Isra Mikraj (Bagian 1)

 *Muhammad SAW: Adidaya Romawi, Persia, Amerika Serikat, dan Uni Soviet*

Ketika membaca status seorang sahabat FB baru-baru ini yang terkesan membela Amerika Serikat dan mengkritik Rusia, saya teringat suatu tulisan Arman Dhani pada 2020. Diawali dengan kalimat, “Musuh kita bersama adalah kapitalisme dan pengusaha kapitalis yang melakukan eksploitasi.” Saya akan menggubahnya untuk tulisan ini, “Musuh kita bersama adalah penindasan dan eksploitasi akibat keserakahan, kesombongan, dan kemelekatan. Kemelekatan terhadap hal-hal yang sebenarnya destruktif bagi pertumbuhan nafs kita.”

Salah satu paragraf tulisan Arman Dhani yang cukup menonjok: Pernyataan bahwa, “Anti kapitalis tapi pake Iphone” atau “Anti eksploitasi kok pake baju fast fashion” atau “Sosialis kok punya barang mewah” seolah benar. Seakan menggambarkan bahwa aktivis yang melawan itu standar ganda. Kita periksa bagaimana kalimat tersebut sebenarnya sudah salah dari niat dan yang paling buruk, gagap sejarah.

Dalam alur premis yang senada, pernyataan-pernyataan semacam, “Mengkritik Amerika Serikat kok memakai Facebook, Whatsapp, dan minum kopi di Starbucks,” juga dapat saya katakan sebagai ketidakcermatan dan kekurangdalaman yang menyatakannya saat mencerna berbagai fenomena kemanusiaan di dunia.

Premis yang hampir mirip adalah, “Video-video dakwah Islam kok menggambarkan kota-kota di Eropa dengan gedung-gedung megah dan infrastruktur yang rapi, bukankah semua itu dibangun oleh golongan kafir?”

Yang menarik, saya menemukan pernyataan-pernyataan semacam itu justru dikeluarkan oleh Muslim yang cukup banyak membaca buku, masih pergi beribadah di masjid, dan menjalani praktek-praktek Islam.

Salah satu pengajaran atau mungkin dapat dikatakan sebagai indoktrinasi paling awal saat saya baru belajar menjadi murid Daudiyah pada 2010 ialah BELAJAR MENGENAI IMAN KABIL (Cainish Faith). “Lho, kok justru belajar mengenai Iman Kabil dan bukan belajar spiritualitas yang mendakik-dakik seperti teologi mistisme dalam kitab-kitab para Sufi atau doktrin agama cinta yang lazim dikutip kaum perennialis?”

Indoktrinasi dasar ada dalam Buyruk Daudiyah 2009 yang memberi fondasi bagi mendalami apa sesungguhnya Iman Kabil (Kain), Iman Habil (Abel), dan Iman Syits (Seth). Karena itu, Kisah Sinai diulang-ulang dalam pembelajaran seorang murid dan seorang darwis, yang tidak pernah berhenti sampai sekarang meski saya telah diordinasi sebagai mursyid dan kemudian perawi.

Indoktrinasi kedua ada dalam “Maqalat Haji Bektash Wali” yang memberi fondasi bagi mendalami potensi-potensi keserakahan, kesombongan, dan kemelekatan yang dapat mengantarkan kita menganut Iman Kabil sebagai penindas dan pelaku eksploitasi, Iman Habil sebagai pelaku kemelekatan sehingga rela dieksploitasi, dan Iman Syits yang selalu berupaya menghindari keserakahan, kesombongan, dan kemelekatan.

Kisah Kabil dan Habil sendiri dapat ditemukan dalam Buyruk Alfurqan dari sejak volume Taurat, Zabur, dan Injil sampai volume Alquran dan karya-karya Syekh Ali Haidar yang luar biasa, dengan berbagai syarahan yang progresif sesuai dari zaman ke zaman sejarah kemanusiaan.

Karya-karya beliau yang paling menarik terkait Kisah Kabil dan Habil misalnya ada dalam “Hallo, Aku Tuhan: Rosario Bektashi”, salah satunya menceritakan masa kanak-kanak beliau saat Hari Halloween, antara lain diakhiri dengan ungkapan menggelitiknya lebih kurang, “Saat itu saya belajar, bahwa menjadi manusia sering kali harus memilih jadi pelaku eksploitasi, atau dieksploitasi.”

