, dan kehidupan yang sampai sekarang masih dihegemoni oleh kekuatan tanduk-tanduk dalam reinkarnasi mereka.
Pesan-pesan dalam Alquran mengenai koeksistensi, kesetaraan manusia, dan kebinekaan di dunia yang tidak perlu dijadikan ke dalam satu gereja universal, sesungguhnya telah menolong Kekristenan merektifikasi dirinya melalui pertembungan mereka yang kerap kali berdarah-darah. Sementara itu, Yudaisme yang kecil dan tergilas, secara langsung atau tidak, suaranya diamplifikasi oleh Islam yang sama-sama menyuarakan monorealitas dan perlawanan terhadap penindasan.
Tiga faksi itu (Yahudi, Kristen, dan Islam) telah berjalan ke arah tanduk-tanduk dengan kecenderungan masing-masing yang unik.
Sebagian Yahudi telah menjadi bagian dari tanduk itu sendiri, sebagai Kain, yang memberikan kepada kita harapan mengenai dunia yang akan datang adalah dunia sains dan teknologi yang menakjubkan. Sebagian Kristen telah menyesali keterlibatan mereka sebagai tanduk, tetapi sayangnya mendakwahkan kehidupan Abel untuk mengampuni dan mengasihi Kain yang menindasnya. Sebagian Muslim tidak menginginkan diri mereka ditindas sebagai Abel, tetapi psikologi pascakolonial mereka membawa mereka sebagai Kain.
“Muhammad dalam Alkitab” sebagaimana kitab Buyruk Alfurqan menggambarkan, telah menubuatkan bagaimana Islam muncul ke pentas sejarah dan mengalami apa yang disebut sebagai kemunduran atau kemerosotan, dalam bidang-bidang yang dikuasai tanduk-tanduk untuk menguasai dunia. Namun, kemunduran atau kemerosotan yang semacam itu justru seharusnya dirayakan. Karena itu artinya sebagian Muslim masih menyimak bimbingan Muhammad SAW secara darah dan daging.
Sang Sandalfon sedang meleburkan hati para ilmuwan yang mau menyimaknya agar mereka tidak tunduk kepada tanduk-tanduk yang membiayai mereka, meski bergabung di dalamnya. Sang Mesias Putra Yusuf sedang menempa hati orang-orang yang memilih menjadi Abel dengan pengalaman-pengalaman yang memukul kesadaran mereka. Sang Mesias Putra Daud sedang memurnikan hati mereka yang hendak menjadi Kain dengan tersingkapnya hal-hal untuk menenggelamkan kejahiliyahan mereka.
Di antara mereka yang tidak merasa dirinya sebagai bagian dari bangsa Israil, padahal menerima dan menjalani khazanah Kearifan Sinai, Sang Metatron sedang mencetak hati mereka seperti molding, sehingga kita menemukan ada begitu banyak bentuk yang dihasilkan.
Siddhamastu,
Syekhah Hefzibah.
20 November 2021.
*Nirukta*
[1] Supersessionisme: doktrin, paham, dan atau keyakinan teologis bahwa agama yang datang belakangan berfungsi menghapus atau menggantikan agama sebelumnya (replacement theology) sebagai penyempurna atau yang terakhir karena keunggulannya.
[2] Gemeinschaft: sebuah asosiasi sosial dengan setiap individu lebih cenderung kepada komunitas mereka daripada keinginan individual mereka: kelompok sosial yang berbagi satu pandangan dunia atau budaya secara akrab, erat, eksklusif, dan guyub.
[3] Gurukula: resi atau sepasang resi yang bertanggung jawab mengelola akhara atau padepokan.
[4] Wanaprasta: masa kehidupan di hutan, yaitu masa kehidupan pensiun dari kesibukan berumah tangga dan bekerja untuk membesarkan anak, dan mulai mengabdi sebagai abdal atau talib yang tekun.
[5] Sunyasa: masa meninggalkan kemelekatan terhadap kehidupan sekuler dan sepenuhnya hidup zuhud sebagai abdal.
[6] Gilgul atau tanasukh: reinkarnasi, menitis kembali, metempsikosis.
[7] Wikipedia menulis agnotologi sebagai, “The study of deliberate, culturally-induced ignorance or doubt, typically to sell a product or win favour, particularly through the publication of inaccurate or misleading scientific data. More generally, the term also highlights the condition where more knowledge of a subject leaves one more uncertain than before.”
[8] Ekstra eklesia nulla salus: tidak ada keselamatan di luar gereja/komunitas agama(nya).