Dari transmisi yang saya terima dalam Buyruk Alfurqan,  saya belajar untuk merevisi pemahaman sejarah saya selama ini mengenai sejarah Islam, sehingga saat saya diberi ijazah untuk mengajar Buyruk Alfurqan dan kemudian menjadi perawi, saya harus mengaplikasikan keterampilan yang dulu saya secara akademik formal saya pelajari, yaitu ilmu sejarah modern. Di antara pemahaman saya yang sedang saya uraikan dalam suatu buku adalah sebagai berikut:

Pertama, tarekat yang dipimpin seorang mursyid perawi pada abad 5 M di wilayah imigran Israil dan Yehuda yang kemudian menjadi Peranakan Israil, yaitu di negeri-negeri Arabia, kemudian berkembang menjadi suatu gerakan revolusi. Sebagian murid dan muhib tarekat itu kemudian mengembangkannya menjadi  suatu “partai politik” yang melahirkan konfederasi baru setelah ketiadaan konfederasi Lakhmid dan konfederasi Ghassan.

Konfederasi baru itu ialah kekhalifahan Islam. Namun, baru pada masa Umayyah, teks sastra sakral yang ditransmisikan sang mursyid perawi pada abad 7 M itu diadopsi dan dikanonisasi sebagai salah satu identitas kebangsaan, dan baru pada masa Abbasiyah “legenda Muhammad SAW” dikanonisasi sebagai salah satu simbol utama agama imperial. Hal ini berlangsung tepat pasca Wabah Yustinian.

Kedua, pola yang pertama itu sebagaimana pola sejarah Kekristenan. Dimulai dari tarekat yang dipimpin seorang mursyid perawi pada masa munculnya Antipatra Idumiyah, kemudian berkembang menjadi suatu gerakan revolusi setelah berakhirnya dinasti Makabe dan kematian Aristobolus III dan Mariamne I (istri Herodotus Agung, putra Antipatra Idumiyah). 

Gerakan Kanaim itu kemudian pecah antara lain menjadi Sikari dan “partai politik” yang mempopulerkan mesianisme Yesus, tetapi baru pada abad ke-3 M diadopsi oleh kekaisaran Romawi setelah “legenda Yesus Kristus” menjadi agama rakyat paling populer di Anatolia dan sekitarnya pasca Wabah Antonia.

Ketiga, berdasarkan poin yang pertama, maka sebenarnya para mursyid perawi pada abad 6-7 M yang kemudian digelari Muhammad secara posthumous merupakan para pemimpin gerakan setidak-tidaknya sepanjang dua masa perang besar di antara Romawi dan Persia yaitu 572-591 dan 602-628 M.

Hal tersebut persis sebagaimana para mursyid perawi yang kemudian dianggap sebagai mesias dan dipersatukan dalam sosok legendaris Yesus Kristus 0-33, sesungguhnya merupakan para pemimpin pergerakan terutama semenjak masa Antigonus II Matatias sampai 80 M, yang di antaranya terdapat dua masa pemberontakan Kanaim yang terkenal dalam sejarah pembebasan Yerusalem atau Yehuda  dan Israel secara keseluruhan dari penjajahan Romawi.

Keempat, kedua gerakan revolusi itu memiliki fokus perjuangan membebaskan Yerusalem atau Yehuda dan Israel secara keseluruhan dari penjajahan. Namun, intinya adalah melanjutkan tradisi Kisah Sinai dalam memelihara Iman Syits, dan mengakhiri sistem penindasan dan serakah Iman Kabil, serta membebaskan rakyat dari belenggu ketidaksadaran dalam menganut Iman Habil.

Dalam kasus tarekat Muhammad SAW, karena sudah lebih dari enam abad Klenteng Allah di Yerusalem hancur dan kaum imigran membangun altar-altar tawasul leluhur maupun persembahan di kota-kota diaspora mereka, dan Mekkah menjadi salah satu yang utama, maka Mekkah awalnya menjadi replika Yerusalem sebagai pusat ziarah kaum Peranakan Israil yang biasanya adalah kaum saudagar dan biasa pergi berbulan-bulan lamanya.

Namun, setelah Klenteng Allah di Yerusalem direnovasi oleh Abdul Malik I, Mekkah tetap menjadi pusat ziarah yang pertama, dan yang kedua adalah Yerusalem. Terutama semenjak masa Abbasiyah, ketika semangat Persia bangkit dari hantu-hantu yang telah seratus tahun lebih terkubur. Salah satu faktornya adalah terkait erat dengan politik identitas.

Kelima, sosok Muhammad yang telah menerima wahyu untuk mengkompilasi transmisi sastra lisan dan sastra tulisan dari para mursyid perawi sebelumnya sekaligus menanggapinya secara midrashik dalam bentuk himne sebagaimana genre medrasse yang saat itu populer. Beliau inilah yang pertama kali saat lahir diberi nama Muhammad, bukan posthumous, dan sosok sebenarnya di balik kisah kanonisasi Alquran pada masa Usman ibn Affan memerintah (644-656 M).

Pada usia sekitar delapan tahun beliau mewarisi naskah transmisi dari Ali ibn Abu Talib, ayahnya, yang dirapikan oleh abang-abangnya Hasan ibn Ali dan Husein ibn Ali. Sosok juru tulis Zaid ibn Tabit (wafat sekitar 660 M) sebenarnya adalah juru tulis ayahnya dan kemudian menolong beliau menyunting setiap tanggapan dari beliau. Ia adalah arketipe Barukh ibn Neriyah yang merupakan juru tulis Yeremiyahu ibn Hilkiyah.

Beliau melanjutkan sanad Yesus Kristus melalui mursyid perawi bernama Thomas Barnabas* sampai kepada Baba Musa (yang dikenal sebagai Rahib Musa) dan Khalid Sinan (dari kabilah yang disebut Hanafiyah). “The Seven Sleepers” atau “Ashabul Kahfi” adalah dongeng yang sebenarnya juga memuat sanad sampradaya tarekat Muhammad SAW. (*Menurut Buyruk Alfurqan, Thomas dan Barnabas adalah orang yang sama. Barnabas adalah nama keluarga atau patronimnya).

Keenam, sosok Muhammad 570-632 M antara lain memuat sosok Khalid ibn Sinan ibn Ghaith, Baba Musa, Zaid ibn Amr ibn Nufail, Quss ibn Saidah, Sheba ibn Hashem, Hashem ibn Abdul Manaf, Abdul Manaf atau Imran ibn Sheba, Al-Zubair ibn Sheba, dan dua pemimpin konfederasi [Quraish] terawal yang biasa dikenal sebagai Abdul Manaf Al-Mughira dan Qusai ibn Kilab. Mereka ini selain daripada Muhammad ibn Ali ibn Imran yang lahir pada 636 M itu. Tentulah mereka ini tidaklah semuanya adalah mursyid perawi dan nabi. Ada mursyid yang memang waliullah, ada pula pahlawan dan atau panglima perang.

Pada masa Abbasiyah, sosok tersebut “dikanonisasi” sedemikian rupa sebagai satu sosok saja, yang memuat berbagai kisah mengenai para resi dan mursyid perawi sebelumnya itu, sebagaimana yang pernah saya tulis dalam status saya berjudul “Murtad” [baca dalam: https://hearth.video.blog/2022/02/19/murtad/ ]. Pola serupa pernah dilakukan antara lain terhadap sosok Yesus Kristus 0-33 M yang masa aktual sejumlah dongeng utama sebenarnya terjadi antara tahun 60-80 M.

Dongeng Isra Mikraj yang kerap dimaknai hanya secara religius-spiritual, ternyata memberi petunjuk mengenai tumpang tindih antara Muhammad 636 dengan para mursyid perawi sebelumnya yang juga bertawasul kepada Enokh (Khidir atau Idris), Eliyahu, dan Yesus Kristus dengan menyebut Mereka sebagai “Muhammad”, terutama untuk memohon kesembuhan dan pemulihan.

Ketujuh, Quraish sebenarnya bukanlah suku bangsa sebagaimana pengertian secara etnis biologis semata-mata, melainkan juga “identitas kebangsaan” secara politik seperti Indonesia. Quraish adalah terjemahan dari konfederasi, yang terdiri dari berbagai kabilah secara etnis, dan berpusat di Mekkah, di antara Dekapolis dengan Hijaz, atau tepatnya di antara wilayah Ghassan (yang mendukung Romawi) dengan wilayah Lakhmid (yang mendukung Persia).  

Quraish muncul sebagai gerakan sosial-politik dari sejumlah murid dan muhib dari “tarekat Muhammad” seperti Kanaim muncul sebagai gerakan dari “tarekat Esseni”. Muncul sekitar awal abad ke-5 M, tak lama setelah kekaisaran Bizantin Romawi berdiri pada 395 M. Patut diduga, pada masa konflik antara Yaman dengan Ethiopia itu (525-570 M) pemimpin Quraish saat itu bergabung dengan Ghassan, kemudian sebagian dari mereka cenderung kepada Sassan Persia dalam Perang Persia-Romawi I (571-591 M) dan Perang Persia-Romawi II (602-628 M).

Pada tahun 618-628 M, terjadi kekosongan kekuasaan dalam konfederasi Ghassan, sedangkan pada 602 M kerajaan dari konfederasi Lakhmid berakhir, sehingga konfederasi itu hanya berkuasa di sejumlah wilayah Persia. Maka, pada tahun-tahun inilah konfederasi yang disebut Quraish mulai muncul sebagai kekuatan politik penting.

Pada tahun-tahun itulah konfederasi ini terbelah dua, yaitu antara dua “partai” yaitu partai Umayyah dengan partai Sheba (Abdul Mutalib). Putra Sheba yaitu Abdul Uzza (Abu Lahab) memihak partai Umayyah yang dipimpin Sakhar (Abu Sofian) karena istrinya adalah saudari kandung Abu Sofian. Adapun di pihak partai Abdul Mutalib dipimpin antara lain oleh Imran (Abu Talib) dengan dukungan dana terutama dari Abbas ibn Sheba.  

Sebab itulah kita menemukan “dua ibukota konfederasi”, yang semula berada di Mekkah, yang berhasil dikuasai partai Umayyah, kemudian ada “ibukota perjuangan”, yaitu di Yathrib yang semula merupakan Medina Yehuda, atau dengan kata lain suatu kota yang menerapkan hukum adat Yahudi. Bukan hukum Suryani-Romawi atau pun hukum Persia.

Kedelapan, dengan melihat tujuh pokok tersebut, kita dapat melihat bahwa kemunculan perjuangan Muhammad sepanjang tahun 656-691 melanjutkan perjuangan para mursyid perawi sebelumnya yang melahirkan gerakan Islam (nama yang diberikan secara posthumous). Perjuangan tersebut adalah untuk membebaskan bangsa mereka dari ditindas “Bangsa Kain” dan dari menjadi “Bangsa Abel” dalam konteks geopolitik mereka saat itu, yaitu membebaskan dari penjajahan dua adidaya, Romawi dan Persia.

Yerusalem menjadi fokus atau kiblat perjuangan, tetapi bukanlah substansi dan esensi dari perjuangan pembebasan dan gerakan revolusi mereka. Karena itu, dalam tulisan bagian kedua akan menjadi jelas mengenai latar belakang secara pergerakan, secara SJW (social justice warrior).

Dalam perjuangan tersebut, yang dimulai ketika Romawi terbelah antara Bizantin dan Romawi Barat, tidak berarti mereka tidak menggunakan fasilitas, atau sarana dan prasarana dari Romawi dan Persia. Ada kalanya mereka pula harus bertaqiyah dengan memihak salah satu adidaya, dengan tujuan mengurangi aspek penindasan dan eksploitasi dari adidaya yang didukung serta biasanya terjadi ketika adidaya yang didukung justru dalam posisi lemah, sehingga adidaya saingan tidak terlalu kuat.

Jadi, kalau ada yang mengkritik saya, “Kok mengkritik AS malah memakai Facebook, Whatsapp, dan Twitter,” itu persis logika terpeleset yang dijelaskan dengan ciamik oleh Arman Dhani.

Saya masih mempercayai adanya kekuatan spiritual yang natural di alam semesta seperti bimbingan para resi leluhur. Arwah-arwah mereka itulah yang secara langsung atau tidak, kita sadari atau tidak, membisikkan kepada kita berbagai pengetahuan dan transmisi ilmu yang kita tanyakan dan kita perlukan — serta kita kuasai dasar-dasarnya. Mereka yang baik itulah yang biasanya dikarakterisasi sebagai malaikat — dari cahaya yang memberikan kita pencerahan atau pengetahuan.

Misalnya, seseorang tidak ujug-ujug tercetus ide untuk meneliti sehelai rumput, apakah layak menjadi makanan atau obat. Perbuatan Elohim, yaitu Allah YME melalui para resi leluhur adalah “pekerjaan ilahi” atau “roh kudus” yang lazim disebut dalam Alkitab. Begitu juga kaum teknokrat atau ilmuwan modern memperoleh bimbingan dari para resi leluhur mereka untuk mengembangkan teknologi sehingga kita bisa memakainya sebagai SJW (yang biasa diolok-olok kaum kelas menengah pro-kapitalis). Namun, pada masa yang sama, mereka juga telah mengabaikan bimbingan dari para resi leluhur dalam hal eksploitasi dan keserakahan.

Kalau saya masih memakai laptop dengan perangkat lunak ciptaan Bill Gates yang saya kritisi, atau saya menyampaikan tulisan ini melalui media sosial yang merupakan salah satu dari “berhala-berhala masa kini” dari dua agama yaitu kapitalisme dan saintisme, bukan berarti saya harus ikut-ikutan dungu dan bebal dengan tidak mengkritik saintisme dan kapitalisme.

Saya memilih berupaya takwa, yaitu dari kata dasar Ibrani yang maknanya memiliki kaitan erat dengan bergantung sepenuhnya (kepada Mereka/Elohim), sehingga cocoknya diterjemahkan sebagai eling dan waspada.

Dengan berusaha bertakwa, saya menggunakan “benda-benda ciptaan yang diilhamkan para resi leluhur itu” dengan mengupayakan kesadaran bahwa benda-benda itu tidak boleh saya berhalakan sebagai alat-alat untuk menindas, serakah, mengeksploitasi, dan merusak. Saya pun harus sekaligus sadar bahwa di balik benda-benda atau yang saya konsumsi terdapat sistem yang menindas, seperti buruh yang dieksploitasi, atau adanya buruh anak (misalnya untuk lithium yang digunakan smartphone saya!).

Pada masa yang sama, sambil eling dan waspada, saya berdoa dalam tulisan dan aktivitas saya supaya justru melalui benda-benda dan alat-alat apapun, muncullah kesadaran dari saya dan siapa saja yang membaca tulisan saya dan mengenal aktivitas saya: akan lambat-laun kita menghasilkan sistem yang lebih berkeadilan, sistem yang tidak mengakomodasi penindasan, keserakahan, dan eksploitasi yang melampaui batas.

Kesembilan, ikonoklasme seperti yang diteladankan Ibrahim, Musa, Ezra, dan Muhammad dalam kisah-kisah penuh tamsil seperti menghancurkan patung, patung sapi emas, dan semacamnya adalah juga hal yang saat ini diteruskan kawan saya Arman Dhani melalui tulisan-tulisannya, atau sahabat saya Azmy Abe melalui aktivitasnya, atau mungkin saya yang terus-menerus mengulang-ulang Kisah Sinai dan Kisah Kain-Abel sampai Anda bosan membacanya.

Enokh, Nuh, Musa, Sulaiman, dan Muhammad juga menggunakan benda-benda yang biasa dianggap sebagai berhala, sebagaimana media sosial dan komputer saat ini, untuk perjuangan mereka. Misalnya, mengenai tablet kahyangan dalam kisah Enokh, kisah ukiran simbol ilahiah pada tabut dalam bahtera Nuh, kisah mengenai tongkat ular yang disebut nehushtan, kisah patung-patung terkait seribu istri Sulaiman (baca: seribu kabilah yang dipimpin Sulaiman), dan Muhammad tetap menggunakan baetilus seperti Kaabah untuk ritus yang dapat “menjaga mood” kesadaran para murid dan muhibnya.

Kesepuluh, bangsa Israil (Peranakan maupun Islam, Kristen, Yahudi, Samaritan, Sabian/Mandean, Bahai, dan Neo-Mani) sudah mengalami dua kali siklus empat tanduk yang disampaikan dalam kitab-kitab seperti Daniel, Yehezkiel, dan Wahyu.

Saat Injil Wahyu ditulis, resi yang kita kenal sebagai Yohanes (Yohanan/Yahya) itu telah mengalami masa awal tanduk keempat pada siklus pertama yaitu Romawi. Berakhirnya siklus pertama ditandai dengan munculnya gerakan konfederasi yang disebut Quraish, yang akhirnya terpecah sebagaimana gerakan Kanaim juga terpecah.

Saat ini, sudah berada di penghujung siklus kedua yaitu masa-masa akhir tanduk keempat, Romawi Kedua, yang tampak pada demokrasi, kapitalisme, dan saintisme yang bergelora. Yang menekuni sejarah pasti ingat bahwa Renaissance muncul di Eropa sejak sekitar tahun 1250, di ambang berakhirnya Kekaisaran Bizantin dan kala berakhirnya Kekaisaran Abbasiyah. 

Adidaya Persia telah berakhir pada 633 M, di tangan Umar ibn Khattab, tetapi ia bangkit lagi pada masa Kekaisaran Abbasiyah (750-1258 M). Dengan kata lain, siklus kedua dari dua tanduk (Babilonia: Umayyah, Persia: Abbasiyah), bersamaan dengan tanduk keempat dari siklus pertama yang pelan-pelan berakhir juga ketika Ottoman menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M. Ottoman merupakan siklus kedua dari tanduk ketiga, yang membangkitkan ruh Yunani.

Berakhirnya Ottoman pada 1921 (resmi 1924), membawa kita kepada siklus keempat dengan ruh Romawi dalam diri neoimperialisme Amerika Serikat dan neokolonialisme korporat-korporat kapitalis. Kalau kita melihat usia adidaya Romawi sebelum terpecah antara Barat dan Timur, maka usia adidaya yang saat ini menguasai bangsa Israil (melalui Kristenisme, persis seperti pada siklus pertama!) dari sekitar abad 18 M, dan puncaknya adalah pada abad 20-21 M, akan berakhir paling lambat selama sekitar seratus tahun dari 2026.

Itu sebabnya, tahun 2026 menjadi penanda penting akan terjadi suatu peristiwa penting sebagai pola sejarah yang berulang dari masa 60-77 M dan 632-644 M. Bangsa ini (Peranakan Israil dan siapa saja yang menganut Islam, Kristen, Yahudi, Samaritan, Sabian, Bahai, dan Neo-Mani) akan dikutuk mengulang sejarah mereka memunculkan tanduk Babilonia siklus ketiga jika para pemimpin, mubaligh, dan cendekiawannya memilih Iman Kain sebagai Bangsa Kain atau memilih Iman Abel sebagai Bangsa Abel. Alih-alih memilih Iman Seth sebagai Bangsa Seth.

Berakhirnya adidaya Uni Soviet memberi jalan kepada semakin kuatnya adidaya Amerika Serikat dan kapitalisme ekstrim, yang jika diibaratkan bagai bisul, jika semakin membesar secara natural pasti akan meledak juga. Jika Rusia bangkit dari puing-puing Uni Soviet, seperti Abbasiyah berhasil membangkitkan Persia menandingi Bizantin Romawi, maka kita mungkin akan melihat kembali kehancuran Persia dan Romawi seperti pada abad ke-13 M di tangan bangsa-bangsa “barbar” dari Timur.

Saya bukan ahli politik. Saya hanya sarjana sejarah yang belajar melihat pola-pola sejarah dan seorang murid tarekat yang belajar melihat pola-pola kemanusiaan, seperti ahli cuaca melihat pola-pola cuaca dan iklim. Apakah musim-musim selalu datang pada bulan-bulan yang sama? Begitu juga dalam alam kemanusiaan. Pola-pola itu bisa berubah di tangan manusia sendiri, tetapi bisa tetap berulang karena perbuatan manusia sendiri pula.

Apapun hasilnya, saat menulis ini, saya bersyukur masih tetap dibimbing untuk tetap berupaya memilih Iman Seth sebagai Bangsa Seth: berdoa dan berusaha rektifikasi dalam menghadapi penindasan dan eksploitasi untuk menyintas dan resilien. Jika setelah menulis ini saya berkhianat atau menyimpang dari khittah para resi leluhur Daudiyah-Bektashiyah, semoga Elohim memukul dan menyeret saya kembali ke jalan-jalan moksha nan indah Bangsa Seth!

BERSAMBUNG (lihat ke: https://hearth.video.blog/2022/03/01/isra-mikraj-bagian-2/ )

Selamat Merayakan Isra’ Mikraj dan Mab’ath.

Siddhamastu,

Syekhah Hefzibah R.A. Gayatri W. Muthari.

Standard

Leave a comment